LOGINDiandra menggeliat ketika bibir Feliks intens bermain di bibirnya. "Bangun tukang tidur," bisik Feliks. "Uhh... rasanya masih ingin tidur." "Sudah jam dua belas, kamu tidak lapar?" "Lapar bisa ditahan tapi ngantuk sulit ditahan," ujar Diandra, menarik bedcover memejamkan kembali matanya. "Aku pesan makanan," Tidak ada jawaban, Feliks menoleh lalu tersenyum mendengar dengkur halus Diandra. 'Pasti ia lelah, kita melakukannya lepas kendali , mungkin suasana kamar, ranjang empuk dan suasana hati membuat kami liar bahkan Diandra terus mencengkram kuat pinggulku.....' batin Feliks teringat permainan cinta mereka semalam. Feliks meraih buku menu, memesan beberapa makanan dari minuman melalui room service. Terdengar keluhan Diandra, tangannya terangkat seolah melindungi dirinya,"Jangan...!" "Beb...kamu mimpi?" Diandra terlihat gelisah, tangan satunya mencengkram erat gelang giok, "Jangan...." kemudian menangis tersedu-sedu. Feliks naik ke ranjang berusaha menenangkan D
"Yaang, kita kemana?" tanya Diandra ketika melihat mobil tidak menuju ke apartemen yang disewa Feliks selama sebulan. "Kita sesuatu tempat?" "Yang romantis?" tanya Diandra dengan tatapan mata berbinar-binar. "Hum, romantis, eksotis dan misterius," "Kok misterius? Ada horor nya?"tanya Diandra,mata yang sebelumnya berbinar-binar berubah ketakutan. "Humm..kalau malam hari," "Ogah ahh. Lebih baik ke apartemen saja," Feliks tertawa kecil, "Bukankah setiap malam horor?" Mengetahui arti maksud "horor" versi Feliks, Diandra langsung memukul-mukul lengan Feliks disambut Feliks dengan tertawa geli melihat kelakuan isterinya. Mobil memasuki kawasan hotel berbintang lima yang terkenal ikonik dengan gaya kolonial. "Wah... ikonik banget!"seru Diandra, takjub melihat keindahan seluruh bangunan hotel berlantai tiga. "Kamu suka?" "Suka,tapi horor nggak?" "Yang pasti di kamar kita pasti horor," goda Feliks. Diandra ingin protes,suara sopir berbahasa Inggris dengan logat Mela
Sebagai eksekutif tertinggi yang memimpin perusahaan, bertanggung jawab atas arah strategis perusahaan setiap sebulan mengadakan pertemuan formal diadakan rapat direksi dimana Feliks menerima laporan dari para direktur dilanjutkan rencana strategis ke depan. Brandon menginterupsi agenda membahas audit rapat tapi tidak disetujui sebagian peserta rapat membuat rapat memanas. Kewibawaan Feliks dalam memimpin rapat akhirnya merendam nyali Brandon. 'Dasar keturun Buular beludak! ' maki Feliks dalam hati menatap tajam ke arah Brandon. "Audit internal perlu didukung audit eksternal perusahaan untuk independensi, objektivitas, dan kredibilitas yang tidak dimiliki audit internal, serta memenuhi persyaratan kepatuhan hukum. "Bapak tidak percaya audit internal?!"bentak Brandon. "Saya ingin keuangan perusahaan transparan untuk meningkatkan kepercayaan pihak investor, bank, dan pemerintah." Setelah perdebatan panjang akhirnya rapat direksi sepakat dilakukan audit eksternal. Feliks tahu kepen
Sudah seminggu Diandra tinggal di Singapura untuk memenuhi salah satu persyaratan menikah di Singapura. Mereka harus jalani demi melegalkan hubungan mereka. Setiap weekend menyewa pesawat pribadi, Feliks berangkat ke Singapura, Senin subuh balik ke Jakarta. LDR terasa berat bagi mereka terutama bagi Diandra, setiap melepaskan Feliks kembali ke Jakarta selalu penuh drama, entah menangis takut ditinggal sendiri, entah terus menggelayut bak anak monyet yang tidak mau lepas dari induknya, bahkan tantrum membuat Feliks terasa berat meninggalkan Diandra. "Tinggal berapa hari lagi aku disini?" ajuk Diandra ketika Feliks memasukkan beberapa dokumen ke tas kerjanya. "Hum.. sepuluh hari," "Isshh...lama banget," "Kalau bosan jalan -jalan ke mall. Di seberang hotel ada mall, belanja, makan...." "Bosan!" "Yang sabar. Semua persyaratan telah terpenuhi. Pak Lukito telah menyelesaikan termasuk pembayaran, tinggal ketok palu kita sah suami istri. Aku janji hari Rabu balik kesini,tinggal sampai h
