LOGINLeon menatap wanita yang baru saja datang ke rumahnya. Leon menatap jengah wanita itu, wanita yang bernama Vera Baskara.
Vera Baskara adalah wanita yang dibicarakan oleh ayahnya dua hari lalu, wanita yang akan dijodohkan olehnya. "Rehan!" Leon menatap asistennya. "Baik." Rehan paham dengan apa yang diperintahkan oleh bosnya walaupun bosnya tidak memberikan perintah. Leon melangkah menuju kamar di mana Anya berada, tapi tidak jadi saat suaranya mendengar suara pria. "Jadi, siapa gadis yang akan menikah denganmu?" Leon membalikkan badannya. "Varell, pergi!" Ia mengusir pria itu. "Saya ke sini akan membahas perjodohan kau dengan adik saya!" tegas pria yang bernama Varell. Varell adalah musuh bebuyutan Leon, dan Vera adalah adik Varell. Seperti inilah mengapa Leon tidak ingin menikahi Vera, apa lagi pernikahan yang terikat tentang bisnis perusahaan. "Sudah saya katakan, saya tidak berniat dijodohkan dengan siapapun!" tegas Leon. Leon memerintahkan seluruh bodyguard yang ada di rumahnya untuk mengusir tiga manusia yang tidak menjadi tamunya, tiga manusia yang datang tanpa diundang membuat Leon ingin sekali membantai mereka semua. Namun, Leon masih memiliki hati, ia tidak ingin membuat semuanya menjadi rumit, apa lagi Varell dan Vera berasal dari keluarga Baskara, keluarga yang sepertinya sudah menjadi target orang tuanya, Doni dan Dinda. Sebelum Varell diusir, ia mengatakan. "Bima, kau pasti kenal Bima." Tawa renyah mulai terdengar, ia seperti senang untuk memulai keributan dengan musuh bebuyutan. "KAU TIDAK MEMIKIKI URUSAN APAPUN DENGAN MEREKA!" Leon berteriak dengan mengepalkan tangannya, ia sudah siap untuk menghajar. Vera dan Laura sudah keluar dari rumah Leon, kini hanya ada Leon, Varell, Rehan, dan beberapa bodyguard di sana. Varell kembali tertawa. "Tentu ada urusan dengan Bima dan..." Menjeda perkataannya. "Gadis yang kau kurung di sana." Varell melirik ke arah pintu. "Gadis yang sebentar lagi ada dalam genggamanku saat Bima tidak bisa membayar hutangnya." Tatapan haus akan sesuatu mulai terlihat dari wajah Varell. Leon ingin menghajar Varell, tapi ia teringat Anya yang membutuhkan pengobatan karena dua hari tidak makan, dan minum. Rehan dan beberapa bodyguard itu segera menyeret Varell keluar, dan Varell tidak suka jika dirinya diperlakukan seperti itu, jadi Varell pergi dengan sendirinya. "Brengsek!" Leon mengumpat saat dirinya sudah masuk kedalam kamar. "Bima pinjam uang ke Varell? Pria bodoh!" Leon seperti kebakaran jenggot, ia mulai mondar-mandir didekat ranjang, ia juga menatap gadis yang masih pingsan. "Anya sudah tidak aman di sini." Leon tahu jika nyawa gadis itu mulai terancam. Leon terus memikirkan cara untuk menyembunyikan Anya dari bahaya, karena Leon tahu Varell adalah pria yang berbahaya. Leon juga sudah meminta Rehan untuk memanggil Dokter. Namun, Anya sepertinya mulai sadar. "Anya!" Leon mulai mengambil segelas air yang ada diatas meja, ia mencoba memberikan air tersebut. Anya membuka matanya dan segera meminum air itu dengan sekali tegukan. Anya benar-benar haus, dan ia mulai duduk di ranjang, ia tidak lagi berbaring. Tanpa disadari, Leon tersenyum tipis, dan Rehan melihat senyuman itu. Rehan segera pergi dari kamar tersebut, Rehan harus memastikan sesuatu. "Te...terima kasih tuan!" Setelah Anya meneguk air itu, ia mengucapkan terima kasih. "Aku akan habiskan semua makanan ini." Anya mulai melahap satu persatu makanan yang sudah tersedia