LOGIN"Saya...," Aku mencoba mencari alasan setelah dia mengancam akan mengangkat telepon dari Steven. "Saya rasa itu tidak penting, Tuan."
Dia tak merespons lagi, tetapi rahangnya yang tampak mengeras, seirama dengan intimidasi dari sorot matanya. Aku tertegun ngeri. Dia serius dengan perintahnya. Di seberang meja, Lily menatap kami bergantian, mata birunya yang jernih penuh kebingungan dengan pipinya yang mengembung selagi mengunyah sereal. Aku tidak punya pilihan. Dengan jari gemetar, aku menekan tombol hijau di ponselku, terpaksa mengangkat telepon dari Steven di depan Mark. "Nyalakan pengeras suara," titah Mark. “Tuan, seharusnya ini bukan urusan—” "Nyalakan," ulang Mark, suaranya datar. “Aku ingin dengar.” Lidahku sudah gatal ingin berdecak. Bosku ini kian melewati batas, dia benar-benar mengontrolku dengan berbagai cara. Sayangnya, meski jengkel, tak ada yang bisa kulakukan selain patuh. [Anna! Ya Tuhan, kau di mana saja?! Kenapa baru mengangkat teleponku?!] Aku tersentak mendengar Steven menukas di seberang telepon. Lily pun sampai terlonjak kaget di kursinya. [Kenapa kau menghilang? Aku meneleponmu semalaman, Sayang! Aku ke apartemenmu dan kau tidak ada. Kau pergi ke mana, huh? Apa kau baik-baik saja?] Aku memejamkan mata sejenak, menahan malu dan panik. Aku melirik Mark yang berbalik menatapku. Dari caranya melihatku begitu Steven menyebutku ‘Sayang’ di seberang sana, aku tahu, dia menyimpan emosi. "Steven, hai," kataku, suaraku nyaris bergetar. "Aku... aku baik-baik saja. Maaf, aku tidak sempat mengabari." [Tidak sempat?! Anna, aku hampir menelepon polisi karena khawatir padamu! Kau di mana sekarang? Kenapa kau terdengar ketakutan? Kau bersama siapa? Apakah perlu kujemput?] "Aku... aku sedang bekerja,” jawabku pelan sembari memalingkan wajah untuk meredam suara. Aku tidak bisa berkata jujur, apalagi di hadapan Lily dan Mark. Aku harus menyembunyikan ini dari Steven, setidaknya sampai aku bisa bertemu dengannya dan menjelaskan langsung secara tatap muka. “Aku dapat pekerjaan baru. Untuk sementara waktu, aku harus meninggalkan apartemen karena sering keluar kota. Aku jadi pengasuh....” "Ibu menelepon siapa?” tanya Lily tiba-tiba. “Kenapa Ibu dimarahi seperti itu?” [Suara siapa itu? Kau bersama anak kecil?] Sial. Aku tidak tahu apakah Mark peka bahwa Lily sudah mengacaukan rencana yang sudah aku susun dan dia ingin menolongku, atau justru dia sengaja ingin memperburuk keadaan. Karena sejenak setelahnya, dia sengaja mengambil cangkir teh paginya dan meletakkannya di atas piring kosong, menimbulkan bunyi denting yang nyaring. "Sekretaris Walter,” panggilnya dengan agak keras, seolah ingin Steven mendengar suaranya. "Tehku dingin. Kau tahu aku tidak bisa menikmatinya. Bisa tolong ambilkan yang baru?” [Sekretaris Walter?] Suara Steven kini berubah, lebih rendah dan menyuratkan rasa tak suka. [Di mana kau sebenarnya?! Apakah yang dikatakan Jane benar? Kau pindah ke rumah bosmu?] Aku tidak ingin Lily mendengar suara Steven yang kembali meninggi. Dia masih terlalu kecil untuk mendengar hal seperti ini. Jadi, aku segera mematikan pengeras suara dan menempelkan ponsel ke telinga. "Steven, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” ucapku, sebisa mungkin pelan, karena Mark tak membiarkanku beranjak menjauh dari meja makan. [Kau keterlaluan, Anna. Apa yang kau pikirkan sampai mau tinggal di rumah bosmu sendiri? Kau ingin menjual diri atau bagaimana, huh?] Steven kelewatan dengan kalimat terakhirnya. Aku ingin marah, tetapi ada Lily yang membuatku merasa perlu mengendalikan diri. Setelah menelan ludah selagi masih menahan amarah, aku mendesis datar, “Aku tidak bisa bicara sekarang. Nanti akan kuhubungi lagi." Aku