LOGIN"Tembak dia, Arthur."
Dua kata itu meluncur dari bibir Ivy tanpa keraguan. Nadanya dingin, sekeras baja seperti meluruhkan sisa air mata yang tadi sempat singgah di pipinya. Rasa sakit atas pengkhianatan Liam dan Chloe, dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya, telah menguap, berganti menjadi jelaga kehitaman yang membakar habis nuraninya. Arthur menatap Ivy selama beberapa detik. Seringai tipis dan kebanggaan langsung terbit di bibirnya. Tanpa membuang kata, pria itu mengarahkan moncong pistolnya tepat ke celah jendela. Dor! Satu dentuman keras menggelegar. Di luar sana, Liam tersungkur di tanah sambil mencengkeram lututnya yang tertembak. Jeritan histeris seorang wanita memecah udara, itu adalah Chloe. Perempuan yang Ivy anggap sahabat terdekatnya itu berlari keluar dari semak-semak, berlutut panik sambil memeluk tubuh Liam yang bersimbah darah. "Ivy! Tolong kami! Jangan bunuh dia!" teriak Chloe, matanya bergerak liar menyapu kegelapan gedung tempat Ivy bersembunyi. "Biar aku yang menyelesaikan ini," bisik Ivy. Ia memungut jas Arthur yang terjatuh, mengenakannya untuk menutup bagian gaunnya yang merosot. Jemari Ivy menyambar pistol cadangan dari holster cadangan di pinggang Arthur. Ia tidak ragu. Ia merapikan gaunnya, berjalan menembus kabut asap yang masih mengepul dari ledakan pintu. Arthur mengiringi di sampingnya bagaikan pelindung pribadi yang siap menerkam siapa pun yang berani menyenggol wanita itu. Langkah kaki Ivy begitu percaya diri saat ia keluar ke halaman terbuka gedung Cotswolds. Angin malam berembus kencang, menerbangkan rambut hitamnya yang bergelombang. Di tanah, Liam merangkak ketakutan, sementara Chloe menangis sesenggukan sambil mencoba menjadi tameng bagi kekasihnya. "Ivy! Demi Tuhan, ini aku! Chloe!" ucap perempuan itu, wajahnya pucat pasi melihat tatapan kosong namun mematikan dari Ivy. "Kami terpaksa! Julian Vane menekan Liam! Kami tidak bermaksud menghancurkan hidupmu!" Ivy berhenti tepat dua meter di hadapan pasangan itu. Posisinya begitu dominan. Ia tidak lagi memandang mereka dengan tatapan korban yang teraniaya, tapi sebagai sosok pemilik takdir mereka. "Kau membual, Chloe," jawab Ivy dingin. "Kau merancang gaun pengantinmu menggunakan uang perusahaan milikku. Kau tidur dengan tunanganku di penthouse milikku, sementara aku bekerja belasan jam sehari untuk memastikan bisnismu tidak bangkrut." "Ivy, maafkan aku! Aku mencintaimu, Ivy!" Liam memohon dengan suara serak seraya mencengkeram ujung sepatu Ivy dengan jemarinya yang berdarah. "Jangan biarkan Sterling membunuhku! Dia monster!" Crac! Ivy menghentakkan tumit sepatunya tepat ke atas buku-buku jari Liam. Bunyi remukan tulang beradu dengan jeritan melengking pria itu. Ivy bahkan tidak berkedip. "Kau salah, Liam," desis Ivy, menunduk hingga tatapannya mengunci manik mata Liam yang dipenuhi ketakutan. "Monster sebenarnya berdiri di atas jarimu saat ini. Tempatmu bukan lagi di hatiku, tapi di bawah telapak kakiku." Julian Vane yang muncul dari balik pepohonan hendak mengarahkan senjatanya ke kepala Ivy, tapi sebelum pria tua itu sempat menarik pelatuk, senapan mesin ringan pasukan khusus Arthur menyerbu dari kejauhan. Julian roboh seketika, tertembak beruntun dan menyisakan anak buahnya yang berhamburan dalam kepanikan. Layar ponsel di saku jas Arthur berdering keras. Layar helikopter tempur Sterling Group melintas di atas kepala mereka dam menurunkan tangga darurat. "Bawa mereka berdua hidup-hidup ke markas," perintah Arthur pada tim keamanannya yang memagari mereka. "Biarkan mereka menyaksikan