Home / Mafia / Gadis Tawanan Tuan Mafia / Bab 1. Transaksi Berhasil

Share

Gadis Tawanan Tuan Mafia
Gadis Tawanan Tuan Mafia
Author: RKamila

Bab 1. Transaksi Berhasil

Author: RKamila
last update publish date: 2026-05-13 12:19:45

"Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya.

Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City.

Alena mendengus geli mendengar ucapan Richard.

"Keluarga yang mana? Yang makan dari hasil menjual darah anaknya sendiri?" ceplosnya kasar.

Alena kembali merutuk, "Semoga uangnya cukup untuk kalian membeli neraka yang nyaman!”

Mata Alena menyiratkan dendam yang membara, dengan tatapan sinis seakan ingin segera membunuh Richard.

Bau karat, garam laut, dan ikan busuk bercampur menusuk hidung. Lampu gantung terlihat hanya ada satu, berwarna kuning redup, berayun pelan terhembus oleh angin laut.

Bayangan peti kemas yang bertumpuk pantas saja, membuat tempat itu mirip mulut raksasa yang siap menelan siapa saja.

Di depannya, Richard, sang ayah, merapikan jas murah yang kebesaran. Tangannya gemetar. Di seberang mereka, sudah tampak lelaki memakai jas hitam itu tengah bersandar di kap mobil Porsche berwarna hitam.

Lelaki yang berdiri kaku di dekat mobil itu menatap dingin ke arah Alena, seolah sedang menilai barang lelang.

Richard melangkah maju, tawanya dipaksakan renyah. "Tuan Kieran, ini putri saya, Alena, dua puluh tahun, masih perawan, cantik, kan? dan saya jamin... dia bisa memuaskan Anda di ranjang, dia anak yang penurut, sangat penurut!"

Setiap kata yang diucap adalah paku yang dipalukan ke dada Alena. Namun, gadis itu tetap tersenyum.

Senyum yang diajarkan ayahnya sejak tiga hari lalu di depan cermin retak, senyum yang harus menyelamatkan hutang 7 miliar dan nama baik keluarga.

Laki-laki dengan postur tegap besar itu tidak menjawab, membuat Richard merasa malu sendiri seperti tidak dianggap. Namun, Richard masih saja mencoba mencairkan suasana. Membuatnya seakan orang yang sudah sangat akrab.

Alena tidak berani menatap langsung ke arah laki-laki itu, di otaknya masih memikirkan cara untuk bisa kabur dari sana.

Sementara itu, laki-laki dengan postur tegap tadi mengarahkan ponsel berlayar gelap ke arah Alena. Sepertinya ia tengah terhubung dalam panggilan video.

“Bagaimana bos? Bawa sekarang?” ucap laki-laki itu.

Mendengar itu, Richard tertegun sesaat kemudian memekik kaget. “Apa?! Jadi kamu bukan Tuan Kieran?!”

Sebelumnya memang Richard tidak pernah bertemu langsung dengan Kieran. Jadi, ia pikir sekarang lah waktunya mencari muka sekaligus mendekati Kieran Voss untuk niat busuknya.

Alena melihat mata laki-laki itu hanya melirik malas ke arah Richard, hingga membuat gerak gerik ayahnya menjadi canggung untuk bertanya lagi.

Begitupun Richard terkekeh gugup. Seolah ingin meredakan ketegangan yang ia ciptakan sendiri.

Dengan tebal muka Richard langsung menyalami lelaki pesuruh itu sambil berkata, “Ahaha … Anda pasti orang kepercayaan Tuan Kieran. Saya sudah mendengar sepak terjang Anda!”

Namun, lelaki yang disebut orang kepercayaan itu hanya mendengus geli, tanpa menggubris ucapan Richard.

Bahkan Alena dibuat malu dengan cara sang ayah mencoba mengambil hati para bawahan bos mafia itu.

‘Cih! Dasar penjilat!’ gerutu Alena dalam hati, sembari meludah ke samping.

“Selesaikan cepat, Jax!” tukas lelaki di balik layar ponsel, yang jelas-jelas adalah Kieran Voss.

Mendengar suara pemimpinnya, salah satu anak buah Kieran yang berada di belakang, maju menyeret koper hitam besar dari bagasi mobil.

Suara kunci itu mengagetkan Alena.

Koper dibuka. Isinya pecahan dollar biru, tersusun rapi, membuat nafas Richard tercekat.

"Rantainya," kata tangan kanannya. Suaranya rendah, bukan perintah, tapi tak bisa dibantah.

Dengan tangan gemetar, Richard melepas kalung perak tipis dari leher Alena. Liontin huruf A kecil, satu-satunya hadiah dari Eleanor, ibunda Alena.

Alena teringat kejadian semalam, di rumah keluarga Volkov. Jika saja Eleanor tidak membujuknya dengan rayuan lembut seorang Ibu, Alena tidak akan mau menjadi alat untuk menutupi kebohongan keluarga Volkov.