di meja. Leon hanya memperhatikan Anya yang terlihat sangat kelaparan, lalu Leon membiarkan Anya menghabiskan semua itu. "Oh, nikmat sekali!" Anya bahagia saat perutnya mulai terisi, ia terus melahap makanan sampai habis. Leon masuk ke ruangannya, dan memanggil Rehan, kini mereka berdua mulai membicarakan sesuatu. "Jadi, Bima benar-benar meminjam uang pada Varell?" tanya Leon. "Ya," jawab Rehan dengan memberikan sebuah iPad yang berisi sebuah video. Leon melihat Bima dan Varell pada video tersebut, kemarin Bima mendatangi Varell untuk meminjam uang, Bima ingin melunasi hutangnya pada Leon untuk bisa membawa Anya kembali ke rumah. Bima sudah menghubungi Rehan untuk membayar hutang, tapi ternyata hutang Bima bukan lima ratus juta, melainkan satu milyar. Namun, Bima terus bernegosiasi pada Rehan, tapi tetap saja Rehan tidak bisa memberikan Anya, karena pembayaran tidak sesuai dengan hutang yang Bima miliki. "Perketat keamanan rumah ini!" Leon memerintahkan asistennya. "Baik, Bos!" Rehan menurut. Leon mulai memikirkan Anya, Leon tidak ingin nyawa Anya dalam bahaya karena membawanya masuk kedalam dunia hitam seperti ini, Leon tidak bisa mengembalikan Anya pada keluarganya karena Varell akan mengambil Anya dengan paksa. Sebenarnya Leon bisa saja memberikan uang pada Bima untuk melunasi hutang pada Varell, tapi ini bukan soal uang jika Varell sudah ikut campur, Varell akan melakukan apapun supaya bisa bersaing untuk mengalahkan Leon karena Varell begitu iri dengki pada Leon. *** Hari berganti begitu cepat. Leon tetap dipaksa menikah dengan Vera oleh Doni, tapi tetap saja Leon menolak pernikahan itu. Leon tidak ingin perjodohan itu berlanjut. Leon juga mengancam akan pergi dan keluar dari keluarga Dirgantara jika dirinya terus dipaksa menikahi Vera, tapi tetap saja Doni akan melakukan apapun supaya Leon bisa menikah dengan Vera. "Tuan, ini tehnya." Anya masuk kedalam ruang kerja pria yang menyeramkan, pria yang sudah mengizinkan dirinya untuk tinggal dan tetap hidup. Leon tidak merespon, tatapannya kosong, tapi ia tahu jika ada Anya di ruangannya. "Tuan, tehnya minum selagi hangat." Suara lembut Anya begituu bergema didalam ruangan tersebut. Anya menyimpan nampan diatas meja kerja Leon, dan Leon mulai menatap Anya. "Ma...maafkan saya." Anya mulai merasa tidak nyaman, ia tahu jika kedatangannya hanya mengacaukan lamunan pria itu. "Kenapa minta maaf?" Leon masih menatap gadis yang ada didepannya. "Maaf sudah memaksa tuan meminum teh dan mengganggu tuan yang sedang bekerja." Anya adalah gadis yang baik dan begitu sopan, bahkan saat dirinya sudah dinyatakan menjadi tawanan sang Mafia, ia tetap berusaha melakukan yang terbaik, bahkan ia menyerahkan dirinya untuk menjadi pembantu, walaupun ia tahu jika nyawanya sangat terancam di sana. Namun, semua ini demi kakaknya, ia tidak ingin para penagih hutang menganggu keluarganya. Leon mulai memikirkan sesuatu yang menurutnya tidak perlu dipikirkan. "Kalau begitu, saya permisi, tuan." Anya tersenyum kaku, ia mulai melangkah ingin pergi. Namun, langkahnya terhenti. "Bagaimana kalau kita menikah!" Tiba-tiba saja Leon mengatakan itu.Sebulan berlalu. Setelah Leon melihat musuh bebuyutan masih hidup. Leon sudah tidak mendengar kabar dan melihat apapun lagi.Namun, Leon tetap waspada dengan sekitarnya. Leon tidak ingin keluarganya menjadi sasaran dari musuh bebuyutannya lagi.Leon ingin melindungi keluarganya, dan membahagiakan