LOGIN[Anna! Astaga, kau masih hidup, ‘kan?!] Seru Jane di seberang telepon. [Kenapa kau menghilang? Teleponku tidak kau angkat, pesan tidak kau balas!]
Biasanya Jane memang selalu menjadi tempatku cerita. Tertekan dengan situasi ini, aku ingin menangis dan membuat suaraku sendiri terdengar bergetar. "Jane... aku... aku terjebak," bisikku. Walaupun aku berada di dalam kamar, aku takut terdengar oleh pelayan yang bekerja di penthouse ini. [Apa yang terjadi? Aku sudah membaca pesan-pesan darimu, tapi jelaskanlah dengan benar sekarang!] Aku menceritakan semuanya pada Jane, secara berurutan tanpa ada yang terlewat, tentang apa yang terjadi padaku belakangan ini. Rasa gugup karena memikirkan diriku akan terjebak di sini terus-menerus, membuatku tidak bisa tenang dan terus melangkah lambat di sisi kamar. [Dia seperti menyandramu, Anna. Meski dia bosmu, bukankah itu tetap tindak pemaksaan dan ilegal?] Jane terdengar ngeri. [Kau harus pergi dari sana!] "Aku tidak bisa," lirihku. "Kalau aku pergi dari sini, pasti aku juga akan diberhentikan dari Lawrence Company. Dan Lily... Jane, dia anak yang manis, dia benar-benar mengira aku ibunya. Jika aku pergi, aku akan menghancurkannya." [Astaga, ini terdengar sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa tiba-tiba kau harus jadi ibu untuk anak orang lain? Kau butuh kehidupan normalmu, Anna. Satu malam saja. Kau harus keluar dari sana.] "Aku tidak bisa, Mark akan...." [Persetan dengan Mark!] potong Jane. "Besok lusa, Jumat malam, Steven pulang. Kalian bisa bertemu, kalian sudah lama saling rindu, bukan? Dia bilang nomormu tidak bisa dihubungi. Aku sangat khawatir.] Aku tidak tahu harus berkomentar apa, sampai akhirnya Jane melanjutkan kalimatnya. [Kalian harus bertemu, kalian sudah menjalin hubungan selama satu tahun lebih. Steven menyelesaikan gelar masternya. Dia siap melamarmu, Anna. Jangan ditolak!] "Jane, itu tidak mungkin..." [Restoran Céleste, jam delapan malam. Kau harus datang, karena aku sudah memesan dua kursi spesial. Aku yang traktir, demi kalian berdua.] Telepon ditutup. Ide itu tertanam di kepalaku. Satu malam saja untuk menjadi Anastasia Walter lagi. Bukan 'Sekretaris Walter', bukan 'Ibu', aku ingin jadi diriku sendiri. *** Dua hari berikutnya terasa lama sekali. Aku terus memikirkan risiko terburuk apabila Mark tahu aku menyelinap pergi. Saat jam kerjaku selesai dan aku sudah menjalankan tugasku untuk mengantar Lily terapi pukul tiga sore tadi, aku memberanikan diri masuk ke ruangan Mark. Kulihat, dia sibuk dengan tumpukan kertas, bahkan saat aku membuka pintu, dia tidak mengetahuinya. "Tuan?" lirihku yang membuatnya mengangkat kepala. "Saya... saya ada urusan mendesak malam ini, ada masalah dengan apartemen saya yang lama. Saya harus bertemu dengan pemiliknya untuk menandatangani beberapa berkas." Mark coba menelisik kata-kataku dan beruntungnya, dia tidak curiga sama sekali. “Berapa lama? Kau tahu kalau Lily pasti menunggumu, ‘kan?” "Saya tahu, Tuan," sahutku cepat. "Ini tidak akan lama. Mungkin dua atau tiga jam saja. Saya berjanji akan kembali sebelum Lily tidur." Mark diam, cukup lama, hingga aku menerka-nerka apa yang dia pikirkan. Dia mengetukkan jarinya di atas meja, beberapa kali, sampai akhirnya kembali menatapku dan mengangguk. "David akan mengantarmu.” "Tidak, tidak,” sahutku, terlalu