MasukLeon hanya menatap Anya setelah mengobati jari telunjuk Anya yang terluka karena jarum.
"Tuan enggak punya makanan kesukaan?" Anya masih menatap. "Makanan favorit," jelasnya. "Apapun aku suka." "Oke." Anya manggut-manggut. "Asalkan jangan." Leon menjeda perkataannya. "Jangan apa?" Anya menatap dengan penuh penasaran. Leon menatap wajah Anya yang terlihat sangat cantik, entah kenapa Anya terlihat seperti gadis yang berbeda bagi Leon, tapi Leon yakin jika Anya adalah gadis yang sangat baik. "Asalkan jangan makanan yang isinya racun." Anya sontak tertawa mendengar perkataan Leon, Anya pikir Leon sedang bercanda. "Kenapa ketawa?" Wajah Leon sangat datar sekali. "Enggak apa-apa." Anya menghentikan tawanya. Leon langsung menyentuh dagu gadis tawanannya. "Sepertinya kamu lebih cocok tertawa!" "Hah?" Anya tidak paham. "Ya kamu lebih bagus tertawa dari pada diam dan cemberut seperti ini." Leon melepaskan tangannya dari dagu itu. Anya terdiam dengan mata yang terus menatap Leon, Anya tahu jika Leon adalah pria yang sulit untuk tersenyum apa lagi untuk tertawa. "Anya!" Setelah beberapa saat hening, Leon mulai memanggil. "Iya?" Anya kembali menatap. "Sepertinya malam ini saya akan pulang larut malam." Leon seperti sedang memberitahu istrinya jika nanti malam ia akan pulang terlambat. Anya terdiam, ia tidak langsung merespon seperti biasanya. "Anya!" Leon kembali memanggil. Anya tersenyum tipis dan berkata. "Apapun yang sedang tuan kerjakan, tolong selalu jaga kesehatan tuan, jangan sampai sakit!" Seperti biasa Anya selalu mengingatkan kesehatan. "Oke." Leon manggut-manggut. Di balik tembok, ada Rehan yang mengintip dan menguping pembicaraan mereka, Rehan yakin jika Leon memiliki perasaan pada Anya. 'Apakah haku harus menghentikan perasaan Leon pada Anya?' batin Rehan yang mulai bermonolog. Sebenarnya Rehan hanya ingin memberitahu Leon untuk tidak terlalu memberikan perasaan pada Anya, Rehan takut jika Anya sedang merencanakan sesuatu untuk menyakiti Leon, karena semakin hari Rehan melihat Bima yang selalu bersama dengan Varell membuat Rehan terus berpikir negatif. ** Di tempat lain. Vera sedang duduk terdiam di ruang tengah, wajahnya terlihat seperti memikirkan banyak hal. "Kenapa? Ada masalah?" Varell datang dan duduk di sofa yang berhadapan dengan adiknya. Sekilas Vera menatap kakaknya. "Enggak ada," jawabnya dengan suara pelan seperti tidak ada semangat hidup. Varell adalah kakak Vera, mereka kakak-beradik dari keluarga Baskara. "Enggak ada tapi wajah kamu sudah menjelaskan semua yang ada didalam dirimu." Varell seperti dukun yang bisa menerawang. Vera menghela napasnya dengan panjang, ia mulai menyandarkan kepalanya pada sofa. "Kamu mikirin Leon?" "Enggak mikirin, sih." Vera mulai duduk tegap dan menatap kakaknya. "Lalu?" Varell masih diposisi yang sama, duduk tegak dengan wajah tampannya. "Kak, apa benar Leon udah punya pacar baru?" Ekspresi wajah Vera seperti takut. Vera pasti takut jika Leon memiliki pacar baru karena perjodohan sudah ada didepan mata, Vera juga bahagia saat mengetahui dirinya akan dijodohkan dengan Leon. "Nggak usah mikirin itu, siapapun gadis yang ada didekat Leon sekarang biarkan saja!" Suara Varell sedikit meninggi. "Jadi beneran Leon udah punya pacar?" Vera ingin meyakinkan. "Kalau aku bilang nggak usah dipikirin ya nggak usah dipikirin!" Varell sedikit kesal dengan adiknya yang keras kepala. Vera hanya manggut-manggut saja. "Perjodohan kalian akan dipercepat, mungkin bulan