Share

Gadis Tawanan Presdir
Gadis Tawanan Presdir
Penulis: Poel Story27

Perjanjian Nikah!

Pagi itu Tasya sedang memacu sepeda motornya matic tua-nya dengan sangat kencang. Ia hampir terlambat, pagi ini ada pertemuan dengan Dosen pembimbingnya yang killer.

"Tuhan ... habis sudah riwayatku kalau sampai terlambat," gumam Tasya lirih.

Tasya terus memacu sepeda motornya dengan kencang, lalu di sebuah persimpangan, sebuah mobil berbelok tiba-tiba, dan membuat Tasya kehilangan kendali.

Ciiittt ... Brakkk! Hantaman keras sepeda motor Tasya menabrak bagian belakang sebuah mobil sport mewah berwarna hitam.

Tasya terjatuh, untung saja ia mengenakan celana panjang, sehingga hanya tangannya saja yang sedikit tergores, Tasya pun segera berdiri untuk menegakkan sepeda motornya.

Di saat yang sama seorang pria bertubuh tinggi nan gagah, keluar dari mobil yang ditabrak oleh Tasya.

"Shit! What are you doing!" umpat pria tersebut, sambil melotot tajam.

Pria itu menggeram kesal saat melihat kondisi bagian belakang mobilnya yang penyok akibat tabrakan Tasya. Dia bersedekap dengan angkuh, auranya begitu dingin menatap Tasya, seolah ingin menelannya hidup-hidup.

"Ma-maaf, Tuan! Aku tidak sengaja. Lagi pula Tuan berbelok tanpa melihat jalan," ujar Tasya dengan suara gemetaran.

Pria itu menajamkan pandangannya pada Tasya, seperti yang siap memotong lidahnya. Tasya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mencoba mengusir rasa takut yang kini membelenggunya.

"Sudah salah! Masih mau berkelit, huh!?" geram pria tersebut.

"Lihatlah! Mobilku rusak di bagian belakang, dan itu artinya kau lah menabrak mobilku, ganti rugi atau aku akan membawamu ke kantor polisi," ancam pria itu bersamaan dengan tatapan dinginnya yang mengintimidasi Tasya.

"I-iya, Tuan! Aku akan ganti rugi, berapa aku harus menganti kerusakan mobilmu?" tanya Tasya dengan suara dan tubuh yang gemetar ketakutan.

Pria itu menatap penampilan Tasya, lalu pandangan pria itu beralih ke sepeda motor tua milik Tasya. Pria itu pun menyeringai licik. "Tidak banyak ... hanya 5-miliar!"

Hampir saja mata Tasya melompat keluar, enak saja pria ini menyebut 5-miliar tidak banyak, sedangkan untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan biaya kuliahnya saja, Tasya harus bekerja part time sepulang kuliah.

"Li-lima milar, Tuan!" Tasya masih tidak percaya dengan pendengarannya.

"Ya lima miliar! Atau ikut aku ke kantor polisi sekarang juga," ancam pria itu garang.

Pelupuk mata Tasya mulai digenangi cairan berwarna bening, dari mana Tasya harus mendapatkan uang sebanyak itu. Namun, tiba-tiba Tasya teringat bahwa dia harus buru-buru ke kampus.

Tasya mengambil buku dari dalam tas'nya, Tasya menuliskan nomor telponnya di buku tersebut. Dia merobeknya lalu mengambil kartu mahasiswanya.

"Tuan ambil ini sebagai jaminan, aku tidak akan lari, sekarang aku harus buru-buru," ujar Tasya.

Tasya bergegas men-stater motornya, lalu segera pergi meninggalkan pria tersebut. Entah apa yang akan terjadi nantinya, Tasya akan memikirkannya nanti juga. Yang paling penting saat ini, Tasya harus segera menemui Dosen pembimbingnya.

"Tasya Almira ...." Pria itu bergumam saat membaca nama yang tertera pada kartu mahasiswa yang diserahkan oleh Tasya.

Cukup lama pria sombong itu terpaku merenungkan nama belakang Tasya yang tidak asing, sesaat kemudian ia pun tersadar lalu mengumpat kesal, baru kali ini ada gadis konyol yang berani meninggalkannya begitu saja.

Dia menggelengkan kepala, dengan langkah panjang dia kembali masuk ke mobilnya. Selanjutnya dia melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut, menelusuri jalanan ibukota yang cukup macet seperti biasa.

Satu jam lebih di perjalanan, kini mobil yang dikendarainya terparkir di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi, memiliki arsitektur modren, yang berdiri angkuh di antara gedung-gedung lainnya.

Pria elegan itu turun dari mobilnya, dia memasuki gedung tersebut dengan langkah gagah.