cepat dan membuatku salah tingkah. Mark mengerutkan keningnya. “Ma-maksud saya... tidak perlu, Tuan," kataku, mencoba terdengar lebih tenang. "Tempatnya dekat. Saya bisa naik taksi.” Mark kembali diam hingga tatapan kami bertemu. Menunggu Mark bicara seperti menunggu antrean di depan neraka, sangat menyiksa. Tapi untungnya, apa yang diucap Mark tidak pernah aku bayangkan. Dia mengizinkanku, dengan satu syarat, yaitu kembali tepat waktu. Aku hampir saja tersandung karena terlalu bersemangat. Meski hanya beberapa jam, aku merasa bebas menjadi diriku sendiri, setelah satu minggu berperan ganda di istana Mark Lawrence. Aku pun bersiap, memakai gaun terbaik yang kubawa dari apartemenku, gaun hitam berbahan satin yang dipadukan dengan sepasang stiletto di kakiku. Kemudian, aku berangkat menuju tempat yang sudah dipersiapkan Jane. Restoran Céleste penuh alunan musik jazz dan tawa pelan orang-orang yang sedang menikmati hidup mereka. Aku mendatangi meja VIP dan mendapati Steven sudah menunggu di sana. Begitu melihatku, dia langsung bangkit dan membawaku ke dalam pelukannya. "Anna! Ya Tuhan....” Aku membalas pelukannya dan tersenyum semringah. Terlepas dari fakta bahwa Steven pernah selingkuh dariku, dua kali selama kami berpacaran, aku yang naif ini tetap menyukainya. Dan bertemu dengannya setelah beberapa bulan terakhir dia kembali ke California, aku senang sekali. “Maaf soal yang terjadi beberapa hari lalu,” kataku. Steven tak langsung menjawab. Dia mengajakku duduk di meja kami, berhadapan, dan tangannya terulur di tengah meja untuk menggenggam tanganku. "Apa yang terjadi?" tanya Steven. "Teleponmu pagi itu... aku tidak mengerti. Kau bilang kau pengasuh? Lalu ada suara bosmu dan seorang anak kecil yang memanggilmu ibu? Aku nyaris berpikir kau membohongiku dan diam-diam sudah berkeluarga, Anna." "Ini... rumit sekali." "Aku pulang ke New York untukmu, Anna. Aku juga sudah mendapat tawaran di firma hukum besar di sini. Aku pulang untuk kita. Jadi, jelaskan padaku.” Aku mencoba menjelaskannya. Semua yang kujelaskan pada Jane tempo hari, kujelaskan lagi pada Steven. Kecuali, detail tentang Mark. Aku hanya membuat Mark tampak seperti CEO pada umumnya, sosok ayah yang tidak ingin anaknya semakin terluka, dan sedang meminta bantuanku sebagai sekretarisnya demi sang anak. "Jadi kau... tinggal di sana?" tanyanya. "Di rumahnya untuk berpura-pura menjadi ibunya?" "Hanya sementara, Steven. Sampai kondisi mentalnya stabil. Mungkin beberapa bulan. Tapi tenang, Mark memberiku gaji empat kali lipat dari gajiku sebagai sekretarisnya.” "Persetan dengan gajinya. Itu sangat tidak masuk akal," katanya, suaranya naik. “Tujuanku pulang adalah untuk melamarmu, tapi kau malah tinggal di rumah pria lain.” "Steven, jangan... kumohon, ini bukan—" Tampaknya Steven belum berubah. Dia akan melakukan apa pun yang dia inginkan, dalam situasi apa pun, dan mengedepankan egonya demi memastikan keadaan berjalan seperti yang dia susun. Dia beranjak dari kursinya, lalu berlutut di samping kursiku. Tangannya memegang sebuah kotak cincin bersepuhkan perak, dia melamarku. Tepat pada saat itulah aku merasakannya, suara seorang anak kecil yang entah kenapa membuat jantungku berdegup kencang. Saat di mana suara anak kecil itu semakin dekat dan Steven menoleh, aku tertegun. Itu Lily. Gadis kecil itu melewati Steven, lantas langsung memelukku. Komitmen Steven yang menyatakan ingin menikahiku, seperti menguap begitu saja, sebab segalanya seolah berpusat pada Lily yang kemudian berkata, “Ibu ... apa yang Ibu lakukan di sini? Kenapa tidak datang ke restoran bersama aku dan ayah saja?” *** Bersambung .....