共有

Bab 4

作者: Noona_im
last update 公開日: 2025-04-18 09:52:34

Di dalam ruangan, Liana mendekati ranjang Sienna. Wajah putrinya terlihat pucat, dengan tubuh lemah terbaring di atas ranjang.

"Bunda..." suara kecil Sienna menyambutnya.

"Iya, Sayang? Apa yang sakit?" Liana berdiri di sisi ranjang, membelai lembut kepala putrinya.

"Kepala Senna sakit, Bunda... badan Senna juga lemas..." keluh Senna dengan suara kecil, matanya sedikit terpejam karena lemah.

"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kamu pasti sembuh," bisik Liana lembut, sambil membelai rambut putrinya. "Tapi Senna harus makan dan minum obat dulu, ya?"

Senna menggeleng pelan. "Gak mau, Bunda..."

"Kalau gak makan, sembuhnya lama, loh," bujuk Liana, mencoba tersenyum untuk menguatkan putrinya. "Gini deh, Senna mau apa? Bunda janji turutin."

Mata Senna yang tadi redup kini berbinar kecil. "Senna mau Ayah, Bunda. Senna mau Ayah di sini..."

Liana tertegun. Kata-kata sederhana dari putrinya itu menusuk hatinya yang sedang hancur berkeping. Ia berusaha menahan tangis, menyembunyikan rasa sakit akibat pengkhianatan suaminya. Tapi permintaan itu membuat luka di hatinya kembali menganga, mengingat ucapan pahit Juna beberapa waktu lalu.

"Bunda... Kenapa diem aja?" Senna bertanya lagi, suaranya lirih namun penuh rasa ingin tahu. "Ayah ke mana, Bun?"

Liana tersentak, mencoba menguasai dirinya. Gelagapan, ia berusaha mencari jawaban yang tidak akan menyakiti hati kecil anaknya. Raga suaminya memang ada di rumah sakit ini, tetapi hati dan pikirannya? Liana tak lagi yakin jika keduanya masih sepenuhnya terpaut pada dirinya dan Sienna.

Beberapa hari terakhir, Juna sudah terbukti berbohong demi perempuan itu. Bukankah itu cukup jelas menunjukkan ke mana hati suaminya kini lebih condong?

Liana menatap wajah mungil putrinya yang penuh harap. Secepat mungkin ia mencoba merangkai alasan yang tepat. Namun, sebelum kata-kata itu sempat terucap, suara lain tiba-tiba memenuhi ruangan, memotong kegelisahannya.

"Ayah di sini, Sayang."

Liana dan Sienna serentak menoleh ke arah suara tersebut.

"Ayah!" seru Sienna dengan mata yang seketika berbinar. Wajah kecilnya berubah cerah, dipenuhi kebahagiaan saat melihat sosok yang begitu ia rindukan selama beberapa hari terakhir.

Sementara Liana tampak menatap dingin. Namun ia tetap diam membiarkan Juna mendekat. Ia tidak tahu harus merasa lega karena Sienna akhirnya tersenyum, atau merasa pedih karena pria yang membuat anaknya bahagia itu adalah orang yang telah menghancurkan kepercayaannya.

"Ayah ke mana aja? Senna kangen Ayah," ucap Sienna begitu Juna sudah berada tepat di hadapannya. Mata kecilnya menatap Juna penuh harap. "Senna nakal ya? Makanya Ayah gak mau dateng ke ulang tahun Senna?"

Juna menarik napas dalam, lalu membungkuk menciumi wajah putrinya dengan penuh kasih. Hatinya terasa perih mendengar pertanyaan polos itu. "Gak, Sayang. Senna gak nakal. Senna itu anak yang paling baik, paling Ayah sayang."

"Terus kenapa Ayah gak dateng?"

Juna terdiam, bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Sienna masih terlalu kecil untuk memahami situasi rumit ini.