wanita ini mengambil kembali seluruh kekuasaan finansial Vane dan Sterling esok pagi." Tanpa membuang waktu, Arthur merangkul pinggang Ivy, menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukannya saat helikopter membawa mereka membumbung tinggi, lalu meninggalkan kehancuran gedung Cotswolds yang perlahan terbakar. *** Penthouse pribadi Arthur di lantai teratas Sterling Tower menyajikan pemandangan kota yang diterangi gemerlap lampu malam. Suasana di dalam ruang utama begitu senyap, hanya diwarnai detak jantung dua insan yang baru saja selamat dari medan pembantaian. Ivy berdiri di depan kaca jendela raksasa untuk menatap pantulan dirinya. Gaun sutranya terkoyak di bagian samping dan memperlihatkan paha mulusnya. Bekas goresan tipis di lehernya masih menyisakan rona merah. Arthur mendekat dari belakang. Pria itu sudah melepas dasinya, menyisakan kemeja hitam berlengan panjang yang tergulung hingga siku. Tangannya yang hangat dan berotot melingkar di pinggang Ivy, menarik punggung wanita itu menyatu dengan dada bidangnya. "Kau luar biasa malam ini, Collins," bisik Arthur, bibirnya menggesek lembut kulit sensitif di belakang telinga Ivy. Ivy memejamkan mata, merasakan getaran suara bariton Arthur yang merambat ke seluruh saraf tubuhnya. Hasrat yang sempat tertunda di gedung Cotswolds mendadak membakar kembali pembuluh darahnya. Ia berbalik dalam pelukan Arthur, menatap mata kelam pria itu yang penuh obsesi gelap. "Aku bukan lagi asistenmu," ucap Ivy, jemarinya menyusup ke sela-sela rambut hitam tebal Arthur, menarik kepala pria itu mendekat. "Aku pemilik setengah dari kekayaanmu sekarang." "Kau bisa memiliki seluruh kekayaanku, seluruh jiwaku, jika kau mau," balas Arthur menyapu bibir Ivy. "Sementara tubuh ini, malam ini, kau harus tunduk padaku." Tanpa memberikan kesempatan bagi Ivy untuk menjawab, Arthur membungkam bibir wanita itu dengan ciuman. Bukan ciuman lembut yang menenangkan, tapi penuh gairah liar yang sudah menumpuk selama dua tahun. Ivy merintih pelan saat jemari besar Arthur mencengkeram pinggulnya, lalu mengangkat tubuhnya dengan mudah hingga posisi Ivy sejajar dengannya. Ivy melingkarkan kedua kakinya di pinggang kokoh Arthur, menyatukan dada mereka yang bertabrakan panas. Arthur melangkah menuju sofa hitam tanpa memutuskan ciumannya. Pria itu menghempaskan Ivy ke atas permukaan yang dingin, tapi itu justru membuat suhu tubuh Ivy kian melonjak. Jemari Arthur bergerak sigap, menanggalkan sisa gaun yang membebat tubuh Ivy dan membiarkan keindahan sempurna wanita itu terekspos sepenuhnya. Mata Arthur berkilat tajam saat memandangi Ivy. "Kau indah sekali, Ivy. Sangat mematikan." Tangannya merayap naik, mengusap lelah dari paha dalam Ivy, melintasi lekuk pinggulnya, lalu mengunci area paling sensitif wanita itu. Ivy mendongak, dadanya berombak cepat saat jemari Arthur memberikan tekanan yang kasar, menuntunnya pada puncak ketegangan yang membuat jemari kakinya mencengkeram erat lengan sofa. "Arthur, cepatlah," pintanya dengan hasrat yang membuncah. Ia tidak lagi menyembunyikan kerapuhan atau rasa laparnya. Ia menginginkan pria ini, iblis yang menjadi pelindungnya. Arthur tertawa pelan yang terangsangnya begitu pekat. Pria itu dengan cepat menanggalkan pakaiannya sendiri, menunjukkan tubuh atletis dengan garis otot sempurna dan beberapa bekas luka tembak yang justru mempertegas ketampanannya yang berbahaya. Saat Arthur menyatukan tubuh mereka dalam satu dorongan kuat dan dalam, Ivy memekik pelan, menyerap sensasi kepenuhan yang luar biasa. Tubuhnya melengkung, reflek tangannya