LOGINKejadian di mess utama berlalu begitu saja, tidak nampak ada pembicaraan di kalangan karyawan pabrik. Demikian juga Hafid tidak menceritakan bagaimana pak Mihardo setelah diciduk . 'Hum, pasti hafid mengunci mulut para satpam dengan uang. Ciri khas keluarga Kartamihardo.' batin Diandra. Diandra, Rieke dan mbak Kinasih juga tidak lagi membicarakannya karena Diandra dan Rieke sibuk mempersiapkan pameran berikut nya. Rieke sedang sibuk membuat pemodelan 3D, di komputer untuk menghasilkan model digital 3D agar presisi dari segala sudut. Diandra bersama mas Priyanto sibuk menyolder perhiasan gantungan kalung dan gelang dua angsa untuk dijadikan satu diperlukan ketelitian., mereka melakukannya berkali-kali sampai keduanya merasa puas setelah dua angsa bersatu membentuk simbol love. Jam sudah menunjukkan jam delapan malam," Mas Pri, matur nuwun sudah temani saya. Besok kita lanjutkan lagi," ujar Diandra. "Nanti saya yang catat jam lemburnya mas "ujar Diandra. Diandra mengamb
Penyakit insomnia Diandra kembali kambuh teringat kejadian tadi siang di ruang kerja pak Mihardo .Diandra gelisah ada keinginannya keluar untuk minum wine agar bisa tidur. Gestur tubuh Feliks tidak berdaya berhadapan dengan ibu Iswara serasa menikam hatinya yang terdalam,'Rasanya aku tidak rela Feliks seperti itu. Selama bersama Feliks selalu punya power bahkan dalam... bercinta dia menunjukkan bahwa dirinyalah yang berkuasa atas tubuhku,' batin Diandra. 'Benar kata Hafid, mereka berdua ingin menguasai perusahaan. Tentunya yang pertama mereka lakukan adalah menguasai Feliks, menancapkan kuku -kuku mereka di bahu Feliks yang kemudian menunduk dan menyerahkan perusahaan kepada mereka.' batin Diandra. 'Apakah aku mengikuti saran Hafid? Membuka pikiran dan emosinya yang terblokir? Apakah kecelakaan mobil yang membuatnya demikian atau ada tangan tak kasat mata yang membuatnya?'batin Diandra. "Apa yang harus aku perbuat? Membiarkan atau membuka nya? Membiarkan berarti dalam cengkeram
Ruang kerja para desainer perhiasan terdengar suara arogan Gracela yang terdengar sampai diluar. Diandra dan Rieke menunduk seolah -olah mendengar ceramah nya. Diandra sibuk membuat sketsa, Rieke mempermainkan kukunya yang panjang berlapiskan aneka warna kuteks. "Kita akan go internasional, buatlah sketsa dimana para bule tertarik dengan perhiasan perak buatan kita." "Bu Gracela menurut saya bukan saja sketsa tapi kualitas perhiasan sangat menentukan," ujar Diandra. "Jangan sombong kamu, merasa lulusan Jerman. Kuliah mu fokusnya teori bukan praktek.Apa yang kamu tahu tentang kualitas perhiasan? Belagu!Aku di Singapura belajar bertahun-tahun teori dan praktek perhiasan perak. Tuh! lihat sertifikat yang aku gantung di dinding,jelas,-jelas menunjukkan aku lebih berkualitas dari kamu, tidak belagu seperti dirimu." Diandra tersenyum mendengarnya teringat kembali perkataan Hafid bahwa sertifikat yang dibangga -banggakan sertifikat palsu. "Kualitas perhiasan penting, yang lebih pent
Perempuan paruh baya itu sengaja lewat di depan Diandra dan Rieke yang sedang menikmati puding, makanan penutup, tangan penuh keriput memegang lengan pak Mihardo erat-erat, ketika melewati mereka. Entah disengaja atau tidak perempuan paruh baya itu menyenggol tangan Diandra, tangan yang sedang memegang mangkuk kaca berisi puding coklat dengan saus karamel, jatuh ke lantai menimbulkan bunyi barang pecah. "PRANGG!!" "Ohh..." seru Diandra. Puding dan saus karamel menimpa jarik perempuan paruh baya, menatap Diandra dengan senyum mengejek,"Kalau makan matanya jangan jelalatan!" "Ih..." cetus Diandra akan protes. Perempuan paruh baya itu menatap Diandra dengan tatapan menyipit tajam penuh kebencian, Diandra berdiri menatap wajah perempuan paruh baya yang pergi sambil memapah pak Mihardo. "Diandra, Diandra, kamu itu suka bikin heboh! Tadi padi kamu heboh dengan tikus jadi-jadian sekarang kamu memecahkan mangkok kaca milik kantin. Lihat puding dan karamel berserakan di lantai."U
Mobil mewah milik pak Mihardo masuk ke dalam halaman rumah mungil yang tertata apik dengan aneka macam bunga. Pak Tikno,turun membuka pintu mobil untuk Diandra yang langsung keluar dari mobil menghampiri pak Mihardo yang sudah dibukakan pintu mobil oleh seorang pria paruh baya. "Hari ini cepat pulang," "Saya hanya sebentar, mau istirahat setelah itu kembali ke pabrik." "Pak Mihardo, saya pamit." "Pamit kemana?" "Saya balik ke pabrik." "Sebentar kita kembali ke pabrik, kita istirahat dulu." "Tapi....." " Biar kamu tunggu sampai hari berikutnya tidak ada taksi maupun kendaraan umum di daerah ini." Diandra ragu -ragu, memeluk tas jinjing nya erat -erat tanda ada rasa khawatir. "Sudah masuk, saya mau istirahat sebentar, setelah itu kita kembali ke pabrik." "Iya mbak, ikut saja katanya pak Mihardo dari pada mbak tunggu taksi atau kendaraan umum yang jarang lewat," Dibantu pria paruh baya tanpa menggunakan tongkat,pak Mihardo masuk ke dalam rumah. Diandra memandang ke sekelilin
Pertanyaan Hafid yang tidak disangka-sangka tentu saja membuat Diandra kaget. Diandra berusaha menyembunyikan rasa kagetnya tapi percuma justru perkataan Hafid sukses membuat Diandra pucat,hal yang sangat sensitif untuk diungkapkan siapa ayah biologis baby boy. 'Apakah Hafid sengaja memancing?Agar aku beraksi?' batin Diandra. Terngiang kembali tawa mengejek ,senyum sinis Hafid.'Hum ia sengaja memancing setelah aku katakan tidak perduli apartemen yang dibeli Feliks untukku diserobot oleh keluarga Javier. Diandra tahu keinginan Hafid agar ia kembali hidup bersama Feliks. Setelah mengetahui mengapa Feliks menceraikannya, Diandra malah sakit hati.. 'Kalau dia benar mencintaiku ia akan mempertahankan pernikahan kami bukan dengan mengeluarkan kata cerai .Apakah Feliks masih mencintai mama?' pikiran Diandra terus menerus merobek masa lalunya. "Bu, sudah sampai." Diandra tertegun melihat kawasan pabrik sudah di depan mata,"Pak, saya bayar ongkosnya. Bisakah bapak antar saya ke ruma
Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak dih
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand
Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi. “Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terl







