Share

06. Menyerahkan Diri

Author: Nyemoetdz Kim
last update Last Updated: 2024-10-27 20:43:59

Kebohongan apa yang sedang Yuda buat, sampai dia mengganggap Dara tunangannya. Sebenarnya siapa Yuda, kenapa dia tampak seperti preman saat dia sebenarnya memiliki rumah mewah seperti ini.

Di dalam kamar, Dara sesekali menatap ke arah pintu kamarnya. Ada keinginan ingin melihat kondisi Yuda, namun dia coba untuk tidak peduli. Luka yang dia lihat di bahunya tadi begitu dalam, tapi dia melihat Yuda seperti tidak merasakan apapun. Yudanta dengan selamat membawa Dara ke rumahnya.

"Apa dia di dalam kamarnya?" tanya Dara saat seorang pelayan masuk ke kamar untuk memberikan camilan Dara.

"Tuan muda kehilangan banyak darah, tapi beliau tidak mau di bawa ke rumah sakit. Sekarang beliau ada di kamarnya, sedang terlelap setelah Dokter mengobati lukanya," jelasnya. Bahkan Yuda mendatangkan Dokter pribadi untuk mengobati tubuhnya.

Dara begitu penasaran dengan kondisi Yuda, meski dia tidak ingin melihatnya, tapi hati kecilnya mau mengecek kondisinya. Perlahan kakinya melangkah masuk ke kamar Yudanta yang begitu besar dengan futniture mewah seperti rumahnya. Terlihat di atas tempat tidur, Yuda sedang terbaring dengan alat medis yang ada di tubuhnya.

Beberapa waktu lalu, dia tampak baik-baik saja. Namun, Dara melihatnya sedang terbaring lemah dengan masker oksigen yang menutupi sebagaian wajahanya. Langkah kaki Dara masih berjalan ke kamar yang luas itu, dengan mata yant terus menatap ke arah Yuda. Tergantung cairan infus dan juga kantong darah yang mengalir melalui pembuluh darahnya.

Pria yang merenggut kesuciannya seperti mendapatkan ganjaran atas apa yang dilakukan. Akan tetapi hatinya merasa sedih, bukan kelegaan yang Dara rasakan, tapi rasa sesak di dada dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Dara duduk di samping Yuda yang terbaring lemah. Dia terus manatapnya, tanpa bicara satu katapun. Sampai ingatan tentang perlakukan Yudanta teringat padanya. "Bangunlah, kau membiarkanku di sini, tapi kau malah terpejam," ucap Dara. Perlahan tangannya ingin membuka masker oksigen yang Yuda kenakan, entah begitu saja dia ingin melakukan itu.

Dara melepaskan perlahan masker oksigen yang menutupi wajah tampan Yudanta dengan air mata yang sudah jatuh. Ingatan tentang perlakukan Yuda padanya terus terngiang dalam pikirannya. Dia marah, dia kesal, dia membenci pria di hadapannya itu.

"Kau ingin membunuhku?" Ucapan lirih terdengar saat Dara berhasil melepaskan masker okaigen Yuda.

"Aku—" Yuda segera memegang lengan Dara yang akan pergi.

"Lakukan saja. Buat dirimu puas dengan apa yang kau mau. Bunuh aku," tutur Yuda lagi. Tidak ada ketakutan saat Dara coba mencelakinya.

"Kau membawaku ke sini tapi kau membiarkanku sendiri. Apa kau membawaku ke sini hanya untuk melihatmu tidur?" Sudah jelas-jelas kondisi Yuda sedang tidak baik, tapi Dara tidak peduli dengan hal itu.

Senyum tipis tampak tersungging di bibir Yuda yang masih di posisi yang sama. "Apa kau merasa bosan? Kau ingin Anggun menemanimu?" tanya Yuda.

"Apa kau pikir aku anak kecil. Kau lupa saat kau yang membawaku ke sini," ucap Dara.

"Lalu kau ingin apa dariku?" tanya Yuda.

"Temani aku keluar," jawab Dara. Hal bodoh apa yang sedang Dara minta ketika dengan sangat jelas, Yuda sedang tidak dalam kondisi baik.

