Share

4. Perjodohan

Author: rindiyoon
last update publish date: 2026-01-02 15:40:35

Leon menatap wanita yang baru saja datang ke rumahnya. Leon menatap jengah wanita itu, wanita yang bernama Vera Baskara.

Vera Baskara adalah wanita yang dibicarakan oleh ayahnya dua hari lalu, wanita yang akan dijodohkan olehnya.

"Rehan!" Leon menatap asistennya.

"Baik." Rehan paham dengan apa yang diperintahkan oleh bosnya walaupun bosnya tidak memberikan perintah.

Leon melangkah menuju kamar di mana Anya berada, tapi tidak jadi saat suaranya mendengar suara pria.

"Jadi, siapa gadis yang akan menikah denganmu?"

Leon membalikkan badannya. "Varell, pergi!" Ia mengusir pria itu.

"Saya ke sini akan membahas perjodohan kau dengan adik saya!" tegas pria yang bernama Varell.

Varell adalah musuh bebuyutan Leon, dan Vera adalah adik Varell. Seperti inilah mengapa Leon tidak ingin menikahi Vera, apa lagi pernikahan yang terikat tentang bisnis perusahaan.

"Sudah saya katakan, saya tidak berniat dijodohkan dengan siapapun!" tegas Leon.

Leon memerintahkan seluruh bodyguard yang ada di rumahnya untuk mengusir tiga manusia yang tidak menjadi tamunya, tiga manusia yang datang tanpa diundang membuat Leon ingin sekali membantai mereka semua.

Namun, Leon masih memiliki hati, ia tidak ingin membuat semuanya menjadi rumit, apa lagi Varell dan Vera berasal dari keluarga Baskara, keluarga yang sepertinya sudah menjadi target orang tuanya, Doni dan Dinda.

Sebelum Varell diusir, ia mengatakan. "Bima, kau pasti kenal Bima." Tawa renyah mulai terdengar, ia seperti senang untuk memulai keributan dengan musuh bebuyutan.

"KAU TIDAK MEMIKIKI URUSAN APAPUN DENGAN MEREKA!" Leon berteriak dengan mengepalkan tangannya, ia sudah siap untuk menghajar.

Vera dan Laura sudah keluar dari rumah Leon, kini hanya ada Leon, Varell, Rehan, dan beberapa bodyguard di sana.

Varell kembali tertawa. "Tentu ada urusan dengan Bima dan..." Menjeda perkataannya. "Gadis yang kau kurung di sana." Varell melirik ke arah pintu. "Gadis yang sebentar lagi ada dalam genggamanku saat Bima tidak bisa membayar hutangnya." Tatapan haus akan sesuatu mulai terlihat dari wajah Varell.

Leon ingin menghajar Varell, tapi ia teringat Anya yang membutuhkan pengobatan karena dua hari tidak makan, dan minum.

Rehan dan beberapa bodyguard itu segera menyeret Varell keluar, dan Varell tidak suka jika dirinya diperlakukan seperti itu, jadi Varell pergi dengan sendirinya.

"Brengsek!" Leon mengumpat saat dirinya sudah masuk kedalam kamar. "Bima pinjam uang ke Varell? Pria bodoh!" Leon seperti kebakaran jenggot, ia mulai mondar-mandir didekat ranjang, ia juga menatap gadis yang masih pingsan. "Anya sudah tidak aman di sini." Leon tahu jika nyawa gadis itu mulai terancam.

Leon terus memikirkan cara untuk menyembunyikan Anya dari bahaya, karena Leon tahu Varell adalah pria yang berbahaya.

Leon juga sudah meminta Rehan untuk memanggil Dokter. Namun, Anya sepertinya mulai sadar.

"Anya!" Leon mulai mengambil segelas air yang ada diatas meja, ia mencoba memberikan air tersebut.

Anya membuka matanya dan segera meminum air itu dengan sekali tegukan. Anya benar-benar haus, dan ia mulai duduk di ranjang, ia tidak lagi berbaring.

Tanpa disadari, Leon tersenyum tipis, dan Rehan melihat senyuman itu.

