تسجيل الدخول"Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang
Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo
"Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m
Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i
Asyik mengobrol tiba-tiba dokter datang untuk memeriksa dan memberi suntikan vitamin baru sekitar sepuluh menit kemudian dokter itu tersenyum. Sontak reaksi dokter tadi membuat Mas Parjo dan Astri bingung."Sakit apa dia, Dok?" tanya Mas Parjo."Cuma demam biasa. Saya cek tekanan darah dan lainnya bagus kok, mungkin hanya kelelahan saja,""Tapi, Dok ... bagaimana dengan muntah darah tadi?""Enggak apa-apa. Itu cuma reaksi aja, secara ke kondisi ini baik dan sehat. Ini saya beri obat dan multivitamin, jika tiga hari masih kambuh datang aja ke sini saya beri rujukan untuk rawat inap dan cek di laborat rumah sakit yang lebih lengkap," ucap sang dokter, begitu juga dengan kondisi Retno Cahyani gadis itu telah jauh lebih baik daripada beberapa menit sebelumnya.Mereka bertiga akhirnya pulang, malam itu Cahyani bermalam di rumah Mas Parjo, dia tak berani tidur sendirian di rumah milik majikannya."Dia udah tidur?" tanya Mas Parjo pada istrinya yang baru selesai menemani Cahyani di kamar."S
Hati Safitri sedang dilanda badai asmara, dia masih bersama Tejo menghabiskan malam penuh kemesraan dan rasa cinta yang mendalam. Kini dia menyadari satu hal bahwa kesuciannya telah direnggut, bisa saja dia hamil atau kemudian ditinggalkan oleh Tejo. Rasa bahagia yang baru saja dia rasakan itu membuat Safitri amat takut, dia tak akan membiarkan hal itu terjadi sehingga pikiran itu memunculkan keinginan untuk menuntut lebih pada Tejo pria yang telah merenggut kegadisannya."Kapan aku diajak ke rumahmu? Aku juga ingin bertemu orang tuamu dan mengenal mereka," ucap Safitri sambil merengkuh tubuh Tejo dalam pelukannya yang erat."Nanti kalau udah siap, toh aku belum kamu ajak ke rumah berkenalan dengan ibumu," balas Tejo, Safitri hanya menelan ludah karena untuk saat ini tak mungkin membawa Tejo menemui Mbok Yem - ibunya sebab dalam angan-angan Mbok Yem hanya menginginkan Handoko. Tak terbayangkan bagaimana nanti cemoohan orang jika tahu Safitri pulang bersama pria selain Handoko sebab hu
Safitri kembali ke kamarnya. Dia lepas pakaian dan berganti daster. Pikiran Safitri suntuk, hanya bisa berguling ke kiri dan kanan sambil menunggu kantuk tiba. Setengah jam berlalu perasaan resah itu masih ia rasakan karena adanya desakan dari ibunya untuk segera menikah dengan Handoko, tentang per
Kematian Yogi Bramasta malam itu menjadi omongan warga, itu karena kondisi jenazah yang buruk saat hendak dimakamkan. Bahkan rumor yang beredar mengatakan bahwa tubuh Yogi Bramasta membusuk dengan cepat beberapa jam sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Kata orang penyebabnya adalah guna-guna at
Safitri panik, dia bingung dan sedih sebab secara bersamaan dua teman kerjanya mengalami sakit yang serupa."Kita harus bagaimana, Mbak?" ratap Safitri pada Mbak Astri istri dari Mas Parjo."Aku juga enggak tau, Fit. Mas Parjo sejak jam empat pagi tadi enggak bisa tidur, dia muntah dan mengeluhkan
Perasaan rindu menyelimuti hati Safitri sepanjang siang dan malam, sebuah perasaan yang tidak biasa dan tak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan rasa yang kini membelenggu hatinya pun mengalahkan perasaannya pada Handoko dulu, entah mengapa pengorbanan lelaki miskin itu kini seolah tak ada artinya lag







