Home / Mafia / Gadis Tawanan Tuan Mafia / Bab 2. Percobaan Kabur

Share

Bab 2. Percobaan Kabur

Author: RKamila
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-13 12:22:23

“Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax.

Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran.

‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati.

Ia terus melirik kearah Jax, yang masih terus mengarahkan ponselnya kearah Alena.

"Kau yang bertanggung jawab, Jax. Barang yang kubeli tidak boleh lecet! Atau kau tahu akibatnya!” desak suara Kieran di telpon.

“Baik, Bos!” jawab Jax menurut.

Tegas, dingin, suara Kieran terdengar menggelegar. Membuat Alena semakin ketakutan, karena ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Kieran.

Jika dirinya sampai membuat kesalahan sedikit saja, Alena membayangkan jika dirinya akan segera menghadapi neraka dunia yang sangat kejam.

Walaupun ia akan segera menghadapinya, tapi di hati Alena masih tertancap pisau yang tajam untuk segera membalas perbuatan keluarganya. Keluarga yang malah membuatnya harus menderita seperti ini, apalagi Eleanor Ibu yang sangat ia sayangi.

Sampai akhirnya Alena mendengar suara gesekan sepatu Jax mendekat. Membuat dada Alena tidak berhenti memompa darah dengan begitu cepat.

Komplotan monster tersebut seperti berhenti satu langkah di depannya. Membuat Alena bisa mencium aroma tembakau, dan kayu mahal dari jas lelaki itu.

“Habislah aku!” jerit kecil Alena.

Keringat dingin mulai bercucuran di wajah dan lehernya, deras seakan sedang berlari dikejar psikopat. Tapi ini bukan tentang lari yang menyebabkan keringat Alena membasahi wajah dan baju.

Tangan besar yang kasar itu mendarat cepat di dagu Alena. Membuat nafas gadis malang itu seakan berhenti untuk beberapa detik. Netranya terpaku tak berani mendongak ke atas, Jax tampak membuka wajah Alena yang tertutup rambut.

Memandangi Alena dengan tatapan begis dan menjijikkan, lalu mengibaskan dagu Alena dengan sangat kasar.

Alena rasa lehernya seperti ingin putus akibat kibasan tangan Jax.

Ia melihat gerak gerik Jax dengan seksama, tampak sedang membuat kode dua jari, secara singkat, seperti isyarat.

Beberapa detik saja empat anak buah yang lain, serentak mendekat ke arahnya. Pikiran Alena sudah tak karuan, rasanya ia ingin mati sekarang juga daripada harus dilecehkan secara ramai.

Dada Alena semakin berdetak hebat, hingga menutup matanya dengan sangat erat seperti sedang menahan rasa sakit yang akan datang.

‘Duh! Bagaimana ini, apa… mereka mau melakukan perbuatan keji itu sekarang?’ lirih Alena dalam hati. Ia menerka-nerka adegan selanjutnya di pikirannya ‘Bagaimana caraku untuk kabur, sedangkan tanganku masih diikat! t– tapi… aku… tidak mau dilecehkan di sini!’.

Namun rupanya, semua tidak seperti yang ia bayangkan. Mereka memegangi tangan Alena dan memaksanya untuk segera berjalan.

' K–kenapa, mereka?' Alena bertanya-tanya didalam hati.

Alena diseret keluar dari gudang kumuh dan berbau itu, tapi kakinya seakan terasa kaku akibat luka dan bekas pecutan dari Richard beberapa hari yang lalu.

Alena membayangkan bahwa sebelumnya keluarga Volkov, tak pernah menganggapnya sebagai anak. Perlakuan mereka persis seperti sedang menyiksa binatang, seakan nyawanya tidak lah begitu berharga.

Apalagi sekarang, walaupun Alena sudah dijual tapi kehidupan mengerikannya masih saja menghantui. Terlebih dirinya sudah di beli oleh seorang mafia yang ganas, tak mungkin hidupnya akan baik-baik saja setelah ini. Atau bahkan jawanya tidak sampai dalam waktu seminggu di tangan mafia Kieran Voss.

Tak lama kemudian terdengar suara patroli polisi, suaranya seakan mendekat kearah mereka.

"Ayo, segera berangkat, cepat!" desak Jax pada anak buah yang lain.

Alena dipaksa berlari memasuki mobil dengan cepat, seakan kalah dengan kejar-kejaran para polisi atas perdagangan dirinya.

"A–Aku, bisa sendiri!" kata Alena.

Perkataan Alena itu sepertinya membuat Jax marah padanya, hingga beberapa anak buah yang lain menghempaskan tubuh Alena begitu saja kebawah.

“Aaa… sakit!” jerit Alena.

“Jangan sampai lecet! Nanti bos bisa marah,” kata Jax pada yang lain.

Alena Tertatih sendiri dengan perasaan tak enak, dengan wajah yang selalu tertunduk. Alena benar-benar ketakutan, karena mereka seorang monster dan iblis yang sangat taat prosedur. Tapi Alena juga harus berusaha untuk bertahan hidup.

