Accueil / Mafia / Gadis Tawanan sang Mafia / 6. Saling Menyerang

Share

6. Saling Menyerang

Auteur: rindiyoon
last update Dernière mise à jour: 2026-01-08 22:52:02

Leon yang ada waktu untuk melihat Anya yang ketakutan, ia harus segera sampai di rumah dengan selamat. Leon tidak ingin ada yang terluka, terutama Anya.

"SERANG TITIK PUSATNYA!" Leon berteriak dengan kembali duduk dikursi tengah, ia juga mulai mengambil sebuah pistol yang disembunyikan dibawah kursinya.

Wajah Anya sangat pucat, ia sangat ketakutan. Namun, Anya yakin jika semuanya akan baik-baik saja.

"Baik!" Rehan menurut dan segera memerintahkan para bodyguard yang sudah sibuk dengan pistolnya masing-masing.

Sesekali Leon melihat Anya, Anya semakin takut, tapi Anya terlihat mengimbangi situasi yang ada.

'Seumur hidupku, aku baru merasakan seperti ini,' batin Anya yang tidak percaya dirinya merasakan seperti diserang musuh, walaupun sebenarnya itu bukan musuhnya.

Anya menangis, tapi tidak membuat orang-orang yang ada didalam mobil mengkhawatirkan dirinya, ia bisa menahan semuanya dari ketakutan ini.

"Sudah pasti ini ulah Varell," gumam Leon dengan wajah yang kesal.

Semuanya saling menyerang dan saling menembak, tapi akhirnya suara tembakan itu perlahan-lahan terhenti.

"Tu...tuan, apakah semuanya baik-baik saja?" Anya sudah tidak mendengar apapun lagi.

"Sepertinya." Leon sebenarnya tidak yakin.

Anya bernapas lega. Leon, Rehan, dan sang supir masih saling memantau keadaan yang ada diluar.

"Tuan, apakah aku boleh pindah duduknya?" Anya meminta izin, ia merasa tidak nyaman duduk dipaling belakang, ia juga masih merasa takut.

Sekilas Leon melirik ke belakang. "Boleh!"

"Terima kasih." Anya segera berpindah duduk saat mobilnya perlahan-lahan berhenti, ia mulai duduk disamping pria menyeramkan.

Sebelum Anya kembali duduk disampingnya, Leon kembali menyembunyikan pistol yang tersembunyi dibawah kursinya.

"Minum!" Leon memberikan botol air.

Anya mengambil botol itu. "Terima kasih." Entah hari ini Anya sudah mengatakan itu berapa kali.

Anya meneguk air itu dan Leon masih memantau keadaan diluar, Leon mulai memikirkan sesuatu, ia harus tetap menjaga nyawa Anya baik-baik, ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Anya.

'Apakah saya harus membawa Anya tidur di hotel? Karena perjalanan masih cukup lama,' batin Leon yang terus memikirkan keselamatan gadis yang ada disampingnya.

Setelah Anya meminum air itu, tiba-tiba saja Anya pingsan dan tidak sadarkan diri.

"Obatnya bereaksi sangat cepat." Leon tersenyum tipis.

Sebenarnya Anya minum apa? Kenapa Anya pingsan? Anya meminum air yang sudah diberikan obat bius, Leon tahu jika Anya sangat ketakutan dan pasti akan membahas apa yang sudah terjadi.

Sebelum Anya membahas itu, Leon terlebih dahulu membius Anya dalam air yang sudah diberikan obat, Leon bukan jahat pada Anya tapi Leon ingin Anya selamat sampai tujuan.

'Maafkan aku,' batin Leon dengan tangan yang membelai rambut panjang yang terurai ke lengannya.

Mobil terus melaju dengan waspada, mereka tahu jika ini bukanlah akhir dari segalanya, karena musuh yang sudah menyerang terlebih dahulu ingin membuat mereka lenyap dari muka bumi.

"Bos, apakah kita langsung kembali ke rumah atau mampir ke tempat lain?" Rehan berbicara dengan bosnya.

Leon tidak langsung merespon Rehan, Leon masih sibuk memikirkan semua itu.

"Bos?" Karena Rehan sudah menunggu lama, ia kembali memanggil bosnya yang masih sibuk dengan pikirannya.

"Kalau kita mampir ke rumah kak Luki, kak Luki pasti bingung kenapa aku bawa gadis lain selain Vera." Leon bermonolog.

