تسجيل الدخولArthur menangkap kedua pergelangan tangan Ivy dengan satu tangan, menguncinya di atas kepala Ivy. Napas mereka berdua memburu, bersahutan di ruangan yang sempit dan panas itu. Suhu udara seolah naik beberapa derajat.
"Kau pikir aku tidak paham? Kau pikir aku menikmati melihat pria tua itu menatapmu seolah kau adalah miliknya? Kau pikir aku suka melihat tangan-tangan kotor itu menyentuh kulitmu?" "Lalu kenapa kau melakukannya?!" Ivy berteriak tertahan, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Arthur. "Karena aku harus mengakhiri ini, Ivy!" Arthur menggeram. Dia melepaskan tangan Ivy, tapi bukannya menjauh, dia justru mencengkeram rahang Ivy dengan kasar. "Aku melakukannya karena itu satu-satunya cara untuk menarik Julian keluar dari lubangnya. Sekarang, di tengah semua kekacauan ini, kau masih saja mencoba melawanku?" Mata mereka bertemu dalam kegelapan yang remang. Ketegangan di antara mereka bukan lagi tentang benci, tapi sesuatu yang jauh lebih posesif. Rasa takut akan kematian dan lonjakan adrenalin membuat saraf mereka menegang. Ivy bisa merasakan jantung Arthur yang berdetak keras di balik kemejanya, sama kerasnya dengan jantungnya sendiri. Kemarahan Ivy mendadak berubah menjadi rasa lapar yang mendesak. Dia butuh sesuatu untuk membuktikan bahwa dia masih hidup, bahwa dia bukan sekadar boneka yang bisa dipindahkan sesuka hati. Tanpa peringatan, Ivy menarik kerah baju Arthur dan mencium pria itu dengan liar, yang penuh dengan kemarahan, keputusasaan, dan tantangan. Arthur membeku sesaat, terkejut dengan serangan itu. Namun, iblis di dalam dirinya tidak butuh waktu lama untuk membalas. Dia menggeram kecil, memutar tubuh mereka hingga kini Ivy yang terhimpit di antara rak buku dan tubuh bidangnya. Ciuman itu berubah menjadi pertarungan lidah yang panas dan menuntut. Tangan Arthur merayap turun ke pinggang Ivy, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada lagi celah di antara mereka. Gaun yang indah itu bergesekan dengan kain kasar Arthur. Pria itu mengangkat paha Ivy, melingkarkannya di pinggangnya, sementara tangannya yang lain merobek sedikit bagian samping gaun itu untuk mendapatkan akses lebih banyak ke kulit Ivy. "Kau milikku, Collins," bisik Arthur di sela-sela ciuman mereka yang semakin dalam. "Jangan pernah lupa itu. Bukan milik Liam, bukan milik Julian. Kau hanya milikku." Ivy mendesah keras saat bibir Arthur berpindah ke lehernya, menghisap kulit sensitif di tempat kalung itu tadi berada. Rasa perih dari goresan kecil di lehernya justru menambah sensasi panas yang membakar tubuhnya. Ivy mencengkeram rambut hitam Arthur, menariknya agar pria itu kembali menciumnya. Di luar, suara tembakan terdengar, diikuti oleh suara ledakan lain yang membuat gedung itu bergetar. Debu jatuh dari langit-langit perpustakaan, tapi mereka tidak peduli. Dalam ruang sempit ini, di tengah ancaman kematian yang mengintai, mereka menyerah pada gairah yang selama ini mereka tutup-tutupi dengan kebencian. Sentuhan Arthur kasar dan penuh gairah yang tertahan selama dua tahun. Ivy bisa merasakan betapa keras dan menginginkannya pria itu. Arthur menurunkan ritsleting gaun Ivy dengan satu gerakan cepat, membiarkan kain sutra itu jatuh ke pinggang, dan menampakkan keindahan tubuh Ivy yang selama ini tersembunyi di balik setelan kantor yang kaku. "Arthur." Ivy mendesah saat tangan besar Arthur meremas buah dadanya, ibu jarinya mengusap puncaknya yang sudah mengeras. "Katakan lagi namaku," perintah Arthur serak oleh nafsu yang membuncah. "Arthur, tolong." Arthur baru saja hendak membawa Ivy lebih jauh saat suara pintu perpustakaan digedor dengan keras dari luar. "Sterling! Aku tahu kau di dalam! Buka pintunya atau aku akan meledakkan ruangan ini!" Itu suara pengawal pribadi Julian Vane. Arthur seketika berhenti. Gairahnya tidak hilang, tapi insting bertahannya kembali tajam. Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang gila. Dia menatap Ivy yang tampak kacau, cantik, dan hancur sekaligus dengan tatapan yang kini dipenuhi proteksi yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Arthur dengan cepat menarik gaun Ivy kembali ke atas, menutupinya dengan jas tuksedonya sendiri. "Pakai ini. Jangan keluar sampai aku mengatakannya." "Apa yang akan kau lakukan?" Ivy bertanya dengan suara gemetar, setengah kecewa karena momen itu terputus, setengah ketakutan. Arthur mengambil sebuah pistol kecil yang disembunyikan di balik ikat pinggangnya. Dia berjalan menuju pintu rahasia di balik rak buku yang dia ketahui dari denah gedung ini. "Julian mengira dia memiliki ayahmu di dalam mobil itu sebagai sandera," ucap Arthur sambil membuka pintu rahasia tersebut. "Sayangnya ada satu hal