Share

5. Suara Tembakan

Auteur: rindiyoon
last update Dernière mise à jour: 2026-01-02 17:04:57

Anya segera membalikkan tubuhnya. "Me...menikah? Apa maksudnya?" Anya kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pria menyeramkan itu.

"Tidak ada maksud." Leon tersadar atas perkataannya yang menurutnya tidak pantas.

Anya terdiam, ia terus menatap Leon yang masih menatapnya juga.

"Terima kasih tehnya." Leon memberikan senyuman tipis dengan mengambil cangkir teh.

"Tu...tuan." Anya dengan takut-takut mencoba memanggil pria menyeramkan itu lagi.

"Ya?"

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Silakan, apa yang ingin kau tanyakan?" Leon mencoba mendengarkan.

"A...apakah kakakku tidak berniat me..." Anya menjeda perkataannya.

"Menebus kamu dan membawamu kembali ke rumah?" Leon paham dengan pembicaraan itu.

"I...iya." Anya menundukkan kepalanya.

Seketika Leon teringat jika Bima akan memberikan uang lima ratus juta dan sisanya akan kembali dicicil sampai lunas, tapi Bima ingin Anya kembali ke rumah. Namun, Leon tidak bisa membiarkan Anya kembali ke rumah karena nyawa Anya semakin dalam bahaya.

"Tu...tuan?" Anya bingung kenapa pria menyeramkan itu terdiam.

Leon bangun dari duduknya dan menghampiri Anya, Anya terlihat melangkah mundur. Namun, tiba-tiba saja Leon menyentuh lengan Anya membuat Anya semakin terkejut.

"Anya, kamu pasti tau seperti apa keluarga kamu."

Leon pastinya sudah mencaritahu tentang keluarga Anya.

Anya mengangguk. "Ta...tapi, biar bagaimanapun mereka keluargaku, aku..." Anye menjeda perkataannya, ia mulai menangis. "Aku selalu ingin bersama mereka dan membantu mereka."

Leon tidak mengerti dengan hati Anya yang terbuat dari apa, Leon sudah tahu jika ibunya Anya dan kakaknya Anya memiliki hobi bermain judi, tapi Anya selalu saja melunasi semua hutang itu.

"Anya, sepertinya pakaian kamu di sini hanya sedikit, bagaimana kalau besok kita pergi ke butik." Tiba-tiba saja Leon mengalihkan pembicaraan.

"Bu...butik?" Anya menatap terkejut, karena yang ia tau boutique adalah tempat paling mahal dari pada mall dan toko lainnya.

"Ya, kita beli pakaian kamu, kamu harus banyak berganti pakaian, Anya." Leon terlihat sangat perhatian.

"Jangan, aku tidak bisa mengganti, aku tidak punya uang." Seketika Anya teringat jika dirinya tidak memiliki uang sama sekali.

Leon tertawa, Anya benar-benar gadis polos.

"Tuan, jangan beli pakaian, aku senang hanya memiliki beberapa pakaian saja." Anya benar-benar tidak ingin membeli pakaian, ia tidak ingin merepotkan.

"Kalau gitu, aku akan menghubungi pemilik butiknya saja." Leon mengambil ponselnya dan ingin menghubungi seseorang.

Anya mengambil ponsel itu. "Jangan tuan, itu terlalu merepotkan."

"Jadi, apa yang kau inginkan?"

Leon ingin membuat Anya bahagia, Leon ingin Anya tidak selalu memikirkan uang, karena Leon bisa memberikan segalanya untuk Anya, bahkan memberikan isi bumi pada Anya juga Leon sanggup.

"A...aku hanya ingin menjadi pembantu mu dengan baik sampai hutang kakakku lunas." Anya tersenyum manis.

Leon menatap senyuman Anya yang menurutnya sangat tenang dan damai, Leon ingin sekali menjadi bagian dari hidupnya Anya, Leon ingin Anya bergantung pada Leon.

Namun, sepertinya itu tidak akan mungkin, karena Anya bukan tipe seperti itu.

Leon merasa nyaman berada didekat Anya, Anya seperti seseorang yang mampu menenangkan hati seseorang yang tengah gelisah akan sesuatu.

"Aku juga ingin..." Anya tidak melanjutkan perkataannya.