“Hati-hati kalau bicara! Mulutmu itu ternyata jauh lebih kotor daripada sampah! Pengkhianat dan tukang selingkuh seperti dirimu itulah yang justru wanita nakal!”“APA KAU BILANG?!”Aku tidak mengerti, Paula sepertinya bernafsu sekali ingin berbuat kasar dan main tangan terhadapku, sekalipun anaknya sedang ada di sini dan bisa menyaksikan perbuatannya.Tapi beruntung, sebelum tangannya yang sudah terangkat melakukan sesuatu kepadaku, Mark sudah lebih dulu menghalangi.Pria itu berdecak marah.Tak ingin pertengkaran terjadi di hadapan si mungil Lily, Mark langsung menarik tangan Paula, menyeretnya pergi dari dapur, persis seperti yang tadi dilakukan William Harold.Setelah mereka pergi, aku menopang tanganku pada pinggiran meja makan, lantas menghela napas berat, berupaya menenangkan diri dan meredakan emosiku.“Ibu...,” Lily merengek pelan.Menyadari tentang Lily yang masih di dekatku, aku segera tersadar dan berbalik lagi.“Ya, Sayang? Ayo, kembali ke kursimu dan habiskan buah potongm
Paula muncul di dapur.William langsung melepaskan pelukannya padaku, setelah menyadari bahwa teguran tegas barusan berasal dari putrinya yang seakan siap mengamuk.Aku pun segera mundur satu setengah langkah, menjauh dari ayahnya Paula tersebut.“Apa-apaan ini?!” tanya Paula.Dia mengambil langkah mendekat ke arahku dan William. Dengan wajahnya yang kaku oleh amarah, mendadak dia mendorongku kencang.Dorongannya itu membuatku mundur beberapa langkah dan nyaris hilang keseimbangan, tetapi untungnya ada counter dapur di sebelah kiriku, sehingga aku bisa segera menumpukan tanganku di sana untuk mempertahankan diri.“Apa kau sudah gila?!” bentak Paula. “Setelah menggoda suamiku, sekarang kau mengincar ayahku juga?!”Aku menggeleng cepat. “Aku tidak bermaksud.... Aku tidak melakukan apa-apa, Paula.”“KAU MEMANG JALANG MURAHAN!!”Paula mengangkat tangan kanannya untuk menamparku.Aku refleks memejamkan mata dan menundukkan kepala.Tapi untungnya, William langsung mencengkeram pergelangan t
“California? Mengatakan... mengatakan apa maksud Anda? Saya tidak mengerti.”Pertanyaan bingungku barusan, tak ditanggapi. William malah bergeming lama.Tatapannya tak lepas dari wajahku, dan itu membuatku sedikit merasa diintimidasi. Namun, aku bisa melihat kegelisahannya semakin besar.Seperti yang kusebutkan sebelumnya, ada suratan penyesalan di mata itu, terlebih setelah dia menyadari sesuatu setelah aku balik bertanya.Jelas pria tua ini sedang menahan hal besar di dalam pikirannya, pun juga di balik lidahnya yang tertahan.Tapi aku tidak tahu apa-apa, dan tidak mengerti pula mengapa dia mengajakku bicara tentang California, sehingga aku menunggu sedikit detail atau penjelasan.“Jadi, kau bisa mengenal Mark, karena kau bekerja untuknya?” William malah mengganti pertanyaan.“I-iya, Tuan.” Aku mengangguk berkali-kali. “Saya sekretaris Mark di Lawrence Company. Lalu, ehm... karena kondisi kesehatan Lily, beberapa bulan yang lalu, Mark juga meminta saya untuk menjadi pengasuh Lily.”