keluarganya."Sayang, lama banget dandannya?" Leon langsung memeluk tubuh Anya dari belakang. Saat ini posisi Anya sedang berdiri didepan cermin besar."Sebentar lagi, karena ini adalah ulang tahun Tasya, aku harus cantik," ucap Anya."Cantik kamu hanya untukku!""Iya sayang."Leon masih saja posesif. Leon tidak memperbolehkan Anya terlalu cantik jika keluar rumah."Mama, ayo!" Nathalie masuk ke kamar."Iya sebentar."Leon langsung melepaskan pelukannya dan membiarkan Anya memilih tas yang akan dibawa. Leon pergi mengambil handphone yang ada di atas meja rias."Papa, di bawah ada Om Rehan," kata Nathan yang baru saja masuk ke kamar orang tuanya."Oke." Leon melangkah keluar."Yeay, ada Om Re
"Sebentar lagi makan," jawab Leon dengan senyuman.Tangan Leon mengusap-usap kepala Anya, dan Anya mengangguk tanpa banyak pertanyaan.Sesekali Nathan menatap Leon, Nathan yakin jika Leon sedang memikirkan kejadian tadi, tapi Nathan tidak ingin banyak bicara.Walaupun Leon tidak meminta Nathan untuk tutup mulut tentang kejadian tadi, tapi Nathan tidak mudah membicarakan apapun pada orang-orang. Nathan mampu menyembunyikan rahasia."Papa, terima kasih, makanannya enak sekali!" Sudah cukup banyak Nathalie mencicipi menu makan malam."Sama-sama." Leon tersenyum manis.Leon senang saat mengetahui Nathalie menyukai makanan yang ada di restoran tersebut. Leon pastinya akan memberikan makanan yang lezat dan bergizi untuk istri dan anak-anaknya.Handphone Leon berdering, ada panggilan masuk, dan Leon meminta izin untuk menjawab telepon itu.Anya mengizinkan. Leon bangun dari duduknya dan menjauh dari meja untuk menjawab panggilan itu, dan Anya tidak menaruh kecurigaan apapun pada Leon."Janga
Pukul 7 malam. Leon, Anya, Nathan, dan Nathalie makan malam di luar.Leon melakukan reservasi makan malam di restoran mewah yang ada di kotanya. Leon tentunya akan menuruti keinginan istri, dan anak-anaknya.Walaupun hari ini Leon pulang agak terlambat, tapi Leon sudah melakukan reservasi sebelum pulang ke rumah, dan pastinya Leon akan selalu mendapatkan apa yang diinginkan."Terima kasih, Papa!" Nathalie sangat senang."Sama-sama." Leon tersenyum.Leon mengusap-usap kepala Nathalie dengan lembut, dan Nathan sibuk dengan iPad, Nathan sedang bermain game.Leon sudah memilih menu makan malam untuk keluarganya, kini mereka hanya bisa menunggu hidangan disajikan di atas meja.Anya dan Leon saling menatap satu sama lain. Anya tersenyum lebar dan sangat bahagia, begitu pula dengan Leon.Setiap hari mereka merasakan kebahagiaan yang tiada henti. Namun, ada ketakutan yang Anya pendam.Anya takut apa? Entah, beberapa hari ini Anya mimpi buruk.Namun, Anya tidak cerita pada Leon. Anya takut jik
"Aku mau beli ramen, tadi katanya mau ramen.""Beli online aja." Anya tidak ingin ditinggal sendirian."Baiklah." Leon tidak memiliki pilihan lain.Anya tidak ingin ditinggal sendirian, dan Anya terlihat manja sekali."Selain ramen mau apa lagi?" Leon kembali bertanya dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya."Aku mau pilih sendiri."Anya merebut handphone Leon, dan Leon tidak keberatan dengan itu, lagi pula Leon tidak pernah menyembunyikan apapun dari Anya, jadi Leon tidak pernah takut jika Anya merebut ponselnya."Aku mau ini, ini, ini." Anya memilih banyak menu makanan.Leon tidak mempedulikan itu karena yang terpenting Anya makan banyak sebelum melakukan operasi, karena kondisi Anya juga harus stabil sebelum melakukan pengangkatan rahim.Sejujurnya Leon sedih dengan hal ini, tapi Leon mencoba kuat didepan Anya. Leon tidak ingin membuat Anya sedih.Leon yakin setelah ini tidak akan ada hal apapun lagi. Leon akan selalu membuat Anya bahagia, Leon sangat mencintai Anya. Anya ad
