Share

Bab 145.

Author: Ellea Neor
last update Last Updated: 2026-01-28 22:11:01

“Kakek?”

Esther segera menghampiri Daxton dan memberikan sebuah pelukan kepada pria itu. Hanya sebentar, Esther segera melerai pelukan itu.

“Kakek, kenapa bisa ada di sini?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Arion. Beberapa menit yang lalu, ia melihat Daxton ada di acara pelelangan. Tetapi, saat ini pria itu ada di mansion miliknya.

Daxton menatap cucu lelakinya. “Kenapa? Kau tampak tak senang?”

“Bukan begitu, hanya saja kenapa begitu tiba-tiba? Bukannya Kakek tadi ada di tempat pelelangan?”

Arion menatap Sui, sebuah anggukan kepala cukup untuk membuat Sui mengerti apa yang harus ia lakukan.

Wanita itu pun mengangguk. Lantas membalik diri, melangkah menuju dapur.

“Aku pikir kau akan bertemu dengan Erland.” Daxton menatap Esther. Wajahnya memancarkan kekhawatiran. Ia tahu apa yang dirasakan oleh Esther.

“Aku sengaja menghindarinya, Kakek,” ucap Esther penuh sesal.

Pria itu mengangguk, mencoba memahami perasaan cucu menantunya ini. Daxton menghela napas berat. “Sebaiknya kau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Liar Adik Ipar    Bab 145.

    “Kakek?” Esther segera menghampiri Daxton dan memberikan sebuah pelukan kepada pria itu. Hanya sebentar, Esther segera melerai pelukan itu. “Kakek, kenapa bisa ada di sini?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Arion. Beberapa menit yang lalu, ia melihat Daxton ada di acara pelelangan. Tetapi, saat ini pria itu ada di mansion miliknya. Daxton menatap cucu lelakinya. “Kenapa? Kau tampak tak senang?” “Bukan begitu, hanya saja kenapa begitu tiba-tiba? Bukannya Kakek tadi ada di tempat pelelangan?” Arion menatap Sui, sebuah anggukan kepala cukup untuk membuat Sui mengerti apa yang harus ia lakukan. Wanita itu pun mengangguk. Lantas membalik diri, melangkah menuju dapur. “Aku pikir kau akan bertemu dengan Erland.” Daxton menatap Esther. Wajahnya memancarkan kekhawatiran. Ia tahu apa yang dirasakan oleh Esther. “Aku sengaja menghindarinya, Kakek,” ucap Esther penuh sesal. Pria itu mengangguk, mencoba memahami perasaan cucu menantunya ini. Daxton menghela napas berat. “Sebaiknya kau

  • Gairah Liar Adik Ipar    Bab 144.

    Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Nampak papan dengan nomor 35 terangkat tinggi. Semua nampak heran sekaligus terkejut tatkala melihat sosok renta yang memegang papan terkejut. Namun, di sisi lain mereka tidak heran saat mengetahui siapa sosok itu. “Tuan Daxton?” Pria yang namanya disebut segera bangkit dengan bantuan tongkat di tangan. Pria tua yang terlihat sehat itu sangat percaya diri dengan menampakkan senyum lebarnya. Esther tampak terkejut. Bingung sudah pasti. Untuk apa Daxton menawar sebuah perhiasan? Lebih tepatnya untuk siapa perhiasan itu diberikan? Mengingat Daxton tak lagi memiliki istri. Sementara hal yang sama juga dipikirkan oleh Arion maupun Erland. Kedua bersaudara itu tampak tak percaya ketika mendengar Daxton menawar dengan harga jauh di atas perkiraan. Dan dengan begitu maka tidak akan ada yang bisa mengalahkannya. “1 miliar. Apa ada yang ingin menawar di atasnya?” tanya pembawa acara. Ruangan hening tanpa suara. Semua tamu undangan bungkam seribu b

  • Gairah Liar Adik Ipar    Bab 143.

