Compartir

Bab 87. Jebakan

Autor: RKamila
last update Fecha de publicación: 2026-07-27 16:54:26

Viktor tengah menyusun rencana, bahkan ia selalu memakai HP anak buahnya untuk mengabari seseorang.

Viktor menelpon. "Sefara! Sekarang waktunya tahap ke 3, buat Kieran datang padaku dan katakan bahwa kamu tahu di mana keberadaan Alena!”

Sefara mendengarkan. "Dia tidak akan percaya lagi denganku!”

"Paksa," bentak Viktor. "Kalau perlu, culik dia!"

Tut!

Telepon dimatikan, membuat Sefara kehabisan akal. Karena Kieran sulit ditebak, apalagi untuk menculiknya.

Kali ini Sefara benar-benar kehabisan
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 130. Pernikahan Sederhana

    Ada 147 warga yang ikut, bahkan mereka berjalan kaki ke balai nikah dengan jarak 1 kilometer. Sebagian dari mereka ada yang membawa bunga. Di depan balai nikah, beberapa wartawan sudah menunggu. Kieran menggandeng tangan Alena. "Kita tidak lari! Kita menikah!”Alena mengangguk dengan senyuman bahagia, karena ini adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu sedari dulu. Penghulu memulai acara dengan kode menatap mata Kieran dan Alena. "Bapak Kieran Voss, terima nikahnya Alena Voss dengan mas kawin cincin perak dibayar tu… nai?""Saya terima…,” jawab Kieran lantang.“Sah!” sorak para warga yang hadir. Kemudian ruangan penuh dengan tepuk tangan, bahkan tangis para warga yang ikut terharu menyaksikan perjalanan kisah cinta mereka. William lari memeluk kaki mereka berdua. "Yeyy! Sekarang kita keluarga beneran!"Dari kejauhan, ada sebuah mobil berwarna hitam. Di dalam mobil itu ada Leonard Strauss yang sedang memotret, ia diam-diam mengintai gerak-gerik Alena. Lalu ia mengirimnya ke Wilh

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 129. Kekompakan Warga Desa

    Jam 11.00. Di kantor Pengadilan, Pak Arman sang pengacara masih berada di sana untuk mengecek berkas, AC dinyalakan sangat dingin tapi mampu membuat dahinya basah.Pak Arman segera menghubungi Kieran untuk membicarakan hal ini, tak berselang lama Kieran mengangkat telpon dan Pak Arman mulai berdiskusi. Pak Arman sedang membuka halaman pertama berkas dari masalah William dan membacanya dengan pelan. "1. Majelis tingkat pertama rupanya telah salah menerapkan hukum, ternyata tergugat tidak memiliki akta nikah dengan Penggugat, sehingga status anak sangat diragukan,”"2. Dilampirkan sebuah bukti baru yaitu, Akta Kelahiran William Voss di kolom Nama Ayah ternyata kosong,” “3. Pemohon yang mengajukan banding adalah kakek kandung dari garis keturunan Ayah, tentu memiliki kapasitas finansial dan moral yang lebih tinggi,”Alena menutup matanya. "I– iitu... itu adalah akta yang aku buat dari 5 tahun yang lalu, sewaktu aku kabur dan aku takut kalau nama Kieran dicantumkan, mereka bisa melacak

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 128. Surat Coklat yang Datang Lagi

    "Saya yang membuat Alena kabur karena tidak bisa melindunginya dengan baik, hingga kalian mengira Alena yang rusak karena membesarkan anak seorang diri tanpa Ayah!" Mendengar ucapan Kieran tersebut, Alena menunduk dan air matanya jatuh."Tapi 7 hari ini saya lihat sendiri, saya lihat dia berjualan dari jam 5 pagi dan melihat cara dia menyuap anak saya walaupun dia sedang lelah! Saya juga melihat dia menolak 10 Miliar demi anaknya!” ucap Kieran panjang lebar. Kieran berhenti lalu menatap Alena. "Dan saya lihat kalian yang kemarin melempar batu, hari ini malah bersama-sama untuk menjaga pagar,"Bu Yein menangis karena terharu sekaligus iba kepada Alena. Kieran merogoh sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, bukan sebuah berlian. Tetapi cincin perak polos yang ia beli di pasar desa. "Alena Voss," kata Kieran suaranya pecah. "Aku hanya punya nama yang sudah jelek sejak kamu meninggalkan ku,”Warga menahan napas."Tapi aku punya waktu selama 24 jam, 7 hari dan seumu

