เข้าสู่ระบบLeon yang ada waktu untuk melihat Anya yang ketakutan, ia harus segera sampai di rumah dengan selamat. Leon tidak ingin ada yang terluka, terutama Anya.
"SERANG TITIK PUSATNYA!" Leon berteriak dengan kembali duduk dikursi tengah, ia juga mulai mengambil sebuah pistol yang disembunyikan dibawah kursinya. Wajah Anya sangat pucat, ia sangat ketakutan. Namun, Anya yakin jika semuanya akan baik-baik saja. "Baik!" Rehan menurut dan segera memerintahkan para bodyguard yang sudah sibuk dengan pistolnya masing-masing. Sesekali Leon melihat Anya, Anya semakin takut, tapi Anya terlihat mengimbangi situasi yang ada. 'Seumur hidupku, aku baru merasakan seperti ini,' batin Anya yang tidak percaya dirinya merasakan seperti diserang musuh, walaupun sebenarnya itu bukan musuhnya. Anya menangis, tapi tidak membuat orang-orang yang ada didalam mobil mengkhawatirkan dirinya, ia bisa menahan semuanya dari ketakutan ini. "Sudah pasti ini ulah Varell," gumam Leon dengan wajah yang kesal. Semuanya saling menyerang dan saling menembak, tapi akhirnya suara tembakan itu perlahan-lahan terhenti. "Tu...tuan, apakah semuanya baik-baik saja?" Anya sudah tidak mendengar apapun lagi. "Sepertinya." Leon sebenarnya tidak yakin. Anya bernapas lega. Leon, Rehan, dan sang supir masih saling memantau keadaan yang ada diluar. "Tuan, apakah aku boleh pindah duduknya?" Anya meminta izin, ia merasa tidak nyaman duduk dipaling belakang, ia juga masih merasa takut. Sekilas Leon melirik ke belakang. "Boleh!" "Terima kasih." Anya segera berpindah duduk saat mobilnya perlahan-lahan berhenti, ia mulai duduk disamping pria menyeramkan. Sebelum Anya kembali duduk disampingnya, Leon kembali menyembunyikan pistol yang tersembunyi dibawah kursinya. "Minum!" Leon memberikan botol air. Anya mengambil botol itu. "Terima kasih." Entah hari ini Anya sudah mengatakan itu berapa kali. Anya meneguk air itu dan Leon masih memantau keadaan diluar, Leon mulai memikirkan sesuatu, ia harus tetap menjaga nyawa Anya baik-baik, ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Anya. 'Apakah saya harus membawa Anya tidur di hotel? Karena perjalanan masih cukup lama,' batin Leon yang terus memikirkan keselamatan gadis yang ada disampingnya. Setelah Anya meminum air itu, tiba-tiba saja Anya pingsan dan tidak sadarkan diri. "Obatnya bereaksi sangat cepat." Leon tersenyum tipis. Sebenarnya Anya minum apa? Kenapa Anya pingsan? Anya meminum air yang sudah diberikan obat bius, Leon tahu jika Anya sangat ketakutan dan pasti akan membahas apa yang sudah terjadi. Sebelum Anya membahas itu, Leon terlebih dahulu membius Anya dalam air yang sudah diberikan obat, Leon bukan jahat pada Anya tapi Leon ingin Anya selamat sampai tujuan. 'Maafkan aku,' batin Leon dengan tangan yang membelai rambut panjang yang terurai ke lengannya. Mobil terus melaju dengan waspada, mereka tahu jika ini bukanlah akhir dari segalanya, karena musuh yang sudah menyerang terlebih dahulu ingin membuat mereka lenyap dari muka bumi. "Bos, apakah kita langsung kembali ke rumah atau mampir ke tempat lain?" Rehan berbicara dengan bosnya. Leon tidak langsung merespon Rehan, Leon masih sibuk memikirkan semua itu. "Bos?" Karena Rehan sudah menunggu lama, ia kembali memanggil bosnya yang masih sibuk dengan pikirannya. "Kalau kita mampir ke rumah kak Luki, kak Luki pasti bingung kenapa aku bawa gadis lain selain Vera." Leon bermonolog. Rehan kembali dengan posisinya yang mengarah kedepan, ia tidak ingin mencampuri pemikiran Leon. "Kita kembali ke rumah saja apapun yang terjadi!" Setelah beberapa detik Leon sibuk dengan pikirannya, akhirnya Leon mengatakan itu. "Baik!" Rehan mengangguk walaupun sang bos tidak melihatnya. Rehan segera memerintahkan para bodyguard melalui alat yang selalu ia bawa, dan para mobil mewah milik Leon segera melaju cepat dari kecepatan normal. Leon merengkuh tubuh sang gadis. "Sabar, sebentar lagi kita akan sampai di rumah." Sekilas Leon tersenyum, ia merasa sedikit tenang. Rehan mendengar apa yang dikatakan oleh Leon, Rehan penasaran dengan ekspresi seperti apa yang Leon berikan pada Anya yang masih tidak sadarkan diri. 