Leon tiba-tiba saja memeluk tubuh Anya.

"Lakukan saja apa yang kau inginkan," ucap Leon.

Anya tersenyum dengan mengangguk, ia merasa tenang saat mendapatkan pelukan dari Leon, ia merasa hidupnya lebih tenang.

Leon memang Mafia yang kejam dan menyeramkan, tapi dibalik semua itu, Leon adalah pria hangat dan baik.

Anya juga mulai nyaman berada bersama Leon, walaupun terkadang Anya masih merasa waspada.

"Bos..." Rehan tiba-tiba masuk kedalam ruangan bosnya, tapi langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang jarang sekali dilihat olehnya.

Leon segera melepaskan pelukannya pada Anya.

"Ma...maaf." Rehan meminta maaf, ia ingin keluar lagi, tapi tidak jadi.

"Selamat menikmati tehnya, tuan." Anya segera pergi dari ruangan.

"Oke." Leon kembali duduk di kursi. "Ada apa?" Kini Leon bertanya pada asistennya.

Rehan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menutup pintu ruangan saat Anya sudah keluar, Rehan mulai menaruh iPad yang ia bawa ke atas meja Leon.

Leon menatap layar iPad yang berisikan sebuah video, video di mana Bima terlihat sangat dekat dengan Varell, Leon melemparkan nampan yang ada diatas meja karena ia sangat kesal melihat video itu.

"Sepertinya Varell merencanakan sesuatu dengan Bima," jawab Rehan.

"Cari tau apa yang mereka rencanakan!" titah Leon.

"Baik." Rehan menurut.

Setelah Anya keluar dari ruangan Leon, Anya masuk kedalam kamarnya. Anya terus tersenyum setelah mendapatkan pelukan dari Leon.

Anya membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menatap langit-langit kamar. "Kenapa aku sangat senang mendapatkan pelukan seperti itu?" Anya mulai bermonolog sendiri. "Ternyata mafia ada yang baik juga." Anya terus membayangkan wajah tampan Mafia yang sudah menjadikannya tawanan.

Semenjak Anya tidak diberikan makan selama dua hari, Anya sudah tidak memikirkan rencana untuk pergi dari sini, dan Anya juga tidak ingin keluarganya kenapa-napa hanya karena dirinya yang tidak bisa bersikap baik saat di sini.

Anya yakin jika dirinya bisa melunasi hutang kakaknya, walaupun dirinya harus menjadi tawanan dan bekerja seperti ini, tapi Anya nyaman melakukan semua ini.

Anya tahu hidupnya tidak pernah merasakan bahagia karena Anya selalu berjuang sendirian untuk keluarganya, tapi Anya yakin suatu saat nanti Anya akan bahagia.

***

Keesokan harinya, pada pukul 9 malam. Anya dan Leon baru saja keluar dari boutique terkenal di kotanya.

Anya membeli banyak pakaian bermerek, pakaian yang sama sekali tidak pernah Anya beli selama hidupnya, karena Anya tidak akan mampu membeli pakaian dengan harga fantastis.

Namun, kali ini Leon membelikan pakaian mahal itu untuk Anya dengan sebuah kebohongan yang Leon lakukan, kebohongan bahwa Anya sudah bekerja dengan sangat baik.

"Terima kasih banyak tuan." Anya terus saja mengucapkan terima kasih.

"Ya." Leon hanya manggut-manggut.

Karena waktu sudah malam, Leon memutuskan untuk segera kembali ke rumah, mobil mewah sudah terparkir tepat didepan boutique.

Anya masuk terlebih dahulu kedalam mobil tersebut lalu disusul oleh Leon, dan Rehan duduk dikursi depan samping supir.

"Tuan." Anya menatap pria yang ada disampingnya.

"Ya?"

"A...aku ingin sesuatu." Anya seperti menginginkan sesuatu.

Mobil yang sudah siap untuk melaju dan pergi ke rumah kembali terhenti saat Rehan menepuk pundak supir itu, Rehan memberikan isyarat supaya jangan pergi terlebih dahulu sebelum Anya mengatakan apa yang diinginkan.

"Sesuatu apa?"

Anya tersenyum. "Hm, enggak jadi deh." Anya seperti malu-malu.

