Share

Kalung

Author: Purplexyiii
last update publish date: 2026-08-23 18:30:50

Arthur menatap bibir Ivy, lalu kembali ke matanya. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajahnya yang dingin. Dia menegakkan tubuh, melepaskan bahu Ivy dan kembali ke sisi meja yang lain.

"Kebencian dan gairah hanya dipisahkan oleh selembar kertas tipis, Ivy. Kita lihat berapa lama kau bisa mempertahankan dinding itu." Arthur mengambil ponselnya yang bergetar. "Satu hal lagi. Saat di Cotswolds nanti, jika kau melihat seorang pria bernama Julian Vane, jangan pernah lepaskan tanganku."

Ivy mengerutkan kening, rasa penasarannya terusik di balik rasa sakitnya. "Siapa Julian Vane?"

Arthur berhenti di pintu ruangan, membelakangi Ivy. Bahunya tampak kaku, dan Ivy melihat celah dalam topeng ketenangan pria itu.

"Dia adalah pria yang membunuh ayahku," ucap Arthur dingin tanpa menoleh. "Alasan sebenarnya kenapa aku memilihmu dari sekian banyak wanita, adalah karena kau memiliki sesuatu yang sangat dia inginkan."

Ivy terpaku di kursinya, kopi hitamnya kini sudah dingin. "Apa? Apa yang saya miliki?"

Arthur menoleh sedikit, matanya berkilat dengan sesuatu yang menyerupai obsesi. "Kau memiliki darah yang sama dengan istrinya yang melarikan diri dua puluh tahun lalu."

Keheningan di dalam penthouse itu setelah pengakuan Arthur terasa jauh lebih berat daripada pengkhianatan Liam. Ivy terpaku, jantungnya berdegup melawan rusuk seolah ingin melarikan diri. Darah yang sama? Istri Julian Vane?

"Apa maksud Anda, Sir?" Suara Ivy akhirnya keluar, hampir tak terdengar. "Ibu saya hanya seorang guru musik dari pinggiran London. Ayah saya meninggal dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun lalu. Kami tidak punya hubungan dengan orang-orang seperti Julian Vane."

Arthur berjalan menuju pintu, berhenti sejenak dengan tangan di gagang pintu tanpa menoleh. "Pakai gaun yang ada di tempat tidurmu, Collins. Penata rias akan tiba sepuluh menit lagi. Jangan banyak bertanya jika kau belum siap mendengar jawaban yang akan menghancurkan ingatan manismu tentang ayahmu."

Pintu tertutup dengan dentuman pelan namun final. Ivy merasa lututnya lemas. Dia menatap kopi hitamnya yang kini benar-benar dingin, memikirkan ibunya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Apakah selama ini ada rahasia besar yang disembunyikan darinya?

Sepuluh menit kemudian, dunianya berubah menjadi pusaran sutra, bedak, dan aroma parfum mahal. Tiga orang penata rias bergerak dengan efisiensi militer di kamar Ivy. Mereka tidak banyak bicara, seolah diperintahkan untuk hanya fokus pada transformasi fisik Ivy.

Gaun yang dipilihkan Arthur adalah maha karya berwarna burgundy. Bahunya terbuka, dengan potongan sweetheart neckline yang menonjolkan tulang selangka Ivy yang indah. Kain sutranya memeluk lekuk tubuh Ivy dengan sangat sempurna hingga Ivy merasa seolah ia mengenakan kulit kedua. Gaun itu tidak hanya mewah, itu adalah pernyataan perang yang dibungkus dalam keanggunan.

"Selesai, Miss," ucap salah satu penata rias sambil memberikan cermin kecil.

Ivy menatap pantulannya. Rambut cokelatnya ditata dalam sanggul modern yang sedikit longgar di tengkuk, menyisakan beberapa helai untuk membingkai wajahnya yang kini tampak tirus namun tajam. Riasan matanya smokey dengan sentuhan emas, membuat matanya tampak lebih dalam dan misterius. Dia tidak lagi terlihat seperti asisten yang kelelahan. Dia terlihat seperti wanita yang sanggup membakar sebuah kota.

Pintu kamar terbuka. Arthur berdiri di sana, sudah mengenakan jas hitam yang dijahit sempurna. Dia berhenti di ambang pintu, matanya yang kelabu menyapu tubuh Ivy dengan intensitas yang membuat kulit Ivy terasa panas.

