공유

Tunduk

작가: Purplexyiii
last update 게시일: 2026-09-10 21:51:35

"Tembak dia, Arthur."

Dua kata itu meluncur dari bibir Ivy tanpa keraguan. Nadanya dingin, sekeras baja seperti meluruhkan sisa air mata yang tadi sempat singgah di pipinya. Rasa sakit atas pengkhianatan Liam dan Chloe, dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya, telah menguap, berganti menjadi jelaga kehitaman yang membakar habis nuraninya.

Arthur menatap Ivy selama beberapa detik. Seringai tipis dan kebanggaan langsung terbit di bibirnya. Tanpa membuang kata, pria itu mengarahkan moncong pistolnya tepat ke celah jendela.

Dor! Satu dentuman keras menggelegar. Di luar sana, Liam tersungkur di tanah sambil mencengkeram lututnya yang tertembak. Jeritan histeris seorang wanita memecah udara, itu adalah Chloe. Perempuan yang Ivy anggap sahabat terdekatnya itu berlari keluar dari semak-semak, berlutut panik sambil memeluk tubuh Liam yang bersimbah darah.

"Ivy! Tolong kami! Jangan bunuh dia!" teriak Chloe, matanya bergerak liar menyapu kegelapan gedung tempat Ivy bersembunyi.

"Biar aku yang menyelesaikan ini," bisik Ivy.

Ia memungut jas Arthur yang terjatuh, mengenakannya untuk menutup bagian gaunnya yang merosot. Jemari Ivy menyambar pistol cadangan dari holster cadangan di pinggang Arthur. Ia tidak ragu. Ia merapikan gaunnya, berjalan menembus kabut asap yang masih mengepul dari ledakan pintu. Arthur mengiringi di sampingnya bagaikan pelindung pribadi yang siap menerkam siapa pun yang berani menyenggol wanita itu.

Langkah kaki Ivy begitu percaya diri saat ia keluar ke halaman terbuka gedung Cotswolds. Angin malam berembus kencang, menerbangkan rambut hitamnya yang bergelombang. Di tanah, Liam merangkak ketakutan, sementara Chloe menangis sesenggukan sambil mencoba menjadi tameng bagi kekasihnya.

"Ivy! Demi Tuhan, ini aku! Chloe!" ucap perempuan itu, wajahnya pucat pasi melihat tatapan kosong namun mematikan dari Ivy. "Kami terpaksa! Julian Vane menekan Liam! Kami tidak bermaksud menghancurkan hidupmu!"

Ivy berhenti tepat dua meter di hadapan pasangan itu. Posisinya begitu dominan. Ia tidak lagi memandang mereka dengan tatapan korban yang teraniaya, tapi sebagai sosok pemilik takdir mereka.

"Kau membual, Chloe," jawab Ivy dingin. "Kau merancang gaun pengantinmu menggunakan uang perusahaan milikku. Kau tidur dengan tunanganku di penthouse milikku, sementara aku bekerja belasan jam sehari untuk memastikan bisnismu tidak bangkrut."

"Ivy, maafkan aku! Aku mencintaimu, Ivy!" Liam memohon dengan suara serak seraya mencengkeram ujung sepatu Ivy dengan jemarinya yang berdarah. "Jangan biarkan Sterling membunuhku! Dia monster!"

Crac! Ivy menghentakkan tumit sepatunya tepat ke atas buku-buku jari Liam. Bunyi remukan tulang beradu dengan jeritan melengking pria itu. Ivy bahkan tidak berkedip.

"Kau salah, Liam," desis Ivy, menunduk hingga tatapannya mengunci manik mata Liam yang dipenuhi ketakutan. "Monster sebenarnya berdiri di atas jarimu saat ini. Tempatmu bukan lagi di hatiku, tapi di bawah telapak kakiku."

Julian Vane yang muncul dari balik pepohonan hendak mengarahkan senjatanya ke kepala Ivy, tapi sebelum pria tua itu sempat menarik pelatuk, senapan mesin ringan pasukan khusus Arthur menyerbu dari kejauhan. Julian roboh seketika, tertembak beruntun dan menyisakan anak buahnya yang berhamburan dalam kepanikan.

Layar ponsel di saku jas Arthur berdering keras. Layar helikopter tempur Sterling Group melintas di atas kepala mereka dam menurunkan tangga darurat.

