เข้าสู่ระบบ
Alena berbisik. “Dia masih di dekat kita?” Kieran menatap layar. “Ya!” Kemudian Alena menghapus air matanya. “Kalau begitu kita tidak akan mengejarnya!” Kieran langsung menoleh. “Kita?” Alena mengangguk. “Kita akan buat dia datang kepada kita,” Senyum tipis muncul di wajah Alena dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. Bukan lagi seorang putri yang mencari asal usul keluarganya, melainkan seorang perempuan yang mulai memahami cara dunia mafia bekerja. Lalu Alena mengangkat ponselnya. “Sebarkan kabar bahwa aku sudah menemukan dokumen Volkov!” Kieran mengerti. “Dan katakan bahwa aku akan menyerahkannya kepada pihak berwenang!” Alena mengangguk. “Padahal? Kita simpan salinannya,” Kieran tersenyum. “Juga kita memasang jebakannya,” “Ya,” Alena menatap foto keluarganya. “Kalau dia begitu takut pada dokumen ini…,” Alena menarik napas. “…berarti dia akan datang mengambilnya!” Di luar rumah, angin malam berembus semakin kencang dan jauh di
Samuel menatapnya dengan wajah tegang.“Richard pernah mengatakan kepadaku…,”“Apa?” tanya Alena. “Suatu hari nanti, kalau semua orang yang dia percaya mengkhianatinya, hanya satu orang yang masih boleh membuka tempat terakhirnya,” kata Samuel. Alena menatap kunci itu. “Siapa?”Samuel menjawab pelan. “Putrinya,”Jari Alena langsung bergetar, lalu ia memasukkan kunci dan terdengar suara Klik.Kotak terbuka tidak ada senjata di dalamnya dan tidak ada uang, juga tidak ada benda yang aneh.Hanya beberapa lembar dokumen, sebuah kartu memori, dan satu surat yang ditulis tangan.Alena mengambil surat itu dan di bagian depan tertulis. “Untuk Alena,”Napas Alena seketika tercekat lalu ia membuka secara perlahan, tampak tulisan Richard memenuhi halaman. “Alena, jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti aku gagal melindungi keluargaku,”Air mata Alena langsung jatuh.Kieran berdiri diam di sampingnya.Alena terus membaca. “ Jangan percaya semua yang dikatakan orang tentang Papa,”Tangan Alena
"Belum,” kata Ashley. "Kenapa?" tanya Alena. "Karena Samuel sedang menyimpan sesuatu,” ucap Ashley. Alena mengerutkan keningnya. "Apa?"Lalu Ashley mengambil sebuah kotak kecil dari meja. "Kunci,”Alena menatap kotak itu. "Kunci apa?""Brankas milik Richard!” ketus Ashley. Jantung Alena berdegup kencang. "Papa tidak pernah memberitahuku tentang brankas?”"Karena dia menyembunyikannya,” Ashley tersenyum. "Dan hanya ada satu orang yang bisa membukanya,”Alena terdiam sesaat. "Siapa?"Ashley menatapnya. "Kamu!”Hening! Kieran langsung memahami sesuatu. "Jadi itu alasan kalian membutuhkan Alena?”Ashley mengangguk. "Richard menyimpan bukti terakhir tentang jaringan Viktor,”Samuel tiba-tiba berkata. "Jangan percaya dia, Alena!”Ashley menoleh. "Diam!”Samuel hanya tertawa kecil. "Sudah terlambat,”Alena lalu memandang Samuel. "Di mana brankas itu?"Samuel tidak menjawab.Kemudian Ashley mendekat. "Kalau kamu ingin tahu, maka kamu harus mengikuti kami,”Kieran berdiri di depan Alena.
Samuel menatap foto tersebut. “Alena?”“Ya!” kata pria itu. _____Malam pun semakin larut dan di ruko kecil Rajut Asri, Alena berdiri di dekat jendela. Ia memandangi William kemudian menatap Kieran. “Besok malam kita datang,”Kieran mengangguk. “Bukan untuk memilih salah satu dari keluargaku,” ucap Alena lalu tatapannya berubah tegas. “Kita datang untuk mengambil semuanya,”Kieran tersenyum tipis. “Itu baru istriku!”Alena menggenggam foto Richard, Eleanor, dan Adrian. Seketika air matanya masih jatuh.Tetapi kali ini ia tidak membiarkannya melemahkan langkah.Karena di balik rasa takut itu, sesuatu yang lebih kuat telah tumbuh. Yaitu darah Volkov.Bahkan besok malam, dunia mafia akan mengetahui bahwa Alena bukan lagi gadis yang menunggu keluarganya untuk diselamatkan.Ia akan datang sendiri dengan Kieran yang berada di sisinya dan siapa pun yang berani menjadikan Richard, Eleanor, Adrian, atau William sebagai pion. Maka mereka akan berhadapan dengan keluarga yang sudah tidak punya
Tidak ada yang turun, hanya berdiri seperti bayangan dan para warga mulai panik.“Pak Kepala Desa, suruh semua warga masuk rumah!” Kieran berbicara dengan tenang. “Tutup pintu! Jangan keluar,”Salah seorang warga menatapnya. “Kenapa kami harus mendengarkan Anda?”Kieran menatapnya. “Karena orang-orang itu tidak datang untuk mengambil saya!”Kieran lalu berhenti. “Mereka datang karena Alena!”Semua mata langsung beralih kepada Alena.Dadanya terasa sangat sesak karena ia tidak ingin para warga desa ikut terseret. “Aku akan pergi dari sini!” Kieran langsung menoleh. “Tidak!”“Kalau aku pergi, mereka akan pergi juga,” kata Alena. “Tidak!” bentak Kieran. “Kieran…,” panggil Alena lembut. “Mereka sudah menemukan kita!” seketika tatapan Kieran mengeras. “Kalau kamu pergi sendirian, mereka akan mengejarmu!”Alena terdiam.Pak Kepala Desa kemudian berkata. “Pak Kieran, sebenarnya siapa Anda?”Tidak ada jawaban.Warga semakin mendekat. “Kami mengenal Anda sebagai orang biasa!”“Kenapa orang
Tiba-tiba suara kendaraan terdengar dari ujung jalan dan membuat Kieran langsung berdiri, hingga Alena juga ikut bangkit.Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan rumah, tak laka kemudian pintu terbuka dan ada seorang pria yang turun.Ia tampak tidak membawa senjata, tidak pula menunjukkan sikap mengancam. Ia hanya berjalan mendekat, kemudian berhenti beberapa meter dari Kieran.“Tuan Voss,” kata pria itu. Kieran menatapnya dalam dingin. “Siapa kamu?”Pria itu lalu menundukkan kepalanya. “Orang lama,”“Katakan tujuanmu!” sental Kieran. Kemudian Pria itu mengeluarkan sebuah amplop. “Pesan dari Raven!”Alena langsung mendekat dan Kieran segera mengambil amplop itu, di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.“Keluarga Volkov tidak akan selamat jika Alena tetap tinggal di desa,” Kieran membaca kalimat itu tanpa ekspresi.Alena merebut kertas tersebut dan di bagian bawah terdapat tulisan lain.“Richard bersekutu dengan Viktor! Eleanor mengetahui alasannya! Adrian mengetahui siapa yan
“Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan







