Se connecter“Selama ini kamu yang mengawasi keluargaku?” tanya Alena. “Tidak!” Raven menggeleng dengan cepat. “Aku hanya mengawasi orang-orang yang sedang mengincarmu!”Alena tertawa kecil. “Bedanya tipis,”“Tidak!” Raven menatap Alena. “Kalau aku menginginkanmu mati, kamu tidak akan berdiri di sini sekarang!”Kieran maju satu langkah. “Jaga ucapanmu!”Raven beralih menatap Kieran. “Aku tidak datang untukmu,” kemudian pandangan Raven kembali kepada Alena. “Aku datang karena dia!”Alena mengangkat dagunya. “Kenapa?”Raven menghela napas. “Karena ada satu hal yang harus kamu ketahui, Alena!”“Apa?” tanya Alena. “Richard Volkov tidak mengkhianati siapa pun!” kata Raven. Alena terdiam.“Eleanor juga tidak,”Raven berhenti sejenak.“Dan Adrian…,”Tatapan Raven berubah menjadi serius. “…bahkan mereka masuk penjara karena ulahmu sendiri!”Mata Alena berkaca-kaca. “Lalu siapa yang melibatkan mereka?”Raven menatapnya lama kemudian berkata. “Orang yang sekarang sedang berusaha mendekati keluargamu,”Al
“Bagus!” suara Kieran terdengar datar. “Berarti kita tidak perlu membuang banyak waktu,”Soren kembali menatap Alena. “Kenapa kamu datang kesini?”“Aku ingin bertanya,” kata Alena. “Tentang apa?” tanya Soren. "Tentang keluargaku,” ucap Alena. Seketika senyum Soren langsung menghilang.Alena lalu melangkah mendekat. “Kenapa Papa, Mama, dan Adrian terlibat dengan jaringan gelap?”Soren hanya diam.“Kenapa setelah mereka ditangkap, jaringan Volkov tetap berjalan?” tanya Alena dengan serius. Tidak ada jawaban dari Soren. “Dan kenapa rekening perusahaan keluarga kami masih bisa digunakan sampai sekarang?” tanya Alena kembali. Wajah Soren langsung berubah dan Alena melihat perubahan itu, walau hanya sedikit. Namun sudah cukup untuk Alena tahu pertanyaannya mengenai sasaran.“Berarti kamu… tahu?” tanya Alena. Soren menghela napas. “Alena, kamu tidak mengerti pada dunia yang sedang kamu masuki sekarang,”“Aku sudah berada di dalamnya sejak lahir!” ungkap Alena. “Tidak!” Soren menggele
Alena mendekat. “Apa masih aktif?”“Secara resmi tidak!” ucap Kieran. “Lalu apa?” tanya Alena. “Beberapa hari yang lalu ada transaksi disini!” kata Kieran. Alena langsung menatap angka di layar. “Berapa?”“Cukup besar!” kata Kieran. “D– ddari siapa?” tanya Alena. Lalu Kieran menunjuk sebuah nama perusahaan, yaitu V-Group Logistics.Alena mengerutkan keningnya. “Aku tidak pernah mengenalnya?”“Perusahaan ini muncul tiga bulan setelah Richard ditangkap,” ungkap Kieran. “Siapa pemiliknya?” tanya Alena. “Nama depannya di palsukan,” lalu Kieran mengklik beberapa dokumen. “Tapi ada satu hal yang menarik,”“Apa?” tanya Alena. “Direkturnya menggunakan nama keluarga yang sama dengan salah satu orang kepercayaan ayahmu,” jelas Kieran. Alena langsung terdiam. “S– ssiapa?”Kamu Kieran menunjukkan sebuah foto.Alena langsung mengenal pria itu, wajahnya muncul dalam beberapa foto lama keluarganya.Pria yang selalu berdiri beberapa langkah di belakang Richard, pria yang dulu sering datang k
Eleanor tidak langsung menjawabnya dan ia mulai melepaskan pelukan. “Tidak!”Satu kata yang tegas.“Bukan Raven?” Alena menatap ibunya. “Lalu siapa?”Eleanor menghela napas berat. “Orang yang menghancurkan keluarga kita adalah orang yang memiliki akses paling dekat dengan Papa!”“S– ssiapa?” tanya Alena. Eleanor menatap pintu kemudian berbisik. “Orang itu pernah menjadi tangan kanan ayahmu!”Alena membeku.“Dan sampai hari ini…,” Eleanor menggenggam tangan putrinya. “…kami tidak tahu apakah dia masih bekerja sendiri,”____Di luar gedung, Kieran sedang berdiri di dekat mobil. Ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk dari orang lamanya.“Kami menemukan jejak rekening lama Volkov!”Kieran membaca pesan berikutnya. “Ada transfer besar setelah Richard ditangkap,”Kieran mengerutkan kening. “Setelah ditangkap?”Berarti seseorang masih menjalankan jaringan itu, bukan hanya sekadar menggunakan nama Volkov. Tetapi menggunakan rekening yang seharusnya sudah mati.Ponsel kembali bergetar dan s
Tetapi ternyata masa lalu tidak pernah benar-benar pergi, melainkan hanya menunggu waktu untuk mengetuk kembali.Kieran datang membawa dua cangkir coklat panas kesukaan Alena, lalu ia meletakkan satu di hadapan Alena.“Alena, kamu masih memikirkan mereka?” tanya Kieran. Alena mengangguk. “Iya,” ucap Alena lalu jemarinya menyentuh wajah Eleanor pada foto itu. “Setelah semua yang terjadi, aku ingin membawa mereka keluar,”Kieran lalu duduk di sampingnya. “Proses hukumnya tidak sederhana,”“Aku tahu,” jawab Alena. “Karena kasus mereka berkaitan dengan jaringan lama, Al,” ucap Kieran. “Aku juga tahu itu, Kieran,” lalu Alena menoleh. “Tapi aku tidak ingin terus menunggu,”Kieran terdiam, karena ada sesuatu dalam suara Alena yang terasa berbeda. Dulu, ketika menghadapi bahaya, Alena selalu mencari perlindungan.Sekarang tidak, perempuan itu justru ingin berdiri di depan masalahnya sendiri.“Aku ingin tahu siapa yang menjebak keluargaku selama ini,” ucap Alena. Kieran lalu menatapnya.
Satu kata itu cukup membuat pertahanan Alena runtuh.“Mama…?” balas Alena. Eleanor menutup mulutnya dan air matanya jatuh.Alena berlari dan mereka berpelukan melewati meja kecil yang memisahkan mereka, tidak ada kata-kata. Hanya tangisan.Tangisan seorang ibu yang kehilangan masa kecil putrinya, karena selalu menganggap Alena seperti anak pungut. Tangisan seorang anak yang bertahun-tahun merasa ditinggalkan.Adrian menundukkan kepala dan bibirnya bergetar. “A– aadik…,”Alena langsung menoleh. “Kak Adrian,”Adrian tersenyum dan senyum yang rapuh. “Kamu masih kuat,”Alena langsung menangis. “Kenapa kalian tidak jujur padaku?”Adrian menunduk.“Karena kami takut kalau kami jujur…,” ucap Adrian lalu berhenti. “…mereka akan menemukanmu!”Richard juga memejamkan matanya. “Duduklah, Alena,”Lalu mereka semua duduk dan Kieran tetap berada di samping Alena.Eleanor lalu beralih memandang Kieran. “Kieran yang selama ini menjagamu?”Alena mengangguk. Eleanor memperhatikan Kieran cukup lama k
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K
“Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax
"Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R