Anya tertawa kecil mendengar ucapan Nathan."Sudahlah, aku ke bawah dulu." Leon izin."Oke." Anya manggut-manggut dan mengizinkan.Leon keluar dari kamar untuk menemui Rehan di lantai bawah, dan Nathan masih menemani Anya."Ke mana Papa?" tanya Nathalie saat dirinya keluar dari kamar mandi."Ke bawah ketemu ...," jawab Anya yang belum selesai.Namun, Nathalie sudah berlari keluar kamar, tapi saat mendekati pintu kamar, Nathalie terjatuh.Nathalie tidak menangis. Ia segera bangun, dan berlari lagi menuju lantai bawah."Astaga, anak itu!" Anya geleng-geleng kepalanya.Anya tidak menyangka jika Nathalie sangat bersemangat bertemu dengan Rehan."Tuh, Mama liat sendiri, kan? Aku nggak bohong, dia genit banget kalau urusan Om Rehan," ucap Nathan dengan jujur.Anya tertawa lagi dan berkata. "Biarkan, mungkin Nathalie sudah menganggap Om Rehan sebagai kakak tertuanya.""Mana ada begitu." Suara Nathan sangat ketus, tentu ia tidak suka dengan sikap kembarannya yang genit.Anya hanya bisa tertaw
Seminggu berlalu. Anya sudah sadar. Keluarganya bahagia melihat Anya sudah membuka matanya. Namun, Anya masih terlihat linglung."Mama!" Nathan dan Nathalie memeluk Anya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba saja air mata Anya menetes. Anya tahu saat ini dirinya ada di rumah sakit."Sayang!" Leon mengusap lengan Anya dan mengecup lengan itu berkali-kali.Dokter dan asistennya segera memeriksa keadaan Anya, dan akhirnya kondisi Anya sudah membaik. Namun, memang harus banyak istirahat karena baru bangun dari operasi.Anya masih belum membuka mulutnya, Anya belum berbicara sama sekali.Dinda, Luki, dan Tasya sedih yang bercampur bahagia melihat Anya sudah membuka matanya.***Beberapa hari setelah Anya sadar. Anya diizinkan pulang ke rumah, dan pastinya Leon langsung segera membawa Anya pulang ke rumah.Leon tahu jika Anya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Anya tidak mencium aroma rumah sakit yang memiliki khas tersendiri."Mama, aku buatkan teh hangat untuk mama
Hari berganti begitu cepat. Keluarga Dirgantara berkabung atas kepergian Doni. Doni meninggal.Setelah Doni tertembak, Doni melakukan operasi untuk mengeluarkan dua peluru yang ada ditubuhnya. Setelah operasi berjalan lancar, Doni masih belum sadarkan diri.Dua hari setelah Doni dioperasi, Doni sad
Leon mengumpat saat melihat Varell menembak Doni sebanyak dua kali, di perut dan kaki.Anak buah Rehan segera membantai anak buah Baskara. Luki dan Dinda akhirnya berhasil diamankan. Leon langsung menembak Varell tepat didekat jantungnya."B ... Brengsek!" Varell mengeluarkan banyak darah, ia terg
Anya memukul pelan lengan pria yang ada disampingnya, pria yang saat ini sudah menjadi suaminya, Leon."Dasar mesum!" Leon tertawa kecil. Leon kembali mencium bibir Anya, bibir yang sudah menjadi candu baginya."Sayang, terima kasih, aku sangat bahagia." Anya meneteskan air matanya.Leon segera me
Keesokan harinya. Dinda menghubungi Rehan untuk menemuinya di kantor DD Company. Pastinya Rehan menurut.Sampai di kantor. Rehan mengetuk pintu ruang kerja direktur utama, Dinda."Masuk!"Rehan membuka pintu dan masuk ke dalam, ia langsung membungkuk sopan saat melihat Dinda dan Luki."Ma ... Maaf,