Melihat suaminya yang terlihat kebingungan, Liana mengambil alih pembicaraan. Ia juga tidak ingin putrinya tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Ayah sibuk, Sayang," ujar Liana lembut. "Ayah 'kan dokter, jadi kadang harus siap siaga kalau ada pasien yang butuh pertolongan segera."

"Tapi Ayah udah janji sama Senna, Bun. Ayah bilang Ayah mau dateng."

"Tapi ada pasien yang lebih butuh bantuan Ayah, Nak," Liana berusaha menjelaskan dengan hati-hati. "Kalau Ayah egois tetap dateng ke ulang tahun Senna, terus pasiennya jadi gak tertolong, gimana?"

Sienna terdiam. Wajah kecilnya tampak berpikir keras, mencerna penjelasan Bundanya.

Liana melanjutkan, "Senna maklumin ya, Sayang? Ayah gak dateng bukan karena gak sayang, tapi karena tugas Ayah sebagai dokter itu sangat penting. Lagipula, Ayah pasti mendoakan yang terbaik buat Senna." Liana melirik Juna sekilas dengan tatapan dingin yang menyiratkan banyak hal. "Bukan begitu, Yah?"

Juna menelan ludah, merasa tersudut oleh kalimat Liana. Dengan suara pelan, ia menjawab, "I-iya, sayang."

***

Kini Sienna sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Gadis kecil itu duduk di ranjang sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Juna, yang duduk di sampingnya, dengan telaten menyuapi makanan hangat ke mulut putrinya. Sienna menatap ayahnya penuh rasa rindu karena beberapa hari tidak bertemu.

"Pelan-pelan ya, Sayang. Jangan sampai tumpah," ujar Juna lembut sambil mengusap pipi Sienna yang belepotan kuah.

Kerinduan yang begitu besar membuat Sienna enggan melepaskan Juna walau hanya sebentar. Juna memaklumi itu. Ia tahu, bukan hanya karena mereka tidak bertemu beberapa hari terakhir, tapi juga karena Sienna memang lebih dekat dengannya dibandingkan dengan Liana.

Pernah mendengar orang berkata bahwa anak perempuan cenderung lebih dekat dengan ayahnya? Juna merasa kalimat itu benar adanya. Sebab Sienna adalah buktinya. Gadis kecil itu tak pernah bisa jauh dari Juna, dan kini, setelah apa yang terjadi, Juna semakin sadar betapa ia telah melukai kedua hati yang paling berarti baginya.

Setelah selesai makan dan meminum obat, Sienna bersandar pada tubuh ayahnya. Juna perlahan mengelus punggungnya, membuat gadis kecil itu semakin merasa nyaman. Matanya mulai berat, dan beberapa menit kemudian, napasnya terdengar teratur, menandakan ia sudah terlelap.

"Tidur yang nyenyak ya, Sayang," bisik Juna sambil menata selimut yang menutupi tubuh mungil putrinya.

Juna perlahan turun dari ranjang putrinya. Ia menatap wajah mungil itu sejenak, sebelum akhirnya melangkah menuju Liana yang tengah duduk di sofa, sibuk memainkan ponselnya. Istrinya itu hampir tidak berbicara dengannya kecuali sekadar keperluan untuk Sienna.

Juna menarik napas panjang. Ia tahu percakapan ini mungkin akan kembali berakhir dengan pertengkaran, tetapi ia tidak bisa terus menghindar.

"Bunda," panggil Juna lembut.

"Hm," jawab Liana singkat, tanpa menoleh. Fokusnya masih pada ponsel di tangannya.

"Bun, bisa taruh dulu hapenya? Ayah mau ngomong," Juna mendudukkan diri di samping istrinya.

Liana meletakkan ponselnya dengan gerakan kasar, lalu menatap Juna tajam. "Mau ngomong apa lagi sih?!"

Juna menghela napas panjang. "Ayah cuma mau jelasin kenapa Ayah nikahin dia."

Liana tertawa kecil, tetapi penuh kepahitan. "Buat apa? Kamu pikir aku bakal peduli? Apa pun alasan kamu, itu gak akan pernah membenarkan apa yang kamu lakukan! Kamu udah mengkhianati aku dan Senna!"