Saat mobil polisi mulai mendekat, Alena dengan sekuat tenaga berteriak untuk meminta tolong. Namun, Jax dan beberapa rekan kerjanya yang lain berusaha cepat memasukkan Alena ke dalam bagasi mobil dengan sangat hati-hati.

Takut jika sampai gadis itu lecet, maka mereka akan bersiap untuk menerima hukuman.

Di Dalam bagasi membuat Alena tidak bisa berkutik, tapi ia masih bisa mendengarkan percakapan mereka. Dirinya sangat berharap jika polisi itu memeriksa hingga ke dalam bagasi, supaya ia bisa selamat.

“Selamat malam ada keperluan apa kalian disini?” tanya polisi itu.

“Tidak ada apa-apa pak, kami hanya mengecek tanah kami disini!” kata salah satu anak buah.

Hingga membuat polisi tidak merasakan adanya kejanggalan, bahkan polisi memberi hormat pada mereka. Saat salah satu anak buah memperlihatkan kartu kecil pada polisi, sepertinya polisi itu masih dibawah kendali Kieran Voss, kemudian polisi pergi meninggalkan lokasi.

Baru lah Jax membuka bagasi dari dalam mobil, ternyata bagasi itu tidak seperti mobil pada umumnya. Kemudian Alena diminta untuk duduk di kursi.

Jax melirik ke arah Alena. Tatapan netranya tajam memberi kode pada Alena untuk segera menurut, wajah tanpa ekspresi tersebut membuat Alena takut hingga kembali menunduk.

‘Sial! percobaan kabur pertama gagal!’ gerutu Alena dalam hati.

Alena kembali melihat sekeliling tempat dengan seksama, ia berusaha mengingat lokasi itu dan juga jalannya.

Namun sepertinya gerak-gerik Alena di ketahui oleh Jax, hingga ia menutup mata Alena menggunakan kain hitam.

Alena memberontak, tentu saja karena ia tidak bisa melihat jalan yang akan membawanya. Membuatnya tak bisa menyusun strategi untuk kabur dari sana.

Alena merasa mobil seakan telah melaju dengan cepat. Hingga membuatnya merasa mengantuk, akibat kain hitam yang menutupi wajahnya.

Beberapa saat kemudian, kain hitam yang melingkari mata Alena dibuka.

Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam netranya. Setelah jelas melihat, ia terkejut mengamati tempat asing yang ada di luar mobil.

Belum sempat mencerna apa yang terjadi, salah satu anak buah Jax membentak, “Turun!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 245. Nama Baru Di Atas Luka Lama, Tamat

    Namun, kali ini mereka tidak perlu saling mengancam atau menyembunyikan maksud di balik setiap kalimat.“Aku tahu kamu pernah melakukan banyak hal yang tidak bisa dibenarkan,” ujar Richard akhirnya. “Aku juga tahu kamu berusaha meninggalkan semuanya,”Kieran menatap lelaki itu dengan tenang.“Aku tidak meminta Anda melupakan masa laluku! Aku hanya berharap Anda menilai apa yang kulakukan mulai sekarang,”Richard mengangguk pelan. “Jaga Alena dan William, bukan dengan menjadikan mereka tahanan di balik perlindunganmu, melainkan dengan memberi mereka kebebasan untuk hidup,”Kieran terdiam sebelum menjawab. “Itulah yang sedang kupelajari sekarang,”Richard menepuk bahunya singkat. Tidak ada pelukan dramatis, tidak pula janji bahwa semua perbedaan mereka telah lenyap. Namun, untuk pertama kalinya, keduanya dapat duduk bersama tanpa membiarkan masa lalu menentukan setiap gerakan mereka.Malam itu, setelah makan malam selesai dan William tertidur, Alena mengajak Kieran duduk di balkon.Lan

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 244. Berkumpul Kembali

    Mata Alena berkaca-kaca karena selama bertahun-tahun, ia mengira menjadi kuat berarti tidak boleh menangis. Tidak boleh bergantung kepada siapa pun ddan harus sanggup menanggung seluruh penderitaan seorang diri, kini ia mulai memahami bahwa kekuatan juga berarti berani mengakui ketika dirinya lelah.Alena mendekat dan menyandarkan kepala di dada Kieran.“Aku hanya ingin hidup biasa,” bisik Alena. “Mengantar William ke sekolah, menyiapkan makan malam, bertengkar kecil denganmu karena kamu lupa membeli sesuatu, lalu tertawa lagi sebelum tidur,”Kieran terkekeh pelan. “Kalau hanya lupa membeli sesuatu, aku bisa memperbaikinya,”“Kalau lupa ulang tahun pernikahan kita?” tanya Alena. “Aku akan menerima hukuman apa pun itu,” jawab Kieran. Alena akhirnya tertawa, tawa kecil yang sederhana itu terasa begitu berharga, sebab sudah lama ia tidak mendengar suaranya sendiri tanpa dibayangi kesedihan.Kieran mengecup keningnya. “Kalau begitu, mari kita mulai dari hari ini,”Di meja makan, Willia