"Sekarang?" tanya Yuda.

"Ya, sekarang." Gadis polos seperti Dara menyimpan dendam pada Yuda, dia ingin membuat Yuda menderita seperti kemauannya.

"Baiklah, aku akan bersiap." Yuda coba untuk beranjak. Mencabut infus yang menancap di lengannya sebelum berjalan ke kamar mandi.

Dara menatapnya tidak peduli dengan apa yang Yuda lakukan. Dia hanya ingin tau seperti apa kata maaf yang Yuda katakan.

Dara duduk di ujung tempat tidur Yuda, dan melihat pria dengan tubuh lemah dan bahu kiri yang terbalut perban sedang menggenakan kemeja. Dia bertelanjang dada, terlihat tubuh bidangnya, tapi fokus Dara bukan itu, tapi dia melihat bekas luka di perut Yuda.

"Tidak bisakah kau membantuku mengancingkan ini?" Pinta Yuda pada Dara yang terus menatapnya.

"Kau seperti ini saja tidak bisa. Kau hanya bisa menghancurkan seseorang dalam kondisi mabuk," sahut Dara dengan ketus. Namun, dia tetap berjalan ke arah Yuda yang kesulitan untuk memasang kancing kemeja hitam yang ingin dikenakan.

Yuda terdiam saat Dara membantunya, tidak ada obrolan yang dia lontarkan, karena jujur saja dia sedang tidak nyaman dengan rasa sakitnya.

"Kenapa diam? Apa kau memikirkan sesuatu untuk menyelakaiku?" tanya Dara.

"Seburuk itu aku di matamu. Kau bahkan tidak membiarkan ku membela diri," jawab Yuda. Dia menarik Dara dengan satu lengan kanannya, membuat mereka lebih dekat.

"Lebih buruk dari itu. Kalau boleh jujur, aku ingin membunuhmu," bisik Dara.

"Aku sudah katakan, lakukan saja. Jika itu bisa membuat hatimu lega, aku terima hukuman yang kau berikan," jawab Yuda.

"Sedang aku lakukan. Tidak akan seru jika aku membunuhmu dengan tanganku. Bukankah ini akan menyiksamu. Sudah selesai, bisa kita pergi sekarang?" Dara benar-benar tega pada Yuda, dia tidak terima dengan apa yang Yuda lakukan padanya.

Mereka kemudian berjalan keluar dengan Yuda yang tertatih dengan kondisi tubuhnya. Ingin rasanya dia hanya berbaring, namun Dara minta dia menemaninya.

"Mau ke mana?" tanya Yuda.

"Ke mana saja, asal bisa keluar dari rumah," jawab Dara.

"Baiklah," jawab Yuda.

Mereka kemudian meninggalkan rumah menggunakan mobil Yuda. Walau hidup seorang diri, dia serba kecukupan. Tidak ada yang tau bagaimana Yuda bisa sekaya itu.

"Kita mau ke mana?" tanya Yuda.

"Kantor polisi," jawab Dara dengan enteng.

"Untuk apa?" Yuda kembali menanyakan tujuan Dara pergi ke kantor polisi.

"Membuat laporan pelecehan yang aku dapatkan darimu. Bukankah itu lebih baik dari membunuhmu," jelas Dara dan mendapatkan anggukan dari Yuda yang tampak tenang.

Yuda tidak takut saat Dara ingin melaporkannya. Seperti yang dia katakan, Dara boleh melakukan apapun tanpa mencoba bunuh diri.

"Kau tidak takut jika aku melaporkanmu?" tanya Dara sambil menatap Yuda yang fokus dengan jalan.

"Untuk apa? Aku bahkan hampir mati beberapa saat lalu, tapi aku di sini sekarang bersamamu," jelas Yuda.

Padahal Dara tau, jika Yuda sedang dengan kondisi tidak baik, namun dia membiarkannya. Yuda menghentikan mobilnya di depan kantor polisi. Dia kemudian berjalan keluar setelah memarkirkan mobilnya.

"Tunggu!" Dara berlari kecil saat melihat Yuda berjalan di depan mobilnya.

