Home / Male Adult / Godaan Ibu Kos Cantik / 149. Reno yang hancur

Share

149. Reno yang hancur

Author: Harucchi
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-23 23:09:48
“Mulai hari ini, anda dinonaktifkan dari jabatan sekretaris dinas. Anda akan ditempatkan sebagai staf non-eselon menunggu proses inspektorat. Setelah itu, kemungkinan besar anda akan diberhentikan.”

Sebuah amplop dengan kop berisi surat resmi dilemparkan ke atas meja di depan Reno. Reno menatap amplop itu dengan mata nanar dan bergetar. Kepalan tangannya bergetar di atas pangkuan. “Pak, izinkan saya jelaskan—”

“—Tidak perlu. Dampak publik berita itu sudah terlalu besar.” Kepala dinas berkum
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Godaan Ibu Kos Cantik   EPILOG 3 (selesai)

    Sesampainya di penthouse, Rudi langsung menyambut segera setelah Dimas memarkir mobil. “Tuan, ada tamu yang sudah menunggu anda sejak siang.” ucapnya sambil menunduk hormat. “Oh ya? Siapa?” Dimas menutup pintu mobil. “Silakan temui, Tuan.” Kening Dimas bertaut tajam. Tidak biasanya Rudi membiarkan pertanyaannya menggantung. Saat Dimas melangkah masuk, dia mencium aroma harum masakan yang pekat. Wangi yang familiar dalam ingatan. Jantungnya langsung berdegup keras saat benaknya diselubungi rindu. Langkahnya diayun cepat. Kaki Dimas terhenti tepat di ambang pintu dapur. Di sana, di balik meja marmer yang biasanya hanya diisi oleh makanan katering hotel atau masakan koki pribadi, sosok wanita paruh baya sedang sibuk menata piring. Wangi opor ayam yang selalu jadi andalan Ibu di setiap kepulangan Dimas, kini nyata memenuhi indra penciumannya. Wanita itu menoleh. Tangannya yang memegang serbet makan gemetar hebat. Matanya yang mulai berkerut dimakan usia seketika basah saat m

  • Godaan Ibu Kos Cantik   EPILOG 2

    Dimas mematikan mesin mobil, namun dia tidak segera turun. Dari spion tengah, Dimas memperhatikan janur kuning di belakang sana dengan senyum tertahan. Siapa sangka, ternyata Caca dan Agus berjodoh.Setelah turun lebih dulu, Dimas memutari mobil dan membukakan pintu untuk Karina. Dia kemudian membuka pintu tengah, dengan sangat hati-hati menggendong Arkan yang mulai menggeliat bangun. Bayi itu mengerjapkan mata, menatap ayahnya dengan pandangan mengantuk yang menggemaskan."Ayo, Jagoan. Kita lihat paman Agus pakai jas." bisik Dimas yang disambut tawa kecil Karina.Saat mereka melangkah memasuki lobi gedung, suara heboh Genta langsung menggelegar, mengalahkan volume musik pengiring acara pernikahan Agus.“WOI, DIM!”Pandangan Dimas langsung terarah ke tengah ruangan. Tempat di mana Jimmy berdiri di tengah aula, mengenakan batik yang sebenarnya formal elegan tetapi malah dipasangkan dengan sepatu kets kesayangannya. Genta di sebelah Jimmy. Terlihat lebih makmur dengan setelan kemeja ya

  • Godaan Ibu Kos Cantik   EPILOG 1

    2 tahun kemudian …“Bagaimana Tuan? Apa sudah cukup ukuran piguranya?” Rudi bertanya hati-hati. Pria itu berdiri mendampingi Dimas yang kini menatap penuh penilaian ke arah dinding besar di ruang utama penthouse.“Cukup. Ukurannya ideal.” Dimas menjawab tenang. Alih-alih memperhatikan ukuran bingkai, matanya kini memindai wajah-wajah bahagia yang ‘dibekukan’ di dalam foto-foto itu.Ada bingkai bertipe portrait, dengan foto dirinya dan Karina yang berdiri berhadapan, saling menyatukan kening dalam balutan pakaian pengantin. Ada foto Melia, Bapak, Dimas dan Karina yang berdiri berjajar dengan baju dilapisi pelampung, bersiap menikmati wahana banana boat. Potret itu diambil di hari kedua setelah pernikahan mereka. Sudut bibir Dimas naik tipis. Bapak tampak begitu tegang di sana. Beliau menyembunyikan ketakutan yang akhirnya pecah dalam bentuk teriakan histeris bernada gahar saat wahana benar-benar dijalankan. Mengingat itu, Dimas meloloskan dengusan geli.Dimas menggeser sedikit posisi

