공유

Sandiwara

작가: Purplexyiii
last update 게시일: 2026-08-23 19:03:25

Ivy merasa darahnya mendidih. Dia hendak membuka mulut untuk membela diri, tapi Arthur lebih cepat.

"Hati-hati dengan ucapanmu, Elena." Suara Arthur sangat rendah yang membuat orang di sekitarnya berhenti bernapas. "Atau aku akan memastikan sisa aset keluarga Vance yang masih ada di bursa saham lenyap sebelum fajar. Lalu soal Liam, katakan padanya, jika dia berani mendekati Ivy lagi, aku tidak akan hanya mengirimnya ke jalanan. Aku akan mengirimnya ke liang lahat."

Elena ternganga, wajahnya merah padam karena malu dan marah. Dia berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan mereka di tengah perhatian tamu lainnya.

"Terima kasih," bisik Ivy, merasa sedikit lega.

"Jangan berterima kasih. Aku melakukannya untuk reputasiku, bukan untukmu," sahut Arthur dingin, matanya terus menyapu ruangan seolah mencari mangsa.

Tiba-tiba, kerumunan di ujung ruangan terbelah. Seorang pria tua dengan rambut perak dan jas hitam klasik berjalan perlahan menuju mereka. Dia tidak terlihat seperti monster; dia terlihat seperti seorang bangsawan yang terhormat. Namun, saat Ivy melihat bekas luka kecil di alis kirinya, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Julian Vane. Pria itu berhenti tepat di depan mereka. Matanya yang tajam menatap Arthur sejenak, sebelum beralih ke Ivy. Julian terpaku. Gelas sampanye di tangannya sedikit bergetar. Dia menatap Ivy dengan tatapan yang sangat intens, campuran antara kerinduan, ketakutan, dan kegilaan.

"Rose?" bisik Julian Vane, suaranya parau. "Rose, kau kembali?"

Ivy merasa tangannya mendingin. Rose adalah nama tengah ibunya yang tidak pernah digunakan.

Arthur mempererat cengkeramannya di pinggang Ivy, seolah ingin menegaskan kepemilikannya.

"Dia bukan Rose, Julian. Dia adalah tunanganku, Ivy Collins. Putri dari pria yang berhasil merebut Rose darimu dan membuatnya bahagia sampai akhir hayatnya."

Julian Vane menarik napas tajam, kemarahan yang murni meledak di matanya. Dia menatap Arthur dengan kebencian yang mendalam.

"Kau pikir kau menang, Arthur? Kau pikir dengan membawa anak haram itu ke sini kau bisa menghancurkanku?"

Julian kemudian menatap Ivy kembali, kali ini dengan senyum yang sangat tipis dan mengerikan.

"Kau cantik sekali, Ivy. Persis seperti ibumu saat aku pertama kali mengurungnya di ruang bawah tanahku," ucap Julian dengan nada bicara yang sangat tenang. "Ada satu hal yang tidak Arthur beritahukan padamu. Satu alasan kenapa dia benar-benar membawamu ke sini malam ini."

Ivy menatap Arthur, mencari jawaban di matanya yang dingin, namun Arthur hanya menatap Julian dengan kebencian yang sama besarnya.

"Apa itu?" tanya Ivy dengan suara bergetar.

Julian Vane mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar oleh Ivy dan Arthur.

"Dia tidak membawamu untuk melindungimu, Ivy. Dia membawamu karena malam ini, nyawamu akan ditukarkan dengan surat wasiat ayahku yang asli. Arthur butuh perusahaan Vane, dan kau adalah mata uang yang paling berharga baginya."

Ivy tersentak, mencoba melepaskan diri dari rangkulan Arthur. "Sir? Apakah itu benar?"

Arthur tidak menatap Ivy. Dia hanya menatap Julian dengan seringai dingin. "Segala sesuatu punya harga, Collins. Kau tahu seberapa besar aku menginginkan kehancuran keluarga Vane."

Arthur kemudian melepaskan pinggang Ivy, membiarkan Ivy berdiri sendirian di antara dua predator yang paling berbahaya di London.