"Kita masuk sekarang," jawab Yuda.

"Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa kau tidak marah saat aku memperlakukanmu dengan buruk. Padahal jelas-jelas aku membuatmu menderita," ujar Dara

"Sebaiknya kita masuk. Kau ingin melakukan ini kan? Jadi ayo masuk," ajaknya sambil mengulurkan tangan agar Dara menggandengnya.

Yuda berjalan selangkah di hadapan Dara yang digandeng tangannya. Dia benar-benar akan masuk ke kantor polisi itu, seperti permintaan Dara.

"Tunggu! Kita pulang sekarang," ajak Dara, kali ini dia yang menarik Yuda keluar dari depan kantor polisi.

"Tidak apa-apa jika kau ingin melakukan ini. Jika hal ini bisa membuatmu merasa lega, aku akan lakukan. Aku ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah aku ambil. Jika permintaan maafku tidak cukup, kau bisa membuay dirimu puas dengan memenjarakan ku. Tapi asal kau tau, aku tetap tidak ingin melepaskanmu, aku ingib bertanggung jawab penuh," jelas Yuda dengan tatapan seriusnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   11.

    Dara menghentikan ciumannya pada bibir Yuda, dia tertunduk menahan rasa sesak di dadanya. Dia berusaha melawan rasa takut itu dengan mencium Yuda yang terkejut akan sikap Dara."Kau baik-baik saja?" tanya Yuda khawatir."Ya, aku baik-baik saja." Dara melepaskan tangannya dari leher pria yang ada di hadapannya. Tatapan khawatir terlihat di sorot mata Yuda."Kau hanya membuktikan apa yang kau katakan itu. Aku ingin rasa takut ini hilang dengan bantuanmu," imbuh Dara yang menatap Yuda dengan tangis yang sudah pecah."Sudah, tidak perlu menangis lagi. Aku akan buktikan saat itu memang kemauan mu. Apa kau ingin ke kamar mandi agar terasa segar? Biar pelayan yang menyiapkan pakaianmu," jelas Yuda."Maafkan aku sudah bersikap buruk padamu. Aku hanya bingung harus bersikap seperti apa saat hidupku hancur begitu kau mengambil sesuatu yang berharga milikku. Aku hanya memiliki hal itu, semua hancur setelah orang tuaku tiada."Bukannya menja

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   10.

    "Kau mau ke mana?" tanya seorang pria tampan dengan lesung pipi, mata tajam dan dagu lancip membuatnya terlihat sempurna. Wanita pasti luluh saat menatapnya. "Bukan urusanmu," jawab Dara, dia berjalan turun tangga dengan bertelanjang kaki, tidak peduli pada pria yang sedang mengkhawatirkannya. "Hati-hati." Dia langsung menangkap tubuh Dara saat tubuhnya masih terasa lemas akan terjatuh. Sejenak mata mereka saling menatap, Dara yang begitu dekat dengan pria yang membantunya itu bahkan bisa merasakan deru nafasnya. Namun, tak bertahan lama, dia segera mendorong tubuh pria itu dan berdiri dengan kakinya sendiri. "Sudah begitu malam. Tinggallah di sini, hujan juga belum reda," jelas pria yang tak lain Yudanta. "Kenapa kau membantuku?" tanya Dara ketus. "Kale yang membawamu kemari. Untuk malam ini diam lah di sini saja," jelas Yuda yang terus mencoba membujuk Dara untuk tetap tinggal.

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   09.

    Dara memilih pergi, dia mencoba hidup semestinya dia mau bersama Juan, kakaknya. Walau Juan masih ringan tangan padanya, dia tak ingin pergi darinya. Dia memiliki alasan untuk itu, karena hanya Juan keluarga satu-satunya. Dulu Juan kakak yang perhatian, sampai dia mengenal dunia hitam, dia menjadi kasar pada adiknya. Pyarrr Suara piring jatuh membuat Dara menutup telinganya, dia sangat takut dengan suara keras ataupun seseorang bersikap kasar padanya, luka hatinya menimpulkan trauma. Seseorang tak sengaja menjatuhkan piring, membuat Dara tampak ketakutan dengan suara itu. Dia sedang di tempat kerjanya, beberapa hari ini dia menyibukkan diri dengan bekerja. "Kau tidak apa-apa, Dar?" "Akhh!" Teriak Dara saat temannya itu coba untuk menanyakan kondisinya. Dia seperti ketakutan saat temannya hanya ingin bertanya. Dara menangis, dia menutup telinganya karena ketakutan. Bayangan di mana kakaknya ser

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   08.