"Bunda, dengar dulu. Ayah nggak—"

"Nggak apa? Kamu nggak maksud nyakitin aku? Kamu nggak maksud ngehancurin keluarga kita? Jangan bohong, Mas! Kamu sadar betul apa yang kamu lakuin!"

Suara Liana meninggi. Juna mencoba menenangkan istrinya, tetapi hatinya mencelos melihat betapa luka itu tampak begitu dalam.

"Aku nggak butuh penjelasan. Yang aku tahu, kamu sudah menghianati aku dan Sienna. Itu saja!" Liana berdiri, menatap Juna dengan mata yang berkilat marah. "Dan aku mau, setelah Sienna sembuh, kita pisah!"

Kalimat itu menghantam Juna seperti palu. Ia langsung ikut berdiri. "Bunda, jangan ngomong sembarangan. Ayah nggak mau kita pisah!"

"Aku serius!" seru Liana. "Aku nggak mau terus-terusan hidup kayak gini. Aku nggak mau dimadu!"

"Bunda, pikirin Sienna! Dia masih butuh kita. Kalau kita pisah, kamu tahu gimana pengaruhnya buat dia."

Liana terdiam. Kata-kata Juna seperti menusuk hatinya. Beberapa saat lalu, ia sudah mantap dengan keputusannya untuk berpisah. Dalam pandangannya, tidak ada maaf atau kesempatan kedua untuk seorang pengkhianat. Tapi sekarang, keraguannya mulai menyeruak.

Bayangan Senna terlintas di benaknya. Gadis kecil itu masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Memisahkan Senna dari salah satu di antara mereka adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi, bagaimana bisa ia terus bertahan dengan hati yang telah hancur berkeping?

Melihat Liana terdiam, Juna merasa sedikit lega. Ia mengambil kesempatan itu untuk mendekatkan dirinya. Tangannya meraih jemari Liana, menggenggamnya erat, berusaha meyakinkan wanita itu.

"Bunda, jangan pernah minta pisah, ya? Demi Senna, demi kita. Ayah janji akan perbaiki semuanya."

Ia lalu mencium punggung tangan Liana dengan penuh penyesalan.

Namun, Liana tetap terdiam. Ada perang batin yang berkecamuk di dalam dirinya. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Hatinya berteriak, mempertanyakan bagaimana ia bisa memaafkan seseorang yang telah menghancurkan kepercayaannya. Tapi di sisi lain, wajah Sienna terbayang jelas, mengingatkannya bahwa keputusan apapun yang ia ambil akan berimbas besar pada putri kecilnya.

Sebuah helaan napas panjang keluar dari bibirnya. Liana menatap Juna dengan mata yang penuh luka dan kelelahan. "Aku butuh waktu. Jangan paksa aku untuk membuat keputusan sekarang."

Juna mengangguk pelan. Setidaknya, Liana belum sepenuhnya menu

tup pintu. Ia akan berjuang untuk memperbaiki segalanya, meski jalan itu sangat berat sekalipun.

Bersambung...

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    50

    Bodoh.Ya benar, Aluna memang bodoh. Sejak awal harusnya ia menyerah, atau bahkan harusnya tidak pernah mencoba untuk masuk ke dalam keluarga harmonis itu.Namun memang dasar Aluna yang bodoh, ia malah sengaja menceburkan dan membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa sakit yang setiap harinya semakin parah.Diabaikan, tidak pernah dianggap, hal tersebut sama sekali tidak membuat Aluna jera. Nyatanya sampai saat ini gadis itu masih tetap mempertahankannya. Sebab Aluna menyakini hanya Juna yang mampu membuatnya semangat hidup.Aluna seolah tidak peduli walau rasa sakit di hati, juga mengakibatkan sakit pada fisiknya. Ingat, sejak awal Aluna memang tidak baik-baik saja. Gadis tersebut berbeda dengan gadis lainnya, ia memiliki penyakit yang sewaktu-waktu bisa saja kambuh bahkan fatalnya bisa membuatnya kehilangan nyawa.Namun seperti yang sudah dikatakan tadi, Aluna tidak peduli meski kondisinya semakin memburuk, ia justru malah menyembunyikan semua sakitnya itu sendirian, seolah-olah ia me

