Mag-log inDinda bertanya dengan pelan. Ia tidak ingin membuat Leon bersedih akibat kecelakaan yang menimpa Anya."Kepala Anya terbentur dan harus operasi," jawab Leon.Dinda mengangguk paham. "Sebaiknya kita serahkan semuanya pada Dokter."Leon mengangguk. Leon setuju, dan Leon berharap jika Anya segera sadar.Dokter mulai menyiapkan ruanh operasi untuk Anya. Anya mengalami benturan dan harus melakukan operasi dibagian kepalanya.Dinda dan Leon hanya bisa menurut saja pada Dokter. Leon akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Anya. Leon berharap Anya segera sadar.Saat ini yang berada di rumah sakit hanya Leon dan Dinda. Luki dan Rehan keluar dari rumah sakit.Luki harus menjemput Tasya, Nathan, dan Nathalie.Sedangkan Rehan akan menjalankan perintah dari Leon. Rehan akan mencaritahu penyebab kecelakaan yang menimpa Anya.Leon memiliki firasat buruk tentang kecelakaan ini. Leon yakin kecelakaan ini adalah rencana dari Varell atau Vera. Namun, Leon masih belum memiliki bukti.Oleh sebab itu Leon
"Sakit kenapa?" tanya Leon. Raut wajah Leon terlihat khawatir. Nathan dan Tasya juga khawatir. "Tapi bohong!" Nathalie langsung menjulurkan lidahnya. Nathan kesal dengan kembarannya. Leon mulai geleng-geleng kepalanya. "Nggak boleh bohong gitu," kata Tasya. "Ya maafkan aku, Kak!" Nathalie meminta maaf. Leon pikir Nathalie benar-benar sakit, tapi ternyata hanya kepura-puraan. "Sudahlah, kita nggak perlu percaya lagi sama Nathalie." Nathan kecewa. "Ih, maafkan aku!" Nathalie menggoyangkan lengan Nathan. Namun, Nathan enggan melihat wajah kembarannya. "Sudah, jangan bertengkar!" Leon tahu jika Nathan kecewa dengan Nathalie, karena Leon juga seperti itu. Namun, Leon enggan menunjukkan kekecewaan itu. Leon lebih baik memendam kekecewaan itu, karena tidak mungkin juga Leon mudah marah didepan anak-anaknya. ** Pukul 12 siang. Anya akan menjemput anak kembarnya dan keponakannya di sekolah. Seperti biasa Anya bersama dengan sang supir. "Sepertinya hari ini aku ingin mengajak anak
Keesokan harinya. Anya baru saja menyiapkan bekal makanan untuk anak kembarnya, dan Anya juga tidak lupa menyiapkan bekal makan untuk Tasya juga.Anya seperti memiliki 3 orang anak, dan Anya senang melakukan itu. Namun, Leon selalu cemburu."Sayang!" Leon memeluk Anya dari belakang, Leon juga mengecup leher Anya dengan lembut."Diam bisa nggak, sih!"Sungguh Anya merasa risih dengan Leon, tapi Leon tetap saja bergelayut manja."Berhenti membuat bekal untuk Tasya, kalau kamu begini terus, nanti Kak Luki nggak bisa cari istri baru." Leon berbisik.Anya tertawa mendengar bisikan itu. Apa yang dikatakan Leon memang benar, tapi Anya tidak bisa membiarkan Tasya bersedih hanya karena bekal makan."Kamu cemburu sama Kak Luki apa sama Tasya?""Kak Luki."Anya tertawa. Tidak lama kemudian Dinda masuk ke dapur. Leon bukannya berhenti memeluk Anya, tapi Leon terus saja mengecup leher Anya."Sepertinya sebentar lagi kembar punya adik," gumam Dinda."Aku pengen punya anak lagi, tapi Anya nggak mau
Anya tertawa. "Okay, anak Mama memang sudah besar dan sudah dewasa."Nathan hanya terdiam. Nathan duduk dengan tenang, tapi ia seperti sedang memikirkan sesuatu."Kalau Nathalie mau beli apa di mall?" Anya mulai bertanya pada anak perempuannya."Mau beli makanan," jawab Nathalie.Nathan geleng-geleng kepala. "Kamu selalu makan, makan, dan makan.""Biarin aja!" Nathalie menjulurkan lidahnya.Nathan tidak menghiraukan itu. Nathan mulai menatap lurus kedepan, dan dirinya sudah menggunakan seatbelt.Anya tersenyum melihat tingkah anak kembarnya yang begitu lucu, lucu karena sering bertengkar, tapi kembali berbaikan lagi.'Aku nggak nyangka bisa punya anak kembar dengan beda kelamin begini,' batin Anya yang masih tidak percaya.Bayi kembar dengan jenis kelamin yang berbeda sangat langka, dan Anya mampu melahirkan bayi kembar itu, walaupun kelahirannya prematur.Namun, Anya selalu bersyukur bisa merawat bayi kembarnya sampai saat ini.***Hari berganti begitu cepat. Anya sedang mendapatkan
Selama ini Leon memang tidak mendapatkan kabar dari Varell. Varell seperti hilang ditelan bumi. Namun, Leon tetap memperketat keamanan keluarganya.Leon bukan pria yang bodoh, Leon memiliki banyak insting, dan selalu memiliki rencana setiap hidupnya.Apa lagi saat ini tanggung jawab Leon bertambah, Leon harus menjaga anak kembarnya."Pak, kita ke rumah sakit saja," kata Anya."Baik Nyonya."Saat Anya ingin ke rumah keluarganya, tapi Anya mendapatkan kabar jika Bima masuk rumah sakit. Anya segera ke rumah sakit bersama sang supir.Seketika Anya melupakan jam pulang anak kembarnya. Anya mulai terfokus pada Bima."Pak, nanti mampir ke toko buah," kata Anya."Baik." Sang supir menurut.Setelah Anya mampir ke toko buah, kini mobil kembali melaju menuju rumah sakit. Anya terlihat khawatir dengan kabar tersebut."Semoga nggak kenapa-napa," ucap Anya.Tidak perlu berlama-lama. Akhirnya Anya tiba di rumah sakit. Anya segera berlari kecil menuju kamar Bima.Bima berada di ruangan biasa, tidak b
Indah Dewinta. Ia adalah nama dari wali kelas kembar. Anya akan mengingat nama itu.Nama yang sudah membuat Anya kesal untuk pertama kalinya saat Anya menginjakkan kaki di sekolah elite. Sekolah elite yang menurut Anya tidak sesuai dengan namanya. Attitude wali kelas kembar benar-benar payah.Apakah Indah tidak tahu siapa wanita yang ada dihadapannya? Wanita itu adalah istri dari Mafia. Ah, tentu saja Indah tidak tahu karena Indah terlalu sibuk mengurus para murid-muridnya."Saya tidak bisa berikan cctv itu!" Indah kekeh, ia tetap menolak.Anya mulai geram. Anya ingin sekali menarik Indah keluar dari ruangan dan menghajar Indah. Namun, Anya tetap menahan dirinya sendiri."Mama, biarkan saja, kita telpon Papa saja!" Nathalie selalu ingat ayahnya.Menurut Nathalie, ayahnya adalah pahlawan. Leon memang pahlawan, apa lagi dalam urusan bantai membantai."Jangan, Papa nggak boleh tau," bisik Anya pada anak perempuannya.Nathalie mengernyit. Biasanya sang ibu selalu memberitahu ayahnya, tapi







