로그인Follow dulu baru lanjut baca
Happy Reading..♥️Dara memejamkan mata saat Yudanta melepaskan bibirnya dari bibir Dara. Dia seperti menikmati dengan apa yang Yudanta lakukan padanya."Apa kau merasa tidak nyaman dengan itu?" Pertanyaan Yudanta membuat Dara membuka mata. Dia menatap Yudanta dan melepaskan genggaman erat pada tangan Yudanta."Aku—""Ada yang mencarimu di bawah. Bisa kau turun sekarang?" Terlihat Anggun berdiri di ambang pintu, melihat sepasang kekasih itu sedang berciuman.Seketika kedatangan Anggun membuat Dara malu. Pipinya memerah karena malu, dan itu membuat Yudanta tersenyum gemas."Tidak apa-apa. Relax saja. Sebaiknya aku turun. Dan kau, Anggun, mulai sekarang biasakan untuk mengetuk pintu sebelum masuk, kau membuatnya seperti kepiting rebus," ujar Yudanta."Maafkan aku. Di bawah ada yang mencarimu, sepertinya anggota genk Cobra menyerang salah satu dari anggota kita," jelas Anggun.<Rencana Yudanta untuk tidur urung dia lakukan. Dara menggoda dengan mencium bibirnya, tak henti di sana. Dara membuka piyama yang di kenakan. Dia benar-benar ingin bercinta dengan Yudanta. Apa dengan seperti ini cintanya bisa tumbuh? Itu pikirnya. Padahal semua itu tentang perasaannya pada Yudanta, bukan tentang nafsu.Yudanta duduk menatap Dara setelah melepaskan panggutannya. Dia membuka pakaian yang di kenakan sampai benar-benar tak ada sehelai pun yang dia kenakan, sama seperti Dara yang sudah telanjang bulat."Kau yakin dengan apa yang kau inginkan ini? Aku tidak mau memaksamu," ucap Yudanta pada Dara yang kembali mencium saat menjawab pertanyaan Yudanta.Seperti diberi kesempatan, Yudanta coba dengan mesra menciumi leher Dara yang sudah berbaring di bawahnya. Ciumannya terus turun sampai dia bertemu dengan dua gunung kembar milik Dara. Sentuhan yang Yudanta berikan membuatnya terpejam. Dia mencengkram selimut, coba untuk melawan rasa takut dan juga k
Follow dulu baru lanjut bacaHappy Reading..♥️Dara memejamkan mata saat Yudanta melepaskan bibirnya dari bibir Dara. Dia seperti menikmati dengan apa yang Yudanta lakukan padanya."Apa kau merasa tidak nyaman dengan itu?" Pertanyaan Yudanta membuat Dara membuka mata. Dia menatap Yudanta dan melepaskan genggaman erat pada tangan Yudanta."Aku—""Ada yang mencarimu di bawah. Bisa kau turun sekarang?" Terlihat Anggun berdiri di ambang pintu, melihat sepasang kekasih itu sedang berciuman.Seketika kedatangan Anggun membuat Dara malu. Pipinya memerah karena malu, dan itu membuat Yudanta tersenyum gemas."Tidak apa-apa. Relax saja. Sebaiknya aku turun. Dan kau, Anggun, mulai sekarang biasakan untuk mengetuk pintu sebelum masuk, kau membuatnya seperti kepiting rebus," ujar Yudanta."Maafkan aku. Di bawah ada yang mencarimu, sepertinya anggota genk Cobra menyerang salah satu dari anggota kita," jelas Anggun.
