Masuk"Maafkan saya, bos." Supir meminta maaf.
"Bodoh!" Leon mengumpat. "Menyetir yang benar!" "Baik, bos." Supir kembali mengemudi dengan fokus dan hati-hati, ia takut terkena omelan lagi dari bosnya. Rehan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah supir yang ada disampingnya, sekilas Rehan kembali menatap spion untuk melihat ke belakang. Rehan melihat Leon sedang merangkul Anya dengan erat, Leon memang seperti tengah jatuh cinta, tapi Rehan tidak akan berkomentar apapun tentang itu. "Bos, kita langsung pulang ke rumah atau mampir ke suatu tempat lagi?" Rehan kembali bertanya pada bosnya untuk memastikan. Leon terdiam saat mendengar pertanyaan dari Rehan, Leon tengah berpikir dan sekilas Leon menatap Anya yang masih memejamkan mata karena masih terpengaruh obat bius. "Langsung ke rumah saja," jawab Leon setelah beberapa detik berpikir. "Baik." Rehan mengangguk dengan melirik ke arah supir, dan supir paham dengan lirikan itu. Mobil mewah terus melaju menuju rumah. Leon masih merangkul Anya dengan sedikit memejamkan mata, sepertinya Leon lelah dan ingin tidur. *** Keesokan harinya pukul 4 sore di sebuah rumah mewah milik Leon, Anya sedang menjahit bajunya, baju yang pertama kali ia pakai saat datang ke rumah ini. "Baju kesayangan aku." Anya tersenyum saat sedang menjahit baju itu. Namun, tiba-tiba saja jarum mengenai telunjuknya membuat telunjuknya mengeluarkan darah. "AW!" Anya kesakitan, ia segera menghentikan aktivitasnya. Anya mencari kotak obat yang ada di laci meja riasnya, tapi kotak itu tidak ada. "Aduh, ke mana, ya?" Anya bermonolog dengan mata yang terus melirik sekitar untuk mencari kotak tersebut. Anya mulai keluar dari kamar saat kotak itu tidak ada. Namun, saat dirinya keluar kamar, ia menabrak seseorang. "Aduh!" "Anya, kenapa ini!" Leon yang melihat darah segar keluar dari telunjuk gadis yang baru saja menabraknya. "Tuan, maafkan aku!" Anya meminta maaf karena sudah menabraknya. Leon tidak menghiraukan itu. "INI KENAPA!" Leon berteriak membuat beberapa orang yang ada di sana mulai menatap mereka dan langsung menatap awas. Para bodyguard mulai waspada, mereka tidak ingin bosnya dan gadis tawanan kenapa-napa. "Hanya kena jarum," ucap Anya. "Hati-hati dong!" Leon khawatir. "Jangan sampai kamu terluka lagi." "Iya." Anya manggut-manggut. Leon menuntun Anya ke ruang tengah, Leon meminta sang bibi untuk membawakan kotak obat. "Ini, tuan." Ina memberikan kotak obat pada majikannya. Leon hanya mengangguk, ia segera mengambil kotak obat itu tanpa melihat wajah sang bibi. "Terima kasih, bi." Anya mengucapkan terima kasih guna menggantikan pria yang ada disampingnya, pria yang tidak pernah mengatakan terima kasih dan lainnya pada semua orang. Anya juga memberikan senyuman manis pada sang bibi, bibi yang selama ini sudah membantunya jika dirinya dalam kesulitan. "Sama-sama nona." Ina membalas senyuman dan segera pergi. Sekilas Leon menatap Anya, dan Anya memberikan senyuman manis pada Leon. "Lain kali harus begitu sama bi Ina." Anya mulai memberikan nasehat pada pria yang merekam Mafia kejam. Anya tahu jika Leon seorang Mafia, tapi apa salahnya Anya memberitahu hal baik padanya, karena biar bagaimanapun Ina adalah seseorang yang sudah berjasa pada Leon. Ina adalah seorang pembantu yang sudah lama bekerja cukup lama dengan Leon, Ina bukan wanita muda tapi Ina sudah cukup berumur, dan Ina juga sudah terbiasa dengan sikap Leon yang kejam dan tidak memiliki sopan. Namun, Ina tahu jika sebenarnya Leon adalah pria baik karena Ina mengenal keluarga Dirgantara, hanya saja Leon memiliki jalannya sendiri untuk kehidupannya. Leon tidak menghiraukan. "Sakit enggak?" Leon menatap. "Enggak, aku kuat." Anya tertawa. "Bagus deh." Leon bernapas lega, lagi pula itu hanya luka kecil. Leon tahu itu hanya luka kecil, tapi