ANMELDEN"Lalu, bagaimana caranya kau bisa menikah dengan Tuan Nick?" Zoe terlihat sangat penasaran dengan perjalanan hidup Olivia selanjutnya. "Iya, ceritakan semuanya pada kami!" Edmund terlihat menuntut. Baginya ini adalah part paling penting untuk diketahui. Pria itu tak sabar ingin tahu mengenai bagaimana hubungan pernikahan Olivia dan juga Nick. Entah mengapa banyak yang mengganjal di benaknya. Salah satunya adalah Olivia tak tahu almamater Nick. Wanita itu pun tak tahu nama tengah suaminya. "Suatu hari aku melihat Nick di dekat menara Eiffel. Dia akan masuk ke sebuah restoran fancy yang ada di sana. Hari itu tak ada yang mau mengambil bunga dariku. Aku kalut, aku bingung karena dua hari lagi adalah hari transfusi darah untuk adikku, sementara uang sepeser pun aku tak punya. Kemudian aku menawarkan bunga pada Nick," Olivia tersenyum samar ketika mengingat pertemuannya dengan Nick. "Akan tetapi, dia tak tertarik. Aku yang melihat kotak beludru di saku jasnya mengambilnya. Ternyata di
Bodyguard Julie segera mengambil kursi agar nyonya besar itu bisa duduk. Ia duduk di hadapan Olivia, tepatnya di samping Edmund. Zoe memindai wanita itu. Ia baru melihat nyonya besar Louis Group dalam kehidupan nyata. Zoe cukup terkesima karena wanita yang melahirkan Nick itu sangat mempesona walau usianya tak lagi muda. "Ibu ingin kupesankan minuman, emm maksudku Nyonya besar ingin pesan minuman? Aku kira kau akan kehausan karena sebentar lagi kau akan mengeluaekan kata-kata pedasmu," sindir Olivia yang membuat Julie terlihat lebih emosional. "Tutup mulutmu itu!" Maki Julie seraya menunjuk ke wajah menantunya. "Ini semua sudah tidak benar. Ayo kita pergi!" Edmund mengajak Olivia dan Zoe untuk pergi dari sana. Edmund tak tahan mendengar ucapan kasar Julie pada wanita yang ia cintai. "Tidak, Ed. Dia tidak akan berhenti," Olivia menolak untuk pergi dari sana. Olivia merasa perlu menghandapi Julie dan tak menghindarinya. "Jadi, apa yang kau ingin katakan?" Tanya Olivia dengan w
Edmund dan Olivia sampai di wahana lift berhantu bernama The Twilight Zone Tower Of Terror. Keduanya kemudian masuk, sedangkan Zoe menunggu di luar wahana. Zoe yang penakut dengan hal yang berbau horor lebih memilih tak ilut. Lift berhantu ini menampilkan pengalaman di mana pengunjung menaiki lift fiktif yang dikutuk. "Ed, aku deg-degan!" Ucap Olivia saat mereka sudah berada di dalam lift itu. Hanya ada mereka berdua di dalamnya tanpa pengunjung yang lain. Lift kemudian tiba-tiba melesat naik setinggi tiga belas lantai. Lift ini akan dijatuhkan kembali ke bawah dengan cepat, bahkan lebih cepat dari gaya gravitasi, seakan membawa penumpang ke dimensi lain. "Ed!" Teriak Olivia saat lift melesat naik dengan cepat. "Tenanglah! Wahana ini hanya permainan!" Hibur Edmund yang bersikap sangat santai. Sebelum dijatuhkan, lift melewati koridor gelap di mana semua hantu menampakan diri. "Ed!" Olivia meloncat ke dada Edmund tanpa sadar. Edmund kemudian memeluk punggung wanita itu. J
Olivia memilin jarinya. Ia akan meminta izin pada Nick untuk berangkat ke Disneyland Paris esok hari bersama Zoe dan juga Edmund. Ia kemudian mendekati Nick. Ia melihat suaminya itu tengah duduk di atas kasur sembari menelfon. Nick terlihat bercakap di telfon genggam itu dengan wajah yang serius. "Nick?" Panggil Olivia, tapi Nick hanya menoleh dan mengisyaratkan jika dirinya tengah menelfon. Olivia mengangguk, kemudian ia segera keluar dari dalam kamar, memberikan privasi kepada suaminya. Ia yakin jika ada hal mendesak seputar pekerjaan Nick. Olivia kemudian terduduk di sofa. Ia mengambil ponselnya dan melihat grup chat yang berisikan dirinya, Zoe dan juga Edmund. "Bagaimana? Apa diizinkan oleh suamimu?" Tanya Edmund pada grup chat berlambang telfon hijau itu. "Aku juga tak sabar menunggu informasi darimu,' Zoe ikut berkomentar. "Belum, suamiku sedang menelfon. Aku pikir dia sedang membicarakan pekerjaan penting," balas Olivia. Ponselnya kemudian berdering kembali. "Kau