"Berdirilah," perintah Arthur.

Ivy berdiri, menantang tatapan pria itu. Arthur berjalan mendekat, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari saku jasnya. Di dalamnya terdapat kalung berlian dengan batu besar di tengahnya.

"Berbaliklah," bisik Arthur.

Ivy menurut, membelakangi pria itu. Dia bisa merasakan napas hangat Arthur di tengkuknya saat pria itu menyampingkan helai rambutnya yang tersisa. Jemari Arthur yang dingin menyentuh kulit bahu Ivy, memasangkan kalung itu. Sentuhan itu singkat, tapi Ivy bisa merasakan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafnya.

"Ini milik ibuku," ucap Arthur rendah di telinga Ivy. "Dia memakainya saat terakhir kali aku melihatnya hidup, sebelum Julian Vane menghancurkan keluarga kami. Jangan hilangkan ini, Collins. Atau kau tidak akan mampu membayar harganya bahkan jika kau bekerja untukku selama sepuluh nyawa."

"Kenapa memberikannya padaku jika ini begitu berharga?" Ivy berbalik, menatap Arthur tepat di matanya.

Arthur mengusap rahang Ivy dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang tampak posesif sekaligus mengancam. "Karena malam ini, kau bukan hanya tunanganku. Kau adalah umpan yang paling berkilau di ruangan itu. Aku ingin Julian Vane melihat perhiasan ibuku di leher wanita yang memiliki wajah persis seperti wanita yang dia cintai dan dia khianati."

"Ibu saya?" Ivy mendesak. "Apakah ibu saya adalah istri Julian Vane yang melarikan diri?"

Arthur terdiam sejenak, matanya berkilat dingin. "Ibunya Julian Vane adalah seorang wanita yang pintar melarikan diri, tapi ayahmu, pria yang kau anggap pahlawan itu, sebenarnya adalah orang yang menculiknya dari Julian. Kecelakaan pesawat itu? Itu bukan kecelakaan. Itu adalah upaya pembunuhan yang dilakukan Julian untuk mengambil kembali apa yang menurutnya miliknya."

Dunia Ivy seolah miring. "Tidak, itu tidak mungkin. Ayah saya mencintai ibu saya."

"Cinta adalah kata yang bagus untuk menutupi obsesi, Collins. Ayo pergi. Kita sudah terlambat."

Perjalanan menuju Cotswolds ditempuh dalam keheningan yang menyesakkan di dalam Bentley. Ivy menatap keluar jendela, mencoba memproses setiap informasi yang Arthur lemparkan. Jika apa yang dikatakan Arthur benar, maka seluruh hidupnya adalah kebohongan. Ayahnya adalah seorang penculik? Lalu ibunya adalah pelarian dari seorang monster bernama Julian Vane?

Mobil melambat saat memasuki gerbang perkebunan Harrington. Itu adalah sebuah rumah besar bergaya Georgia dengan halaman yang sangat luas, dipenuhi dengan mobil-mobil mewah dan orang-orang yang berpakaian sangat formal.

Arthur turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Ivy. Dia mengulurkan tangannya, dan Ivy ragu sejenak sebelum meletakkan tangannya di atas lengan Arthur.

"Ingat," bisik Arthur saat mereka berjalan menuju pintu masuk utama yang dijaga ketat. "Jangan lepaskan tanganku. Jangan bicara pada siapa pun kecuali aku mengizinkanmu. Jika kau melihat seorang pria tua dengan bekas luka kecil di alis kirinya, jangan menatap matanya terlalu lama."

Begitu mereka masuk ke dalam ballroom yang megah, musik orkestra menyambut mereka. Ratusan pasang mata seketika tertuju pada mereka. Arthur Sterling, sang raja bisnis yang tak tersentuh, akhirnya muncul dengan seorang wanita di lengannya.

Bisik-bisik mulai terdengar di antara denting gelas alkohol. Ivy bisa merasakan tatapan menghakimi, iri, dan penasaran.

"Arthur, Sayang! Aku pikir kau tidak akan datang!" Sebuah suara wanita yang melengking memecah kerumunan.

