MasukPintu itu kembali terkunci secara otomatis. Suasana yang tadinya penuh tensi amarah mendadak berubah menjadi penuh akan hasrat terpendam.Ivy menarik napas panjang, merapikan blazer putihnya yang sedikit bergeser. Namun, sebelum ia sempat kembali ke mejanya, Arthur menyambar pinggangnya dari belakang, menarik punggung ramping Ivy melekat sempurna pada dada bidangnya."Sangat tidak tertandingi, Mrs. Sterling." Bulu kuduk Ivy meremang saat bibir hangat Arthur merayapi garis lehernya, menghisap lembut kulit sensitif di sana hingga meninggalkan tanda merah yang baru."Kita masih di kantor, Arthur," tegur Ivy, meski suaranya mulai lemah akibat getaran gairah yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Ia membalikkan badan dalam pelukan Arthur, menatap wajah tampan pria yang kini menguncinya penuh obsesi."Gedung ini milikku. Kau milikku. Jadi, tidak ada seorang pun yang berani melangkah ke lantai ini tanpa izin dari pemiliknya," bisik Arthur dengan kehausan gairah yang mendalam.Tanp
Beberapa saat setelahnya, mereka hanya berbaring terengah-engah dalam posisi saling mengunci. Arthur memiringkan tubuhnya, merengkuh Ivy erat-erat ke dalam pelukannya dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua dari terpaan pendingin udara. "Persepsi mereka tentang kita akan berubah total esok pagi," gumam Ivy seraya matanya menatap langit-langit penthouse. Arthur mengusap helai rambut Ivy, mencium keningnya dengan kelembutan luar biasa. Sangat berbeda dari keliarannya beberapa menit lalu. "Biarlah seluruh dunia tahu," sahut Arthur dengan nada protektif yang teramat kuat. "Mereka bisa mencoba merebut kekuasaanmu, tapi siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambutmu lagi, akan kupastikan namanya terhapus dari sejarah peradaban." Ivy menoleh, menatap garis rahang tegas pria yang dulu paling ia benci, tapi kini menjadi satu-satunya pelindung paling kejam dan setia dalam hidupnya. "Kapan pernikahan kita akan digelar?" tanya Ivy. Arthur tersenyum tipis, tatapannya m
"Tembak dia, Arthur." Dua kata itu meluncur dari bibir Ivy tanpa keraguan. Nadanya dingin, sekeras baja seperti meluruhkan sisa air mata yang tadi sempat singgah di pipinya. Rasa sakit atas pengkhianatan Liam dan Chloe, dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya, telah menguap, berganti menjadi jelaga kehitaman yang membakar habis nuraninya. Arthur menatap Ivy selama beberapa detik. Seringai tipis dan kebanggaan langsung terbit di bibirnya. Tanpa membuang kata, pria itu mengarahkan moncong pistolnya tepat ke celah jendela. Dor! Satu dentuman keras menggelegar. Di luar sana, Liam tersungkur di tanah sambil mencengkeram lututnya yang tertembak. Jeritan histeris seorang wanita memecah udara, itu adalah Chloe. Perempuan yang Ivy anggap sahabat terdekatnya itu berlari keluar dari semak-semak, berlutut panik sambil memeluk tubuh Liam yang bersimbah darah. "Ivy! Tolong kami! Jangan bunuh dia!" teriak Chloe, matanya bergerak liar menyapu kegelapan gedung tempat Ivy bersembunyi. "Bi
Arthur menangkap kedua pergelangan tangan Ivy dengan satu tangan, menguncinya di atas kepala Ivy. Napas mereka berdua memburu, bersahutan di ruangan yang sempit dan panas itu. Suhu udara seolah naik beberapa derajat. "Kau pikir aku tidak paham? Kau pikir aku menikmati melihat pria tua itu menatapmu seolah kau adalah miliknya? Kau pikir aku suka melihat tangan-tangan kotor itu menyentuh kulitmu?" "Lalu kenapa kau melakukannya?!" Ivy berteriak tertahan, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Arthur. "Karena aku harus mengakhiri ini, Ivy!" Arthur menggeram. Dia melepaskan tangan Ivy, tapi bukannya menjauh, dia justru mencengkeram rahang Ivy dengan kasar. "Aku melakukannya karena itu satu-satunya cara untuk menarik Julian keluar dari lubangnya. Sekarang, di tengah semua kekacauan ini, kau masih saja mencoba melawanku?" Mata mereka bertemu dalam kegelapan yang remang. Ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang benci, tapi sesuatu yang jauh lebih posesif. Rasa takut akan kemat
Ivy merasa darahnya mendidih. Dia hendak membuka mulut untuk membela diri, tapi Arthur lebih cepat. "Hati-hati dengan ucapanmu, Elena." Suara Arthur sangat rendah yang membuat orang di sekitarnya berhenti bernapas. "Atau aku akan memastikan sisa aset keluarga Vance yang masih ada di bursa saham lenyap sebelum fajar. Lalu soal Liam, katakan padanya, jika dia berani mendekati Ivy lagi, aku tidak akan hanya mengirimnya ke jalanan. Aku akan mengirimnya ke liang lahat." Elena ternganga, wajahnya merah padam karena malu dan marah. Dia berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan mereka di tengah perhatian tamu lainnya. "Terima kasih," bisik Ivy, merasa sedikit lega. "Jangan berterima kasih. Aku melakukannya untuk reputasiku, bukan untukmu," sahut Arthur dingin, matanya terus menyapu ruangan seolah mencari mangsa. Tiba-tiba, kerumunan di ujung ruangan terbelah. Seorang pria tua dengan rambut perak dan jas hitam klasik berjalan perlahan menuju mereka. Dia tidak terlihat sepe
Arthur menatap bibir Ivy, lalu kembali ke matanya. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajahnya yang dingin. Dia menegakkan tubuh, melepaskan bahu Ivy dan kembali ke sisi meja yang lain. "Kebencian dan gairah hanya dipisahkan oleh selembar kertas tipis, Ivy. Kita lihat berapa lama kau bisa mempertahankan dinding itu." Arthur mengambil ponselnya yang bergetar. "Satu hal lagi. Saat di Cotswolds nanti, jika kau melihat seorang pria bernama Julian Vane, jangan pernah lepaskan tanganku." Ivy mengerutkan kening, rasa penasarannya terusik di balik rasa sakitnya. "Siapa Julian Vane?" Arthur berhenti di pintu ruangan, membelakangi Ivy. Bahunya tampak kaku, dan Ivy melihat celah dalam topeng ketenangan pria itu. "Dia adalah pria yang membunuh ayahku," ucap Arthur dingin tanpa menoleh. "Alasan sebenarnya kenapa aku memilihmu dari sekian banyak wanita, adalah karena kau memiliki sesuatu yang sangat dia inginkan." Ivy terpaku di kursinya, kopi hitamnya kini sudah dingin.