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 127. Lamaran Di Tengah Desa

    Malamnya kondisi ruko sudah ditutup lebih cepat dari biasanya, karena Alena terlalu lelah dan ingin menghabiskan waktu bersama William. Di dalam rumah mereka bertiga, berada di kasur yang sama. "14 hari... baru hari pertama, tapi kita sudah menang 1 babak!" ucap Kieran. Alena bersandar. "Aku lelah, Kieran," "Tidurlah! Aku akan jaga,” kata Kieran lembut. William berada di tengah, sembari menggenggam tangan Mama dan Papanya yang kini sudah lengkap. Tak ada hinaan yang akan William dengar lagi tentang Papanya. Di laci, cincin itu masih ada. Di luar, mobil polisi masih terparkir untuk berjaga. Sedangkan Wilhelm sedang duduk sendiri, dengan menatap berkas banding yang belum tentu menang itu. Berita yang kini sedang trending adalah. "Pengusaha kota Novara City telah dilaporkan polisi, saham Voss Group anjlok!” Banyak pula netizen yang berkomentar untuk mendukung William. "Akhirnya keadilan!""Salut sama Bu Alena! Kuat sekali!”“ Dasar Wilhelm tua bangka!"Di gudang kosong, kini ha

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 126. Keputusan Sidang

    Hakim Ratna menatap tajam. "Duduk! Kami yang putuskan untuk sah atau tidaknya!"Beliau lalu membuka map tebal, isinya sekitar 40 halaman. "Yang Mulia, izinkan saya membacakan kronologi," kata Pak Hendra dari kursi pengawas. Lalu Pak Hendra membacanya pelan dan tegas satu-persatu. "...jam 21.47, korban William Voss telah diculik dari kediamannya sendiri…,""...pelaku mengaku disuruh oleh Tuan Viktor, komplotan Mafia yang baru saja keluar dari penjara…,""...Tuan Viktor mengaku telah menerima perintah dan dana dari Tuan Wilhelm Voss…,”"...tujuan penculikannya adalah untuk memaksa Tergugat supaya segera menandatangani surat pelepasan hak asuh…,”Setiap kalimat yang keluar dari mulut Pak Hendra, membuat ruang sidang semakin hening. Di barisan warga, Bu Ketua Desa menutup mulutnya dan menangis. "Ya Ampun tega sekali,"Jam 09.30. Saksi pertama ditugaskan Hakim untuk maju, yaitu Bu Yein. Tangannya gemetar sembari memegang jimat sebagai tanda perlindungannya. "Yang Mulia... saya yang ja

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 125. Sidang Luar Biasa

    Jam 04.00. Wilhelm sudah sampai ke rumah sakit besar di daerah sana, William langsung dilarikan ke ruang UGD dengan selang infus dan selang oksigen. Wilhelm sedang duduk di luar dengan cemas, jasnya kotor dengan lumpur. Disusul Kieran yang datang 10 menit kemudian, tapi ia malah dihalau satpam. "Pak, itu cucunya Bapak," kata perawat. "Tapi ibunya mana?" Wilhelm diam. "Ibunya... sedang dalam perjalanan!”Kieran tidak lagi memperdulikan siapapun, ia memilih untuk menerobos para satpam yang menghadang. "Alena di mana!?” Wilhelm berdiri. "Dia aman! Di tempatku,"Kieran ingin maju untuk sedikit lebih dekat, tapi 2 orang bodyguard menahannya. Wilhelm mendekat dan berbisik ke telinga Kieran, hanya mereka berdua yang mendengar. "Kamu menang di pengadilan besok! Aku tahu karena pengawas sudah tahu bahwa aku yang menyusun rencana untuk menculik!”Kieran membeku. "Tapi," lanjut Wilhelm. "Kalau kamu mau anak itu hidup, kamu yang antar Alena padaku! 14 hari dengan tanda tangan maka setelah

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 6. Bukti Pertama

    “A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 5. Malam Pertama di Penthouse

    “Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 2. Percobaan Kabur

    “Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 1. Transaksi Berhasil

    "Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status