depan." "HAH!" Vera terkejut. "Kenapa?" Varell bingung dengan ekspresi adiknya. "Enggak apa-apa." Vera geleng-geleng kepalanya. Varell terdiam dan mulai memikirkan Anya, Varell harus segera membawa Anya dari Leon sebelum Leon melakukan perjodohan yang dimulai dari pertunangan terlebih dahulu, Varell akan terus mendukung perjodohan itu. "Kak, aku pergi dulu!" Vera bangun dari duduknya dan pergi. Namun, langkahnya terhenti. "Jangan pulang malam-malam, jangan mabuk banyak-banyak!" Varell mengingatkan adiknya. "Iya." "Ingat, kamu akan bersanding dengan keluarga Dirgantara!" Varell mengingatkan lagi. "Aku tau." Vera tahu jika keluarga Dirgantara adalah keluarga terpandang, sebenarnya keluarga Baskara juga terpandang, hanya saja keluarga Dirgantara berada diposisi pertama yang benar-benar segalanya akan terlihat oleh media jika ada yang tidak beres. "Aku pergi." Vera pergi meninggalkan sang kakak. Varell memukul meja. "Aku harus segera membawa gadis itu!" Seperti terobsesi.Pukul 9 malam di sebuah klub. Leon dan Rehan baru saja tiba di sana, Leon akan menemui seseorang di sana."Menyebar!" Leon memerintahkan itu pada beberapa bodyguard yang ikut masuk kedalam klub tersebut."Siap!" Para bodyguard mulai berpencar, mereka sudah tahu tugasnya masing-masing.Leon dan Rehan duduk di kursi bar. Rehan juga memesan minuman, tapi bukan minuman yang membuat mereka mabuk."Leon!" Rehan memanggil bosnya dengan nama.Leon melirik, Leon tahu jika Rehan sudah memanggil namanya pasti ada sesuatu yang sangat pribadi yang ingin Rehan katakan padanya."Katakan!" Leon sudah sangat mengenal asisten sekaligus sahabatnya itu.Rehan mengatur napas terlebih dahulu, setelah itu ia mengatakan. "Ada hubungan apa kamu sama Anya?" "Hubungan?" Leon tidak paham."Kamu suka sama Anya?" Rehan terus saja menatap serius pria yang ada disampingnya, pria yang sudah bersama dengannya sejak kecil.Leon tertawa. "Buat apa gue suka sama dia."Rehan masih menatap Leon."Sudah, kita fokus pada kl
Leon hanya menatap Anya setelah mengobati jari telunjuk Anya yang terluka karena jarum."Tuan enggak punya makanan kesukaan?" Anya masih menatap. "Makanan favorit," jelasnya."Apapun aku suka.""Oke." Anya manggut-manggut."Asalkan jangan." Leon menjeda perkataannya."Jangan apa?" Anya menatap dengan penuh penasaran.Leon menatap wajah Anya yang terlihat sangat cantik, entah kenapa Anya terlihat seperti gadis yang berbeda bagi Leon, tapi Leon yakin jika Anya adalah gadis yang sangat baik."Asalkan jangan makanan yang isinya racun."Anya sontak tertawa mendengar perkataan Leon, Anya pikir Leon sedang bercanda."Kenapa ketawa?" Wajah Leon sangat datar sekali."Enggak apa-apa." Anya menghentikan tawanya.Leon langsung menyentuh dagu gadis tawanannya. "Sepertinya kamu lebih cocok tertawa!" "Hah?" Anya tidak paham."Ya kamu lebih bagus tertawa dari pada diam dan cemberut seperti ini." Leon melepaskan tangannya dari dagu itu.Anya terdiam dengan mata yang terus menatap Leon, Anya tahu jika
"Maafkan saya, bos." Supir meminta maaf."Bodoh!" Leon mengumpat. "Menyetir yang benar!" "Baik, bos." Supir kembali mengemudi dengan fokus dan hati-hati, ia takut terkena omelan lagi dari bosnya.Rehan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah supir yang ada disampingnya, sekilas Rehan kembali menatap spion untuk melihat ke belakang. Rehan melihat Leon sedang merangkul Anya dengan erat, Leon memang seperti tengah jatuh cinta, tapi Rehan tidak akan berkomentar apapun tentang itu."Bos, kita langsung pulang ke rumah atau mampir ke suatu tempat lagi?" Rehan kembali bertanya pada bosnya untuk memastikan.Leon terdiam saat mendengar pertanyaan dari Rehan, Leon tengah berpikir dan sekilas Leon menatap Anya yang masih memejamkan mata karena masih terpengaruh obat bius."Langsung ke rumah saja," jawab Leon setelah beberapa detik berpikir."Baik." Rehan mengangguk dengan melirik ke arah supir, dan supir paham dengan lirikan itu.Mobil mewah terus melaju menuju rumah. Leon masih merangkul An