"Julian," ucap Arthur sambil mengambil kembali kalung berlian dari leher Ivy dengan satu tarikan kasar hingga rantainya putus. "Dia milikmu malam ini. Berikan aku surat itu, dan kau boleh membawa anak ini ke mana pun kau mau."

Ivy terpaku, matanya membelalak tak percaya. Di tengah keramaian pesta yang mewah itu, dia baru saja dijual oleh pria yang baru saja dia pikir adalah penyelamatnya.

"Arthur! Apa yang Anda lakukan?!" Ivy berteriak, tapi suara musik yang mendadak mengeras menenggelamkan suaranya.

Julian Vane memberikan isyarat pada dua orang pengawal bertubuh besar di belakangnya. Mereka maju dan mencengkeram lengan Ivy.

Arthur Sterling berbalik, berjalan pergi tanpa menoleh sedikit pun, sambil menggenggam berlian zamrud yang kini ternoda oleh goresan kecil di leher Ivy.

Namun, tepat sebelum Arthur menghilang di balik kerumunan, dia berhenti dan membisikkan sesuatu ke alat komunikasi di kerah jasnya.

"Semua unit, bergerak sekarang. Bakar tempat ini setelah aku keluar."

Ivy diseret menuju pintu keluar belakang oleh pengawal Julian, tapi hatinya jauh lebih hancur daripada tubuhnya. Dia menatap punggung Arthur untuk terakhir kalinya, menyadari bahwa di dunia ini, tidak ada pahlawan. Hanya ada iblis yang memiliki agenda berbeda.

"Selamat datang di rumah, Ivy," bisik Julian Vane di samping telinganya. "Ada seseorang yang sudah menunggumu di dalam mobil. Seseorang yang kau pikir sudah meninggal sepuluh tahun lalu."

Ivy membeku. Siapa?

Dunia di sekitar Ivy Collins meledak dalam kekacauan dalam hitungan detik.

Baru saja jemari kasar pengawal Julian Vane mencengkeram lengannya, suara dentuman keras bergema dari arah dapur utama gedung Cotswolds tersebut. Rentetan granat asap dan pemutus arus listrik yang seketika menenggelamkan ballroom megah itu ke dalam kegelapan total.

Jeritan para tamu undangan pecah. Ivy merasakan tubuhnya ditarik dengan kasar di tengah kepanikan massal. Dia mengira itu adalah pengawal Julian yang membawanya menuju mobil misterius itu. Namun, aroma yang menyergap indranya bukan lagi bau keringat pria-pria Julian, tapi aroma yang sangat ia kenal.

"Diam atau kau akan benar-benar mati, Ivy," bisik sebuah suara bariton di telinganya.

Arthur Sterling.

Ivy mencoba berontak, amarahnya masih menyala karena adegan penjualan tadi. "Lepaskan aku, Iblis! Kau menjualku! Kau mengambil kalung itu dan membiarkan mereka membawaku!"

"Itu hanya sandiwara, asisten yang bodoh," geram Arthur. Dia merangkul pinggang Ivy dengan paksa, mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya berlari menembus koridor gelap yang dipenuhi asap.

Mereka masuk ke dalam sebuah ruang perpustakaan yang tersembunyi di balik pintu. Arthur mengunci pintunya dari dalam. Suara teriakan dan langkah kaki pengawal Julian terdengar berlarian di lorong luar, mencari mereka.

Ivy terengah-engah, punggungnya menabrak rak buku tinggi saat Arthur menekannya ke sana untuk bersembunyi dari sorot lampu senter yang sesekali melewati celah pintu.

"Sandiwara?" Ivy mendesis, air mata kemarahan akhirnya jatuh. "Kau merobek kalung itu dari leherku! Kau membiarkan monster itu menyentuhku!"

"Jika aku tidak melakukannya, Julian tidak akan pernah memerintahkan orangnya untuk membawa 'target' utama itu keluar dari persembunyian," Arthur menatap Ivy dalam kegelapan, matanya berkilat tajam seperti predator. "Aku butuh dia mengira dia menang agar dia lengah. Sekarang, diamlah. Mereka ada di luar."