menancapkan kuku-kukunya ke bahu kekar Arthur. "Kau milikku, Ivy," bisik Arthur, napasnya memburu di atas ceruk leher Ivy. Pria itu bergerak dengan tempo yang lambat, tapi menghujam, membuai setiap inci kesadaran Ivy hingga wanita itu lupa akan nama dirinya sendiri. Hentakan keras Arthur terasa begitu posesif, seolah pria itu sedang mengukir namanya di dalam jiwa Ivy. Gairah itu membakar mereka tanpa ampun, diiringi suara erangan pasrah dari Ivy dan gumaman kasar dari Arthur yang mengagumi keindahan tubuh wanita di bawahnya. Ivy membalas setiap kecupan Arthur dengan keagresifan yang sama. Ia tidak bertindak sebagai pihak yang lemah. Ia menarik tubuh Arthur, membalas ciumannya dan menuntut gairah yang lebih liar hingga mereka berdua mencapai titik puncak secara bersamaan. Ledakan sensasi yang membuat dunia di sekitar mereka serasa runtuh. Arthur melepaskan seluruh ketegangannya di dalam tubuh Ivy, ambruk menimpa tubuh wanita itu sambil terengah-engah. Kepala pria itu bersandar di dada Ivy yang masih kencang naik turun, seraya mendengarkan detak jantung wanita itu yang berpacu serasi dengan jantungnya."Tembak dia, Arthur." Dua kata itu meluncur dari bibir Ivy tanpa keraguan. Nadanya dingin, sekeras baja seperti meluruhkan sisa air mata yang tadi sempat singgah di pipinya. Rasa sakit atas pengkhianatan Liam dan Chloe, dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya, telah menguap, berganti menjadi jelaga kehitaman yang membakar habis nuraninya. Arthur menatap Ivy selama beberapa detik. Seringai tipis dan kebanggaan langsung terbit di bibirnya. Tanpa membuang kata, pria itu mengarahkan moncong pistolnya tepat ke celah jendela. Dor! Satu dentuman keras menggelegar. Di luar sana, Liam tersungkur di tanah sambil mencengkeram lututnya yang tertembak. Jeritan histeris seorang wanita memecah udara, itu adalah Chloe. Perempuan yang Ivy anggap sahabat terdekatnya itu berlari keluar dari semak-semak, berlutut panik sambil memeluk tubuh Liam yang bersimbah darah. "Ivy! Tolong kami! Jangan bunuh dia!" teriak Chloe, matanya bergerak liar menyapu kegelapan gedung tempat Ivy bersembunyi. "Bi
Arthur menangkap kedua pergelangan tangan Ivy dengan satu tangan, menguncinya di atas kepala Ivy. Napas mereka berdua memburu, bersahutan di ruangan yang sempit dan panas itu. Suhu udara seolah naik beberapa derajat. "Kau pikir aku tidak paham? Kau pikir aku menikmati melihat pria tua itu menatapmu seolah kau adalah miliknya? Kau pikir aku suka melihat tangan-tangan kotor itu menyentuh kulitmu?" "Lalu kenapa kau melakukannya?!" Ivy berteriak tertahan, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Arthur. "Karena aku harus mengakhiri ini, Ivy!" Arthur menggeram. Dia melepaskan tangan Ivy, tapi bukannya menjauh, dia justru mencengkeram rahang Ivy dengan kasar. "Aku melakukannya karena itu satu-satunya cara untuk menarik Julian keluar dari lubangnya. Sekarang, di tengah semua kekacauan ini, kau masih saja mencoba melawanku?" Mata mereka bertemu dalam kegelapan yang remang. Ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang benci, tapi sesuatu yang jauh lebih posesif. Rasa takut akan kemat