tetap saja Anya terluka membuatnya khawatir. "Tuan, apa makanan kesukaan tuan?" Anya mulai bertanya. Sejenak Leon terdiam, beberapa bodyguard yang ada di sana pastinya mendengar pembicaraan mereka. "Hei!" Rehan paham dengan situasi, ia memanggil para bodyguard untuk beristirahat. Para bodyguard yang ada di sana paham dan mulai pergi, Rehan juga ikut pergi, jadi di ruang tengah hanya ada Leon dan Anya. "Tuan!""Aku mau beli ramen, tadi katanya mau ramen.""Beli online aja." Anya tidak ingin ditinggal sendirian."Baiklah." Leon tidak memiliki pilihan lain.Anya tidak ingin ditinggal sendirian, dan Anya terlihat manja sekali."Selain ramen mau apa lagi?" Leon kembali bertanya dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya."Aku mau pilih sendiri."Anya merebut handphone Leon, dan Leon tidak keberatan dengan itu, lagi pula Leon tidak pernah menyembunyikan apapun dari Anya, jadi Leon tidak pernah takut jika Anya merebut ponselnya."Aku mau ini, ini, ini." Anya memilih banyak menu makanan.Leon tidak mempedulikan itu karena yang terpenting Anya makan banyak sebelum melakukan operasi, karena kondisi Anya juga harus stabil sebelum melakukan pengangkatan rahim.Sejujurnya Leon sedih dengan hal ini, tapi Leon mencoba kuat didepan Anya. Leon tidak ingin membuat Anya sedih.Leon yakin setelah ini tidak akan ada hal apapun lagi. Leon akan selalu membuat Anya bahagia, Leon sangat mencintai Anya. Anya ad
Anya tertawa kecil mendengar ucapan Nathan."Sudahlah, aku ke bawah dulu." Leon izin."Oke." Anya manggut-manggut dan mengizinkan.Leon keluar dari kamar untuk menemui Rehan di lantai bawah, dan Nathan masih menemani Anya."Ke mana Papa?" tanya Nathalie saat dirinya keluar dari kamar mandi."Ke bawah ketemu ...," jawab Anya yang belum selesai.Namun, Nathalie sudah berlari keluar kamar, tapi saat mendekati pintu kamar, Nathalie terjatuh.Nathalie tidak menangis. Ia segera bangun, dan berlari lagi menuju lantai bawah."Astaga, anak itu!" Anya geleng-geleng kepalanya.Anya tidak menyangka jika Nathalie sangat bersemangat bertemu dengan Rehan."Tuh, Mama liat sendiri, kan? Aku nggak bohong, dia genit banget kalau urusan Om Rehan," ucap Nathan dengan jujur.Anya tertawa lagi dan berkata. "Biarkan, mungkin Nathalie sudah menganggap Om Rehan sebagai kakak tertuanya.""Mana ada begitu." Suara Nathan sangat ketus, tentu ia tidak suka dengan sikap kembarannya yang genit.Anya hanya bisa tertaw
Seminggu berlalu. Anya sudah sadar. Keluarganya bahagia melihat Anya sudah membuka matanya. Namun, Anya masih terlihat linglung."Mama!" Nathan dan Nathalie memeluk Anya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba saja air mata Anya menetes. Anya tahu saat ini dirinya ada di rumah sakit."Sayang!" Leon mengusap lengan Anya dan mengecup lengan itu berkali-kali.Dokter dan asistennya segera memeriksa keadaan Anya, dan akhirnya kondisi Anya sudah membaik. Namun, memang harus banyak istirahat karena baru bangun dari operasi.Anya masih belum membuka mulutnya, Anya belum berbicara sama sekali.Dinda, Luki, dan Tasya sedih yang bercampur bahagia melihat Anya sudah membuka matanya.***Beberapa hari setelah Anya sadar. Anya diizinkan pulang ke rumah, dan pastinya Leon langsung segera membawa Anya pulang ke rumah.Leon tahu jika Anya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Anya tidak mencium aroma rumah sakit yang memiliki khas tersendiri."Mama, aku buatkan teh hangat untuk mama
