LOGIN(Pov Adrian)Bertahun-tahun lalu, aku datang ke pulau ini bersama Papa. Tujuannya adalah untuk meninjau pulau sebelum dibeli. Semua analisis menunjukkan bahwa Pulau Seroja punya nilai investasi besar di bidang minyak dan nikel.Papa sudah membayangkan profit yang akan ia terima nantinya. Sampai seorang gadis kurus dengan rambut kusut tiba-tiba menghadang kami dengan ranting berduri.“Pergi dari sini!” teriak gadis itu.Sebelum siapa pun sempat bicara, dia melempar bulu babi ke arah kami. Kami bersama para pengawal langsung mundur ketakutan.Awalnya aku berniat menyuruh pengawal menangkapnya. Namun, setelah mendengar alasannya, aku tidak bisa memaksakan itu. Setidaknya, aku tahu dia memiliki alasan yang cukup masuk akal.“Aku tidak akan membiarkan pulau ini diambil orang rakus seperti kalian!” teriaknya pada waktu itu.Dulu aku menganggapnya gila, berdiri sendirian, tanpa takut, melawan tiga pengawal dan tiga pria dewasa. Mengatakan bahwa pulau ini adalah tempat tinggalnya, tempat oran
(Pov Adrian)Liburan bersama? Sial. Apa yang sebenarnya kupikirkan?Kalimat itu awalnya hanya keluar begitu saja. Entah dorongan apa yang membuatku mengatakannya di depan Melati dan Amara. Sekarang, aku harus menanggung konsekuensinya.Aku mengembuskan napas berat sambil memijat pelipis. Kepalaku masih penuh dengan rencana besar yang belum benar-benar tuntas, dan sekarang malah harus memikirkan liburan.Pintu ruang kerja tertutup pelan. Danu melangkah masuk dan berhenti tepat di depan meja.“Tuan.”“Ada apa? Cepat katakan.”Danu menyerahkan tabletnya.Sejak aku setuju menyerahkan seluruh sahamku kepada Hatmoko, aku tidak pernah benar-benar diam. Aku menghubungi orang-orang lamaku, mereka yang bekerja di wilayah abu-abu. Mata-mata yang tak terdaftar, analis keuangan bawah tanah, sampai ahli penghilang jejak yang hidup di antara hukum benar dan salah.Hanya orang bodoh yang berpikir aku melepas sahamku demi seorang perempuan. Aku hanya memberikan apa yang Hatmoko inginkan, dan itu hanya
Senja sudah hampir sepenuhnya menghilang ketika aku dan Kak Adel sampai di Vila Seroja. Langit perlahan berubah biru gelap, sementara lampu-lampu jalan kecil yang ditanam di sepanjang taman mulai menyala, memancarkan cahaya yang lembut.Begitu memasuki koridor, deretan pelayan sudah bersiap. Mereka berdiri rapi di kedua sisi, mengenakan seragam putih gading yang senada dengan interior vila.“Selamat malam, Nona,” ucap salah satu pelayan sambil membungkuk sopan.Aku membalas dengan anggukan kecil.Meski berusaha tenang, jujur saja ... perutku sedikit mual. Makan malam bersama semua nona, dan juga Tuan Adrian terasa seperti menghadapi ujian besar.Kak Adel menepuk pelan punggungku. “Tidak perlu tegang. Ini hanya makan malam.”Aku mengangguk, meski jelas-jelas masih gugup.Kami menuju pendopo makan yang berada di bagian luar vila. Pendopo itu terbuka, dengan lantai kayu coklat tua yang mengilap. Tepat di depannya, hanya beberapa meter dari tempat kami berdiri, terhampar pantai dengan omb
Langkahku terhenti ketika Nona Adel berdiri di dekatku, rambutnya yang sebahu dan terurai itu sedikit berkibar diterpa angin laut yang hangat. Cahaya matahari sore yang memantul di permukaan air memberinya rona keemasan yang membuat siluetnya tampak lembut.“Nona Adel,” sapaku pelan.Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak dingin seperti sebagian besar nona lain, tetapi juga tidak terlalu manis. Cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak berniat jahat.“Kamu berjalan sendiri?” tanyanya sambil melirik ke sekitar.“Iya, Nona,” jawabku.“Di mana Risa?” tanya Nona Adel lagi.“Nona Risa ... dia memilih berjalan ke arah lain, Nona.”Nona Adel tersenyum miring. Lalu bersuara lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Benar-benar penakut. Sejauh itu dia takut pada Kak Amara.”Aku terdiam. Tidak tahu harus menanggapi seperti apa.Nona Adel menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan. “Mau aku temani jalan-jalan?”Pertanyaan di luar prediksiku itupun membuatku sedikit terkejut. Namun, kar
Nona Risa, nona yang tadi menolakku duduk di sampingnya. Ternyata dia adalah yang akan menjadi teman sekamarku selama di vila.“Nona ....”“Aku Risa.”“Oh, iya, Nona Risa. Saya—”“Melati,” ia menyahut cepat. “Iya, aku tahu. Tidak perlu memperkenalkan diri lagi.”Nona Risa kemudian berjalan ke area tempat tidur dan menunjukkan mana tempat tidur serta lemari yang bisa kupakai.Aku mengangguk paham dan berterima kasih. Lalu mulai membuka koper, mengeluarkan baju-bajuku.Suasana kamar awalnya hening; hanya ada suara gerakanku saat merapikan barang. Namun, beberapa saat kemudian Nona Risa memanggilku.“Melati.”Aku menghentikan kegiatan dan menatapnya. “Iya, Nona?”“Maaf, ya, tadi di bus aku melarangmu duduk di sebelahku. Aku takut ... kalau aku mengizinkanmu, Kak Amara akan memusuhiku dan menghukumku.”Aku cukup terkejut. “Oh ... i-iya, Nona, tidak apa-apa. Saya mengerti, Nona. Tapi ... apa Nona Amara juga sering menghukum para nona lain di Rumah Jelita?”“Ehm ....” Nona Risa tampak ragu.
Pagi ini ada yang sedikit berbeda di Kediaman Cempaka. Suasananya jauh lebih ramai dari biasanya.Aku dan para nona dari Rumah Jelita berkumpul di halaman untuk bersiap menaiki bus. Sesuai dengan janji Tuan Adrian kemarin, hari ini kami semua akan berlibur.Sekar memberikan koperku padaku. “Hati-hati, Nona. Semoga liburan Anda menyenangkan.”Aku menerima koperku. “Sayang sekali Tuan Adrian tidak membiarkan para pelayan untuk ikut, padahal saya sangat mengkhawatirkan Nona.”“Kamu tenang saja, Sekar. Aku akan menjaga diri sebaik mungkin. Doakan saja ...,”—aku menoleh ke arah Nona Amara berdiri—“mereka tidak menggangguku.”Kejadian kemarin sore masih bisa kuingat dengan jelas. Semua ancaman Nona Amara, perlakuannya yang mendorongku ke kolam renang, bahkan seperti apa sorot matanya, aku masih mengingatnya.“Nona-nona, dipersilakan untuk memasuki bus!” Seorang pengawal laki-laki berucap dengan suara lantang.Aku kembali melihat Sekar. “Aku pergi.”“Iya, Nona.”Sebelum menaiki bus, aku menar







