Share

8. Takut

Auteur: rindiyoon
last update Date de publication: 2026-01-09 21:34:01

Leon hanya menatap Anya setelah mengobati jari telunjuk Anya yang terluka karena jarum.

"Tuan enggak punya makanan kesukaan?" Anya masih menatap. "Makanan favorit," jelasnya.

"Apapun aku suka."

"Oke." Anya manggut-manggut.

"Asalkan jangan." Leon menjeda perkataannya.

"Jangan apa?" Anya menatap dengan penuh penasaran.

Leon menatap wajah Anya yang terlihat sangat cantik, entah kenapa Anya terlihat seperti gadis yang berbeda bagi Leon, tapi Leon yakin jika Anya adalah gadis yang sangat baik.

"Asalkan jangan makanan yang isinya racun."

Anya sontak tertawa mendengar perkataan Leon, Anya pikir Leon sedang bercanda.

"Kenapa ketawa?" Wajah Leon sangat datar sekali.

"Enggak apa-apa." Anya menghentikan tawanya.

Leon langsung menyentuh dagu gadis tawanannya. "Sepertinya kamu lebih cocok tertawa!"

"Hah?" Anya tidak paham.

"Ya kamu lebih bagus tertawa dari pada diam dan cemberut seperti ini." Leon melepaskan tangannya dari dagu itu.

Anya terdiam dengan mata yang terus menatap Leon, Anya tahu jika Leon adalah pria yang sulit untuk tersenyum apa lagi untuk tertawa.

"Anya!" Setelah beberapa saat hening, Leon mulai memanggil.

"Iya?" Anya kembali menatap.

"Sepertinya malam ini saya akan pulang larut malam." Leon seperti sedang memberitahu istrinya jika nanti malam ia akan pulang terlambat.

Anya terdiam, ia tidak langsung merespon seperti biasanya.

"Anya!" Leon kembali memanggil.

Anya tersenyum tipis dan berkata. "Apapun yang sedang tuan kerjakan, tolong selalu jaga kesehatan tuan, jangan sampai sakit!" Seperti biasa Anya selalu mengingatkan kesehatan.

"Oke." Leon manggut-manggut.

Di balik tembok, ada Rehan yang mengintip dan menguping pembicaraan mereka, Rehan yakin jika Leon memiliki perasaan pada Anya.

'Apakah haku harus menghentikan perasaan Leon pada Anya?' batin Rehan yang mulai bermonolog.

Sebenarnya Rehan hanya ingin memberitahu Leon untuk tidak terlalu memberikan perasaan pada Anya, Rehan takut jika Anya sedang merencanakan sesuatu untuk menyakiti Leon, karena semakin hari Rehan melihat Bima yang selalu bersama dengan Varell membuat Rehan terus berpikir negatif.

**

Di tempat lain. Vera sedang duduk terdiam di ruang tengah, wajahnya terlihat seperti memikirkan banyak hal.

"Kenapa? Ada masalah?" Varell datang dan duduk di sofa yang berhadapan dengan adiknya.

Sekilas Vera menatap kakaknya. "Enggak ada," jawabnya dengan suara pelan seperti tidak ada semangat hidup.

Varell adalah kakak Vera, mereka kakak-beradik dari keluarga Baskara.

"Enggak ada tapi wajah kamu sudah menjelaskan semua yang ada didalam dirimu." Varell seperti dukun yang bisa menerawang.

Vera menghela napasnya dengan panjang, ia mulai menyandarkan kepalanya pada sofa.

"Kamu mikirin Leon?"

"Enggak mikirin, sih." Vera mulai duduk tegap dan menatap kakaknya.

"Lalu?" Varell masih diposisi yang sama, duduk tegak dengan wajah tampannya.

"Kak, apa benar Leon udah punya pacar baru?" Ekspresi wajah Vera seperti takut.

Vera pasti takut jika Leon memiliki pacar baru karena perjodohan sudah ada didepan mata, Vera juga bahagia saat mengetahui dirinya akan dijodohkan dengan Leon.

"Nggak usah mikirin itu, siapapun gadis yang ada didekat Leon sekarang biarkan saja!" Suara Varell sedikit meninggi.

"Jadi beneran Leon udah punya pacar?" Vera ingin meyakinkan.

"Kalau aku bilang nggak usah dipikirin ya nggak usah dipikirin!" Varell sedikit kesal dengan adiknya yang keras kepala.

Vera hanya manggut-manggut saja.

"Perjodohan kalian akan dipercepat, mungkin bulan depan."

"HAH!" Vera terkejut.

"Kenapa?" Varell bingung dengan ekspresi adiknya.

"Enggak apa-apa." Vera geleng-geleng kepalanya.

Varell terdiam dan mulai memikirkan Anya, Varell harus segera membawa Anya dari Leon sebelum Leon melakukan perjodohan yang dimulai dari pertunangan terlebih dahulu, Varell akan terus mendukung perjodohan itu.

"Kak, aku pergi dulu!" Vera bangun dari duduknya dan pergi. Namun, langkahnya terhenti.

"Jangan pulang malam-malam, jangan mabuk banyak-banyak!" Varell mengingatkan adiknya.