Rehan segera pergi dari kamar tersebut, Rehan harus memastikan sesuatu.

"Te...terima kasih tuan!" Setelah Anya meneguk air itu, ia mengucapkan terima kasih. "Aku akan habiskan semua makanan ini." Anya mulai melahap satu persatu makanan yang sudah tersedia di meja.

Leon hanya memperhatikan Anya yang terlihat sangat kelaparan, lalu Leon membiarkan Anya menghabiskan semua itu.

"Oh, nikmat sekali!" Anya bahagia saat perutnya mulai terisi, ia terus melahap makanan sampai habis.

Leon masuk ke ruangannya, dan memanggil Rehan, kini mereka berdua mulai membicarakan sesuatu.

"Jadi, Bima benar-benar meminjam uang pada Varell?" tanya Leon.

"Ya," jawab Rehan dengan memberikan sebuah iPad yang berisi sebuah video.

Leon melihat Bima dan Varell pada video tersebut, kemarin Bima mendatangi Varell untuk meminjam uang, Bima ingin melunasi hutangnya pada Leon untuk bisa membawa Anya kembali ke rumah.

Bima sudah menghubungi Rehan untuk membayar hutang, tapi ternyata hutang Bima bukan lima ratus juta, melainkan satu milyar.

Namun, Bima terus bernegosiasi pada Rehan, tapi tetap saja Rehan tidak bisa memberikan Anya, karena pembayaran tidak sesuai dengan hutang yang Bima miliki.

"Perketat keamanan rumah ini!" Leon memerintahkan asistennya.

"Baik, Bos!" Rehan menurut.

Leon mulai memikirkan Anya, Leon tidak ingin nyawa Anya dalam bahaya karena membawanya masuk kedalam dunia hitam seperti ini, Leon tidak bisa mengembalikan Anya pada keluarganya karena Varell akan mengambil Anya dengan paksa.

Sebenarnya Leon bisa saja memberikan uang pada Bima untuk melunasi hutang pada Varell, tapi ini bukan soal uang jika Varell sudah ikut campur, Varell akan melakukan apapun supaya bisa bersaing untuk mengalahkan Leon karena Varell begitu iri dengki pada Leon.

***

Hari berganti begitu cepat. Leon tetap dipaksa menikah dengan Vera oleh Doni, tapi tetap saja Leon menolak pernikahan itu.

Leon tidak ingin perjodohan itu berlanjut. Leon juga mengancam akan pergi dan keluar dari keluarga Dirgantara jika dirinya terus dipaksa menikahi Vera, tapi tetap saja Doni akan melakukan apapun supaya Leon bisa menikah dengan Vera.

"Tuan, ini tehnya." Anya masuk kedalam ruang kerja pria yang menyeramkan, pria yang sudah mengizinkan dirinya untuk tinggal dan tetap hidup.

Leon tidak merespon, tatapannya kosong, tapi ia tahu jika ada Anya di ruangannya.

"Tuan, tehnya minum selagi hangat." Suara lembut Anya begituu bergema didalam ruangan tersebut.

Anya menyimpan nampan diatas meja kerja Leon, dan Leon mulai menatap Anya.

"Ma...maafkan saya." Anya mulai merasa tidak nyaman, ia tahu jika kedatangannya hanya mengacaukan lamunan pria itu.

"Kenapa minta maaf?" Leon masih menatap gadis yang ada didepannya.

"Maaf sudah memaksa tuan meminum teh dan mengganggu tuan yang sedang bekerja." Anya adalah gadis yang baik dan begitu sopan, bahkan saat dirinya sudah dinyatakan menjadi tawanan sang Mafia, ia tetap berusaha melakukan yang terbaik, bahkan ia menyerahkan dirinya untuk menjadi pembantu, walaupun ia tahu jika nyawanya sangat terancam di sana. Namun, semua ini demi kakaknya, ia tidak ingin para penagih hutang menganggu keluarganya.

Leon mulai memikirkan sesuatu yang menurutnya tidak perlu dipikirkan.

