LOGIN“Lakukan, Adam. Lakukan apapun yang kamu mau.”
Adam tertegun sejenak melihat reaksi Lisa, lalu menyeringai puas. "Bagus. Akhirnya kamu sadar siapa pemilikmu."
Adam mulai memukul dan mencengkeram tubuh Lisa dengan kasar, namun Lisa tetap diam dan mempertahankan senyumannya seolah tindakan brutal itu adalah bentuk rasa sayang.
Hal itu membuat gairah Adam semakin memuncak.
Dia meremas leher Lisa dengan kuat membuat gadis itu merintih kesakitan.
“Merintihlah, Sayang. Aku suka rintihanmu.”
“Ya, Adam. Lakukan. Lakukan apapun yang kamu mau.”
Mendengar perkataan Lisa Adam melebarkan kaki Lisa kemudian mencekiknya semakin kuat.
Mata Lisa berair tapi Adam malah tersenyum puas. Dia membalikkan posisi Lisa membuat gadis itu merintih semakin kencang
Lisa tetap diam sebagai bukti kepatuhan. Yang dia mau saat ini hanyalah melayani gairah pria bertubuh kekar yang makin menggila menerkamnya dari belakang.
"Luar biasa! Kamu berbeda malam ini, Lisa!" puji Adam di tengah nafasnya yang memburu saat mereka berhubungan intim di atas ranjang. "Aku suka kamu yang penurut seperti ini."
"Aku milikmu, Adam..." rintih Lisa pelan, sepenuhnya pasrah tanpa ada penolakan sedikitpun membuat Adam merasa semakin puas dengan perubahan sikapnya.
“Haaa! Haaah! Lagi, Adam! Lakukan! Jangan berhenti! Hhmmmmm!”
Lisa menggigit bibirnya untuk menahan ketegangan yang terjadi malam itu.
Adam tersenyum senang sambil mengusap keringat yang mengalir deras di dada Lisa.
“Kamu memang wanita yang hebat. Aku tidak percaya kamu bisa mengimbangiku! Kamu cantik, kuat, dan mempesona. Membuatku selalu ingin bersamamu.”
“Adam, aku akan lakukan apapun untukmu.”
“Bagus! Aku suka wanita penurut. Lakukan apa pun yang aku suruh, janji!”
Lisa melingkarkan jari manisnya di jari manis Adam sambil tersenyum, membuat Adam semakin senang.
Saat itu jam empat pagi. Hubungan intim yang penuh kekerasan di kantor Adam beberapa jam lalu akhirnya selesai.
Tubuh Lisa terasa sakit dan dipenuhi bekas merah akibat cengkraman tangan Adam yang kuat di pinggangnya untuk menunjukkan kekuasaan. Namun, saat melihat pria itu tertidur di sampingnya, Lisa justru merasa senang karena delusi pikirannya sendiri.
Adam tertidur lelap dengan tubuh telentang di atas kasur. Wajahnya yang biasanya terlihat kejam kini tampak tenang karena kelelahan setelah minum wiski mahal.
Lisa merangkak mendekat secara perlahan agar tidak membangunkan Adam. Ia memperhatikan napas Adam yang teratur. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh dan merapikan rambut Adam yang menjuntai di dahi.
Adam bergerak sedikit dan mengerang pelan dalam tidurnya, tetapi tidak terbangun. Sebaliknya, tangan besar Adam secara refleks bergerak menarik paha Lisa agar posisi tidur wanita itu menjadi lebih dekat dengannya.
Tindakan spontan itu membuat Lisa merasa sangat bahagia. Ia langsung berpikir bahwa Adam menginginkan keberadaannya dan memperlakukannya secara spesial dibandingkan wanita lain.
Lisa benar-benar percaya bahwa dibalik sifat kejam dan kasarnya sebagai penjahat, Adam sebenarnya hanya seorang pria kesepian yang tidak tahu cara menunjukkan rasa sayang secara lembut. Lisa yakin ketundukan dan kesabarannya menghadapi sifat buruk Adam pada akhirnya akan mengubah pria itu menjadi lembut.
Lisa kemudian bergerak pelan keluar dari bawah tangan Adam. Ia memakai jubah sutra untuk menutupi bahunya yang memar, lalu diam-diam keluar dari kamar sebelum Adam terbangun.
