MasukTanpa membuang waktu Diandra langsung mengambil kotak besar berisi kotak -kotak perhiasan, menjelaskan dengan rinci cara membuatnya, ide dibalik desain setiap perhiasan. Mr. Mike Kaiser menyentuh gelang perak yang ada ditangan Diandra," Apa ide dibalik desain ini?" tanya nya sambil menatap wajah Diandra. Gelang perak terlihat cantik di tangan Diandra,"Ini...mmm... cinta yang tak pernah padam. Coba tuan lihat ada hati yang bernyala. Batu merah delima ini melambangkan api cinta yang menyala. " ucap Diandra. "Semua perhiasan memiliki ide?" "Benar tuan, idelah yang membuat saya langsung membuat sketsanya,”jawab Diandra dengan suara lembut, tapi dingin. "Bisakah kamu membuat perhiasan...Humm... untuk saya berikan kepada seseorang?" tanya Mr. Mike. "Tolong sampaikan ide apa yang tuan inginkan, seseorang yang tuan cintai, seseorang yang tuan hormati?" "Saya ingin berikan kepada seorang wanita yang sangat saya cintai, sebuah gelang perak yang unik dan berkelas.” "Hum... bagaim
Mendengar jawaban Gracela,Diandra langsung berlari -lari,menuruni tangga ibarat dikejar setan. Keluar dari lobby matanya mengedar mencari sopir kantor yang mengantar Gracela ke hotel Bima Sakti. "Pak Romli, apakah kotak perhiasan tertinggal di mobil? " tanyanya harap -harap cemas. "Tidak ada Bu,tadi ibu Grace bawa kedalam hotel tapi waktu kembali,ibu terlihat bingung, menangis tersedu-sedu." ".Oh... Tuhan, jangan -jangan Mike Kaiser penipu?" ujar Diandra, langsung masuk ke dalam mobil. Karena panik Diandra tidak melihat mobil mewah masuk ke pelataran parkir basement gedung Kencana Mulia Abadi. "Kita ke hotel Bima Sakti sebelum Mister Mike melarikan diri!" ujar Diandra panik. "Cepat pak Romli! Perusahaan bisa rugi ratusan juta jika ia menghilang membawa semua perhiasan." "Ibu Grace kena tipu? Mister Mike itu penipu? Wah, gawat! ternyata ada yang mengaku sebagai owner PT Kencana Mulia Abadi, Apakah ibu Diandra pernah melihat owner PT Kencana Mulia Abadi?" "Saya tidak per
Diandra terbangun dari tidurnya, merasakan sebuah tangan yang parkir di atas perutnya. Lewat gorden tipis jendela ,hari masih gelap, menoleh kesamping, pria bule terlelap , dengkurannya memenuhi kamar suite. Ditatapnya wajah pria yang telah membuatnya bergairah, Diandra tersenyum kecil ketika pria bule itu salah masuk, terpaksa Diandra mengarahkan tangannya meraih milik pria bule ke tempat yang tepat. lalu memegang pinggulnya mengikuti goyangan pinggul Diandra. 'Hum... brengsek! Aku dibuatnya capek,batin Diandra, perlahan menyingkirkan tangan pria bule dari perutnya, bangun, mencari pakaian yang berserakan di lantai, bra dan CD lalu meraih tasnya keluar kamar hotel. Berlari sepanjang koridor hotel, mencari lift menekan angka 20 , keluar lift suasana koridor menuju kamar nya terlihat sepi , tergesa-gesa masuk ke dalam kamar, membuka seluruh pakaiannya, masuk ke dalam kamar mandi membersihkan seluruh tubuhnya. Aroma tubuh pria bule serta aroma cerutu terasa melekat di tubuhnya da
SEBULAN KEMUDIAN Dengan berjalan kaki ditemani staf kantor, Diandra berjalan dengan langkah anggun ditatap dua sosok. Mbak Kinasih yang menatapnya penuh kekaguman dan bocah kecil yang menatap tanpa berkedip, entah apa yang ada di benaknya.Sebulan kerja di pabrik perhiasan, Diandra menjadi bintang di pabrik. Kecantikan dan ketrampilannya mendesain dan mengubah desain menjadi perhiasan dikagumi para pekerja termasuk Rieke yang semula dianggap akan menjadi penghalang jika bekerjasama dengannya akhirnya menjadi sahabatnya. Diandra bertahap merubah karakternya, setelah berhasil mengatasi melupakan masa lalunya, bangkit menjadi Diandra yang baru , berpola pikir,berpenampilan bahkan cara hidup ke arah yang berlawanan dengan karakter,pola pikir dan penampilan masa lalunya. Diandra bertransformasi menjadi lebih dewasa, elegan, smart serta percaya diri bertekad menjadi desainer kaliber dunia. Dimata rekan kerjanya, Diandra terkenal wanita lajang mempunyai anak semata wayang, memiliki kehid
Setelah wawancara yang singkat sekedar mencocokkan curriculum vitae dengan apa yang Diandra utarakan , Gracela menyodorkan kontrak kerja. “Silahkan baca, jika anda setuju langsung tanda tangan,” “Apakah bisa ada perobahan?” tanya Diandra. “Kontrak sudah sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan, jam kerja, cuti dan kompensasi PHK , gaji tidak berdasarkan UMP berdasarkan kebijakan perusahaan sesuai formasi, ijazah ,skill yang berhubungan dengan jabatan ibu di perusahaan beserta fasilitas-fasilitas yang diberikan perusahaan. Ibu sungguh beruntung jika bisa diterima di perusahaaan kami,”ujar Gracela dengan nada suara rendah , tegas, lambat, dan monoton, menyiratkan superioritas. Diandra tenang Diandra mengambil tablet berisi kontrak kerja, mempertahankan kontak mata secara profesional menunjukkan bahwa ia tidak merasa sebagai yunior lalu dengan sopan dan tegas berkata, “Marilah kita bahas kontrak kerja ini , saya harap ibu hendaknya bicara dengan volume suara yang biasa-biasa saja.”
Konflik di lobby dengan satpam dan perempuan yang bernama Rieke serta mendengar perkataan ibu Gracela di telepon ,,rasa ilfill berubah menjadi kesal bercampur marah karena kedatangannya untuk wawancara tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Diandra mengira bahwa kedatangannya akan disambut dengan ramah ternyata tidak seperti yang diharapkan. Suasana hati yang buruk dibawanya sampai di hotel. Sapaan dan senyuman manis resepsionis hanya ditanggapi dengan memamerkan wajah dingin ditambah baby boy yang semakin rewel Diandra rasanya ingin menjerit untuk mengeluarkan kekesalannya. "Nak, bisakah jangan rewel,mom lagi bingung apakah kita kembali ke Jerman atau menetap di Jakarta. Baru sehari ,mom sudah konflik dengan bagaimana kalau seminggu, sebulan, setahun? Mom tidak ingin....." Diandra tidak melanjutkan kalimatnya, teringat kembali masa kecilnya,"Maafkan mommy ," bisiknya sambil mengangkat baby boy dari stroller lalu menggendong sambil mencium kening baby boy yang menatapnya,
Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak dih
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand
Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi. “Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terl