'Sepertinya Leon memiliki perasaan,' batin Rehan. Rehan emmang asisten Leon, tapi dibalik semua itu, Rehan adalah sahabat Leon sejak kecil. "OH, SHIT!" Leon mengumpat saat mobil yang membawanya tiba-tiba mengerem mendadak, ia tidak tahu kenapa supirnya melakukan itu.Sebulan berlalu. Setelah Leon melihat musuh bebuyutan masih hidup. Leon sudah tidak mendengar kabar dan melihat apapun lagi.Namun, Leon tetap waspada dengan sekitarnya. Leon tidak ingin keluarganya menjadi sasaran dari musuh bebuyutannya lagi.Leon ingin melindungi keluarganya, dan membahagiakan keluarganya."Sayang, lama banget dandannya?" Leon langsung memeluk tubuh Anya dari belakang. Saat ini posisi Anya sedang berdiri didepan cermin besar."Sebentar lagi, karena ini adalah ulang tahun Tasya, aku harus cantik," ucap Anya."Cantik kamu hanya untukku!""Iya sayang."Leon masih saja posesif. Leon tidak memperbolehkan Anya terlalu cantik jika keluar rumah."Mama, ayo!" Nathalie masuk ke kamar."Iya sebentar."Leon langsung melepaskan pelukannya dan membiarkan Anya memilih tas yang akan dibawa. Leon pergi mengambil handphone yang ada di atas meja rias."Papa, di bawah ada Om Rehan," kata Nathan yang baru saja masuk ke kamar orang tuanya."Oke." Leon melangkah keluar."Yeay, ada Om Re
"Sebentar lagi makan," jawab Leon dengan senyuman.Tangan Leon mengusap-usap kepala Anya, dan Anya mengangguk tanpa banyak pertanyaan.Sesekali Nathan menatap Leon, Nathan yakin jika Leon sedang memikirkan kejadian tadi, tapi Nathan tidak ingin banyak bicara.Walaupun Leon tidak meminta Nathan untuk tutup mulut tentang kejadian tadi, tapi Nathan tidak mudah membicarakan apapun pada orang-orang. Nathan mampu menyembunyikan rahasia."Papa, terima kasih, makanannya enak sekali!" Sudah cukup banyak Nathalie mencicipi menu makan malam."Sama-sama." Leon tersenyum manis.Leon senang saat mengetahui Nathalie menyukai makanan yang ada di restoran tersebut. Leon pastinya akan memberikan makanan yang lezat dan bergizi untuk istri dan anak-anaknya.Handphone Leon berdering, ada panggilan masuk, dan Leon meminta izin untuk menjawab telepon itu.Anya mengizinkan. Leon bangun dari duduknya dan menjauh dari meja untuk menjawab panggilan itu, dan Anya tidak menaruh kecurigaan apapun pada Leon."Janga
Pukul 7 malam. Leon, Anya, Nathan, dan Nathalie makan malam di luar.Leon melakukan reservasi makan malam di restoran mewah yang ada di kotanya. Leon tentunya akan menuruti keinginan istri, dan anak-anaknya.Walaupun hari ini Leon pulang agak terlambat, tapi Leon sudah melakukan reservasi sebelum pulang ke rumah, dan pastinya Leon akan selalu mendapatkan apa yang diinginkan."Terima kasih, Papa!" Nathalie sangat senang."Sama-sama." Leon tersenyum.Leon mengusap-usap kepala Nathalie dengan lembut, dan Nathan sibuk dengan iPad, Nathan sedang bermain game.Leon sudah memilih menu makan malam untuk keluarganya, kini mereka hanya bisa menunggu hidangan disajikan di atas meja.Anya dan Leon saling menatap satu sama lain. Anya tersenyum lebar dan sangat bahagia, begitu pula dengan Leon.Setiap hari mereka merasakan kebahagiaan yang tiada henti. Namun, ada ketakutan yang Anya pendam.Anya takut apa? Entah, beberapa hari ini Anya mimpi buruk.Namun, Anya tidak cerita pada Leon. Anya takut jik