"Iya."

"Ingat, kamu akan bersanding dengan keluarga Dirgantara!" Varell mengingatkan lagi.

"Aku tau."

Vera tahu jika keluarga Dirgantara adalah keluarga terpandang, sebenarnya keluarga Baskara juga terpandang, hanya saja keluarga Dirgantara berada diposisi pertama yang benar-benar segalanya akan terlihat oleh media jika ada yang tidak beres.

"Aku pergi." Vera pergi meninggalkan sang kakak.

Varell memukul meja. "Aku harus segera membawa gadis itu!" Seperti terobsesi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Gadis Tawanan sang Mafia   90. Penuh Kebahagiaan

    Sebulan berlalu. Setelah Leon melihat musuh bebuyutan masih hidup. Leon sudah tidak mendengar kabar dan melihat apapun lagi.Namun, Leon tetap waspada dengan sekitarnya. Leon tidak ingin keluarganya menjadi sasaran dari musuh bebuyutannya lagi.Leon ingin melindungi keluarganya, dan membahagiakan keluarganya."Sayang, lama banget dandannya?" Leon langsung memeluk tubuh Anya dari belakang. Saat ini posisi Anya sedang berdiri didepan cermin besar."Sebentar lagi, karena ini adalah ulang tahun Tasya, aku harus cantik," ucap Anya."Cantik kamu hanya untukku!""Iya sayang."Leon masih saja posesif. Leon tidak memperbolehkan Anya terlalu cantik jika keluar rumah."Mama, ayo!" Nathalie masuk ke kamar."Iya sebentar."Leon langsung melepaskan pelukannya dan membiarkan Anya memilih tas yang akan dibawa. Leon pergi mengambil handphone yang ada di atas meja rias."Papa, di bawah ada Om Rehan," kata Nathan yang baru saja masuk ke kamar orang tuanya."Oke." Leon melangkah keluar."Yeay, ada Om Re

  • Gadis Tawanan sang Mafia   89. Jangan Menganggu!

    "Sebentar lagi makan," jawab Leon dengan senyuman.Tangan Leon mengusap-usap kepala Anya, dan Anya mengangguk tanpa banyak pertanyaan.Sesekali Nathan menatap Leon, Nathan yakin jika Leon sedang memikirkan kejadian tadi, tapi Nathan tidak ingin banyak bicara.Walaupun Leon tidak meminta Nathan untuk tutup mulut tentang kejadian tadi, tapi Nathan tidak mudah membicarakan apapun pada orang-orang. Nathan mampu menyembunyikan rahasia."Papa, terima kasih, makanannya enak sekali!" Sudah cukup banyak Nathalie mencicipi menu makan malam."Sama-sama." Leon tersenyum manis.Leon senang saat mengetahui Nathalie menyukai makanan yang ada di restoran tersebut. Leon pastinya akan memberikan makanan yang lezat dan bergizi untuk istri dan anak-anaknya.Handphone Leon berdering, ada panggilan masuk, dan Leon meminta izin untuk menjawab telepon itu.Anya mengizinkan. Leon bangun dari duduknya dan menjauh dari meja untuk menjawab panggilan itu, dan Anya tidak menaruh kecurigaan apapun pada Leon."Janga

  • Gadis Tawanan sang Mafia   88. Ternyata Masih Hidup

    Pukul 7 malam. Leon, Anya, Nathan, dan Nathalie makan malam di luar.Leon melakukan reservasi makan malam di restoran mewah yang ada di kotanya. Leon tentunya akan menuruti keinginan istri, dan anak-anaknya.Walaupun hari ini Leon pulang agak terlambat, tapi Leon sudah melakukan reservasi sebelum pulang ke rumah, dan pastinya Leon akan selalu mendapatkan apa yang diinginkan."Terima kasih, Papa!" Nathalie sangat senang."Sama-sama." Leon tersenyum.Leon mengusap-usap kepala Nathalie dengan lembut, dan Nathan sibuk dengan iPad, Nathan sedang bermain game.Leon sudah memilih menu makan malam untuk keluarganya, kini mereka hanya bisa menunggu hidangan disajikan di atas meja.Anya dan Leon saling menatap satu sama lain. Anya tersenyum lebar dan sangat bahagia, begitu pula dengan Leon.Setiap hari mereka merasakan kebahagiaan yang tiada henti. Namun, ada ketakutan yang Anya pendam.Anya takut apa? Entah, beberapa hari ini Anya mimpi buruk.Namun, Anya tidak cerita pada Leon. Anya takut jik