Ketika kembali ke kamar belakang panggung, Matilda sudah duduk di depan meja rias sambil merokok dalam kegelapan.
Matilda melihat mata Lisa yang berbinar bahagia dan senyuman di bibirnya, membuat ia merasa sangat kasihan.
"Kamu terlihat seperti orang yang baru saja mendapat keuntungan besar, Lisa," ucap Matilda sambil menghembuskan asap rokoknya. "Tapi tubuhmu penuh luka. Lihat leher dan pergelangan tanganmu."
Lisa melihat pergelangan tangannya yang lecet dan memerah akibat ditahan oleh Adam di atas meja kerja semalam. Ia menyentuh luka itu sambil tetap tersenyum. "Ini tidak apa-apa, Matilda. Adam hanya sedang berhasrat besar semalam karena stres klub sangat penuh. Tapi setelah selesai, dia memelukku dan menarikku mendekat saat dia tidur."
Matilda tertawa sinis dan mematikan rokoknya ke asbak. "Dia memelukmu secara tidak sadar? Kamu sudah tidak waras, Lisa! Kamu mencari alasan untuk membenarkan kekerasannya karena kamu tidak siap menghadapi kenyataan. Adam Kurara tidak mencintaimu. Dia hanya suka mengendalikanmu dan senang karena kamu memujanya meskipun dia memperlakukanmu dengan kasar!"
"Dia tidak memperlakukanku dengan buruk!" balas Lisa dengan nada tinggi karena marah. "Dia memberiku makanan terbaik, mengawasi penampilanku, dan melarang pria lain menyentuh atau menyewaku. Jika itu bukan bentuk perlindungan dan rasa kepemilikan seorang pria kepada wanitanya, lalu apa?!"
Sebelum Matilda sempat membalas, terdengar ketukan keras di pintu kamar mereka. Pintu terbuka dan seorang pelayan muda masuk membawa kotak kardus besar berwarna hitam dengan pita sutra emas. Ia meletakkannya di atas meja rias.
"Pemberian dari Tuan Adam," kata pelayan itu dengan nada datar. "Dia memerintahkan agar Anda memakai ini untuk acara gala VIP besok malam. Anda akan duduk di meja pribadinya."
"Terima kasih. Kamu boleh pergi," jawab Lisa merasa menang.
Begitu pelayan keluar, Lisa langsung membuka kotak tersebut dengan gembira.
Di dalamnya terdapat sebuah gaun sutra buatan desainer berwarna biru malam yang dipenuhi kristal safir asli pada bagian dada. Di bawah gaun itu, ada kotak beludru berisi kalung berlian yang harganya sangat mahal.
"Lihat ini, Matilda!" ucap Lisa dengan sangat gembira sambil memegang gaun tersebut di depan tubuhnya. "Lihat berlian ini! Jika dia tidak menganggapku berharga, dia tidak akan membelikanku barang seindah ini dan mengundangku duduk di meja pribadinya bersama rekan bisnisnya! Kamu tidak bisa bilang aku berdelusi lagi sekarang!"
Matilda melihat berlian itu dengan sedih. Ia tahu bahwa gaun dan perhiasan mewah itu bukanlah hadiah cinta, melainkan tanda bahwa Lisa adalah aset properti milik Adam yang paling berharga untuk dipamerkan kepada rekan-rekannya. Namun, karena melihat Lisa sangat bahagia, Matilda tidak tega menghancurkan harapannya malam itu.
"Itu gaun yang indah, Lisa," bisik Matilda sambil berbalik menghadap cermin. "Hanya saja... berhati-hatilah besok malam. Saat acara berlangsung di depan teman-temannya, Adam akan menunjukkan kekuasaannya dengan sangat tegas."
Lisa mengabaikan peringatan itu dan mencium aroma gaun sutra mahalnya. Ia merasa sangat senang dan percaya bahwa hidupnya akan menjadi lebih baik bersama Adam.
Malam berikutnya, suasana di dalam Klub Kurara sangat ramai. Tempat itu ditutup untuk umum karena ada acara eksklusif Gala VIP, yang dihadiri oleh para pejabat korup, bos mafia, dan investor kaya.