Suasana kelas tampak lebih tenang dari biasanya. Olivia melirik Stevi yang tengah mendemonstrasikan masakannya dengan mata yang bengkak. Olivia merasa iba dengan wanita itu. Kemudian tatapannya beralih pada Edmund yang sedang menatap ke arahnya. Tatapan pria itu tampak dalam. Olivia segera mengalihkan tatapannya dan fokus kembali menperhatikan Stevi. Saat jam perkuliahan usai, Olivia berjalan bersama Zoe menuju kantin. Edmund menyusul langkah keduanya. "Kalian mau ke mana?" Tanya Edmund dengan ceria. Olivia mengernyitkan dahinya. Mengapa Edmund kembali bersikap hangat padanya? Ah, Olivia semakin tak mengerti dengan pria yang ada di hadapannya ini. Mengapa sikapnya sering berubah? "Mau ke kantin," Zoe menjawab dengan tersenyum. "Aku ikut," tukas Edmund seraya berjalan melewati wanita itu. Olivia dan Zoe berpandangan dengan banyak pertanyaan di kepala. Keduanya menyusul langkah pria jangkung itu menuju kantin. Di sana Edmund memesan tiga porsi makanan dan minuman untuknya dan unt
Sesudah pulang dari kampus, Olivia lebih memilih berdiam diri di kamar. Biasanya srtiap hari wanita itu akan mengunjungi adiknya. Akan tetapi, Olivia tak melakukannya. Sudah dua hari ini dia mendiamkan adiknya sendiri. Olivia terlampau kecewa dengan sang adik. Olivia tak pernah menyangka kata-kata adiknya membuat hatinya terluka. Di rumah yang lain, Aurelie tengah duduk di dekat jendela. Ia memperhatikan bunga-bunga yang sudah bermekaran seutuhnya. Meski sudah melihat bunga-bunga, akan tetapi, tak membuat suasana hati Aurelie membaik. Pikirannya tertuju pada satu nama, yaitu kakaknya sendiri, Olivia. Sudah dua hari kakaknya itu tak mengunjunginya. Aurelie begitu kesepian. Seolah ada bagian dari hidup dan dirinya yang hilang. Kenangan bersama sang kakak berputar di kepalanya. Olivia yang berlari sembari hujan-hujanan untuk membeli obat untuknya, Olivia yang hanya membeli satu makanan untuk Aurelie saja. Tak terasa, air mata menitik dari mata Aurelie. "Kau merindukan kakakmu?" Tan
Olivia sampai di rumahnya. Ia berharap suaminya belum pulang. Akan tetapi harapannya tak terwujud karena ia mendapati Nick sudah pulang dari kantor. "Mengapa aku seperti ketahuan berselingkuh? Biasa saja, Oliv!" Olivia menatap mobil suaminya dan masuk ke dalam rumah. "Mengapa tubuhmu basah?" Tan
Olivia masuk ke dalam kelas dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya. Edmund meliriknya dan menatapnya dalam waktu yang lama. Ia juga melihat kiss mark yang sangat banyak pada leher wanita itu. Membuat hatinya merasakan kesakitan yang amat perih. Hatinya terbakar cemburu, padahal tak seharusnya
"Me-menikah?" Olivia memelototkan matanya tak percaya. Apa ia tidak salah dengar?Gadis itu terkejut bukan main. Rasanya seperti tersambar petir di siang hari ketika mendengar permintaan pria bertubuh atletis itu."Iya, menikah. Apa pendengaranmu masih berfungsi?" sindir Nick terdengar kesal.‘A
Olivia, seorang gadis yang bekerja sebagai seorang penipu di tengah kota Paris, selalu percaya jika dirinya akan selalu mendapatkan keberuntungan. Akan tetapi, ia salah. Olivia tertangkap kala mencuri cincin berlian dari tas Nick Louis, seorang pewaris satu-satunya Louis Group–perusahaan rumah mo