"Bawa mereka berdua hidup-hidup ke markas," perintah Arthur pada tim keamanannya yang memagari mereka. "Biarkan mereka menyaksikan wanita ini mengambil kembali seluruh kekuasaan finansial Vane dan Sterling esok pagi."

Tanpa membuang waktu, Arthur merangkul pinggang Ivy, menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukannya saat helikopter membawa mereka membumbung tinggi, lalu meninggalkan kehancuran gedung Cotswolds yang perlahan terbakar.

***

Penthouse pribadi Arthur di lantai teratas Sterling Tower menyajikan pemandangan kota yang diterangi gemerlap lampu malam. Suasana di dalam ruang utama begitu senyap, hanya diwarnai detak jantung dua insan yang baru saja selamat dari medan pembantaian.

Ivy berdiri di depan kaca jendela raksasa untuk menatap pantulan dirinya. Gaun sutranya terkoyak di bagian samping dan memperlihatkan paha mulusnya. Bekas goresan tipis di lehernya masih menyisakan rona merah.

Arthur mendekat dari belakang. Pria itu sudah melepas dasinya, menyisakan kemeja hitam berlengan panjang yang tergulung hingga siku. Tangannya yang hangat dan berotot melingkar di pinggang Ivy, menarik punggung wanita itu menyatu dengan dada bidangnya.

"Kau luar biasa malam ini, Collins," bisik Arthur, bibirnya menggesek lembut kulit sensitif di belakang telinga Ivy.

Ivy memejamkan mata, merasakan getaran suara bariton Arthur yang merambat ke seluruh saraf tubuhnya. Hasrat yang sempat tertunda di gedung Cotswolds mendadak membakar kembali pembuluh darahnya. Ia berbalik dalam pelukan Arthur, menatap mata kelam pria itu yang penuh obsesi gelap.

"Aku bukan lagi asistenmu," ucap Ivy, jemarinya menyusup ke sela-sela rambut hitam tebal Arthur, menarik kepala pria itu mendekat. "Aku pemilik setengah dari kekayaanmu sekarang."

"Kau bisa memiliki seluruh kekayaanku, seluruh jiwaku, jika kau mau," balas Arthur menyapu bibir Ivy. "Sementara tubuh ini, malam ini, kau harus tunduk padaku."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Ivy untuk menjawab, Arthur membungkam bibir wanita itu dengan ciuman. Bukan ciuman lembut yang menenangkan, tapi penuh gairah liar yang sudah menumpuk selama dua tahun.

Ivy merintih pelan saat jemari besar Arthur mencengkeram pinggulnya, lalu mengangkat tubuhnya dengan mudah hingga posisi Ivy sejajar dengannya. Ivy melingkarkan kedua kakinya di pinggang kokoh Arthur, menyatukan dada mereka yang bertabrakan panas.

Arthur melangkah menuju sofa hitam tanpa memutuskan ciumannya. Pria itu menghempaskan Ivy ke atas permukaan yang dingin, tapi itu justru membuat suhu tubuh Ivy kian melonjak. Jemari Arthur bergerak sigap, menanggalkan sisa gaun yang membebat tubuh Ivy dan membiarkan keindahan sempurna wanita itu terekspos sepenuhnya.

Mata Arthur berkilat tajam saat memandangi Ivy. "Kau indah sekali, Ivy. Sangat mematikan."

Tangannya merayap naik, mengusap lelah dari paha dalam Ivy, melintasi lekuk pinggulnya, lalu mengunci area paling sensitif wanita itu. Ivy mendongak, dadanya berombak cepat saat jemari Arthur memberikan tekanan yang kasar, menuntunnya pada puncak ketegangan yang membuat jemari kakinya mencengkeram erat lengan sofa.

"Arthur, cepatlah," pintanya dengan hasrat yang membuncah. Ia tidak lagi menyembunyikan kerapuhan atau rasa laparnya. Ia menginginkan pria ini, iblis yang menjadi pelindungnya.

Arthur tertawa pelan yang terangsangnya begitu pekat. Pria itu dengan cepat menanggalkan pakaiannya sendiri, menunjukkan tubuh atletis dengan garis otot sempurna dan beberapa bekas luka tembak yang justru mempertegas ketampanannya yang berbahaya.