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 49

    Setelah pintu kamarnya kembali ditutup dan dikunci. Aluna menjatuhkan bobot tubuhnya ke lantai, ia menangis tersedu. Merasakan betapa sakit hatinya saat ini. Lagi-lagi, ia memergoki sang suami dengan istri pertamanya yang sedang bermesraan.Hancur. Hatinya mungkin sudah tidak berbentuk lagi. Tapi untuk mengakhirinya Aluna tidak mampu. Ia sangat mencintai Juna, sangat.Ingatan Aluna kemudian melayang pada saat awal mengenal Juna.Saat itu, Aluna tengah duduk di sudut kamarnya yang temaram. Tirai tebal menutup rapat jendela, menghalangi sinar matahari yang mungkin bisa menghangatkan ruangan itu. Aroma obat-obatan menyatu dengan udara dingin yang selalu menyelimuti kamar rawat inap tersebut. Tubuhnya yang rapuh terbaring di atas ranjang, seakan menggambarkan betapa lemahnya ia melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya sejak lama. Sejak kecil, Luna selalu sakit-sakitan. Dunia luar terasa begitu asing baginya. Tidak memiliki teman, orang tua yang terlalu sibuk, dan kesehatan yang terus

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 48

    Pernah mendengar tidak? Atau mungkin pernah mengalami, seperti yang tengah dirasakan oleh Liana saat ini, perihal gairah yang meningkat di trimester pertama menjelang trimester kedua.Semenjak mual-mualnya agak berkurang, sekarang Liana malah dihadapi dengan hasratnya yang meningkat pesat. Liana sering menginginkan untuk berhubungan. Dulu saat hamil Sienna juga begitu. Namun sekarang agaknya lebih ekstrim lagi, Liana menginginkan berhubungan dengan banyak gaya dan suasana yang baru. Seperti ingin mencari adrenalin.Daritadi Liana merasa gelisah. Ia terus menimbang, haruskah Liana menuruti keinginan ekstrimnya tersebut?Pasalnya yang diinginkan Liana adalah berhubungan di ruang yang ada di rumah ini. Jika sekarang hanya ada dirinya dan Juna sih tidak masalah. Tapi 'kan ada Aluna juga. Bagaimana kalau wanita itu tiba-tiba keluar kamar dan memergoki?Apa Aluna tidak akan sakit hati? Walau begini Liana juga wanita, ia tahu dan bisa merasakan bagaimana sakitnya jika berada diposisi tersebu

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 47

    "Mama akan menginap di sini, kalau perlu untuk beberapa waktu ke depan. Agar Mama bisa memastikan bahwa ucapan laki-laki ini memang benar." Irene menunjuk presensi Juna menggunakan dagunya. Rupanya wanita itu masih belum puas."Tapi Ma, Mama mau tidur di mana? Di rumah ini hanya ada tiga kamar. Kamar utama, kamar tamu yang sekarang di tempati Luna, dan kamar Sienna yang sangat kecil." kata Liana.Irene terdiam, ia berpikir. Jika ia tidur bersama Liana, itu artinya bisa saja Juna mengambil kesempatan untuk tidur di kamar istri mudanya. Irene tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Liana mendapati Juna yang bermalam di kamar istri mudanya. Jika Irene memilih di kamar cucunya, benar kata Liana, kamar Sienna hanya terdiri dari ranjang kecil khusus anak-anak, bukan hanya akan membuat sempit, tapi juga akan membuat cucunya itu tidak nyaman jika ia bersikeras tidur di sana. Namun jika Irene memilih tidur di kamar tamu, sudah pasti ia tidak sudi jika harus satu ranjang dengan istri k