segera mengakhiri telepon, lalu menatap Mark dan Lily secara bergantian. Mereka seperti dua sipir yang mengintai seorang tersangka. Namun kulihat, Lily seperti gelisah dan takut, matanya juga tampak berair. Aku tidak bisa berbuat banyak ketika Mark kemudian bangkit dari duduk, lalu berjalan ke arah kursi Lily dan sepenuhnya mengabaikanku. “Ayah... siapa yang menelepon ibu? Mengapa ibu dimarahi seperti itu? Kasihan ibu...,” tutur Lily dengan suara pelan dan sedikit gemetar karena ingin menangis. "Sepertinya orang itu hanya salah sambung, Sayang,” kata Mark, suara beratnya terdengar teduh sekali. Dia membungkuk untuk mencium puncak kepala Lily dan membelai rambut pirang putrinya, lalu menenangkan, “Ayah pastikan, orang itu tidak akan mengganggu ibu lagi.” Lily mengangguk berkali-kali. Senyum manisnya merekah ketika dia menatap ke arahku. Aku mencoba bersikap normal bak tak ada apa pun yang terjadi, sehingga aku membalas senyumannya dan berkata, “Lanjutkan sarapanmu, Lily. Ibu akan memotongkan buah untukmu.” Dia mengangguk cepat, wajahnya semakin semringah. Ketika aku sedang berada di belakang meja keramik dapur dan memotong apel untuk Lily, Mark mendatangiku. Pria itu berujar pelan, nyaris berbisik agar Lily tak dengar, “Lily memiliki kondisi mental khusus setelah istriku pergi. Kuharap, pacarmu itu tidak membuat putriku ketakutan seperti tadi lagi.” Aku tertegun mendengar peringatan dari Mark. Ketika dia melempar pandangannya ke arah Lily yang masih di meja makan, aku mengikuti arah pandangnya, dan dia kembali memperingati, "Kau di sini untuk satu alasan, Anastasia. Untuk putriku. Menjadi ibu untuknya. Apakah itu belum jelas bagimu?" “Saya tahu, Tuan. T-tadi... situasinya sedikit tidak terkendali. Anda sendiri yang menyuruhku mengangkat telepon di meja makan,” jawabku pelan. Mark sedikit memicingkan matanya mengamatiku. Tanpa bicara apa-apa lagi, dia menghampiri Lily dan memintanya untuk bersiap, karena hari ini, Lily akan menjalani pemeriksaan ke psikoterapis anak. Pria itu pergi dari ruang makan bersama Lily, meninggalkanku sendirian tanpa menghiraukan apel yang padahal kupotong untuk Lily. Akulah yang mengantar Lily ke psikoterapis. Siapa lagi? Mark sibuk. Dia langsung ke kantor lebih dulu setelah memastikan Lily sudah siap pergi bersamaku. Mark mengizinkanku menggunakan salah satu koleksi mobil mahalnya. Jadi, ditemani oleh David aku pun membawa Lily pergi ke kantor Dr. Reed—psikoterapis pribadi Lily yang dibayar mahal oleh Mark. "Nona Walter," kata Dr. Reed, pelan, ketika sesi terapis sudah selesai dan Lily menunggu di luar ruangan bersama David. "Tuan Lawrence sudah menjelaskan padaku lewat telepon, soal apa yang terjadi di kantornya. Ini jauh lebih rumit dari yang saya bayangkan,” sambung pria paruh baya itu. Melihatnya menghela napas berat, aku mulai cemas. “Bisa jelaskan apa yang terjadi, Dok?” Dr. Reed mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dua tahun lalu, saat Lily masih berusia tiga tahun, dia menemukan ibunya pingsan di kamar mandi setelah sebuah insiden. Lily hanya menangis, sampai beberapa jam, hingga akhirnya Tuan Lawrence pulang. "Ibunya dilarikan ke rumah sakit," lanjut dokter itu. "Dan seminggu kemudian, dia menghilang dari rumah sakit. Lenyap. Tidak ada catatan, tidak ada kabar." Aku teringat gumaman Mark waktu kami pertama bertemu di bar. Sudah pasti yang sedang dibicarakan oleh Dr. Reed adalah Paula. “Aku baru dengar tentang ini, Dok. Apa yang terjadi selanjutnya?” tanyaku, meminta penjelasan. "Lily tidak pernah membicarakan hari itu,” kata Dr. Reed. "Lily mengalami trauma block. Pikirannya mengubur ingatan itu dalam-dalam untuk melindungi dirinya sendiri, mengira ibunya hanya pergi sementara