  • Godaan Ibu Kos Cantik   381. TAMAT

    “Boleh sambungkan teleponnya ke Ibu, Pak?” Suara kebisingan tipis terdengar dari seberang telepon, disusul hening panjang yang menyesakkan dada. Dimas memejamkan mata, membiarkan angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Dia tahu Ibu sedang memegang ponsel, meski tak ada suara yang keluar. "Bu..." suara Dimas melembut. "Besok lusa, aku menikah.” Hening. Masih tak ada suara di seberang. “Kalaupun Ibu masih belum bisa menerima keputusanku, apa Ibu nggak bisa hadir untuk melihat, bahagianya aku hari itu Bu?” Masih hening. Namun, Dimas bisa mendengar isakan tertahan yang sangat tipis. "Bu.” Dimas meneguk ludah, berusaha menenangkan tenggorokannya yang tercekat. “Aku nggak minta Ibu memaafkan aku. Aku cuma ingin Ibu hadir sebagai saksi bahwa anak Ibu sudah menemukan bahagianya, bersama Karina." Klik. Sambungan terputus sepihak. Dimas memejamkan mata erat-erat. Napasnya dihela panjang. Matanya menatap layar ponsel yang kini gelap. Perlahan, Dimas merasakan sepasang lengan melingkar

  • Godaan Ibu Kos Cantik   380. Meminta Restu Ibu

    Dimas menatap layar ponselnya yang bergetar di atas meja. Panggilan dari nomor tak dikenal. Namun foto profil akun yang menghubungi, cukup mudah dikenali Dimas.Bobby.“Kamu bakalan angkat?” Karina menyahut dengan suara tenang.Sementara Dimas bergeming menatap layar yang terus menerus berpendar. Bobby tampaknya benar-benar ingin bicara padanya.Maka, Dimas menekan tombol hijau dan mengaktifkan loudspeaker.“Halo.”“Bangsat! Aku tahu kamu yang laporkan aku ke polisi! Kamu nggak punya bukti, sialan!”Dimas hanya mendengus kecil. Lalu menyesap sisa teh hangatnya dengan tenang, membiarkan suara napas Bobby yang memburu dan kasar memenuhi keheningan kamar mewah itu. “Kepanikanmu itu justru menunjukkan betapa kamu takut ketahuan.” jawab Dimas santai.Suara latar di seberang telepon terdengar gaduh, sepertinya Bobby sedang berada di suatu tempat yang tersembunyi, mungkin ruang tunggu pemeriksaan atau kantor pengacaranya."Jangan sok tenang, kamu! Kamu pikir kesaksian Zaki cukup untuk menye

  • Godaan Ibu Kos Cantik   379. Tanda duka

    “Kar ….” suara Dimas memecah hening. “Waktu aku dan Nita di dapur tadi … apa kamu dengar semua penjelasan Nita, kenapa dia melakukan semua ini?”Iya. Apa Karina mendengar pengakuan Nita bahwa dirinya adalah Rachel?Karina bergeming, tak langsung menjawab. Tangannya terangkat perlahan mengusap lengan atasnya. “Aku dengar.”Suara hembusan napas Karina terdengar jelas di ruangan itu. Dimas menunduk dalam, mencoba memahami perasaan Karina yang mungkin terkejut. “Dim … Kamu ingat waktu Nita datang ke kamarmu dan aku harus sembunyi di balik pintu?”Dimas memejamkan mata, lalu menjawab dengan suara rendah. “Ingat.”“Saat itu … sebenarnya aku merasa, suara dan intonasi cara bicara Nita … mirip dengan Rachel.”Karina menunduk, tangannya saling bertaut satu sama lain. “Tapi, aku waktu itu berpikir … kalau semua itu cuma kebetulan. Rachel nggak mungkin tinggal di kos-kosan sederhana. Dia putri keluarga berada. Setidaknya dia pasti tinggal di apartemen atau kosan yang lebih layak. Lagipula ….”

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status