Lisa berdiri di depan cermin melihat penampilannya. Gaun sutra biru malam itu sangat pas di tubuhnya, dan kristal safir di dadanya berkilau terkena lampu. Kalung berlian yang dipakainya berhasil menutupi bekas luka merah akibat cengkraman tangan Adam di lehernya. Lisa terlihat sangat anggun.
"Kamu terlihat sangat cantik," puji Adam terdengar dari arah pintu.
Lisa berbalik dengan jantung berdebar. Adam berdiri di sana memakai tuksedo hitam dengan rambut rapi, sambil menatap tubuh Lisa dengan penuh nafsu. Adam melangkah mendekat dan memegang kalung berlian di leher Lisa.
"Apakah kamu menyukainya, Adam?" tanya Lisa malu-malu dengan pipi memerah.
"Aku sangat menyukainya," jawab Adam sambil mengeratkan pegangannya di leher Lisa dan menarik wajah wanita itu mendekat.
Adam kemudian berbisik dengan nada mengancam yang membuat Lisa merasa tegang sekaligus bergairah. "Tapi ingat... malam ini, kamu tidak boleh berbicara kecuali aku menyuruhmu. Kamu hanya perlu duduk di sampingku, tersenyum, dan tunjukkan pada semua orang di ruangan itu bahwa kamu adalah milikku. Jangan membuatku menghukummu di depan para tamu."
“Bagus sekali,” bisik Adam sambil tersenyum lebar mendengar kesepakatan Lisa atas idenya. Tanpa membuang waktu, ia memimpin Lisa menuju ruangan VIP tertutup, diikuti oleh sekumpulan pria kaya yang rela merogoh kocek sangat dalam demi menyaksikan aksi liar sang penari.Di dalam ruangan berlampu remang itu, dentuman musik bertempo lambat mulai mengalun. Lisa melangkah ke tengah ruangan dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menggoda. Dengan riasan serba hitam yang menyeramkan sekaligus memikat, setiap liukan tubuhnya malam itu terasa mematikan. Ia menari bagai iblis yang sedang merayakan kebebasan. Setiap gerakannya membius semua mata, namun tak seorang pun diizinkan menyentuhnya. Lisa menari bukan lagi untuk menyenangkan orang lain, melainkan untuk menegaskan kekuasaannya di atas panggung itu.Usai pertunjukan eksklusif yang membuahkan tumpukan uang bagi Kurara, Adam menghampiri Lisa di ruang belakang. Matanya berbinar melihat keuntungan besar yang baru saja diraupnya."Kamu luar
“Dia pikir aku pulang tanpa rencana,” kekeh Lisa lalu melangkah meninggalkan Matilda yang masih menatapnya dengan sinis.Lisa memang kembali ke Kurara, tapi tidak dengan wajahnya yang dulu. Sesampainya di ruang make-up, dia segera berhias, tapi tidak sebagai gadis penurut seperti yang sudah pernah ditunjukkannya. Di sana Lisa menggambar wajahnya sebagai iblis.Dengan makeup serba hitam, dia mulai terlihat begitu mempesona hingga Adam yang tak sengaja melintas berdecak kagum melihat penampilan Lisa yang baru.“Wah! Kamu sangat cantik,” ucap Adam sambil menepuk tangannya.“Adam, sejak kapan kamu di sana?” tanya Lisa dengan tatapan mata yang tajam tapi mempesona.“Kamu benar-benar luar biasa, Lisa,” ulang Adam sambil meraba dadanya yang berdegup kencang.“Kamu suka?”“Ya, sangat suka. Kamu harus ke kamarku malam ini dan kita harus membakar lagi cinta lama kita yang sudah padam.”Lisa tak menjawab. Dia hanya meninggikan alisnya, mengetahui pria ini mulai berbirahi melihat penampilan baru
