LOGIN“SAYA SUDAH PUNYA FOTO YANG TADI SAYA AMBIL DI HOTEL. Coba lihat ini Mas Dim.” Agus tergesa-gesa mengeluarkan ponselnya.Dimas dan Jimmy mencondongkan tubuh mereka ke arah ponsel yang disodorkan Agus tepat di tengah-tengah mereka. Dengan sabar, mereka menanti jemari Agus membuka galeri foto. Saat terbuka, tampak sederetan foto yang muncul paling atas adalah foto-foto selife Agus dan Caca di sebuah restoran.“Anjir lo mau pamer?” Jimmy berseru dengan nada jengkel.“Eh, bukan! Anu … kebetulan tadi memang saya sama Caca makan siang bareng, di … anu. Di Mall tadi.” Agus menggulir layar setengah gugup karena lirikan sinis Jimmy tanpa jeda, hingga akhirnya jarinya menemukan satu hasil gambar yang diambil di lobby hotel. “NAH, INI!”Klik. Agus membuka foto itu. Layar menunjukkan hasil foto dalam satu tampilan penuh. Dimas, Agus dan Jimmy mendekatkan kepala mereka. Ketiganya terdiam sejenak.“Apaan nih? Blur, anjir!” Jimmy berseru lantang.“Waduh.” Agus mengerjap.Dimas mengernyit dan mendara
[ Kalo lo udah bangun, ke kamar gue ya. Gue ada kabar penting. Buruan! ]Kedua alis Dimas bertaut tajam. Kalau sampai Jimmy tidak berani menyampaikan berita itu lewat pesan teks atau telepon, artinya memang ini sesuatu yang benar-benar penting. Dimas menoleh ke arah Karina yang masih terlelap. Napasnya dia hembuskan perlahan. Sebelum bangkit dari kasur, Dimas menyempatkan diri merapatkan selimut yang menaungi tubuh polos Karina. Gegas dia membersihkan diri lalu pergi ke kamar sebelah.Di depan pintu kamar Jimmy, Dimas melirik smartwatch yang melingkari pergelangan tangannya. Pukul tiga sore.Tangannya lalu terangkat untuk mengetuk daun pintu kamar Jimmy.“Jim. Lo di kamar?”Tok! Tok! Tok!Tak berselang lama, terdengar suara hentak langkah yang mendekat. Lalu pintu terbuka perlahan. Jimmy dengan rambut berantakan, mata sipitnya yang makin menyipit, juga dengan kaos oblong tipisnya yang kusut tak disetrika, menongolkan badan dari balik pintu.“Lama banget lo. Gue sampe ketiduran.” ucap
Dimas membiarkan Karina bergerak di pangkuannya. Jantungnya bertalu dengan tempo memburu. Keringat membulir tipis di pelipisnya. Hingga, tangan wanita itu bertumpu di pundak.“Kamu ….” Dimas mencoba mengatur napas, menahan erangan sekaligus menyesapi pijatan lembut gua milik Karina di bawah sana. “Apa nggak bisa sabar … menunggu sebentar lagi, Kar?” Karina mendesah kecil. Napasnya tak beraturan. Wanita itu berhenti sebentar. Kepalanya digelengkan. “Nggak bisa. Kebayang terus.”Dimas mengernyit, lalu mengarahkan wajah Karina agar menatap wajahnya. “Kebayang?”Karina mengerjap, tampak kewalahan untuk memilih fokus ke pertanyaan Dimas atau ke sensasi di bawah perut yang membuatnya melayang. Setelah terdiam sesaat, wanita itu mendekatkan wajahnya pada Dimas. “Kebayang kamu. Di dalam aku. Kayak gini.” Karina kembali menggerakkan badannya. Lebih cepat. Gundukan kenyal di dadanya naik turun mengikuti gerakan yang dia bentuk. Dimas tak melewatkan momen, tangannya memijat pelan bagian lembut
"Kalau aku yang pijat, aku nggak jamin kamu bisa tidur nyenyak setelah ini, Kar.” Dimas membalikkan badan menghadap Karina. Wanita itu tertawa kecil, lalu melatakkan kedua tangannya di atas pundak Dimas.“Sejak awal aku memang nggak berniat tidur siang, Dim.” Karina berbisik dengan senyum lembut yang samar, menyiratkan godaan. Suaranya jernih namun sarat akan undangan.Dimas menelan ludah. Rasa pening akibat mendengar kabar dari Jimmy tadi seolah menguap, digantikan oleh debar yang jauh lebih kencang di dadanya. Perlahan, Dimas menggerakkan tangannya ke bahu Karina. Jemarinya meraba tekstur kain piyama wanita itu sebelum akhirnya menyentuh kulit lehernya yang hangat.“Oke. kamu yang minta ya.” gumam Dimas. Matanya kini terpaut pada kulit mulus Karina yang bagian dadanya hampir separuh terbuka. Napasnya mulai memburu. Agar lebih nyaman, Dimas pindah ke belakang tubuh Karina. Pria itu mulai memijat perlahan pundak sang wanita. Dia berusaha fokus pada otot-otot yang tegang. Namun setap