Dara tampak segar dengan gaya rambut blow out, dan warna rambut warm hazelnut. Anggun merubah Dara sesuai kemauannya, tapi hasilnya tidak gagal. Dara semakin cantik dengan gaya rambut seperti sekarang."Ada apa? Kau tampak cantik seperti ini, kenapa harus malu," tutur Anggun.Dara terlihat jelas jika dirinya sedang malu dengan dirinya yang sekarang. Sebelumnya dia hanya seorang gadis polos, namun sekarang dia tampil berbeda. Dengan dress selutut yang dia kenakan, membuat penampilannya berbeda. Dia sudah seperti seorang cinderela yang di sihir agar terlihat cantik."Sudahlah, santai saja. Kau itu kekasih Yudanta Wijaya, setidaknya kau harus berkelas seperti wajah cantikmu ini. Tidak perlu malu, kau harus terbiasa dengan kondisimu sekarang." Anggun benar-benar merubah penampilan Dara dan dia berhasil untuk itu."Benar juga, kau tampak cantik. Tidak perlu malu. Angkat wajahmu, dan lihat dari pantulan cermin. Gadis sebelumnya datang padaku berubah men
"Kau memerlukan sesuatu?" tanya Anggun yang sudah datang beberapa waktu lalu.Tentang foto tadi, mungkin saja Dara salah mengingatnya, karena itu sudah beberapa tahun yang lalu. Mobil yang membuat orang tuanya kecelakaan dan meninggal di tempat."Boleh aku bertanya?" tanyanya."Katakan saja, tapi jika kau bertanya ke mana Yudanta pergi, aku tidak tau," jawab Anggun. Padahal memang itu yang ingin dia tanyakan darinya. "Bagaimana kau tidak tau, bukankah kau bagian dari genk nya," sahut Dara."Asal kau tau. Tidak semua tau tentang apa yang Yudanta lakukan, apalagi jika itu berurusan dengan kakeknya. Dia menutup rapat hal itu, yang aku tau dia ketua genk motor, karena aku juga kenal Yudanta dari kekasihku, itu saja," jelas Anggun. Dia memang wanita satu-satunya yang Yudanta percayai, karena kekasihnya menjadi kaki tangannya."Siapa memangnya?" tanya Dara."Aku pikir kau banyak ingin tau sekarang," jawab Anggun."Ka
Dara menatap Yudanta yang sedang terpejam di tempat tidurnya. Beberapa saat lalu, dia mendapat perlakuan buruk dari kakeknya. Dan itu semua karena dirinya. Air mata menetes mengutuk kebodohan yang dia alami. Mungkin memang benar, jika Yudanta mengambil sesuatu yang berharga dari dirinya, namun dia menyesali hal itu dan mau bertanggung jawab. Siapa Yudanta, kenapa dia begitu peduli pada Darapuspita yang tidak pernah menatapnya. Apa yang Dara lihat dari Yudanta adalah keburukan, seseorang yang jahat karena merenggut keperawanannya."Apa kau akan terus menangis?" Suara lirih Yudanta terdengar dan membuatnya menatap ke arah pria yang sudah menatapnya itu."Maafkan aku." Entah sudah berapa kali Dara mengatakannya. Tapi dia memang menyesali apa yang dia lakukan. "Kau akan terus mengatakan kata maaf? Bukankah kau harus fokus pada kondisimu. Kau harus menghilangkan ketakutanmu itu, aku sudah katakan kalau aku menyukaimu, ini tidak ada artinya walau aku mati karen
PlakkkTamparan keras mendarat pada pipi Yudanta saat kakeknya berdiri di hadapannya. Bukan hanya itu, dengan kasar Kakek Yudanta memukul perut cucunya sangat keras.Yudanta tetap tidak ingin melepaskan genggamannya pada Dara. Dia hanya ingin membuktikan apa yang Dara mau."Kakek bisa menghajar ku sepuas Kakek mau. Asal tidak di hadapannya. Tidak hanya sekali Kakek ingin menghabisi ku, jadi percuma saja Kakek tetap akan gagal," ujar Yudanta."Jaga bicaramu itu. Kau itu sama seperti ayahmu. Pembangkang!" Tegas Kaito Ziman, pria keturunan Jepang itu adalah Kakek Yudanta."Benar juga. Ayah mati di tanganmu. Apa aku juga akan seperti itu? Tidak! Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan tanpa Kakek mengaturku. Ini hidupku, aku lakukan tugasku, Kakek berikan apa yang menjadi kemauanku. Akui dia bagian keluarga ini karena dia tunanganku. Mau ataupun tidak, aku tidak peduli. Dialah calon istriku, bukan wanita itu!" "Kau hanya akan