“Injak gas. Kita harus lepas dari pengawasan mereka!” perintah Adam membuat supirnya segera melaju membelah jalanan sepi itu.Lisa terus menatap ke arah Mikail yang mengejar mobil Adam dengan tatapan dingin. Dia seakan tau isi kepala pria yang merupakan ayahnya itu. “Aku rasa dia memang benar-benar gila!” ketus Lisa saat mobil yang dia kendarai hampir ditabrak MIkail.“Harusnya kamu ikut dia saja,” kekeh Adam sambil menggelengkan kepalanya.“Tidak mau! Dia memang pria jahat. Kalau dia baik, tidak mungkin kalau sia sampai meninggalkan ibuku seorang diri!”“OH! Aku tidak tahu cerita itu. Aku turut prihatin mengetahuinya,” tutur Adam sambil menghentikan tawanya.Lisa lalu mengingat lagi apa saja yang dilakukan Mikail selama ini padanya. Dia bahkan harus berkali-kali mencari pekerjaan saat masih duduk di bangku sekolah demi sesuap nasi untuknya dan sang ibu padahal di luaran sana semua orang selalu berkata kalau Mikail, ayah Lisa adalah orang yang kaya raya.Mobil Mikail dan Viktor saling
“Aku memilih…” Lisa terdiam lalu memutar wajahnya ke arah Mikail."Lisa..." panggil Mikail lembut memohon agar Lisa memilihnya.Namun, panggilan itu seolah tak menyentuh hatinya. Lisa justru menoleh ke arah Slatan, pria berbaju dokter yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajah Slatan begitu tampan, matanya memancarkan kecemasan yang tulus. Tetapi bagi Lisa, pria itu tetaplah orang asing. Kehadiran Slatan terlalu terlambat untuk menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menganga.Setelah memandangi Mikail dan Slatan, kepala Lisa perlahan menoleh ke arah Adam. Pria yang selama ini menjadi sumber dari trauma terbesarnya, sekaligus pria yang menanamkan rasa cinta yang beracun di jiwanya. Perlahan namun pasti, kaki Lisa melangkah mendekati sosok tinggi besar itu.Melihat langkah Lisa, senyum licik perlahan melebar di wajah Adam."Aku memilih Adam," bisik Lisa dingin, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Adam sebelum merengkuh tubuh pria itu."Tidak!" teriak Mikail begitu lantang, suaranya pe
"Tolak tawaran manis dokter itu, Lisa, sebelum kau menyesal karena telah mempercayai dongeng yang mereka ciptakan!” teriak Adam sebelum sebuah suara dentuman keras memotong keheningan saat pintu utama kediaman Mikail hancur berkeping-keping diiringi desakan tembakan senjata api.Asap mesiu membumbung tinggi di ruang tengah. Adam Kurara melangkah masuk melintasi jejak para pengawal Mikail yang bersimbah darah. Jas hitam mewahnya tampak bernoda, sementara sepasang matanya menyala penuh intimidasi dan dominasi mutlak.Mikail bergegas keluar dari ruangan bersama senjata terkokoh di tangannya sedang Slatan melangkah paling depan untuk menjadi tameng bagi Lisa."Adam Kurara!" bentak Mikail dengan nafas terengah. "Berani sekali kau menginjakkan kaki di rumahku!"Adam terkekeh pelan, sebuah senyuman kejam terukir di wajah tampannya yang dingin. "Tuan Mikail yang terhormat. Aku hanya datang untuk menagih apa yang menjadi hakku. Dua puluh lima juta dolar. Bayar seluruh utang judi bajinganmu itu
“Kenapa?” Mikail merasa heran. Alis tebalnya bertaut menatap pantulan wajah putrinya dari cermin. “Bukankah kau baru saja bilang kalau kau menyukainya? Slatan pemuda yang cerdas, sopan, dan yang terpenting, dia bisa melindungimu saat aku tidak ada.”Senyum di wajah Lisa seketika luntur. Ia menundukkan kepala, memandangi jemarinya yang masih berbalut perban tipis. Tangannya perlahan meremas ujung gaun tidurnya dengan gemetar.“Ayah sepertinya lupa dari mana Ayah memungutku,” suara Lisa penuh dengan kepahitan. “Aku ini tawanan Kurara. Berbulan-bulan aku dipaksa melayani tamu, ditonton oleh mata-mata liar lalu disentuh dengan kasar... Harga diriku sudah hancur lebur, Ayah. Aku sudah rusak,” isak Lisa mengingat masa lalunya yang kelam.