Rehan kembali dengan posisinya yang mengarah kedepan, ia tidak ingin mencampuri pemikiran Leon.

"Kita kembali ke rumah saja apapun yang terjadi!" Setelah beberapa detik Leon sibuk dengan pikirannya, akhirnya Leon mengatakan itu.

"Baik!" Rehan mengangguk walaupun sang bos tidak melihatnya.

Rehan segera memerintahkan para bodyguard melalui alat yang selalu ia bawa, dan para mobil mewah milik Leon segera melaju cepat dari kecepatan normal.

Leon merengkuh tubuh sang gadis. "Sabar, sebentar lagi kita akan sampai di rumah." Sekilas Leon tersenyum, ia merasa sedikit tenang.

Rehan mendengar apa yang dikatakan oleh Leon, Rehan penasaran dengan ekspresi seperti apa yang Leon berikan pada Anya yang masih tidak sadarkan diri.

'Sepertinya Leon memiliki perasaan,' batin Rehan.

Rehan emmang asisten Leon, tapi dibalik semua itu, Rehan adalah sahabat Leon sejak kecil.

"OH, SHIT!" Leon mengumpat saat mobil yang membawanya tiba-tiba mengerem mendadak, ia tidak tahu kenapa supirnya melakukan itu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Gadis Tawanan sang Mafia   9. Memperebutkan

    Pukul 9 malam di sebuah klub. Leon dan Rehan baru saja tiba di sana, Leon akan menemui seseorang di sana."Menyebar!" Leon memerintahkan itu pada beberapa bodyguard yang ikut masuk kedalam klub tersebut."Siap!" Para bodyguard mulai berpencar, mereka sudah tahu tugasnya masing-masing.Leon dan Rehan duduk di kursi bar. Rehan juga memesan minuman, tapi bukan minuman yang membuat mereka mabuk."Leon!" Rehan memanggil bosnya dengan nama.Leon melirik, Leon tahu jika Rehan sudah memanggil namanya pasti ada sesuatu yang sangat pribadi yang ingin Rehan katakan padanya."Katakan!" Leon sudah sangat mengenal asisten sekaligus sahabatnya itu.Rehan mengatur napas terlebih dahulu, setelah itu ia mengatakan. "Ada hubungan apa kamu sama Anya?" "Hubungan?" Leon tidak paham."Kamu suka sama Anya?" Rehan terus saja menatap serius pria yang ada disampingnya, pria yang sudah bersama dengannya sejak kecil.Leon tertawa. "Buat apa gue suka sama dia."Rehan masih menatap Leon."Sudah, kita fokus pada kl

  • Gadis Tawanan sang Mafia   8. Takut

    Leon hanya menatap Anya setelah mengobati jari telunjuk Anya yang terluka karena jarum."Tuan enggak punya makanan kesukaan?" Anya masih menatap. "Makanan favorit," jelasnya."Apapun aku suka.""Oke." Anya manggut-manggut."Asalkan jangan." Leon menjeda perkataannya."Jangan apa?" Anya menatap dengan penuh penasaran.Leon menatap wajah Anya yang terlihat sangat cantik, entah kenapa Anya terlihat seperti gadis yang berbeda bagi Leon, tapi Leon yakin jika Anya adalah gadis yang sangat baik."Asalkan jangan makanan yang isinya racun."Anya sontak tertawa mendengar perkataan Leon, Anya pikir Leon sedang bercanda."Kenapa ketawa?" Wajah Leon sangat datar sekali."Enggak apa-apa." Anya menghentikan tawanya.Leon langsung menyentuh dagu gadis tawanannya. "Sepertinya kamu lebih cocok tertawa!" "Hah?" Anya tidak paham."Ya kamu lebih bagus tertawa dari pada diam dan cemberut seperti ini." Leon melepaskan tangannya dari dagu itu.Anya terdiam dengan mata yang terus menatap Leon, Anya tahu jika