Ivy merasa darahnya mendidih. Dia hendak membuka mulut untuk membela diri, tapi Arthur lebih cepat. "Hati-hati dengan ucapanmu, Elena." Suara Arthur sangat rendah yang membuat orang di sekitarnya berhenti bernapas. "Atau aku akan memastikan sisa aset keluarga Vance yang masih ada di bursa saham lenyap sebelum fajar. Lalu soal Liam, katakan padanya, jika dia berani mendekati Ivy lagi, aku tidak akan hanya mengirimnya ke jalanan. Aku akan mengirimnya ke liang lahat." Elena ternganga, wajahnya merah padam karena malu dan marah. Dia berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan mereka di tengah perhatian tamu lainnya. "Terima kasih," bisik Ivy, merasa sedikit lega. "Jangan berterima kasih. Aku melakukannya untuk reputasiku, bukan untukmu," sahut Arthur dingin, matanya terus menyapu ruangan seolah mencari mangsa. Tiba-tiba, kerumunan di ujung ruangan terbelah. Seorang pria tua dengan rambut perak dan jas hitam klasik berjalan perlahan menuju mereka. Dia tidak terlihat sepe
Arthur menatap bibir Ivy, lalu kembali ke matanya. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajahnya yang dingin. Dia menegakkan tubuh, melepaskan bahu Ivy dan kembali ke sisi meja yang lain. "Kebencian dan gairah hanya dipisahkan oleh selembar kertas tipis, Ivy. Kita lihat berapa lama kau bisa mempertahankan dinding itu." Arthur mengambil ponselnya yang bergetar. "Satu hal lagi. Saat di Cotswolds nanti, jika kau melihat seorang pria bernama Julian Vane, jangan pernah lepaskan tanganku." Ivy mengerutkan kening, rasa penasarannya terusik di balik rasa sakitnya. "Siapa Julian Vane?" Arthur berhenti di pintu ruangan, membelakangi Ivy. Bahunya tampak kaku, dan Ivy melihat celah dalam topeng ketenangan pria itu. "Dia adalah pria yang membunuh ayahku," ucap Arthur dingin tanpa menoleh. "Alasan sebenarnya kenapa aku memilihmu dari sekian banyak wanita, adalah karena kau memiliki sesuatu yang sangat dia inginkan." Ivy terpaku di kursinya, kopi hitamnya kini sudah dingin.
"Liam bukan pecandu judi! Dia hanya ...." Ivy terhenti. Dia sadar dia masih mencoba membela pria yang baru saja mengkhianatinya."Dia adalah sampah. Mulai sekarang, kau akan belajar untuk memiliki selera yang lebih baik." Arthur memerintahkan sopirnya untuk melaju ke kawasan elite Chelsea.Apartemen Arthur adalah sebuah penthouse dua lantai dengan pemandangan Sungai Thames yang menakjubkan. Minimalis, maskulin, dan sangat sepi."Kamar tidurmu ada di lantai atas, sebelah kanan. Kamarku ada di paling ujung. Jangan masuk ke sana kecuali aku memintamu." Arthur berjalan menuju bar pribadinya, menuangkan wiski tanpa menawarkan pada Ivy.Ivy berdiri di tengah ruang tamu yang luas, merasa sangat kecil. Kelelahan fisik dan mental akhirnya menghantamnya sekaligus."Kenapa Anda melakukan ini, Sir? Maksud saya, benar-benar melakukannya? Anda bisa mendapatkan siapa saja. Kenapa harus saya yang sedang berantakan?"Arthur menyesap wiskinya, menatap Ivy dari balik gelasnya. Matanya berkilat dengan se
"Ivy, maafkan aku, aku tidak bermaksud—" Chloe mencoba bicara, tapi Ivy mengangkat tangannya."Keluar sekarang juga. Sebelum aku menggunakan botol ini untuk melakukan sesuatu yang akan membuatmu kehilangan wajah cantikmu yang palsu itu," perintah Ivy tegas.Mereka tidak butuh waktu lama. Liam dan Chloe berebut memakai pakaian mereka yang berserakan di lantai, tampak seperti pengecut yang lari dari medan perang. Dalam tiga menit, apartemen itu kembali sunyi.Begitu pintu depan tertutup, Ivy menjatuhkan botol sampanye itu ke lantai. Botol itu pecah, cairannya membanjiri karpet. Ivy jatuh terduduk di tepi tempat tidur, air mata mulai mengalir deras tanpa suara. Dia merasa kotor. Dia merasa hancur.Tiba-tiba, ponsel di saku mantelnya bergetar. Sebuah nomor yang sangat ia kenal. Arthur Sterling.Ivy mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Halo?""Collins." Suara Arthur terdengar tajam di seberang sana. "Aku meninggalkan jam tanganku di mejamu. Bawakan ke hotelku sekarang. Aku punya rapat men