"Mau apa?" Leon tidak suka jika seseorang menginginkan sesuatu tapi tidak jadi.

"Aku mau..." Anya menjeda perkataannya saat suara tembakan mulai terdengar. "TU...TUAN!" Anya terkejut, dengan refleks ia segera membungkuk dan menempelkan kepalanya pada dada bidang pria yang ada disampingnya.

Suara tembakan itu mengenai mobil yang ada didepan, sepertinya akan ada serangan yang menyeramkan.

"Anya, tolong pindah kebelakang, kamu nggak boleh takut!" Leon tahu jika gadis yang ada dalam pelukannya takut.

Leon menuntun Anya untuk pindah ke kursi belakang, dan Anya menurut, suara tembakan terus terdengar.

Rehan meminta para bodyguard untuk tetap mengutamakan keselamatan Leon, dan Anya.

"Tu...tuan, jangan tinggalkan aku!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Gadis Tawanan sang Mafia   9. Memperebutkan

    Pukul 9 malam di sebuah klub. Leon dan Rehan baru saja tiba di sana, Leon akan menemui seseorang di sana."Menyebar!" Leon memerintahkan itu pada beberapa bodyguard yang ikut masuk kedalam klub tersebut."Siap!" Para bodyguard mulai berpencar, mereka sudah tahu tugasnya masing-masing.Leon dan Rehan duduk di kursi bar. Rehan juga memesan minuman, tapi bukan minuman yang membuat mereka mabuk."Leon!" Rehan memanggil bosnya dengan nama.Leon melirik, Leon tahu jika Rehan sudah memanggil namanya pasti ada sesuatu yang sangat pribadi yang ingin Rehan katakan padanya."Katakan!" Leon sudah sangat mengenal asisten sekaligus sahabatnya itu.Rehan mengatur napas terlebih dahulu, setelah itu ia mengatakan. "Ada hubungan apa kamu sama Anya?" "Hubungan?" Leon tidak paham."Kamu suka sama Anya?" Rehan terus saja menatap serius pria yang ada disampingnya, pria yang sudah bersama dengannya sejak kecil.Leon tertawa. "Buat apa gue suka sama dia."Rehan masih menatap Leon."Sudah, kita fokus pada kl

  • Gadis Tawanan sang Mafia   8. Takut

    Leon hanya menatap Anya setelah mengobati jari telunjuk Anya yang terluka karena jarum."Tuan enggak punya makanan kesukaan?" Anya masih menatap. "Makanan favorit," jelasnya."Apapun aku suka.""Oke." Anya manggut-manggut."Asalkan jangan." Leon menjeda perkataannya."Jangan apa?" Anya menatap dengan penuh penasaran.Leon menatap wajah Anya yang terlihat sangat cantik, entah kenapa Anya terlihat seperti gadis yang berbeda bagi Leon, tapi Leon yakin jika Anya adalah gadis yang sangat baik."Asalkan jangan makanan yang isinya racun."Anya sontak tertawa mendengar perkataan Leon, Anya pikir Leon sedang bercanda."Kenapa ketawa?" Wajah Leon sangat datar sekali."Enggak apa-apa." Anya menghentikan tawanya.Leon langsung menyentuh dagu gadis tawanannya. "Sepertinya kamu lebih cocok tertawa!" "Hah?" Anya tidak paham."Ya kamu lebih bagus tertawa dari pada diam dan cemberut seperti ini." Leon melepaskan tangannya dari dagu itu.Anya terdiam dengan mata yang terus menatap Leon, Anya tahu jika

  • Gadis Tawanan sang Mafia   7. Terluka

    "Maafkan saya, bos." Supir meminta maaf."Bodoh!" Leon mengumpat. "Menyetir yang benar!" "Baik, bos." Supir kembali mengemudi dengan fokus dan hati-hati, ia takut terkena omelan lagi dari bosnya.Rehan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah supir yang ada disampingnya, sekilas Rehan kembali menatap spion untuk melihat ke belakang. Rehan melihat Leon sedang merangkul Anya dengan erat, Leon memang seperti tengah jatuh cinta, tapi Rehan tidak akan berkomentar apapun tentang itu."Bos, kita langsung pulang ke rumah atau mampir ke suatu tempat lagi?" Rehan kembali bertanya pada bosnya untuk memastikan.Leon terdiam saat mendengar pertanyaan dari Rehan, Leon tengah berpikir dan sekilas Leon menatap Anya yang masih memejamkan mata karena masih terpengaruh obat bius."Langsung ke rumah saja," jawab Leon setelah beberapa detik berpikir."Baik." Rehan mengangguk dengan melirik ke arah supir, dan supir paham dengan lirikan itu.Mobil mewah terus melaju menuju rumah. Leon masih merangkul An