  • Gadis Tawanan sang Mafia   7. Terluka

    "Maafkan saya, bos." Supir meminta maaf."Bodoh!" Leon mengumpat. "Menyetir yang benar!" "Baik, bos." Supir kembali mengemudi dengan fokus dan hati-hati, ia takut terkena omelan lagi dari bosnya.Rehan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah supir yang ada disampingnya, sekilas Rehan kembali menatap spion untuk melihat ke belakang. Rehan melihat Leon sedang merangkul Anya dengan erat, Leon memang seperti tengah jatuh cinta, tapi Rehan tidak akan berkomentar apapun tentang itu."Bos, kita langsung pulang ke rumah atau mampir ke suatu tempat lagi?" Rehan kembali bertanya pada bosnya untuk memastikan.Leon terdiam saat mendengar pertanyaan dari Rehan, Leon tengah berpikir dan sekilas Leon menatap Anya yang masih memejamkan mata karena masih terpengaruh obat bius."Langsung ke rumah saja," jawab Leon setelah beberapa detik berpikir."Baik." Rehan mengangguk dengan melirik ke arah supir, dan supir paham dengan lirikan itu.Mobil mewah terus melaju menuju rumah. Leon masih merangkul An

  • Gadis Tawanan sang Mafia   6. Saling Menyerang

    Leon yang ada waktu untuk melihat Anya yang ketakutan, ia harus segera sampai di rumah dengan selamat. Leon tidak ingin ada yang terluka, terutama Anya."SERANG TITIK PUSATNYA!" Leon berteriak dengan kembali duduk dikursi tengah, ia juga mulai mengambil sebuah pistol yang disembunyikan dibawah kursinya.Wajah Anya sangat pucat, ia sangat ketakutan. Namun, Anya yakin jika semuanya akan baik-baik saja."Baik!" Rehan menurut dan segera memerintahkan para bodyguard yang sudah sibuk dengan pistolnya masing-masing.Sesekali Leon melihat Anya, Anya semakin takut, tapi Anya terlihat mengimbangi situasi yang ada.'Seumur hidupku, aku baru merasakan seperti ini,' batin Anya yang tidak percaya dirinya merasakan seperti diserang musuh, walaupun sebenarnya itu bukan musuhnya.Anya menangis, tapi tidak membuat orang-orang yang ada didalam mobil mengkhawatirkan dirinya, ia bisa menahan semuanya dari ketakutan ini."Sudah pasti ini ulah Varell," gumam Leon dengan wajah yang kesal.Semuanya saling men

  • Gadis Tawanan sang Mafia   5. Suara Tembakan

    Anya segera membalikkan tubuhnya. "Me...menikah? Apa maksudnya?" Anya kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pria menyeramkan itu. "Tidak ada maksud." Leon tersadar atas perkataannya yang menurutnya tidak pantas. Anya terdiam, ia terus menatap Leon yang masih menatapnya juga. "Terima kasih tehnya." Leon memberikan senyuman tipis dengan mengambil cangkir teh. "Tu...tuan." Anya dengan takut-takut mencoba memanggil pria menyeramkan itu lagi. "Ya?" "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" "Silakan, apa yang ingin kau tanyakan?" Leon mencoba mendengarkan. "A...apakah kakakku tidak berniat me..." Anya menjeda perkataannya. "Menebus kamu dan membawamu kembali ke rumah?" Leon paham dengan pembicaraan itu. "I...iya." Anya menundukkan kepalanya. Seketika Leon teringat jika Bima akan memberikan uang lima ratus juta dan sisanya akan kembali dicicil sampai lunas, tapi Bima ingin Anya kembali ke rumah. Namun, Leon tidak bisa membiarkan Anya kembali ke rumah karena nyawa A

  • Gadis Tawanan sang Mafia   4. Perjodohan

    Leon menatap wanita yang baru saja datang ke rumahnya. Leon menatap jengah wanita itu, wanita yang bernama Vera Baskara.Vera Baskara adalah wanita yang dibicarakan oleh ayahnya dua hari lalu, wanita yang akan dijodohkan olehnya. "Rehan!" Leon menatap asistennya. "Baik." Rehan paham dengan apa yang diperintahkan oleh bosnya walaupun bosnya tidak memberikan perintah. Leon melangkah menuju kamar di mana Anya berada, tapi tidak jadi saat suaranya mendengar suara pria. "Jadi, siapa gadis yang akan menikah denganmu?" Leon membalikkan badannya. "Varell, pergi!" Ia mengusir pria itu. "Saya ke sini akan membahas perjodohan kau dengan adik saya!" tegas pria yang bernama Varell. Varell adalah musuh bebuyutan Leon, dan Vera adalah adik Varell. Seperti inilah mengapa Leon tidak ingin menikahi Vera, apa lagi pernikahan yang terikat tentang bisnis perusahaan. "Sudah saya katakan, saya tidak berniat dijodohkan dengan siapapun!" tegas Leon. Leon memerintahkan seluruh bodyguard yang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status