Richard menyerahkannya kepada anak buah Kieran seperti menyerahkan akta jual beli.

"Sebagian tunai, sisanya akan di transfer sebagai mata uang Crypto!" ujar Kieran melalui telepon.

Akhirnya, anak buah Kieran menatap Richard dengan tatapan bengis. Disusul dengan suara yang terdengar kembali dari telepon.

"Sepenuhnya sudah milikku, kontraknya berlaku malam ini!” kata Kieran lagi.

Walau tidak bisa melihat wajah Kieran di layar ponsel, Richard tetap membungkuk dan mengangguk cepat.

Seolah takut Kieran berubah pikiran, Richard langsung mengambil koper tersebut. Ia bahkan tidak berniat menoleh ke arah Alena sedikitpun.

Dengan senyum lebar yang menyiratkan kepuasan, Richard berkata, "Dia milik anda sekarang, Tuan!"

Alena kembali memandang Richard dengan pandangan kosong. Tidak ada air mata, air matanya sudah kering seminggu lalu, sedangkan yang ada hanya lubang hitam di dadanya yang akan sulit terhapus.

Richard malah tampak membuang muka dan pergi begitu saja, meninggalkan Alena dengan rasa dendam yang dalam.

Langkahnya terseret cepat, tersenyum puas dengan memeluk koper berisi darah anaknya sendiri.

Pintu gudang perlahan berderit ditutup, meninggalkan Alena dengan beberapa anak buah dan komplotannya. Hingga tercium bau karat yang semakin menusuk hidung.

Alena hanya diam di tempat. Dirinya sama sekali tidak berani memandang mereka, karena tepat di depannya ada komplotan mafia yang terkenal seperti monster.

‘Dari caranya menelpon tadi … dia terdengar seperti monster yang ganas!’ ungkap Alena dalam hati.

Gadis 20 tahun itu membayangkan, dirinya akan habis di tempat tersebut malam ini, menjadi santapan lezat para monster itu secara bergiliran.

Jantungnya berdetak terlalu kencang, membuat telapak tangannya dingin. Alena menunduk, menatap lantai semen yang retak.

Hening.

Netra Alena menatap kosong tanpa arah, hilang harap. Ia membatin, ‘Apa hanya sampai di sini saja hidupku?’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 243. Setelah Badai Kita Pulang

    Alena menggenggam tangannya. “Ayah membuat kesalahan! Aku juga pernah salah mengambil keputusan! Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi kita masih bisa memilih apa yang akan kita lakukan setelah ini,”Eleanor mengusap air matanya dan Adrian menunduk, menyembunyikan kelegaan yang sejak tadi sulit untuk ia ungkapkan.Mereka tidak kembali menjadi keluarga yang sama seperti sebelum kehancuran itu. Terlalu banyak luka, kehilangan dan tahun-tahun yang tidak mungkin dikembalikan.Namun, mereka akhirnya bisa duduk bersama tanpa ketakutan bahwa seseorang akan datang merenggut mereka lagi.Di luar gedung, Kieran menunggu Alena bersama William. Ketika perempuan itu keluar, William langsung berlari menghampirinya.“Mama! Papa bilang kita boleh pulang!” panggil William. Alena tertawa kecil sambil mengangkat putranya ke dalam pelukan. “Iya, Sayang? Kita pulang,”Kieran menyambut mereka dengan senyum lembut, tidak ada pengawal yang memenuhi halaman, tidak ada ancaman yang harus mer

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 242. Semua Kebohongan Saling Mengunci

    Ternyata, orang-orang yang menyimpan rahasia itu justru mengetahui setiap kebiasaan, setiap kelemahan dan setiap nama yang mereka cintai.“Jadi, siapa yang sebenarnya berada di balik semuanya?” desak Alena. Richard menatap putrinya dengan mata yang berkaca-kaca, baru lah ia mengungkapkan sebuah kebenarannya. “Ethan memimpin operasi itu, tetapi dia bukan orang yang pertama kali mengusulkan penghancuran Volkov! Ada pihak yang membiayai jaringan Viktor, memanipulasi bukti, dan memanfaatkan perselisihan di antara orang-orang kita! Ethan mengira dia akan mendapatkan kekuasaan penuh setelah Richard jatuh,” jawab Richard dengan rinci. “Siapa pihak itu, Ayah?” tanya Alena. Richard menggeleng perlahan. “Dulu aku tidak memiliki bukti yang cukup! Tetapi berkas yang kamu kirimkan telah mengubah semuanya!”Ia meminta salah satu petugas, untuk mengambil dokumen tambahan dari ruang penyimpanan. Beberapa menit kemudian, sebuah map berisi catatan transaksi, rekaman komunikasi dan surat perintah p

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 241. Akhir Dari Segala Penghianatan