Ketika Mark memintaku untuk ‘menunggu’, sekujur tubuhku semakin membeku. Lidahku di balik bibir yang terkatup rapat pun kelu.Entah harus bagaimana menanggapi itu.Lagi dan lagi, dia menempatkanku dalam posisi di mana aku harus merasa bersalah, seolah aku adalah penjahat.“Anna?” panggil Mark, karena aku diam lama sekali tanpa memberikan tanggapan sedikitpun.Usai mendorong saliva susah payah, akhirnya aku buka mulut.“Aku... apa yang kau ingin aku lakukan dengan keputusanmu itu?” Aku balik bertanya. “Maksudku, jika aku menunggumu menceraikan Paula... bukankah aku terlihat sangat jahat? Mark berkedip lambat, tetapi belum merespons.“Kau memang tidak pernah bilang bahwa kau benar-benar punya perasaan khusus padaku.” Aku tersenyum getir, dan melanjutkan, “Tapi tetap saja intinya sama. Menunggu seorang istri diceraikan, agar aku bisa mendapatkan suaminya... itu jahat sekali, bukan?”“Kau tetap mengatakan itu, padahal kau sudah tahu apa yang telah Paula lakukan padaku dan Lily?” sahut Ma
“Jika kau masih berani menghina Anastasia di hadapanku, aku tidak peduli lagi meski kau sedang hamil. Aku akan langsung mengurus perceraian kita.” Paula menelan ludah. Namun, kelopak bawah matanya terangkat, membuat kedua matanya memicing. “Bisa-bisanya kau memperlakukan istrimu sendiri seperti ini, hanya untuk membela sekretarismu,” desis Paula. “Kau yang membuatku bertindak seperti ini. Kau seharusnya sadar betapa keterlaluannya dirimu, Paula.” “Aku hanya memberi masukan kepadamu atas keputusan bisnis yang kau lakukan, Mark. Aku mencoba menolongmu!” sahut Paula. “Aku tidak butuh masukanmu.” “Kau benar-benar keras kepala. Kau tidak boleh membiarkan klien besarmu jatuh ke tangan kompetitormu!” “Kenapa? Apakah karena Rieley Group sedang dalam krisis belakangan ini, sehingga proyek Mr. Weenie kemungkinan bisa menyelamatkan profit mereka, sedangkan alasanmu kembali padaku adalah karena Jackson Rieley sudah berada jauh di bawahku dan hampir bangkrut? Begitu?” Mark memberi jeda unt
“Kau milikku, Anna. Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku.”Perkataan Mark di New Jersey kemarin, terus menghantui pikiranku.Aku tidak mengerti.Seharusnya itu menjadi ancaman nyata bagiku, tetapi aku justru malah tersanjung dan semakin... berharap padanya.Mengesampingkan persoalan itu dulu, setelah kemarin berada di New Jersey seharian penuh, hari ini aku sudah datang ke kantor sejak pukul tujuh pagi.Aku harus menyusun tumpukan dokumen penting yang tak tersentuh kemarin.Mark baru akan datang pukul sembilan nanti. Dan sebelum dia datang, dokumen-dokumen itu harus sudah siap.Kupikir David akan menyopiri Mark pagi ini, dan nantinya datang bersama dengan bos kami itu. Namun pukul delapan pagi, ketika aku sedang berkutat dengan komputer di meja Mark untuk menyiapkan folder khusus, David tiba-tiba muncul.“David? Apakah Mark datang lebih cepat?” tanyaku heran. “Astaga... folder yang dia minta belum selesai kususun.”“Tidak,” jawabnya. “Tuan Lawrence memintaku ke sini duluan untu