Ketika seluruh keluarga masih terpaku pada Feliks, dengan langkah tegas Feliks menuju ke arah kedua orangtuanya. Membungkukkan badannya,memberi hormat bakti,"Terima kasih papi dan mami. berani berkorban demi menyelamatkan hidupku. Apa jadinya kalau papi dan mami tidak menerima tawaran opa. Saya mungkin menjadi sampah masyarakat." Feliks kembali berdiri,"Papi dan mami menerima semua penghinaan yang dilontarkan, tapi kalian tetap diam. Terima hormat bakti saya," ujar Feliks menangkupkan kedua tangannya. Feliks membalikkan badannya, menoleh ke arah ibu Jelita,"Apakah rapat keluarga sudah selesai?" "Belum. "jawab ibu Jelita lalu menoleh ke arah pengacara yang membuka dokumen, menatap sejenak kemudian mengedarkan matanya kesemua anggota keluarga. "Status anak sah Johan Kartamihardo dan Jelita Mariono sebagai berikut, anak pertama Jayden Kartamihardo, anak kedua Javier Kartamihardo dan anak ketiga Feliks Raharja Kartamihardo. Mereka sama-sama anak sah dan mempunyai hak dan kewajiban yan
Seluruh anggota keluarga Kartamihardo berkumpul di ruang keluarga. Mereka kasak kusuk membicarakan mengapa mereka diundang untuk rapat serta bergosip satu sama lain belum hadirnya Feliks. "Dia merasa dirinya paling penting, selalu datang terlambat. Dia menganggap kita apa? "cicit ibu Sabrina "Nso,belum jam setengah sepuluh, Feliks pasti tiba tepat waktu."ujar ibu Jessika. "Tante, telepon tuh Feliks,aku ada pertemuan penting yang harus aku tunda karena Oma memanggil kita untuk rapat keluarga." Ujar Brandon. "Tidak perlu menelpon, saya sudah hadir,"terdengar suara bariton disertai langkah tegap Feliks memasuki ruang keluarga ditatap mereka yang hadir. "Putra mahkota sudah datang,"terdengar suara sarkastik Javier. "Putra mahkota yang tidak punya mahkota." Ujar Brandon. Feliks tidak menanggapi , menuju ke arah orangtuanya, membungkukkan badan di depan Jayden,"Lama tidak bertemu,papi sehat?" tanya Feliks kemudian berdiri tegak menatap ayahnya. "Pertemuan terakhir kita waktu
Pikiran Oom Feliks yang sedang melayang ketika sedang mencari cinta pertamanya dikejutkan dengan suara pak Tikno. "Tuan, saya akan membersihkan ruang kerja," "Silahkan. Kalau sudah selesai. Tutup pintunya,"kata Oom Feliks, membuka laci meja kerjanya mengambil segompok uang memberikan ke pak Tikno
Saat memasuki ruang kerjanya,mata Oom Feliks langsung tertuju ke kursi kerjanya, tempat ia dan Diandra memuaskan keinginan liar mereka. Diandra duduk di atas pangkuan Oom Feliks, posisi yang sangat disukai Oom Feliks benar-benar membuatnya kehilangan kewarasan, miliknya bisa masuk ke pusat terdalam
Oom Feliks yang merebahkan dirinya di sofa langsung berdiri, Diandra menghambur , mereka saling memeluk. “Aku merindukan daddy.” “Daddy juga sangat merindukanmu.” “Mengapa daddy tidak ke apartemen?” “Katanya ingin melihat kantor daddy,” “Humm.. kantornya indah dan elegan, seperti pemiliknya.”
Oom Feliks meninggalkan ruangan makan, naik tangga, kamarnya terletak di lantai dua, bersebelahan dengan kamar opa dan omanya. Masuk ke dalam kamar yang sudah lama ditinggalkan, aroma wangi pengharum ruangan khas keluarga Kartamihardo menyergap hidung Oom Feliks. Menatap ranjang besar, seprei biru