Dinda bertanya dengan pelan. Ia tidak ingin membuat Leon bersedih akibat kecelakaan yang menimpa Anya."Kepala Anya terbentur dan harus operasi," jawab Leon.Dinda mengangguk paham. "Sebaiknya kita serahkan semuanya pada Dokter."Leon mengangguk. Leon setuju, dan Leon berharap jika Anya segera sadar.Dokter mulai menyiapkan ruanh operasi untuk Anya. Anya mengalami benturan dan harus melakukan operasi dibagian kepalanya.Dinda dan Leon hanya bisa menurut saja pada Dokter. Leon akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Anya. Leon berharap Anya segera sadar.Saat ini yang berada di rumah sakit hanya Leon dan Dinda. Luki dan Rehan keluar dari rumah sakit.Luki harus menjemput Tasya, Nathan, dan Nathalie.Sedangkan Rehan akan menjalankan perintah dari Leon. Rehan akan mencaritahu penyebab kecelakaan yang menimpa Anya.Leon memiliki firasat buruk tentang kecelakaan ini. Leon yakin kecelakaan ini adalah rencana dari Varell atau Vera. Namun, Leon masih belum memiliki bukti.Oleh sebab itu Leon
"Sakit kenapa?" tanya Leon. Raut wajah Leon terlihat khawatir. Nathan dan Tasya juga khawatir. "Tapi bohong!" Nathalie langsung menjulurkan lidahnya. Nathan kesal dengan kembarannya. Leon mulai geleng-geleng kepalanya. "Nggak boleh bohong gitu," kata Tasya. "Ya maafkan aku, Kak!" Nathalie meminta maaf. Leon pikir Nathalie benar-benar sakit, tapi ternyata hanya kepura-puraan. "Sudahlah, kita nggak perlu percaya lagi sama Nathalie." Nathan kecewa. "Ih, maafkan aku!" Nathalie menggoyangkan lengan Nathan. Namun, Nathan enggan melihat wajah kembarannya. "Sudah, jangan bertengkar!" Leon tahu jika Nathan kecewa dengan Nathalie, karena Leon juga seperti itu. Namun, Leon enggan menunjukkan kekecewaan itu. Leon lebih baik memendam kekecewaan itu, karena tidak mungkin juga Leon mudah marah didepan anak-anaknya. ** Pukul 12 siang. Anya akan menjemput anak kembarnya dan keponakannya di sekolah. Seperti biasa Anya bersama dengan sang supir. "Sepertinya hari ini aku ingin mengajak anak
Keesokan harinya. Anya baru saja menyiapkan bekal makanan untuk anak kembarnya, dan Anya juga tidak lupa menyiapkan bekal makan untuk Tasya juga.Anya seperti memiliki 3 orang anak, dan Anya senang melakukan itu. Namun, Leon selalu cemburu."Sayang!" Leon memeluk Anya dari belakang, Leon juga mengecup leher Anya dengan lembut."Diam bisa nggak, sih!"Sungguh Anya merasa risih dengan Leon, tapi Leon tetap saja bergelayut manja."Berhenti membuat bekal untuk Tasya, kalau kamu begini terus, nanti Kak Luki nggak bisa cari istri baru." Leon berbisik.Anya tertawa mendengar bisikan itu. Apa yang dikatakan Leon memang benar, tapi Anya tidak bisa membiarkan Tasya bersedih hanya karena bekal makan."Kamu cemburu sama Kak Luki apa sama Tasya?""Kak Luki."Anya tertawa. Tidak lama kemudian Dinda masuk ke dapur. Leon bukannya berhenti memeluk Anya, tapi Leon terus saja mengecup leher Anya."Sepertinya sebentar lagi kembar punya adik," gumam Dinda."Aku pengen punya anak lagi, tapi Anya nggak mau
"Sayang, apaan, sih!" Anya melotot pada suaminya. "Kembar belum minta adik, kembar juga masih bayi, masa aku udah hamil lagi aja!" Anya protes.Leon tertawa. Leon langsung memeluk tubuh Anya dari belakang. Leon mengecup leher belakang itu."Geli!"Leon tidak menghiraukan."Malam ini aku nggak mau t
Anya menatap Leon dengan penuh harap. Anya tetap ingin membawa Bima bertemu dengan kembar, karena biar bagaimanapun kembar tetap keponakan Bima."Hm, baiklah!" Leon terpaksa. "Terima kasih sayang." Anya senang."Tapi.""Tapi apa?" Anya menatap serius pada suaminya.Bima juga menatap Leon."Tapi ka
Keesokan harinya. Pukul 9 pagi. Terdengar keributan di lantai bawah rumah sakit.Leon yang baru saja membeli beberapa keinginan Anya di supermarket bawah, mulai merasa risih dengan teriakan seseorang."ANYA!" Seseorang memanggil nama istrinya Leon.Leon menatap asistennya. "Siapa dia?" tanyanya."S
Luki dan Leon menangis mendengar perkataan Dinda. Dinda begitu mencintai Doni, begitupun dengan Doni.Namun, takdir berkata lain. Doni harus meninggalkan keluarganya terlebih dahulu. Doni pasti bahagia melihat Leon sudah memberikan cucu kembar.Leon memberikan cucu laki-laki dan perempuan. Doni pas