"Kalau begitu, saya permisi, tuan." Anya tersenyum kaku, ia mulai melangkah ingin pergi. Namun, langkahnya terhenti.

"Bagaimana kalau kita menikah!" Tiba-tiba saja Leon mengatakan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Tawanan sang Mafia   84. Selesai Operasi

    Dinda bertanya dengan pelan. Ia tidak ingin membuat Leon bersedih akibat kecelakaan yang menimpa Anya."Kepala Anya terbentur dan harus operasi," jawab Leon.Dinda mengangguk paham. "Sebaiknya kita serahkan semuanya pada Dokter."Leon mengangguk. Leon setuju, dan Leon berharap jika Anya segera sadar.Dokter mulai menyiapkan ruanh operasi untuk Anya. Anya mengalami benturan dan harus melakukan operasi dibagian kepalanya.Dinda dan Leon hanya bisa menurut saja pada Dokter. Leon akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Anya. Leon berharap Anya segera sadar.Saat ini yang berada di rumah sakit hanya Leon dan Dinda. Luki dan Rehan keluar dari rumah sakit.Luki harus menjemput Tasya, Nathan, dan Nathalie.Sedangkan Rehan akan menjalankan perintah dari Leon. Rehan akan mencaritahu penyebab kecelakaan yang menimpa Anya.Leon memiliki firasat buruk tentang kecelakaan ini. Leon yakin kecelakaan ini adalah rencana dari Varell atau Vera. Namun, Leon masih belum memiliki bukti.Oleh sebab itu Leon

  • Gadis Tawanan sang Mafia   83. Kecelakaan

    "Sakit kenapa?" tanya Leon. Raut wajah Leon terlihat khawatir. Nathan dan Tasya juga khawatir. "Tapi bohong!" Nathalie langsung menjulurkan lidahnya. Nathan kesal dengan kembarannya. Leon mulai geleng-geleng kepalanya. "Nggak boleh bohong gitu," kata Tasya. "Ya maafkan aku, Kak!" Nathalie meminta maaf. Leon pikir Nathalie benar-benar sakit, tapi ternyata hanya kepura-puraan. "Sudahlah, kita nggak perlu percaya lagi sama Nathalie." Nathan kecewa. "Ih, maafkan aku!" Nathalie menggoyangkan lengan Nathan. Namun, Nathan enggan melihat wajah kembarannya. "Sudah, jangan bertengkar!" Leon tahu jika Nathan kecewa dengan Nathalie, karena Leon juga seperti itu. Namun, Leon enggan menunjukkan kekecewaan itu. Leon lebih baik memendam kekecewaan itu, karena tidak mungkin juga Leon mudah marah didepan anak-anaknya. ** Pukul 12 siang. Anya akan menjemput anak kembarnya dan keponakannya di sekolah. Seperti biasa Anya bersama dengan sang supir. "Sepertinya hari ini aku ingin mengajak anak

  • Gadis Tawanan sang Mafia   82. Sebuah Pesan

    Keesokan harinya. Anya baru saja menyiapkan bekal makanan untuk anak kembarnya, dan Anya juga tidak lupa menyiapkan bekal makan untuk Tasya juga.Anya seperti memiliki 3 orang anak, dan Anya senang melakukan itu. Namun, Leon selalu cemburu."Sayang!" Leon memeluk Anya dari belakang, Leon juga mengecup leher Anya dengan lembut."Diam bisa nggak, sih!"Sungguh Anya merasa risih dengan Leon, tapi Leon tetap saja bergelayut manja."Berhenti membuat bekal untuk Tasya, kalau kamu begini terus, nanti Kak Luki nggak bisa cari istri baru." Leon berbisik.Anya tertawa mendengar bisikan itu. Apa yang dikatakan Leon memang benar, tapi Anya tidak bisa membiarkan Tasya bersedih hanya karena bekal makan."Kamu cemburu sama Kak Luki apa sama Tasya?""Kak Luki."Anya tertawa. Tidak lama kemudian Dinda masuk ke dapur. Leon bukannya berhenti memeluk Anya, tapi Leon terus saja mengecup leher Anya."Sepertinya sebentar lagi kembar punya adik," gumam Dinda."Aku pengen punya anak lagi, tapi Anya nggak mau