Ivy tidak bisa diam. Adrenalin, rasa takut, dan kemarahan bercampur menjadi satu, menciptakan ledakan energi yang membuatnya ingin menghancurkan pria di depannya. "Kau menggunakan aku lagi! Kau tidak pernah peduli jika nyawaku terancam, yang kau pedulikan hanya surat wasiat itu dan kehancuran Julian Vane!"

Ivy memukul dada Arthur, tapi pria itu tidak bergeming. Ivy terus memukul, mencakar jas tuksedo mahalnya, melampiaskan seluruh rasa sakit hatinya karena dikhianati Liam dan sekarang dimanipulasi oleh Arthur.

"Aku membencimu, Arthur! Aku membencimu lebih dari apapun!"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Tajam

    Di tengah latihan, Ivy menyadari ada sesuatu yang berbeda. Musik piano yang mengalun dari sistem audio mendadak berubah ritmenya menjadi lebih dramatis dan lebih gelap. Ia menoleh ke arah ruang kontrol kaca di lantai atas studio. Di sana, Arthur berdiri, menatapnya dari balik kegelapan ruangan itu.Arthur telah masuk diam-diam dan mengambil alih kendali atmosfer. Pria itu tidak hanya menonton, ia sedang mendikte tarian Ivy melalui musik.Ivy mengikuti ritme itu. Ia berputar lebih kencang, melompat lebih tinggi dan membiarkan peluh membasahi seluruh kulitnya. Di bawah tatapan obsesif Arthur, Ivy merasa seperti mahakarya yang sedang dipahat. Saat musik mencapai puncaknya dan Ivy mengakhiri gerakannya dengan posisi reverence yang sempurna, Arthur turun dari ruang kontrol."Kau terlihat sangat berbahaya saat kau sedang mencoba melampaui batasmu sendiri," puji Arthur menggema di studio yang sunyi. Ia mendekat, menyerahkan handuk putih bersih."Kau merusak jadwal latihanku dengan musik aneh

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Suapan

    "Hei, Felix bisa melihat kita dari kaca spion," bisik Ivy, meskipun jemarinya sudah mulai membuka kancing kemeja abu-abu suaminya."Felix dibayar mahal untuk pura-pura buta dan tuli, Sayang. Jangan khawatirkan dia." Arthur kemudian membungkam bibir Ivy dengan ciuman yang kasar.Gairah yang menyusul di dalam mobil yang bergerak membelah jalanan kota pusat itu terasa sangat intens. Arthur mendominasi Ivy dengan cara yang menegaskan bahwa meski Ivy sekarang adalah ratu yang berkuasa di Collins-Sterling, ia tetaplah mangsa yang paling dicintai oleh sang predator Sterling. Sentuhan Arthur di kulit Ivy seolah-olah sedang menghapus segala sisa stres dan kemarahan yang Ivy rasakan pagi ini."Kau sungguh monster yang paling sombong yang pernah kutemui," desah Ivy di sela-sela napasnya yang memburu."Kau juga satu-satunya orang yang berhasil membuat monster ini berlutut demi mendapatkan perhatianmu," balas Arthur penuh oleh keinginan yang tak terbendung.Setelah badai fisik itu mereda, Ivy bers

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Candu

    Uap panas masih menggantung di udara saat Ivy melangkah keluar dari bilik pancuran, kulitnya memerah dan segar dengan handuk putih tebal yang membalut tubuhnya. Ia menyugar rambutnya yang basah ke belakang, sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang mulai berembun. Di sana, di pangkal lehernya, sebuah tanda kemerahan hasil kerja keras Arthur tadi pagi masih tercetak jelas."Kau sengaja melakukannya di tempat yang tidak bisa ditutupi oleh kerah baju mana pun, bukan?" Ivy berseru memantul di dinding kamar mandi yang luas.Pintu kaca bergeser terbuka dan Arthur masuk dengan ketenangan seorang penguasa. Ia sudah berganti pakaian celana panjang hitam dengan potongan tajam dan kemeja abu-abu baja yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi di matanya sudah kembali ke mode predator bisnis."Itu adalah tanda peringatan untuk siapa pun di ruangan Aegis nanti agar mereka tetap menjaga jarak aman dua meter darimu," sahut Arthur datar. Ia mengambil handuk kec