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 243. Setelah Badai Kita Pulang

    Alena menggenggam tangannya. “Ayah membuat kesalahan! Aku juga pernah salah mengambil keputusan! Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi kita masih bisa memilih apa yang akan kita lakukan setelah ini,”Eleanor mengusap air matanya dan Adrian menunduk, menyembunyikan kelegaan yang sejak tadi sulit untuk ia ungkapkan.Mereka tidak kembali menjadi keluarga yang sama seperti sebelum kehancuran itu. Terlalu banyak luka, kehilangan dan tahun-tahun yang tidak mungkin dikembalikan.Namun, mereka akhirnya bisa duduk bersama tanpa ketakutan bahwa seseorang akan datang merenggut mereka lagi.Di luar gedung, Kieran menunggu Alena bersama William. Ketika perempuan itu keluar, William langsung berlari menghampirinya.“Mama! Papa bilang kita boleh pulang!” panggil William. Alena tertawa kecil sambil mengangkat putranya ke dalam pelukan. “Iya, Sayang? Kita pulang,”Kieran menyambut mereka dengan senyum lembut, tidak ada pengawal yang memenuhi halaman, tidak ada ancaman yang harus mer

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 242. Semua Kebohongan Saling Mengunci

    Ternyata, orang-orang yang menyimpan rahasia itu justru mengetahui setiap kebiasaan, setiap kelemahan dan setiap nama yang mereka cintai.“Jadi, siapa yang sebenarnya berada di balik semuanya?” desak Alena. Richard menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca, baru lah ia mengungkapkan sebuah kebenarannya. “Ethan memimpin operasi itu, tetapi dia bukan orang yang pertama kali mengusulkan penghancuran Volkov! Ada pihak yang membiayai jaringan Viktor, memanipulasi bukti, dan memanfaatkan perselisihan di antara orang-orang kita! Ethan mengira dia akan mendapatkan kekuasaan penuh setelah Richard jatuh,” jawab Richard dengan rinci. “Siapa pihak itu, Ayah?” tanya Alena. Richard menggeleng perlahan. “Dulu aku tidak memiliki bukti yang cukup! Tetapi berkas yang kamu kirimkan telah mengubah semuanya!”Ia meminta salah satu petugas, untuk mengambil dokumen tambahan dari ruang penyimpanan. Beberapa menit kemudian, sebuah map berisi catatan transaksi, rekaman komunikasi dan surat perintah p

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 241. Akhir Dari Segala Penghianatan

    Pintu lorong kembali terbuka, dua petugas bersenjata memasuki ruangan bersama anak buah Kieran. Ethan kehilangan kesempatan untuk melarikan diri, sementara Selena perlahan menurunkan pistolnya dan menyerahkannya kepada salah satu petugas.William memeluk leher Alena, menyembunyikan wajahnya di bahu sang ibu.“Mama, kita pulang sekarang?”Alena mencium rambut putranya, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang.“Iya, Sayang! Kita pulang,”Namun, saat ia melangkah melewati Ethan, lelaki itu tiba-tiba bersuara. “Alena, kalau kamu ingin tahu siapa yang benar-benar menghancurkan keluargamu, jangan berhenti pada diriku!”Alena menoleh.Ethan tersenyum pahit, lalu melirik layar ponsel di tangan Alena. “Orang yang menandatangani dokumen itu masih hidup! Dan dia bukan musuh yang bersembunyi di luar sana,”Ia menatap Alena tepat di mata. “Dia adalah orang yang akan menyambutmu ketika kamu pulang!”Di luar bangunan, hujan mulai mereda. Alena berdiri di samping mobil dengan William dalam

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 240. Dia yang Mengatur Kebohongan

    “Ini bukti bahwa kamu sendiri yang mengesahkan program R-09,” kata Ethan. “Richard ingin menyembunyikanmu dari musuh-musuhnya! Aku yang memastikan kamu tetap hidup! Tetapi ketika seluruh jaringan runtuh, dia membiarkan orang lain menanggung akibatnya!”Alena menatap dokumen itu, lalu kembali menatap Ethan. “Kalau kamu memang melindungiku, mengapa keluargaku dipenjara? Mengapa Ibu harus hidup dalam persembunyian? Mengapa Adrian harus kehilangan masa depannya? Dan mengapa William sekarang berada di ruangan ini dengan tangan terikat?”Ethan tidak langsung menjawab, keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling mengerikan.“Karena perlindungan selalu membutuhkan harga,” ujar Ethan akhirnya.“Tidak!” Alena menggeleng, suaranya bergetar oleh amarah. “Itu alasan yang digunakan orang-orang sepertimu untuk membenarkan setiap kejahatan! Kamu menyebutnya perlindungan ketika orang lain kehilangan kebebasan? Kamu menyebutnya pengorbanan ketika orang lain harus membayar kesalahanmu!”Ethan meng

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 4. Tidak Ada Jalan Keluar

    “Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 3. Di Penthouse

    Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 1. Transaksi Berhasil

    "Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 6. Bukti Pertama

    “A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status