Para karyawan yang berada di lobi kantor pun membungkuk hormat.

"Selamat pagi pak!" sapa para karyawan yang berpapasan dengannya.

"Pagi ...!" jawabnya singkat sambil meneruskan langkahnya.

Dia berjalan menuju private lift, khusus milik CEO. Dia menempelkan ibu jarinya di sensor, dan segera masuk begitu pintu lift itu terbuka. Lift itu membawanya ke lantai 27. Lantai paling atas di gedung tersebut.

Setelah keluar dari lift. Dia pun berjalan menuju sebuah ruangan yang sangat besar. Ruang kerjanya ini memang di desain sangat mewah, dengan segala fasilitas yang sangat modren.

Dengan satu tepukan tangan gorden yang menggantung dari langit-langit ruangan, bergeser dengan sendiri. Membiarkan sinar mentari pagi masuk menembus dinding kaca ruang kerjanya.

Kini pria elegan itu mendudukkan dirinya di kursi yang sangat empuk, kursi kebesarannya. Tepat di bagian depan meja kerjanya, terdapat papan nama.

Ferdhian Windraya, Chief Executive Officer.

Ferdhi mengambil telpon yang ada di sudut mejanya.

"Gas, ke ruanganku sekarang," perintah Ferdhi lalu kembali menutup telponnya sepihak.

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.

"Masuk!" sahut Ferdhi dari dalam ruangan.

"Ada yang Anda butuhkan, Tuan?" tanya Bagas asisten pribadi Ferdhi, sambil membungkuk hormat.

"Cari data pribadi gadis ini! Apa benar dia bagian dari keluarga Almira sialan itu!" perintah Ferdhi sembari meletakkan kartu mahasiswa Tasya di atas meja. "Satu jam lagi aku ingin info gadis itu sudah ada di tanganku."

Bagas mengambil kartu yang diberikan Ferdhi, lalu mengamati photo gadis yang ada di kartu mahasiswa tersebut.

"Cantik ...," gumamnya pelan.

"Apa kau bilang?" tanya Ferdhi dengan tatapan tajamnya.

"Tidak ada, Tuan! Saya pastikan data gadis ini akan sampai ke tangan Anda satu jam lagi," jawab Bagas, ia membungkuk hormat lalu beranjak pergi dari ruangan bossnya.

Ferdhi mulai disibukkan dengan pekerjaannya. Ferdhi adalah seorang pengusaha sangat sukses. Tapi Ferdhi bukan hanya dikenal karena kesuksesannya, melainkan kekejamannya dalam berbisnis. Dia merupakan orang yang tidak memiliki belas kasihan kepada musuh, bahkan kepada kolega yang berani mengkhianatinya.

Ferdhi memiliki dendam kepada perusahaan Almira. 5-tahun yang lalu dia pernah bekerja sama dengan perusahaan Almira, saat itu Ferdhi belum sesukses sekarang, dia baru mulai merintis perusahaannya dari nol.

Ferdhi ditipu oleh perusahaan Almira, yang membuatnya rugi besar. Ferdhi harus berjuang ekstra agar perusahaannya dapat bertahan. Kini kekayaan dan kekuasaan Ferdhi sudah sangat besar, sudah waktunya ia membalaskan dendam kepada perusahaan Almira.

Belum sampai satu jam, Bagas sudah kembali ke ruangan Ferdhi, untuk memberikan laporan yang ia dapatkan.

"Benar, Tuan! Gadis itu adalah keponakan dari pemilik Almira corp," ujar Bagas.

"Kau bisa jamin kebenaran dari laporanmu ini?" tanya Ferdhi sambil menaikkan sebelah alis matanya.

"Tentu, Tuan. Saya pastikan tidak ada kekeliruan di sini!" jawab Bagas dengan yakin.

"Bagus ...."

Ferdhi menyeringai licik, manampakkan aura kejam di wajahnya. Sepertinya Ferdhi tidak perlu bersusah payah untuk memulai misi balas dendamnya, karena hari ini Ferdhi malah bertemu salah satu bagian dari keluarga itu, yang bahkan membuat masalah baru dengannya.

Ferdhi akan membuat Tasya merasakan akibat, karena keluarga Tasya sudah berani mambuat masalah dengannya.

"Sekarang hubungi dia, atur pertemuan dengannya," perintah Ferdhi. "Buat surat perjanjian dengannya!"

"Perjanjian apa Tuan?" tanya Bagas bingung.

"Perjanjian nikah ...."

Bersambung.

Dear readers, ini karya pertama aku di GoodNovel.

Ikuti kisah selengkapnya, dan terus dukung aku, ya.

Follow juga I* : @poel_story27

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status