Elena Vance muncul dari balik kerumunan. Dia mengenakan gaun biru yang sangat terbuka dan rambut pirangnya tertata sempurna. Dia cantik dengan cara yang tajam dan agresif. Matanya langsung tertuju pada Ivy, lebih tepatnya pada kalung di leher Ivy.

Wajah Elena seketika berubah pucat, lalu mengeras karena amarah yang tertahan. "Kalung itu milik Lady Sterling. Bagaimana bisa kau memberikannya pada asisten kecil ini, Arthur?"

Arthur menarik Ivy lebih dekat, melingkarkan tangannya di pinggang Ivy dengan sangat posesif. "Dia bukan asistenku lagi, Elena. Ivy adalah tunanganku. Kalung ini adalah milik wanita yang akan menjadi Lady Sterling berikutnya."

Elena tertawa getir, matanya berkilat penuh kebencian ke arah Ivy. "Tunangan? Kau pasti bercanda. Kau hanya menggunakan jalang kecil ini untuk membalas dendam pada keluargaku karena kegagalan akuisisi itu, bukan? Aku tahu siapa dia, Arthur. Dia adalah mainan sepupuku, Liam. Dia bekas Liam!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Tunduk

    "Tembak dia, Arthur." Dua kata itu meluncur dari bibir Ivy tanpa keraguan. Nadanya dingin, sekeras baja seperti meluruhkan sisa air mata yang tadi sempat singgah di pipinya. Rasa sakit atas pengkhianatan Liam dan Chloe, dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya, telah menguap, berganti menjadi jelaga kehitaman yang membakar habis nuraninya. Arthur menatap Ivy selama beberapa detik. Seringai tipis dan kebanggaan langsung terbit di bibirnya. Tanpa membuang kata, pria itu mengarahkan moncong pistolnya tepat ke celah jendela. Dor! Satu dentuman keras menggelegar. Di luar sana, Liam tersungkur di tanah sambil mencengkeram lututnya yang tertembak. Jeritan histeris seorang wanita memecah udara, itu adalah Chloe. Perempuan yang Ivy anggap sahabat terdekatnya itu berlari keluar dari semak-semak, berlutut panik sambil memeluk tubuh Liam yang bersimbah darah. "Ivy! Tolong kami! Jangan bunuh dia!" teriak Chloe, matanya bergerak liar menyapu kegelapan gedung tempat Ivy bersembunyi. "Bi

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Gairah

    Arthur menangkap kedua pergelangan tangan Ivy dengan satu tangan, menguncinya di atas kepala Ivy. Napas mereka berdua memburu, bersahutan di ruangan yang sempit dan panas itu. Suhu udara seolah naik beberapa derajat. "Kau pikir aku tidak paham? Kau pikir aku menikmati melihat pria tua itu menatapmu seolah kau adalah miliknya? Kau pikir aku suka melihat tangan-tangan kotor itu menyentuh kulitmu?" "Lalu kenapa kau melakukannya?!" Ivy berteriak tertahan, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Arthur. "Karena aku harus mengakhiri ini, Ivy!" Arthur menggeram. Dia melepaskan tangan Ivy, tapi bukannya menjauh, dia justru mencengkeram rahang Ivy dengan kasar. "Aku melakukannya karena itu satu-satunya cara untuk menarik Julian keluar dari lubangnya. Sekarang, di tengah semua kekacauan ini, kau masih saja mencoba melawanku?" Mata mereka bertemu dalam kegelapan yang remang. Ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang benci, tapi sesuatu yang jauh lebih posesif. Rasa takut akan kemat

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Sandiwara

    Ivy merasa darahnya mendidih. Dia hendak membuka mulut untuk membela diri, tapi Arthur lebih cepat. "Hati-hati dengan ucapanmu, Elena." Suara Arthur sangat rendah yang membuat orang di sekitarnya berhenti bernapas. "Atau aku akan memastikan sisa aset keluarga Vance yang masih ada di bursa saham lenyap sebelum fajar. Lalu soal Liam, katakan padanya, jika dia berani mendekati Ivy lagi, aku tidak akan hanya mengirimnya ke jalanan. Aku akan mengirimnya ke liang lahat." Elena ternganga, wajahnya merah padam karena malu dan marah. Dia berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan mereka di tengah perhatian tamu lainnya. "Terima kasih," bisik Ivy, merasa sedikit lega. "Jangan berterima kasih. Aku melakukannya untuk reputasiku, bukan untukmu," sahut Arthur dingin, matanya terus menyapu ruangan seolah mencari mangsa. Tiba-tiba, kerumunan di ujung ruangan terbelah. Seorang pria tua dengan rambut perak dan jas hitam klasik berjalan perlahan menuju mereka. Dia tidak terlihat sepe