yang Julian tidak tahu, itu adalah alasan kenapa aku benar-benar membakar tempat ini." "Apa itu?" Arthur menoleh, wajahnya kembali menjadi topeng es yang tidak terbaca, tapi matanya menatap Ivy dengan sesuatu yang menyerupai kejujuran tulus. "Pria di dalam mobil itu bukan ayahmu, Ivy. Pria itu adalah orang yang menyuruh ibumu melarikan diri dua puluh tahun lalu karena dia adalah satu-satunya saksi yang tahu bahwa akulah yang membunuh ayahku sendiri untuk melindunginya." Ivy terpaku, napasnya seolah berhenti. "Apa?" "Sekarang," lanjut Arthur dengan senyum dingin. "Pria itu membawa surat wasiat asli yang menyatakan bahwa seluruh kekayaan Sterling dan Vane, sebenarnya adalah milikmu sejak awal." Arthur menarik Ivy masuk ke dalam ruang rahasia tepat saat pintu perpustakaan hancur diterjang ledakan. Di ujung koridor, melalui celah kecil jendela, Ivy melihat mobil hitam yang disebutkan Julian tadi. Pintu mobil terbuka dan seorang pria dengan tangan terborgol keluar. Namun, saat pria itu menoleh ke arah gedung, Ivy berteriak histeris. Pria itu bukan ayahnya. Pria itu adalah Liam, kekasihnya yang baru saja mengkhianatinya, yang kini tampak babak belur dan ketakutan. "Kenapa dia ada di sana?" bisik Ivy lemas. Arthur mencengkeram tangan Ivy, menariknya menuju jalan keluar. "Karena Liam bukan hanya kekasihmu, Ivy. Dia adalah adik kandung Julian Vane yang selama ini dikirim untuk mengawasimu. Sekarang, dia akan menjadi orang pertama yang mati dalam rencana pembalasanku." Arthur menghentikan langkahnya, menatap Ivy dengan aura yang mematikan. "Pilih sekarang, Ivy. Kau ingin aku menyelamatkannya, atau kau ingin aku menarik pelatuk ini dan mengakhiri semua kebohongan dalam hidupmu?""Kau lupa siapa yang memegang empat puluh persen saham kendali merger ini, Sir?" balas Ivy, mencoba mempertahankan suara tegasnya meskipun helaan napasnya mulai terengah-engah.Ivy memutar tubuhnya, memanfaatkan kelincahannya untuk membalik posisi. Ia berhasil membebaskan tangannya, mendorong dada bidang Arthur hingga pria itu mundur setengah langkah. Dengan tatapan menantang dan keberanian seorang ratu, Ivy merapikan helai rambut hitamnya yang terurai, lalu melangkah santai menuju meja rias untuk meraih ponselnya.Namun, gerakan Ivy terhenti sebelum jemarinya menyentuh layar kaca tersebut.Dari belakang, Arthur menyambar pinggang ramping Ivy dengan satu gerakan secepat kilat. Pria itu memutar tubuh Ivy, mengangkatnya dengan mudah, dan mendudukkannya tepat di atas meja rias berlapis marmer yang dingin. Berkas-berkas dokumen pernikahan dan kotak perhiasan berhamburan ke lantai, tapi itu semua terabaikan."Kau mencoba melarikan diri dariku di malam pernikahan kita?" tanya Arthur, matany
Saat Ivy sampai di hadapan altar, ia sengaja menghentikan langkahnya sejenak tepat di depan kursi Lord Edward sebelum berbalik menghadap Arthur."Kau terlambat dua menit, Miss Collins." Sindiran Tuan Edward memecah keheningan yang tegang.Ivy menoleh sedikit untuk memberikan senyuman tipis yang anggun. "Dua menit yang kugunakan untuk memastikan bursa saham pembukaan New York menyetujui merger penuh atas namaku, Tuan. Waktu yang sangat berharga, bukan?"Mata tua Tuan Edward berkilat terkejut, sebelum akhirnya seringai tipis muncul di wajah berkerutnya. Pria tua itu mengangguk pelan, sebagai sebuah pengakuan langka atas ketangguhan wanita yang tidak memiliki silsilah bangsawan tersebut.Arthur mengulurkan tangannya pada Ivy. Begitu jemari mereka bersatu, aliran arus listrik yang familiar menjalar di bawah kulit mereka. Pendeta tua di depan mereka mulai membacakan janji suci, tapi bagi Arthur dan Ivy, kata-kata formalitas itu hanyalah latar belakang."Di hadapan dunia yang pernah mencoba
Arthur melangkah mendekati meja Ivy, sambil menyuruh para stafnya mundur dengan isyarat tangan singkat."Kau mengintimidasi jajaran direksi sebelum pesta bahkan dimulai," ucap Arthur, duduk di tepi meja kerja Ivy sambil memiringkan kepalanya."Aku hanya menghemat waktu," sahut Ivy datar, matanya sibuk memindai grafik valuasi saham di tabletnya. "Pernikahan ini akan dihadiri oleh tiga ratus orang paling berpengaruh di dunia. Satu celah kecil dalam protokol akan dimanfaatkan oleh musuh-musuhmu untuk menilai kerapuhan kita.""Kita tidak punya kerapuhan," potong Arthur tegas. Ia menyambar tablet dari tangan Ivy, meletakkannya di meja tanpa memedulikan protes halus dari wanita itu. Jemari besarnya menggenggam jemari Ivy, menautkan jari-jari mereka erat-erat. "Istirahatlah sepuluh menit. Itu perintah dari atasanmu."Ivy menaikkan sebelah alisnya, mencoba menarik tangannya, tapi genggaman Arthur sekeras besi, meski usapan ibu jarinya di punggung tangan Ivy terasa begitu protektif dan hangat.