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Kepuasan

    Aroma mentega yang terbakar pelan dan wangi rosemary segar menyusup masuk ke sela-sela mimpi Ivy, memaksanya untuk membuka mata lebih awal dari yang ia rencanakan. Ia meraba sisi ranjangnya, menemukan seprai sutra yang sudah dingin dan kosong. Ivy mengerang kecil, merasakan sekujur tubuhnya pegal luar biasa, kenang-kenangan dari gairah Arthur semalam yang seolah ingin membalas dendam pada jarak ribuan kilometer yang sempat memisahkan mereka.Ia bangkit, mengenakan kemeja hitam milik Arthur yang tergeletak di lantai, yang panjangnya cukup untuk menutupi paha atasnya. Dengan kaki telanjang, Ivy berjalan menuju sumber aroma itu. Di dapur minimalis yang didominasi marmer gelap, ia menemukan pemandangan yang sanggup menghentikan aliran darahnya sejenak.Arthur Sterling berdiri di depan kompor induksi. Tanpa atasan, ia hanya mengenakan celana kain hitam yang duduk rendah di pinggulnya. Otot punggungnya yang kokoh bergerak ritmis saat ia membalikkan sesuatu di atas wajan baja. Cahaya matahar

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Menggoda

    Hening yang mengendap di dalam kamar utama itu terasa jauh lebih berat daripada tekanan udara di dalam kabin jet pribadi yang baru saja Arthur tinggalkan. Pencahayaan diatur pada tingkat terendah, hanya dari lampu-lampu kecil di bawah sana yang menembus kaca raksasa, tampak memberikan siluet tajam pada tubuh dua manusia yang sedang saling mengunci pandangan.Arthur tidak melepaskan Ivy dari bawah kungkungannya. Ia menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Ivy, memerangkap istrinya di atas seprai sutra abu-abu yang dingin. Napas Arthur masih memburu, membawa aroma badai pesisir dan kerinduan yang sudah mencapai ambang batas kewarasan."Dua hari, Ivy. Empat puluh delapan jam tanpa bisa menyentuhmu. Kau tahu apa yang terjadi pada pikiranku?" Suara Arthur rendah, serak, dan bergetar oleh rasa lapar yang purba.Ivy menatap mata suaminya, jari-jarinya yang ramping merayap naik menelusuri guratan otot di lengan bawah Arthur. "Aku tahu kau terus-menerus menatap monitor biometr

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Memeluk

    "Aku memang ingin membantai mereka," geram Arthur. Ia mengamati Ivy dari layar dengan tatapan yang sangat lapar. "Kenapa kau belum pulang? Ini sudah jam sepuluh malam.""Baru jam sepuluh. Aku butuh sedikit waktu untuk mendinginkan otot. Kenapa kau tidak memakai baju?" tanya Ivy, memperhatikan bahu lebar Arthur yang terekspos di layar."Aku baru selesai mandi dan aku tidak peduli soal baju. Ivy, berdirilah. Aku ingin melihatmu."Ivy memutar bola matanya. "Arthur, aku lelah sekali. Jangan mulai lagi dengan perintah-perintah anehmu.""Berdiri, Ivy. Atau aku akan memerintahkan pilot pribadiku untuk menerbangkan jet ke sana sekarang juga dan aku tidak peduli jika aku harus meninggalkan kontrak miliaran dolar ini."Ivy mendesah, tapi ia tetap berdiri. Ia tahu Arthur tidak pernah menggertak. Ia berdiri di tengah studio kosong, menatap kamera ponselnya dengan wajah menantang. "Puas? Aku masih utuh, tidak ada yang berkurang.""Berputar," perintah Arthur lagi.Ivy melakukan putaran lambat. Arth

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status