dan akan kembali. Dia tidak pernah menangis. Dia menjadi anak yang pendiam dan patuh kepada ayahnya.” Dr. Reed mengerutkan kening, tampak lebih serius, sebelum menyambung, "Sampai akhirnya Anda muncul, sikapnya berubah dan dia mau mengakui sosok ibu pada Anda.” "Jadi... apa yang harus saya lakukan?" Jawaban dari pertanyaan gugupku itulah yang membuat diagnosis jatuh. Resep yang akan menghancurkan sisa-sisa kehidupanku. "Jangan paksa Lily untuk mengingat," kata Dr. Reed, tenang namun penuh keseriusan. "Jika Anda menyangkalnya lagi, lalu membuatnya histeris seperti sebelumnya, itu bisa menghancurkan mekanisme pertahanannya. Jika itu terjadi, kemungkinan Lily akan mengalami cacat psikologis permanen.” Kalimat itu terus terngiang di benakku. Sore hingga malam, aku terus membayangkan, bagaimana hidup di posisi Lily yang terlalu tersiksa, bahkan otaknya memproses tragedi manipulatif yang membuatnya lupa kalau ibunya benar-benar pergi. Ucapan ‘cacat psikologis permanen’ terus menghantuiku, bahkan sampai Lily akhirnya terlelap setelah kubacakan dongeng, ingatan itu tidak bisa hilang. Tapi aku tidak bisa terus begini, apalagi dikekang sosok CEO dingin dan anaknya, yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana rupa ibunya. Ketika aku merenung sendiri, ponselku kembali berdering. Saat aku membaca namanya, aku merasa, penderitaan ini mungkin bisa segera diselesaikan! *** Bersambung ......Karyawan yang dipanggil oleh Mark untuk ke ruangannya, berjumlah lima orang. Mereka berasal dari dua departemen yang berbeda.Sejak tiga puluh menit yang lalu, kepala dari masing-masing departemen dan kepala HRD, menyusul ke dalam ruangan Mark setelah dipanggil juga.Aku tahu, lima karyawan itu akan... dipecat.Hal tersebut membuatku gundah.Aku tak tahu apa yang menjadi pertimbangan Mark untuk memecat mereka, tetapi jika alasan utamanya adalah karena mereka menghinaku, aku tidak tahu harus bagaimana selain merasa bersalah.Sebelum pukul empat sore, mereka semua keluar dari ruangan Mark. Dapat kulihat betapa sedih dan murungnya wajah mereka, mereka bahkan tak berani menatapku yang duduk di meja kubikalku.Seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala HRD, keluar paling belakang. Dia mendatangi mejaku, sementara yang lain sudah beranjak menuju lift.“Nona Walter?” panggil wanita itu.“Ada yang bisa aku bantu?” responsku seraya bangkit dari duduk.“Maaf atas keributan yang terjadi har
“Hati-hati kalau bicara! Mulutmu itu ternyata jauh lebih kotor daripada sampah! Pengkhianat dan tukang selingkuh seperti dirimu itulah yang justru wanita nakal!”“APA KAU BILANG?!”Aku tidak mengerti, Paula sepertinya bernafsu sekali ingin berbuat kasar dan main tangan terhadapku, sekalipun anaknya sedang ada di sini dan bisa menyaksikan perbuatannya.Tapi beruntung, sebelum tangannya yang sudah terangkat melakukan sesuatu kepadaku, Mark sudah lebih dulu menghalangi.Pria itu berdecak marah.Tak ingin pertengkaran terjadi di hadapan si mungil Lily, Mark langsung menarik tangan Paula, menyeretnya pergi dari dapur, persis seperti yang tadi dilakukan William Harold.Setelah mereka pergi, aku menopang tanganku pada pinggiran meja makan, lantas menghela napas berat, berupaya menenangkan diri dan meredakan emosiku.“Ibu...,” Lily merengek pelan.Menyadari tentang Lily yang masih di dekatku, aku segera tersadar dan berbalik lagi.“Ya, Sayang? Ayo, kembali ke kursimu dan habiskan buah potongm