Leon yang ada waktu untuk melihat Anya yang ketakutan, ia harus segera sampai di rumah dengan selamat. Leon tidak ingin ada yang terluka, terutama Anya."SERANG TITIK PUSATNYA!" Leon berteriak dengan kembali duduk dikursi tengah, ia juga mulai mengambil sebuah pistol yang disembunyikan dibawah kursinya.Wajah Anya sangat pucat, ia sangat ketakutan. Namun, Anya yakin jika semuanya akan baik-baik saja."Baik!" Rehan menurut dan segera memerintahkan para bodyguard yang sudah sibuk dengan pistolnya masing-masing.Sesekali Leon melihat Anya, Anya semakin takut, tapi Anya terlihat mengimbangi situasi yang ada.'Seumur hidupku, aku baru merasakan seperti ini,' batin Anya yang tidak percaya dirinya merasakan seperti diserang musuh, walaupun sebenarnya itu bukan musuhnya.Anya menangis, tapi tidak membuat orang-orang yang ada didalam mobil mengkhawatirkan dirinya, ia bisa menahan semuanya dari ketakutan ini."Sudah pasti ini ulah Varell," gumam Leon dengan wajah yang kesal.Semuanya saling men
Anya segera membalikkan tubuhnya. "Me...menikah? Apa maksudnya?" Anya kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pria menyeramkan itu. "Tidak ada maksud." Leon tersadar atas perkataannya yang menurutnya tidak pantas. Anya terdiam, ia terus menatap Leon yang masih menatapnya juga. "Terima kasih tehnya." Leon memberikan senyuman tipis dengan mengambil cangkir teh. "Tu...tuan." Anya dengan takut-takut mencoba memanggil pria menyeramkan itu lagi. "Ya?" "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" "Silakan, apa yang ingin kau tanyakan?" Leon mencoba mendengarkan. "A...apakah kakakku tidak berniat me..." Anya menjeda perkataannya. "Menebus kamu dan membawamu kembali ke rumah?" Leon paham dengan pembicaraan itu. "I...iya." Anya menundukkan kepalanya. Seketika Leon teringat jika Bima akan memberikan uang lima ratus juta dan sisanya akan kembali dicicil sampai lunas, tapi Bima ingin Anya kembali ke rumah. Namun, Leon tidak bisa membiarkan Anya kembali ke rumah karena nyawa A
Leon menatap wanita yang baru saja datang ke rumahnya. Leon menatap jengah wanita itu, wanita yang bernama Vera Baskara.Vera Baskara adalah wanita yang dibicarakan oleh ayahnya dua hari lalu, wanita yang akan dijodohkan olehnya. "Rehan!" Leon menatap asistennya. "Baik." Rehan paham dengan apa yang diperintahkan oleh bosnya walaupun bosnya tidak memberikan perintah. Leon melangkah menuju kamar di mana Anya berada, tapi tidak jadi saat suaranya mendengar suara pria. "Jadi, siapa gadis yang akan menikah denganmu?" Leon membalikkan badannya. "Varell, pergi!" Ia mengusir pria itu. "Saya ke sini akan membahas perjodohan kau dengan adik saya!" tegas pria yang bernama Varell. Varell adalah musuh bebuyutan Leon, dan Vera adalah adik Varell. Seperti inilah mengapa Leon tidak ingin menikahi Vera, apa lagi pernikahan yang terikat tentang bisnis perusahaan. "Sudah saya katakan, saya tidak berniat dijodohkan dengan siapapun!" tegas Leon. Leon memerintahkan seluruh bodyguard yang