    Esther menahan napas tatkala tatapannya bertemu dengan dua bola mata hitam milik Erland. Esther nyaris kehilangan gaya, namun dengan cepat ia memutuskan kontak mata itu dan segera bersikap bagaimana mestinya. “Aku tidak akan terpengaruh,” batin Esther. Ia lantas menyapu seisi ruangan dengan tatapannya, nampak beberapa tamu penting termasuk Daxton. Lalu tatapannya terhenti pada Arion. Saat itu ia melihat Valencia berada di dekat pria itu. Meski kesal, Esther tidak akan menampakkannya. Ia justru merasa lega karena akan menghilangkan kecurigaan Erland. Melihat semua tatapan mengarah pada dirinya, Esther segera membungkukkan badannya sejenak, kemudian menyingkir ke sisi kanan supaya para tamu undangan dapat melihat hasil karya miliknya. Satu tangannya terbuka, menunjuk ke arah etalase kaca berisi satu set perhiasan dengan batu safir berwarna biru, senada dengan gaun yang ia kenakan saat ini.“Wah…indah sekali!” “Elegan!” Suara gumaman terdengar dari arah penonton yang tampak kagum de

  • Gairah Liar Adik Ipar    Bab 142.

    “Woahh…!” Esther tertegun untuk beberapa saat. Ruangan itu luas dan tertata sangat rapi. Dinding-dindingnya dilapisi bahan anti lembab berwarna gading, dirancang khusus untuk menjaga kualitas perhiasan dari perubahan suhu dan kelembapan. Pendingin ruangan bekerja nyaris tanpa suara, menjaga udara tetap stabil dan dingin. Lantai dilapisi karpet tebal berwarna abu-abu muda yang meredam setiap pijakan, menciptakan suasana hening dan sunyi. Di tengah ruangan berjajar deretan lemari kaca berbingkai logam perak, masing-masing terkunci rapat dan diterangi lampu sorot kecil di bagian dalam. Cahaya itu memantul di permukaan berlian, zamrud, dan safir yang tertata di atas bantalan beludru gelap. Kalung-kalung beruntai halus, cincin-cincin bermata besar, serta bros-bros antik dengan ukiran rumit tampak berkilau anggun, seolah memamerkan kemewahan yang tersimpan di balik keheningan.Di sudut ruangan, terdapat meja panjang dari kayu mahoni dengan permukaan kaca, dipenuhi berkas-berkas katalog,

  • Gairah Liar Adik Ipar    Bab 141.

    Arion menatap nama Valencia yang terus muncul di layar ponselnya. Ia mendecak lantaran aktivitasnya berbalas pesan dengan Esther pun terganggu. Sementara Esther yang menunggu balasan dari Arion, tak kunjung muncul. Akhirnya ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tangan. "Apa dia marah?" gumam Esther.Beberapa menit berlalu, kendaraan yang ditumpangi oleh Esther akhirnya tiba di tempat tujuan terlebih dahulu. Sebelumnya, Harvey memang sudah berpesan supaya Esther masuk ke dalam gedung melalui jalur khusus yang digunakan untuk seluruh orang yang terlibat dalam acara ini kecuali para tamu undangan. Sementara Arion memutuskan untuk masuk melalui pintu depan layaknya tamu undangan pada umumnya. Meski begitu ia tetap memberikan pengawasan terhadap Esther melalui orang suruhannya.Tak lama kemudian, sebuah kendaraan berhenti tepat di dekat mobil milik Arion. Pria itu mengernyit, merasa tidak asing dengan kendaraan tersebut. Pintu mobil bagian belakang terbuka. Sepasang kaki jenjang

  • Gairah Liar Adik Ipar    Bab 140.

    Tiara membeku, ia terpaku. Wajahnya tampak sayu. Semangat yang semula membara, kini seketika memudar. Bahunya seketika merosot ke bawah. “Kenapa?” tanya Tiara lirih. “Aku akan pergi sendiri. Bukankah Mama menyuruhmu untuk mengurus masalah rumah?” ujar Erland. Tiara terdiam, ia sudah bekerja keras sejak pagi tadi. Ia bahkan tidak berangkat ke kantor hanya untuk belajar mengurus masalah rumah. Dan kini ia hanya ingin sedikit bersantai, sekedar menemani Erland ke sebuah acara, tetapi pria itu malah melarangnya. Apa seperti ini yang dirasakan oleh Esther. “Tapi, Kak Erland. Bukankah biasanya aku yang menemanimu?” tuntut Tiara. Tahun sebelumnya, Erland bahkan tidak membawa Esther, tetapi dirinya. “Tapi malam ini kau tidak perlu pergi, aku akan pergi sendirian. Kau beristirahatlah,” ucap Erland. Tiara terdiam. Ia tampak berpikir, Esther adalah salah satu desainer di Majestic Gems. Apa karena itu Erland tidak mengajaknya. “Apa karena Kak Esther?” Tiara akhirnya mengutarak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status