Saat Arthur menyatukan tubuh mereka dalam satu dorongan kuat dan dalam, Ivy memekik pelan, menyerap sensasi kepenuhan yang luar biasa. Tubuhnya melengkung, reflek tangannya menancapkan kuku-kukunya ke bahu kekar Arthur.

"Kau milikku, Ivy," bisik Arthur, napasnya memburu di atas ceruk leher Ivy. Pria itu bergerak dengan tempo yang lambat, tapi menghujam, membuai setiap inci kesadaran Ivy hingga wanita itu lupa akan nama dirinya sendiri.

Hentakan keras Arthur terasa begitu posesif, seolah pria itu sedang mengukir namanya di dalam jiwa Ivy. Gairah itu membakar mereka tanpa ampun, diiringi suara erangan pasrah dari Ivy dan gumaman kasar dari Arthur yang mengagumi keindahan tubuh wanita di bawahnya.

Ivy membalas setiap kecupan Arthur dengan keagresifan yang sama. Ia tidak bertindak sebagai pihak yang lemah. Ia menarik tubuh Arthur, membalas ciumannya dan menuntut gairah yang lebih liar hingga mereka berdua mencapai titik puncak secara bersamaan. Ledakan sensasi yang membuat dunia di sekitar mereka serasa runtuh.

Arthur melepaskan seluruh ketegangannya di dalam tubuh Ivy, ambruk menimpa tubuh wanita itu sambil terengah-engah. Kepala pria itu bersandar di dada Ivy yang masih kencang naik turun, seraya mendengarkan detak jantung wanita itu yang berpacu serasi dengan jantungnya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Tajam

    Di tengah latihan, Ivy menyadari ada sesuatu yang berbeda. Musik piano yang mengalun dari sistem audio mendadak berubah ritmenya menjadi lebih dramatis dan lebih gelap. Ia menoleh ke arah ruang kontrol kaca di lantai atas studio. Di sana, Arthur berdiri, menatapnya dari balik kegelapan ruangan itu.Arthur telah masuk diam-diam dan mengambil alih kendali atmosfer. Pria itu tidak hanya menonton, ia sedang mendikte tarian Ivy melalui musik.Ivy mengikuti ritme itu. Ia berputar lebih kencang, melompat lebih tinggi dan membiarkan peluh membasahi seluruh kulitnya. Di bawah tatapan obsesif Arthur, Ivy merasa seperti mahakarya yang sedang dipahat. Saat musik mencapai puncaknya dan Ivy mengakhiri gerakannya dengan posisi reverence yang sempurna, Arthur turun dari ruang kontrol."Kau terlihat sangat berbahaya saat kau sedang mencoba melampaui batasmu sendiri," puji Arthur menggema di studio yang sunyi. Ia mendekat, menyerahkan handuk putih bersih."Kau merusak jadwal latihanku dengan musik aneh

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Suapan

    "Hei, Felix bisa melihat kita dari kaca spion," bisik Ivy, meskipun jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja abu-abu suaminya."Felix dibayar mahal untuk pura-pura buta dan tuli, Sayang. Jangan khawatirkan dia." Arthur kemudian membungkam bibir Ivy dengan ciuman yang kasar.Gairah yang menyusul di dalam mobil yang bergerak membelah jalanan kota pusat itu terasa sangat intens. Arthur mendominasi Ivy dengan cara yang menegaskan bahwa meski Ivy sekarang adalah ratu yang berkuasa di Collins-Sterling, ia tetaplah mangsa yang paling dicintai oleh sang predator Sterling. Sentuhan Arthur di kulit Ivy seolah-olah sedang menghapus segala sisa stres dan kemarahan yang Ivy rasakan pagi ini."Kau sungguh monster yang paling sombong yang pernah kutemui," desah Ivy di sela-sela napasnya yang memburu."Kau juga satu-satunya orang yang berhasil membuat monster ini berlutut demi mendapatkan perhatianmu," balas Arthur penuh oleh keinginan yang tak terbendung.Setelah badai fisik itu mereda, Ivy bers