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Kalung

    Arthur menatap bibir Ivy, lalu kembali ke matanya. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di wajahnya yang dingin. Dia menegakkan tubuh, melepaskan bahu Ivy dan kembali ke sisi meja yang lain. "Kebencian dan gairah hanya dipisahkan oleh selembar kertas tipis, Ivy. Kita lihat berapa lama kau bisa mempertahankan dinding itu." Arthur mengambil ponselnya yang bergetar. "Satu hal lagi. Saat di Cotswolds nanti, jika kau melihat seorang pria bernama Julian Vane, jangan pernah lepaskan tanganku." Ivy mengerutkan kening, rasa penasarannya terusik di balik rasa sakitnya. "Siapa Julian Vane?" Arthur berhenti di pintu ruangan, membelakangi Ivy. Bahunya tampak kaku, dan Ivy melihat celah dalam topeng ketenangan pria itu. "Dia adalah pria yang membunuh ayahku," ucap Arthur dingin tanpa menoleh. "Alasan sebenarnya kenapa aku memilihmu dari sekian banyak wanita, adalah karena kau memiliki sesuatu yang sangat dia inginkan." Ivy terpaku di kursinya, kopi hitamnya kini sudah dingin.

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Iblis

    "Liam bukan pecandu judi! Dia hanya ...." Ivy terhenti. Dia sadar dia masih mencoba membela pria yang baru saja mengkhianatinya."Dia adalah sampah. Mulai sekarang, kau akan belajar untuk memiliki selera yang lebih baik." Arthur memerintahkan sopirnya untuk melaju ke kawasan elite Chelsea.Apartemen Arthur adalah sebuah penthouse dua lantai dengan pemandangan Sungai Thames yang menakjubkan. Minimalis, maskulin, dan sangat sepi."Kamar tidurmu ada di lantai atas, sebelah kanan. Kamarku ada di paling ujung. Jangan masuk ke sana kecuali aku memintamu." Arthur berjalan menuju bar pribadinya, menuangkan wiski tanpa menawarkan pada Ivy.Ivy berdiri di tengah ruang tamu yang luas, merasa sangat kecil. Kelelahan fisik dan mental akhirnya menghantamnya sekaligus."Kenapa Anda melakukan ini, Sir? Maksud saya, benar-benar melakukannya? Anda bisa mendapatkan siapa saja. Kenapa harus saya yang sedang berantakan?"Arthur menyesap wiskinya, menatap Ivy dari balik gelasnya. Matanya berkilat dengan se

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Tawaran

    "Ivy, maafkan aku, aku tidak bermaksud—" Chloe mencoba bicara, tapi Ivy mengangkat tangannya."Keluar sekarang juga. Sebelum aku menggunakan botol ini untuk melakukan sesuatu yang akan membuatmu kehilangan wajah cantikmu yang palsu itu," perintah Ivy tegas.Mereka tidak butuh waktu lama. Liam dan Chloe berebut memakai pakaian mereka yang berserakan di lantai, tampak seperti pengecut yang lari dari medan perang. Dalam tiga menit, apartemen itu kembali sunyi.Begitu pintu depan tertutup, Ivy menjatuhkan botol sampanye itu ke lantai. Botol itu pecah, cairannya membanjiri karpet. Ivy jatuh terduduk di tepi tempat tidur, air mata mulai mengalir deras tanpa suara. Dia merasa kotor. Dia merasa hancur.Tiba-tiba, ponsel di saku mantelnya bergetar. Sebuah nomor yang sangat ia kenal. Arthur Sterling.Ivy mengangkatnya dengan tangan gemetar. "Halo?""Collins." Suara Arthur terdengar tajam di seberang sana. "Aku meninggalkan jam tanganku di mejamu. Bawakan ke hotelku sekarang. Aku punya rapat men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status