    Pintu lorong kembali terbuka, dua petugas bersenjata memasuki ruangan bersama anak buah Kieran. Ethan kehilangan kesempatan untuk melarikan diri, sementara Selena perlahan menurunkan pistolnya dan menyerahkannya kepada salah satu petugas.William memeluk leher Alena, menyembunyikan wajahnya di bahu sang ibu.“Mama, kita pulang sekarang?”Alena mencium rambut putranya, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang.“Iya, Sayang! Kita pulang,”Namun, saat ia melangkah melewati Ethan, lelaki itu tiba-tiba bersuara. “Alena, kalau kamu ingin tahu siapa yang benar-benar menghancurkan keluargamu, jangan berhenti pada diriku!”Alena menoleh.Ethan tersenyum pahit, lalu melirik layar ponsel di tangan Alena. “Orang yang menandatangani dokumen itu masih hidup! Dan dia bukan musuh yang bersembunyi di luar sana,”Ia menatap Alena tepat di mata. “Dia adalah orang yang akan menyambutmu ketika kamu pulang!”Di luar bangunan, hujan mulai mereda. Alena berdiri di samping mobil dengan William dalam

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 240. Dia yang Mengatur Kebohongan

    “Ini bukti bahwa kamu sendiri yang mengesahkan program R-09,” kata Ethan. “Richard ingin menyembunyikanmu dari musuh-musuhnya! Aku yang memastikan kamu tetap hidup! Tetapi ketika seluruh jaringan runtuh, dia membiarkan orang lain menanggung akibatnya!”Alena menatap dokumen itu, lalu kembali menatap Ethan. “Kalau kamu memang melindungiku, mengapa keluargaku dipenjara? Mengapa Ibu harus hidup dalam persembunyian? Mengapa Adrian harus kehilangan masa depannya? Dan mengapa William sekarang berada di ruangan ini dengan tangan terikat?”Ethan tidak langsung menjawab, keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling mengerikan.“Karena perlindungan selalu membutuhkan harga,” ujar Ethan akhirnya.“Tidak!” Alena menggeleng, suaranya bergetar oleh amarah. “Itu alasan yang digunakan orang-orang sepertimu untuk membenarkan setiap kejahatan! Kamu menyebutnya perlindungan ketika orang lain kehilangan kebebasan? Kamu menyebutnya pengorbanan ketika orang lain harus membayar kesalahanmu!”Ethan meng

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 239. Penghianatan Terakhir Keluarga Volkov

    Di belakangnya, pintu baja mulai terbuka.Dari balik pintu itu terdengar suara seorang pria yang selama ini dianggap telah mati.“Jangan biarkan dia membawa William keluar,” katanya. “Kali ini, kita harus menyelesaikan apa yang dimulai dua puluh tujuh tahun yang lalu!”Selena memandang William, kemudian menutup panggilan tanpa menjawab pertanyaan Alena. Di layar kamera, mobil Kieran mulai terlihat mendekati gerbang.Perang keluarga Volkov akhirnya memasuki babak terakhir dan kali ini, Alena tidak hanya akan menemukan siapa yang mengkhianati keluarganya, tetapi juga siapa yang sejak awal menjadikan hidupnya sebagai bagian dari sebuah rencana.Deru mobil Kieran berhenti tepat di depan gerbang besi ruang arsip bawah tanah keluarga Volkov, hujan mengguyur kaca depan tanpa ampun.Sementara puluhan pria bersenjata mulai bermunculan dari balik bangunan tua, mereka tidak lagi bersembunyi. Malam ini, ada seseorang yang dengan sengaja membuka seluruh kartu untuk memaksa Alena datang dan menyak

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 238. William Sasaran yang Empuk

    Alena merasa lututnya hampir kehilangan kekuatan karena ia mengenali goresan kecil di bagian pengait, bekas yang muncul ketika William pernah terjatuh saat bermain di halaman rumah.“Mereka benar-benar membawanya,” bisik Alena. Kieran berdiri di sampingnya, wajahnya berubah dingin ketika melihat gelang itu. Tetapi sebelum ia sempat berkata apa-apa, ponsel di dalam tas itu menyala.Sebuah panggilan masuk.Alena langsung mengangkatnya. “Kalau kamu ingin anakmu tetap bernapas dengan tenang, berhentilah mengejar orang-orangku!”Suara pria di seberang terdengar berat dan tenang, seolah ia sedang membicarakan urusan bisnis biasa.“Di mana William?” desak Alena.“Tempat yang tidak bisa kamu jangkau sebelum waktumu habis!” kata pria itu.“Kalau kamu sampai menyentuhnya!” pekik Alena. “Kamu akan melakukan apa, Alena Volkov?” pria itu tertawa pendek. “Menghidupkan kembali nama keluargamu? Merebut perusahaan yang sudah hancur? Atau meminta suamimu menjadi monster lagi?”Alena menutup mata seje

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 6. Bukti Pertama

    “A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 4. Tidak Ada Jalan Keluar

    “Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 3. Di Penthouse

    Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 2. Percobaan Kabur

    “Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status