로그인Di tengah latihan, Ivy menyadari ada sesuatu yang berbeda. Musik piano yang mengalun dari sistem audio mendadak berubah ritmenya menjadi lebih dramatis dan lebih gelap. Ia menoleh ke arah ruang kontrol kaca di lantai atas studio. Di sana, Arthur berdiri, menatapnya dari balik kegelapan ruangan itu.Arthur telah masuk diam-diam dan mengambil alih kendali atmosfer. Pria itu tidak hanya menonton, ia sedang mendikte tarian Ivy melalui musik.Ivy mengikuti ritme itu. Ia berputar lebih kencang, melompat lebih tinggi dan membiarkan peluh membasahi seluruh kulitnya. Di bawah tatapan obsesif Arthur, Ivy merasa seperti mahakarya yang sedang dipahat. Saat musik mencapai puncaknya dan Ivy mengakhiri gerakannya dengan posisi reverence yang sempurna, Arthur turun dari ruang kontrol."Kau terlihat sangat berbahaya saat kau sedang mencoba melampaui batasmu sendiri," puji Arthur menggema di studio yang sunyi. Ia mendekat, menyerahkan handuk putih bersih."Kau merusak jadwal latihanku dengan musik aneh
"Hei, Felix bisa melihat kita dari kaca spion," bisik Ivy, meskipun jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja abu-abu suaminya."Felix dibayar mahal untuk pura-pura buta dan tuli, Sayang. Jangan khawatirkan dia." Arthur kemudian membungkam bibir Ivy dengan ciuman yang kasar.Gairah yang menyusul di dalam mobil yang bergerak membelah jalanan kota pusat itu terasa sangat intens. Arthur mendominasi Ivy dengan cara yang menegaskan bahwa meski Ivy sekarang adalah ratu yang berkuasa di Collins-Sterling, ia tetaplah mangsa yang paling dicintai oleh sang predator Sterling. Sentuhan Arthur di kulit Ivy seolah-olah sedang menghapus segala sisa stres dan kemarahan yang Ivy rasakan pagi ini."Kau sungguh monster yang paling sombong yang pernah kutemui," desah Ivy di sela-sela napasnya yang memburu."Kau juga satu-satunya orang yang berhasil membuat monster ini berlutut demi mendapatkan perhatianmu," balas Arthur penuh oleh keinginan yang tak terbendung.Setelah badai fisik itu mereda, Ivy bers
Uap panas masih menggantung di udara saat Ivy melangkah keluar dari bilik pancuran, kulitnya memerah dan segar dengan handuk putih tebal yang membalut tubuhnya. Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang, sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang mulai berembun. Di sana, di pangkal lehernya, sebuah tanda kemerahan hasil kerja keras Arthur tadi pagi masih tercetak jelas."Kau sengaja melakukannya di tempat yang tidak bisa ditutupi oleh kerah baju mana pun, bukan?" Ivy berseru memantul di dinding kamar mandi yang luas.Pintu kaca bergeser terbuka dan Arthur masuk dengan ketenangan seorang penguasa. Ia sudah berganti pakaian celana panjang hitam dengan potongan tajam dan kemeja abu-abu baja yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi di matanya sudah kembali ke mode predator bisnis."Itu adalah tanda peringatan untuk siapa pun di ruangan Aegis nanti agar mereka tetap menjaga jarak aman dua meter darimu," sahut Arthur datar. Ia mengambil handuk kec
Aroma mentega yang terbakar pelan dan wangi rosemary segar menyusup masuk ke sela-sela mimpi Ivy, memaksanya untuk membuka mata lebih awal dari yang ia rencanakan. Ia meraba sisi ranjangnya, menemukan seprai sutra yang sudah dingin dan kosong. Ivy mengerang kecil, merasakan sekujur tubuhnya pegal luar biasa, kenang-kenangan dari gairah Arthur semalam yang seolah ingin membalas dendam pada jarak ribuan kilometer yang sempat memisahkan mereka.Ia bangkit, mengenakan kemeja hitam milik Arthur yang tergeletak di lantai, yang panjangnya cukup untuk menutupi paha atasnya. Dengan kaki telanjang, Ivy berjalan menuju sumber aroma itu. Di dapur minimalis yang didominasi marmer gelap, ia menemukan pemandangan yang sanggup menghentikan aliran darahnya sejenak.Arthur Sterling berdiri di depan kompor induksi. Tanpa atasan, ia hanya mengenakan celana kain hitam yang duduk rendah di pinggulnya. Otot punggungnya yang kokoh bergerak ritmis saat ia membalikkan sesuatu di atas wajan baja. Cahaya matahar
Hening yang mengendap di dalam kamar utama itu terasa jauh lebih berat daripada tekanan udara di dalam kabin jet pribadi yang baru saja Arthur tinggalkan. Pencahayaan diatur pada tingkat terendah, hanya dari lampu-lampu kecil di bawah sana yang menembus kaca raksasa, tampak memberikan siluet tajam pada tubuh dua manusia yang sedang saling mengunci pandangan.Arthur tidak melepaskan Ivy dari bawah kungkungannya. Ia menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Ivy, memerangkap istrinya di atas seprai sutra abu-abu yang dingin. Napas Arthur masih memburu, membawa aroma badai pesisir dan kerinduan yang sudah mencapai ambang batas kewarasan."Dua hari, Ivy. Empat puluh delapan jam tanpa bisa menyentuhmu. Kau tahu apa yang terjadi pada pikiranku?" Suara Arthur rendah, serak, dan bergetar oleh rasa lapar yang purba.Ivy menatap mata suaminya, jari-jarinya yang ramping merayap naik menelusuri guratan otot di lengan bawah Arthur. "Aku tahu kau terus-menerus menatap monitor biometr
"Aku memang ingin membantai mereka," geram Arthur. Ia mengamati Ivy dari layar dengan tatapan yang sangat lapar. "Kenapa kau belum pulang? Ini sudah jam sepuluh malam.""Baru jam sepuluh. Aku butuh sedikit waktu untuk mendinginkan otot. Kenapa kau tidak memakai baju?" tanya Ivy, memperhatikan bahu lebar Arthur yang terekspos di layar."Aku baru selesai mandi dan aku tidak peduli soal baju. Ivy, berdirilah. Aku ingin melihatmu."Ivy memutar bola matanya. "Arthur, aku lelah sekali. Jangan mulai lagi dengan perintah-perintah anehmu.""Berdiri, Ivy. Atau aku akan memerintahkan pilot pribadiku untuk menerbangkan jet ke sana sekarang juga dan aku tidak peduli jika aku harus meninggalkan kontrak miliaran dolar ini."Ivy mendesah, tapi ia tetap berdiri. Ia tahu Arthur tidak pernah menggertak. Ia berdiri di tengah studio kosong, menatap kamera ponselnya dengan wajah menantang. "Puas? Aku masih utuh, tidak ada yang berkurang.""Berputar," perintah Arthur lagi.Ivy melakukan putaran lambat. Arth