  • Gadis Tawanan sang Mafia   6. Saling Menyerang

    Leon yang ada waktu untuk melihat Anya yang ketakutan, ia harus segera sampai di rumah dengan selamat. Leon tidak ingin ada yang terluka, terutama Anya."SERANG TITIK PUSATNYA!" Leon berteriak dengan kembali duduk dikursi tengah, ia juga mulai mengambil sebuah pistol yang disembunyikan dibawah kursinya.Wajah Anya sangat pucat, ia sangat ketakutan. Namun, Anya yakin jika semuanya akan baik-baik saja."Baik!" Rehan menurut dan segera memerintahkan para bodyguard yang sudah sibuk dengan pistolnya masing-masing.Sesekali Leon melihat Anya, Anya semakin takut, tapi Anya terlihat mengimbangi situasi yang ada.'Seumur hidupku, aku baru merasakan seperti ini,' batin Anya yang tidak percaya dirinya merasakan seperti diserang musuh, walaupun sebenarnya itu bukan musuhnya.Anya menangis, tapi tidak membuat orang-orang yang ada didalam mobil mengkhawatirkan dirinya, ia bisa menahan semuanya dari ketakutan ini."Sudah pasti ini ulah Varell," gumam Leon dengan wajah yang kesal.Semuanya saling men

  • Gadis Tawanan sang Mafia   5. Suara Tembakan

    Anya segera membalikkan tubuhnya. "Me...menikah? Apa maksudnya?" Anya kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pria menyeramkan itu. "Tidak ada maksud." Leon tersadar atas perkataannya yang menurutnya tidak pantas. Anya terdiam, ia terus menatap Leon yang masih menatapnya juga. "Terima kasih tehnya." Leon memberikan senyuman tipis dengan mengambil cangkir teh. "Tu...tuan." Anya dengan takut-takut mencoba memanggil pria menyeramkan itu lagi. "Ya?" "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" "Silakan, apa yang ingin kau tanyakan?" Leon mencoba mendengarkan. "A...apakah kakakku tidak berniat me..." Anya menjeda perkataannya. "Menebus kamu dan membawamu kembali ke rumah?" Leon paham dengan pembicaraan itu. "I...iya." Anya menundukkan kepalanya. Seketika Leon teringat jika Bima akan memberikan uang lima ratus juta dan sisanya akan kembali dicicil sampai lunas, tapi Bima ingin Anya kembali ke rumah. Namun, Leon tidak bisa membiarkan Anya kembali ke rumah karena nyawa A

  • Gadis Tawanan sang Mafia   4. Perjodohan

    Leon menatap wanita yang baru saja datang ke rumahnya. Leon menatap jengah wanita itu, wanita yang bernama Vera Baskara.Vera Baskara adalah wanita yang dibicarakan oleh ayahnya dua hari lalu, wanita yang akan dijodohkan olehnya. "Rehan!" Leon menatap asistennya. "Baik." Rehan paham dengan apa yang diperintahkan oleh bosnya walaupun bosnya tidak memberikan perintah. Leon melangkah menuju kamar di mana Anya berada, tapi tidak jadi saat suaranya mendengar suara pria. "Jadi, siapa gadis yang akan menikah denganmu?" Leon membalikkan badannya. "Varell, pergi!" Ia mengusir pria itu. "Saya ke sini akan membahas perjodohan kau dengan adik saya!" tegas pria yang bernama Varell. Varell adalah musuh bebuyutan Leon, dan Vera adalah adik Varell. Seperti inilah mengapa Leon tidak ingin menikahi Vera, apa lagi pernikahan yang terikat tentang bisnis perusahaan. "Sudah saya katakan, saya tidak berniat dijodohkan dengan siapapun!" tegas Leon. Leon memerintahkan seluruh bodyguard yang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status