Dimas menatap layar ponselnya yang menunjukkan panggilan ke nomor Agus tak terjawab.Pesannya sejak tadi juga belum dibalas.Setelah sebuah hembusan napas berat, Dimas menekan tombol untuk melakukan panggilan ke nomor Jimmy.Hanya dalam hitungan detik, nada sambung di seberang bersambut suara bernada tinggi khas Jimmy.“Halo.” “Halo, Jim? Gimana di sana?” Dimas merasakan Karina yang sejak tadi memijat pundaknya dari belakang tiba-tiba bersandar total. Kedua tangan wanita itu kini melingkari lehernya dari belakang sambil wajahnya merapat ke satu sisi wajah Dimas.“Agus kayaknya marah, Dim. Soalnya … Caca jadi salah paham sama dia.”Dimas mengerutkan kening. “Caca salah paham gimana?” “Tadi itu, Agus kepergok waktu ngambil foto cowok yang lagi sama Nita. Blitz-nya nyala, anjir.”Dimas memejamkan mata erat, tangannya menepuk dahi hingga terdengar suara ‘plak’ nyaring.“Terus Agus di mana sekarang? Masih sama lo di situ?”“Nggak. Tadi dia ngejar Caca. Caca juga kayaknya balik duluan. Gu
[ Dimas : Agus lo keluar dari kamar itu sekarang! ]Agus mendongak, menatap Nita yang kini menatapnya tajam.“Siapa?” Nita melipat lengan di depan dada. “Dari Dimas?”Buru-buru Agus menggelengkan kepala. “Bu-bukan Mbak! Ini … iklan dari operator!” bantahnya. Namun wajah panik Agus sama sekali tidak bisa berbohong.“Bilang apa dia?” Nita bertanya dengan nada dingin. Wanita itu bangkit dan berjalan mendekat. Sontak Agus beringsut mundur. “Mbak Nita.” Agus menggeser badannya, jaraknya semakin menjauhi Nita. “Saya tadi ambil foto benar-benar untuk memastikan kalau orang tadi teman saya atau bukan Mbak. Saya bukannya mau berniat mengambil foto Mbak Nita. Saya minta maaf kalau Mbak Nita jadi salah paham.”“Kenapa kamu sebegitu ingin tahunya? Kalau memang dia temanmu lalu kamu mau apa?” Nita berhenti mendekati Agus yang semakin menjauh. Bruk!Punggung Agus menabrak jendela kaca yang dilapisi gorden. Bibirnya mencebik dengan suara rintihan tangis yang dibuat-buat. ‘Harus gimana aku ini?’“
“Kamu … kamu serius?” Reno mengalihkan fokus dari kemudi, menatap tajam Rachel di sebelahnya sejenak. “Rupa suaminya seperti apa?”Rachel tampak memijat salah satu sisi keningnya. Dahinya berkerut, “Aku … nggak lihat persis wajahnya. Tapi … yang aku perhatikan, suaminya kayak berusaha nutupin wajah
Dimas terjaga dari tidur saat udara panas di dalam kamar mulai membuatnya tak nyaman. Matanya setengah terpejam saat tangannya mengibaskan kaos di bagian leher yang mulai basah karena keringat. Mulutnya mendecak kecil selagi badannya bangkit duduk. Tangannya lalu menjangkau ponsel di atas meja, me
Sepuluh miliar lebih telah masuk ke rekeningnya.Ada degup jantung tak biasa ketika Dimas membaca deretan angka itu. Setelah siang-malam penuh kerja keras, berkali-kali hampir menyerah, dan menjalani kehidupan yang hanya berputar di tiga titik: kopi, laptop dan malam-malam tanpa tidur, semuanya sep
“Kamu benar-benar tau cara bikin saya makin tergila-gila sama kamu.” Reno berbisik dengan bibirnya yang menyeringai. Deru napasnya, tatapannya, seperti dipenuhi kabut gairah. Sesuatu yang membuat Karina seketika merinding. Bukan karena merasa terancam, melainkan … jijik.Karina mundur selangkah dem