  • Gadis Tawanan sang Mafia   81. Leon Memarahi Anya

    Anya tertawa. "Okay, anak Mama memang sudah besar dan sudah dewasa."Nathan hanya terdiam. Nathan duduk dengan tenang, tapi ia seperti sedang memikirkan sesuatu."Kalau Nathalie mau beli apa di mall?" Anya mulai bertanya pada anak perempuannya."Mau beli makanan," jawab Nathalie.Nathan geleng-geleng kepala. "Kamu selalu makan, makan, dan makan.""Biarin aja!" Nathalie menjulurkan lidahnya.Nathan tidak menghiraukan itu. Nathan mulai menatap lurus kedepan, dan dirinya sudah menggunakan seatbelt.Anya tersenyum melihat tingkah anak kembarnya yang begitu lucu, lucu karena sering bertengkar, tapi kembali berbaikan lagi.'Aku nggak nyangka bisa punya anak kembar dengan beda kelamin begini,' batin Anya yang masih tidak percaya.Bayi kembar dengan jenis kelamin yang berbeda sangat langka, dan Anya mampu melahirkan bayi kembar itu, walaupun kelahirannya prematur.Namun, Anya selalu bersyukur bisa merawat bayi kembarnya sampai saat ini.***Hari berganti begitu cepat. Anya sedang mendapatkan

  • Gadis Tawanan sang Mafia   80. Rumah Sakit

    Selama ini Leon memang tidak mendapatkan kabar dari Varell. Varell seperti hilang ditelan bumi. Namun, Leon tetap memperketat keamanan keluarganya.Leon bukan pria yang bodoh, Leon memiliki banyak insting, dan selalu memiliki rencana setiap hidupnya.Apa lagi saat ini tanggung jawab Leon bertambah, Leon harus menjaga anak kembarnya."Pak, kita ke rumah sakit saja," kata Anya."Baik Nyonya."Saat Anya ingin ke rumah keluarganya, tapi Anya mendapatkan kabar jika Bima masuk rumah sakit. Anya segera ke rumah sakit bersama sang supir.Seketika Anya melupakan jam pulang anak kembarnya. Anya mulai terfokus pada Bima."Pak, nanti mampir ke toko buah," kata Anya."Baik." Sang supir menurut.Setelah Anya mampir ke toko buah, kini mobil kembali melaju menuju rumah sakit. Anya terlihat khawatir dengan kabar tersebut."Semoga nggak kenapa-napa," ucap Anya.Tidak perlu berlama-lama. Akhirnya Anya tiba di rumah sakit. Anya segera berlari kecil menuju kamar Bima.Bima berada di ruangan biasa, tidak b

  • Gadis Tawanan sang Mafia   79. Indah Dewinta

    Indah Dewinta. Ia adalah nama dari wali kelas kembar. Anya akan mengingat nama itu.Nama yang sudah membuat Anya kesal untuk pertama kalinya saat Anya menginjakkan kaki di sekolah elite. Sekolah elite yang menurut Anya tidak sesuai dengan namanya. Attitude wali kelas kembar benar-benar payah.Apakah Indah tidak tahu siapa wanita yang ada dihadapannya? Wanita itu adalah istri dari Mafia. Ah, tentu saja Indah tidak tahu karena Indah terlalu sibuk mengurus para murid-muridnya."Saya tidak bisa berikan cctv itu!" Indah kekeh, ia tetap menolak.Anya mulai geram. Anya ingin sekali menarik Indah keluar dari ruangan dan menghajar Indah. Namun, Anya tetap menahan dirinya sendiri."Mama, biarkan saja, kita telpon Papa saja!" Nathalie selalu ingat ayahnya.Menurut Nathalie, ayahnya adalah pahlawan. Leon memang pahlawan, apa lagi dalam urusan bantai membantai."Jangan, Papa nggak boleh tau," bisik Anya pada anak perempuannya.Nathalie mengernyit. Biasanya sang ibu selalu memberitahu ayahnya, tapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status