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 46

    "Oh jadi ini pelakornya? Cih biasa banget, gak ada menarik-nariknya. Dasar bodoh kamu Juna! Nikahin dia yang jauh di bawah anak saya."Semua yang ada di sana sontak saja terdiam dan suasana seketika menjadi canggung karena mendengar ucapan Irene yang seolah tengah membanding-bandingkan kedua istri Juna tersebut. Hanya dua anak kecil, Jisa dan Sienna--yang memang tidak mengerti apa-apa. Kedua bocah itu tidak terpengaruh oleh ucapan sang nenek dan malah dengan santainya melenggang masuk ke dalam rumah."Ma, jangan bicara begitu." Akhirnya Liana memberanikan diri untuk bersuara lebih dulu, setelah semuanya hanya diam saja. Liana hanya merasa ucapan yang dilontarkan oleh sang mama sudah terlalu kasar dan sangat menyinggung perasaan Aluna. Bukannya Liana peduli pada perasaan Aluna, hanya saja sebagai manusia, Liana masih mempunyai rasa kasihan pada sesama. Apalagi, di sana Aluna langsung menunduk dan matanya juga terlihat berkaca membuat Liana menjadi iba."Loh apa yang Mama bilang itu mem

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 45

    "Barang-barangnya udah diberesin semua, Yah?"Siang ini, sesuai yang dikatakan oleh Jennifer kemarin, Liana sudah diizinkan untuk pulang. Yah, meski harus disertai dengan beberapa catatan; seperti, Liana tidak boleh banyak bergerak, dan harus bedrest selama satu bulan penuh.Agak jenuh juga sih, namun demi kebaikan bayi dalam kandungannya, kali ini Liana akan menurut, tanpa protes sedikitpun."Udah beres semua." balas Juna. Sengaja, hari ini ia meminta izin untuk tidak masuk kerja dulu.Juna menaruh tas yang berisi baju bekas ganti Liana ke atas ranjang, laki-laki tersebut lalu membantu sang istri untuk berdiri."Ayah ambilin kursi roda dulu, ya?""Gak usah, Yah. Jalan aja." tolak Liana."Bisa gitu? Emangnya gak sakit?""Ngilu aja, tapi gak apa-apa. Udah ayo pulang, aku udah gak betah di sini lama-lama."Juna mendengus, ia tidak mendebat istrinya lagi dan memilih untuk menuntunnya saja.Namun baru saja beberapa langkah berjalan, Juna dan Liana dikejutkan karena terbukanya pintu ruanga

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 8

    Juna mengetuk pintu kamar Sienna. Waktu kini sudah menunjukkan pukul delapan, namun istri dan anaknya, sedari tadi belum kunjung ke luar juga.Juna khawatir, takut keduanya malah sakit akibat menahan lapar. "Bunda, Senna, makan dulu yuk, kalian 'kan belum makan apa-ap

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    bab 7

    Juna memasuki kamar sang anak, ia langsung disambut kalimat tanya dan tatapan tajam sang istri. "Ngapain kamu ke sini?!"Juna melangkah menghampiri anak dan istrinya yang berada di atas kasur, namun Liana lebih dulu beranjak dan mendekati suaminya, sehingga kini mereka berdiri

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    bab 6

    Meski kesal dan dalam keadaan suasana hati yang kacau, tapi Liana tidak bisa mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu segitu saja. Maka dari itu, dipukul empat sore ini, seperti biasa ia berkutat di ruang dapur untuk menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya."Sayang bantuin Bund

  • Gadis Penyakitan Perebut Suamiku    Bab 5

    Entahlah, Liana sendiri tidak tahu, apakah keputusannya untuk tetap bertahan bersama Juna adalah langkah yang benar atau justru kesalahan yang akan semakin menyakiti dirinya di kemudian hari.Namun, jujur saja, selain Sienna, ada alasan lain yang membuatnya masih bertahan di tengah badai yang mengh

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status