"Aku mau beli ramen, tadi katanya mau ramen.""Beli online aja." Anya tidak ingin ditinggal sendirian."Baiklah." Leon tidak memiliki pilihan lain.Anya tidak ingin ditinggal sendirian, dan Anya terlihat manja sekali."Selain ramen mau apa lagi?" Leon kembali bertanya dengan tangan yang masih menggenggam ponselnya."Aku mau pilih sendiri."Anya merebut handphone Leon, dan Leon tidak keberatan dengan itu, lagi pula Leon tidak pernah menyembunyikan apapun dari Anya, jadi Leon tidak pernah takut jika Anya merebut ponselnya."Aku mau ini, ini, ini." Anya memilih banyak menu makanan.Leon tidak mempedulikan itu karena yang terpenting Anya makan banyak sebelum melakukan operasi, karena kondisi Anya juga harus stabil sebelum melakukan pengangkatan rahim.Sejujurnya Leon sedih dengan hal ini, tapi Leon mencoba kuat didepan Anya. Leon tidak ingin membuat Anya sedih.Leon yakin setelah ini tidak akan ada hal apapun lagi. Leon akan selalu membuat Anya bahagia, Leon sangat mencintai Anya. Anya ad
Anya tertawa kecil mendengar ucapan Nathan."Sudahlah, aku ke bawah dulu." Leon izin."Oke." Anya manggut-manggut dan mengizinkan.Leon keluar dari kamar untuk menemui Rehan di lantai bawah, dan Nathan masih menemani Anya."Ke mana Papa?" tanya Nathalie saat dirinya keluar dari kamar mandi."Ke bawah ketemu ...," jawab Anya yang belum selesai.Namun, Nathalie sudah berlari keluar kamar, tapi saat mendekati pintu kamar, Nathalie terjatuh.Nathalie tidak menangis. Ia segera bangun, dan berlari lagi menuju lantai bawah."Astaga, anak itu!" Anya geleng-geleng kepalanya.Anya tidak menyangka jika Nathalie sangat bersemangat bertemu dengan Rehan."Tuh, Mama liat sendiri, kan? Aku nggak bohong, dia genit banget kalau urusan Om Rehan," ucap Nathan dengan jujur.Anya tertawa lagi dan berkata. "Biarkan, mungkin Nathalie sudah menganggap Om Rehan sebagai kakak tertuanya.""Mana ada begitu." Suara Nathan sangat ketus, tentu ia tidak suka dengan sikap kembarannya yang genit.Anya hanya bisa tertaw
Seminggu berlalu. Anya sudah sadar. Keluarganya bahagia melihat Anya sudah membuka matanya. Namun, Anya masih terlihat linglung."Mama!" Nathan dan Nathalie memeluk Anya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba saja air mata Anya menetes. Anya tahu saat ini dirinya ada di rumah sakit."Sayang!" Leon mengusap lengan Anya dan mengecup lengan itu berkali-kali.Dokter dan asistennya segera memeriksa keadaan Anya, dan akhirnya kondisi Anya sudah membaik. Namun, memang harus banyak istirahat karena baru bangun dari operasi.Anya masih belum membuka mulutnya, Anya belum berbicara sama sekali.Dinda, Luki, dan Tasya sedih yang bercampur bahagia melihat Anya sudah membuka matanya.***Beberapa hari setelah Anya sadar. Anya diizinkan pulang ke rumah, dan pastinya Leon langsung segera membawa Anya pulang ke rumah.Leon tahu jika Anya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Anya tidak mencium aroma rumah sakit yang memiliki khas tersendiri."Mama, aku buatkan teh hangat untuk mama
"Kamu yakin aku jelek?"Dengan cepat Anya mengangguk. "Kamu jelek, kamu galak, kamu kasar, pokoknya kamu nggak ada nilai bagusnya."Leon tertawa."Mana brownies aku?" Anya baru tersadar jika dirinya menginginkan brownies."Aku nggak beli, soalnya aku dikatain jelek." Leon marah.Anya mulai duduk di
Pukul 7 malam. Leon dan Rehan sudah kembali ke mansion. Kini Leon bersama Anya sudah di ruang makan.Seperti biasa mereka akan selalu makan malam bersama. Anya terlihat lelah, dan Leon merasa bersalah."Mau makan di kamar aja?" Leon masih memandangi wajah cantik itu.Bi Ina yang sedang menuangkan a
Seketika detak jantung Anya terasa terhenti saat Leon mengatakan 'akan menikahi ku karena aku mengandung anaknya?' sebenarnya apa yang sedang direncanakan Leon saat ini?Banyak sekali pertanyaan untuk Leon dari Anya, tapi Anya berusaha untuk tidak menanyakan semua itu."Leon, jangan bercanda!" Suar
Vera datang dengan wajah yang begitu menyeramkan, ia menatap Anya seolah-olah ingin menghajar wajah polos itu. Namun, Vera mulai tersenyum manis saat pandangannya menatap prianya.Leon Dirgantara.Pria yang dijodohkan dengannya, dan Vera selalu berharap pernikahan itu segera terlaksana.'Sepertinya