Pintu itu kembali terkunci secara otomatis. Suasana yang tadinya penuh tensi amarah mendadak berubah menjadi penuh akan hasrat terpendam.Ivy menarik napas panjang, merapikan blazer putihnya yang sedikit bergeser. Namun, sebelum ia sempat kembali ke mejanya, Arthur menyambar pinggangnya dari belakang, menarik punggung ramping Ivy melekat sempurna pada dada bidangnya."Sangat tidak tertandingi, Mrs. Sterling." Bulu kuduk Ivy meremang saat bibir hangat Arthur merayapi garis lehernya, menghisap lembut kulit sensitif di sana hingga meninggalkan tanda merah yang baru."Kita masih di kantor, Arthur," tegur Ivy, meski suaranya mulai lemah akibat getaran gairah yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Ia membalikkan badan dalam pelukan Arthur, menatap wajah tampan pria yang kini menguncinya penuh obsesi."Gedung ini milikku. Kau milikku. Jadi, tidak ada seorang pun yang berani melangkah ke lantai ini tanpa izin dari pemiliknya," bisik Arthur dengan kehausan gairah yang mendalam.Tanp
Beberapa saat setelahnya, mereka hanya berbaring terengah-engah dalam posisi saling mengunci. Arthur memiringkan tubuhnya, merengkuh Ivy erat-erat ke dalam pelukannya dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua dari terpaan pendingin udara. "Persepsi mereka tentang kita akan berubah total esok pagi," gumam Ivy seraya matanya menatap langit-langit penthouse. Arthur mengusap helai rambut Ivy, mencium keningnya dengan kelembutan luar biasa. Sangat berbeda dari keliarannya beberapa menit lalu. "Biarlah seluruh dunia tahu," sahut Arthur dengan nada protektif yang teramat kuat. "Mereka bisa mencoba merebut kekuasaanmu, tapi siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambutmu lagi, akan kupastikan namanya terhapus dari sejarah peradaban." Ivy menoleh, menatap garis rahang tegas pria yang dulu paling ia benci, tapi kini menjadi satu-satunya pelindung paling kejam dan setia dalam hidupnya. "Kapan pernikahan kita akan digelar?" tanya Ivy. Arthur tersenyum tipis, tatapannya m
"Tembak dia, Arthur." Dua kata itu meluncur dari bibir Ivy tanpa keraguan. Nadanya dingin, sekeras baja seperti meluruhkan sisa air mata yang tadi sempat singgah di pipinya. Rasa sakit atas pengkhianatan Liam dan Chloe, dua orang yang paling ia percayai dalam hidupnya, telah menguap, berganti menjadi jelaga kehitaman yang membakar habis nuraninya. Arthur menatap Ivy selama beberapa detik. Seringai tipis dan kebanggaan langsung terbit di bibirnya. Tanpa membuang kata, pria itu mengarahkan moncong pistolnya tepat ke celah jendela. Dor! Satu dentuman keras menggelegar. Di luar sana, Liam tersungkur di tanah sambil mencengkeram lututnya yang tertembak. Jeritan histeris seorang wanita memecah udara, itu adalah Chloe. Perempuan yang Ivy anggap sahabat terdekatnya itu berlari keluar dari semak-semak, berlutut panik sambil memeluk tubuh Liam yang bersimbah darah. "Ivy! Tolong kami! Jangan bunuh dia!" teriak Chloe, matanya bergerak liar menyapu kegelapan gedung tempat Ivy bersembunyi. "Bi