Paula muncul di dapur.William langsung melepaskan pelukannya padaku, setelah menyadari bahwa teguran tegas barusan berasal dari putrinya yang seakan siap mengamuk.Aku pun segera mundur satu setengah langkah, menjauh dari ayahnya Paula tersebut.“Apa-apaan ini?!” tanya Paula.Dia mengambil langkah mendekat ke arahku dan William. Dengan wajahnya yang kaku oleh amarah, mendadak dia mendorongku kencang.Dorongannya itu membuatku mundur beberapa langkah dan nyaris hilang keseimbangan, tetapi untungnya ada counter dapur di sebelah kiriku, sehingga aku bisa segera menumpukan tanganku di sana untuk mempertahankan diri.“Apa kau sudah gila?!” bentak Paula. “Setelah menggoda suamiku, sekarang kau mengincar ayahku juga?!”Aku menggeleng cepat. “Aku tidak bermaksud.... Aku tidak melakukan apa-apa, Paula.”“KAU MEMANG JALANG MURAHAN!!”Paula mengangkat tangan kanannya untuk menamparku.Aku refleks memejamkan mata dan menundukkan kepala.Tapi untungnya, William langsung mencengkeram pergelangan t
“California? Mengatakan... mengatakan apa maksud Anda? Saya tidak mengerti.”Pertanyaan bingungku barusan, tak ditanggapi. William malah bergeming lama.Tatapannya tak lepas dari wajahku, dan itu membuatku sedikit merasa diintimidasi. Namun, aku bisa melihat kegelisahannya semakin besar.Seperti yang kusebutkan sebelumnya, ada suratan penyesalan di mata itu, terlebih setelah dia menyadari sesuatu setelah aku balik bertanya.Jelas pria tua ini sedang menahan hal besar di dalam pikirannya, pun juga di balik lidahnya yang tertahan.Tapi aku tidak tahu apa-apa, dan tidak mengerti pula mengapa dia mengajakku bicara tentang California, sehingga aku menunggu sedikit detail atau penjelasan.“Jadi, kau bisa mengenal Mark, karena kau bekerja untuknya?” William malah mengganti pertanyaan.“I-iya, Tuan.” Aku mengangguk berkali-kali. “Saya sekretaris Mark di Lawrence Company. Lalu, ehm... karena kondisi kesehatan Lily, beberapa bulan yang lalu, Mark juga meminta saya untuk menjadi pengasuh Lily.”
Ketika Mark memintaku untuk ‘menunggu’, sekujur tubuhku semakin membeku. Lidahku di balik bibir yang terkatup rapat pun kelu.Entah harus bagaimana menanggapi itu.Lagi dan lagi, dia menempatkanku dalam posisi di mana aku harus merasa bersalah, seolah aku adalah penjahat.“Anna?” panggil Mark, karena aku diam lama sekali tanpa memberikan tanggapan sedikitpun.Usai mendorong saliva susah payah, akhirnya aku buka mulut.“Aku... apa yang kau ingin aku lakukan dengan keputusanmu itu?” Aku balik bertanya. “Maksudku, jika aku menunggumu menceraikan Paula... bukankah aku terlihat sangat jahat? Mark berkedip lambat, tetapi belum merespons.“Kau memang tidak pernah bilang bahwa kau benar-benar punya perasaan khusus padaku.” Aku tersenyum getir, dan melanjutkan, “Tapi tetap saja intinya sama. Menunggu seorang istri diceraikan, agar aku bisa mendapatkan suaminya... itu jahat sekali, bukan?”“Kau tetap mengatakan itu, padahal kau sudah tahu apa yang telah Paula lakukan padaku dan Lily?” sahut Ma
“Jika kau masih berani menghina Anastasia di hadapanku, aku tidak peduli lagi meski kau sedang hamil. Aku akan langsung mengurus perceraian kita.” Paula menelan ludah. Namun, kelopak bawah matanya terangkat, membuat kedua matanya memicing. “Bisa-bisanya kau memperlakukan istrimu sendiri seperti ini, hanya untuk membela sekretarismu,” desis Paula. “Kau yang membuatku bertindak seperti ini. Kau seharusnya sadar betapa keterlaluannya dirimu, Paula.” “Aku hanya memberi masukan kepadamu atas keputusan bisnis yang kau lakukan, Mark. Aku mencoba menolongmu!” sahut Paula. “Aku tidak butuh masukanmu.” “Kau benar-benar keras kepala. Kau tidak boleh membiarkan klien besarmu jatuh ke tangan kompetitormu!” “Kenapa? Apakah karena Rieley Group sedang dalam krisis belakangan ini, sehingga proyek Mr. Weenie kemungkinan bisa menyelamatkan profit mereka, sedangkan alasanmu kembali padaku adalah karena Jackson Rieley sudah berada jauh di bawahku dan hampir bangkrut? Begitu?” Mark memberi jeda unt