  • Gadis Tawanan sang Mafia   87. Anya Baik-baik Saja

    "Aku mau beli ramen, tadi katanya mau ramen.""Beli online aja." Anya tidak ingin ditinggal sendirian."Baiklah." Leon tidak memiliki pilihan lain.Anya tidak ingin ditinggal sendirian, dan Anya terlihat manja sekali."Selain ramen mau apa lagi?" Leon kembali bertanya dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya."Aku mau pilih sendiri."Anya merebut handphone Leon, dan Leon tidak keberatan dengan itu, lagi pula Leon tidak pernah menyembunyikan apapun dari Anya, jadi Leon tidak pernah takut jika Anya merebut ponselnya."Aku mau ini, ini, ini." Anya memilih banyak menu makanan.Leon tidak mempedulikan itu karena yang terpenting Anya makan banyak sebelum melakukan operasi, karena kondisi Anya juga harus stabil sebelum melakukan pengangkatan rahim.Sejujurnya Leon sedih dengan hal ini, tapi Leon mencoba kuat didepan Anya. Leon tidak ingin membuat Anya sedih.Leon yakin setelah ini tidak akan ada hal apapun lagi. Leon akan selalu membuat Anya bahagia, Leon sangat mencintai Anya. Anya ad

  • Gadis Tawanan sang Mafia   86. Pengangkatan Rahim

    Anya tertawa kecil mendengar ucapan Nathan."Sudahlah, aku ke bawah dulu." Leon izin."Oke." Anya manggut-manggut dan mengizinkan.Leon keluar dari kamar untuk menemui Rehan di lantai bawah, dan Nathan masih menemani Anya."Ke mana Papa?" tanya Nathalie saat dirinya keluar dari kamar mandi."Ke bawah ketemu ...," jawab Anya yang belum selesai.Namun, Nathalie sudah berlari keluar kamar, tapi saat mendekati pintu kamar, Nathalie terjatuh.Nathalie tidak menangis. Ia segera bangun, dan berlari lagi menuju lantai bawah."Astaga, anak itu!" Anya geleng-geleng kepalanya.Anya tidak menyangka jika Nathalie sangat bersemangat bertemu dengan Rehan."Tuh, Mama liat sendiri, kan? Aku nggak bohong, dia genit banget kalau urusan Om Rehan," ucap Nathan dengan jujur.Anya tertawa lagi dan berkata. "Biarkan, mungkin Nathalie sudah menganggap Om Rehan sebagai kakak tertuanya.""Mana ada begitu." Suara Nathan sangat ketus, tentu ia tidak suka dengan sikap kembarannya yang genit.Anya hanya bisa tertaw

  • Gadis Tawanan sang Mafia   85. Akhirnya, Anya Sadar

    Seminggu berlalu. Anya sudah sadar. Keluarganya bahagia melihat Anya sudah membuka matanya. Namun, Anya masih terlihat linglung."Mama!" Nathan dan Nathalie memeluk Anya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba saja air mata Anya menetes. Anya tahu saat ini dirinya ada di rumah sakit."Sayang!" Leon mengusap lengan Anya dan mengecup lengan itu berkali-kali.Dokter dan asistennya segera memeriksa keadaan Anya, dan akhirnya kondisi Anya sudah membaik. Namun, memang harus banyak istirahat karena baru bangun dari operasi.Anya masih belum membuka mulutnya, Anya belum berbicara sama sekali.Dinda, Luki, dan Tasya sedih yang bercampur bahagia melihat Anya sudah membuka matanya.***Beberapa hari setelah Anya sadar. Anya diizinkan pulang ke rumah, dan pastinya Leon langsung segera membawa Anya pulang ke rumah.Leon tahu jika Anya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Anya tidak mencium aroma rumah sakit yang memiliki khas tersendiri."Mama, aku buatkan teh hangat untuk mama

  • Gadis Tawanan sang Mafia   76. Sekolah Dasar

    7 tahun berlalu. Hari ini adalah hari yang paling bahagia untuk Anya. Hari ini anak kembarnya masuk sekolah dasar seperti anak-anak pada umumnya.Sebenarnya Leon tidak ingin anak kembarnya bersekolah seperti anak-anak biasa. Leon ingin anak kembarnya homeschooling. Namun, Anya menolak.Nathan dan N

  • Gadis Tawanan sang Mafia   73. Rencana Gagal

    "Sayang, apaan, sih!" Anya melotot pada suaminya. "Kembar belum minta adik, kembar juga masih bayi, masa aku udah hamil lagi aja!" Anya protes.Leon tertawa. Leon langsung memeluk tubuh Anya dari belakang. Leon mengecup leher belakang itu."Geli!"Leon tidak menghiraukan."Malam ini aku nggak mau t

  • Gadis Tawanan sang Mafia   72. Kembali Ke Mansion

    Anya menatap Leon dengan penuh harap. Anya tetap ingin membawa Bima bertemu dengan kembar, karena biar bagaimanapun kembar tetap keponakan Bima."Hm, baiklah!" Leon terpaksa. "Terima kasih sayang." Anya senang."Tapi.""Tapi apa?" Anya menatap serius pada suaminya.Bima juga menatap Leon."Tapi ka

  • Gadis Tawanan sang Mafia   71. Anya Bertemu Bima

    Keesokan harinya. Pukul 9 pagi. Terdengar keributan di lantai bawah rumah sakit.Leon yang baru saja membeli beberapa keinginan Anya di supermarket bawah, mulai merasa risih dengan teriakan seseorang."ANYA!" Seseorang memanggil nama istrinya Leon.Leon menatap asistennya. "Siapa dia?" tanyanya."S

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status