    "Turunlah," bujuk Yuda pada Dara yang masih berdiri dengan air mata yang terus berlinang. Dia menatap ke arah Yuda tanpa berbicara apapun. Sudah berapa kali Dara coba mengakhiri hidupnya, dia tidak bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya. Demi kepuasan kakaknya, dia dijadikan taruhan oleh Juan. Padahal, Yuda meminta maaf dan mau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Seperti kali ini, dia tidak memperdulikan kondisinya untuk mencari wanita yang merubahnya beberapa hari ini. Yuda berjalan perlahan lebih dekat dengan Dara yang hanya diam. Tatapannya kosong, dia tidak tau lagi harus melakukan apa saat harapannya hilang begitu saja. "Kita pulang. Aku berjanji akan melakukan apa yang kau mau, tapi turun dari sana. Kau akan terjatuh nanti." Yuda terus membujuk Dara yang menggeleng pelan ke arah pria yang berjalan padanya. Yuda melepaskan sling untuk menggendong tangannya begitu saja, dia coba naik ke tempat yang sama d

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   07.

    Dara sedang menatap Yuda yang hanya diam bersandar merasakan tubuhnya yang lemas. Beberapa saat lalu mereka berdebat, sampai Dara memaksanya untuk kembali ke mobil. Dan setelah di mobil, mereka malah hanya diam."Apa yang kau mau sekarang? Katakan kau ingin aku melakukan apa lagi?" tanya Yuda dengan posisi yang masih sama, bersandar dengan memejamkan mata."Ahhh!!" Teriak Dara meluapkan kekesalannya. Dia tidak bisa rela saat Yuda mengambil kesuciannya, dia begitu dendam pada Yuda yang berjanji untuk bertanggung jawab.Yuda hanya diam membiarkan Dara meluapkan emosinya. Dia sadar jika apa yang Dara rasakan begitu mengganggunya."Bisa kau jemput aku? Tubuhku tidak akan baik jika aku memaksanya. Aku sedang di kantor polisi," ujar Yuda dengan seseorang di sambungan teleponnya."Kenapa kau di sana?" tanyanya."Sudah, datanglah. Aku tidak bisa menahannya lagi, kau harus segera datang," jawab Yuda.Yuda bersandar dengan mata terpejam, melupakan Dara yang terus menangis di sampingnya. Rasa sa

  • Gadis Peliharaan Ketua Gangster   06. Menyerahkan Diri

    Kebohongan apa yang sedang Yuda buat, sampai dia mengganggap Dara tunangannya. Sebenarnya siapa Yuda, kenapa dia tampak seperti preman saat dia sebenarnya memiliki rumah mewah seperti ini. Di dalam kamar, Dara sesekali menatap ke arah pintu kamarnya. Ada keinginan ingin melihat kondisi Yuda, namun dia coba untuk tidak peduli. Luka yang dia lihat di bahunya tadi begitu dalam, tapi dia melihat Yuda seperti tidak merasakan apapun. Yudanta dengan selamat membawa Dara ke rumahnya. "Apa dia di dalam kamarnya?" tanya Dara saat seorang pelayan masuk ke kamar untuk memberikan camilan Dara. "Tuan muda kehilangan banyak darah, tapi beliau tidak mau di bawa ke rumah sakit. Sekarang beliau ada di kamarnya, sedang terlelap setelah Dokter mengobati lukanya," jelasnya. Bahkan Yuda mendatangkan Dokter pribadi untuk mengobati tubuhnya. Dara begitu penasaran dengan kondisi Yuda, meski dia tidak ingin melihatnya, tapi hati kecilnya mau mengecek kondisinya. Perlahan kakinya melangkah masuk ke kamar Yu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status