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Candu

    Uap panas masih menggantung di udara saat Ivy melangkah keluar dari bilik pancuran, kulitnya memerah dan segar dengan handuk putih tebal yang membalut tubuhnya. Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang, sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang mulai berembun. Di sana, di pangkal lehernya, sebuah tanda kemerahan hasil kerja keras Arthur tadi pagi masih tercetak jelas."Kau sengaja melakukannya di tempat yang tidak bisa ditutupi oleh kerah baju mana pun, bukan?" Ivy berseru memantul di dinding kamar mandi yang luas.Pintu kaca bergeser terbuka dan Arthur masuk dengan ketenangan seorang penguasa. Ia sudah berganti pakaian celana panjang hitam dengan potongan tajam dan kemeja abu-abu baja yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi di matanya sudah kembali ke mode predator bisnis."Itu adalah tanda peringatan untuk siapa pun di ruangan Aegis nanti agar mereka tetap menjaga jarak aman dua meter darimu," sahut Arthur datar. Ia mengambil handuk kec

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Kepuasan

    Aroma mentega yang terbakar pelan dan wangi rosemary segar menyusup masuk ke sela-sela mimpi Ivy, memaksanya untuk membuka mata lebih awal dari yang ia rencanakan. Ia meraba sisi ranjangnya, menemukan seprai sutra yang sudah dingin dan kosong. Ivy mengerang kecil, merasakan sekujur tubuhnya pegal luar biasa, kenang-kenangan dari gairah Arthur semalam yang seolah ingin membalas dendam pada jarak ribuan kilometer yang sempat memisahkan mereka.Ia bangkit, mengenakan kemeja hitam milik Arthur yang tergeletak di lantai, yang panjangnya cukup untuk menutupi paha atasnya. Dengan kaki telanjang, Ivy berjalan menuju sumber aroma itu. Di dapur minimalis yang didominasi marmer gelap, ia menemukan pemandangan yang sanggup menghentikan aliran darahnya sejenak.Arthur Sterling berdiri di depan kompor induksi. Tanpa atasan, ia hanya mengenakan celana kain hitam yang duduk rendah di pinggulnya. Otot punggungnya yang kokoh bergerak ritmis saat ia membalikkan sesuatu di atas wajan baja. Cahaya matahar

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Menggoda

    Hening yang mengendap di dalam kamar utama itu terasa jauh lebih berat daripada tekanan udara di dalam kabin jet pribadi yang baru saja Arthur tinggalkan. Pencahayaan diatur pada tingkat terendah, hanya dari lampu-lampu kecil di bawah sana yang menembus kaca raksasa, tampak memberikan siluet tajam pada tubuh dua manusia yang sedang saling mengunci pandangan.Arthur tidak melepaskan Ivy dari bawah kungkungannya. Ia menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Ivy, memerangkap istrinya di atas seprai sutra abu-abu yang dingin. Napas Arthur masih memburu, membawa aroma badai pesisir dan kerinduan yang sudah mencapai ambang batas kewarasan."Dua hari, Ivy. Empat puluh delapan jam tanpa bisa menyentuhmu. Kau tahu apa yang terjadi pada pikiranku?" Suara Arthur rendah, serak, dan bergetar oleh rasa lapar yang purba.Ivy menatap mata suaminya, jari-jarinya yang ramping merayap naik menelusuri guratan otot di lengan bawah Arthur. "Aku tahu kau terus-menerus menatap monitor biometr

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Memeluk

    "Aku memang ingin membantai mereka," geram Arthur. Ia mengamati Ivy dari layar dengan tatapan yang sangat lapar. "Kenapa kau belum pulang? Ini sudah jam sepuluh malam.""Baru jam sepuluh. Aku butuh sedikit waktu untuk mendinginkan otot. Kenapa kau tidak memakai baju?" tanya Ivy, memperhatikan bahu lebar Arthur yang terekspos di layar."Aku baru selesai mandi dan aku tidak peduli soal baju. Ivy, berdirilah. Aku ingin melihatmu."Ivy memutar bola matanya. "Arthur, aku lelah sekali. Jangan mulai lagi dengan perintah-perintah anehmu.""Berdiri, Ivy. Atau aku akan memerintahkan pilot pribadiku untuk menerbangkan jet ke sana sekarang juga dan aku tidak peduli jika aku harus meninggalkan kontrak miliaran dolar ini."Ivy mendesah, tapi ia tetap berdiri. Ia tahu Arthur tidak pernah menggertak. Ia berdiri di tengah studio kosong, menatap kamera ponselnya dengan wajah menantang. "Puas? Aku masih utuh, tidak ada yang berkurang.""Berputar," perintah Arthur lagi.Ivy melakukan putaran lambat. Arth

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status