LOGINMereka akhirnya tiba di ruangan karaoke VIP. Musik mulai berdentum kencang, dan lampu warna-warni berputar menghiasi ruangan yang remang-remang itu.Selena yang memang butuh hiburan, langsung memilih lagu-lagu ceria dan mulai bernyanyi dengan semangat. Tapi di sisi lain, ia sebenarnya ingin caper di hadapan Juan.Sementara itu, Elyssa hanya duduk di pojok sofa. Ia terdiam dan kembali melamun seperti biasa.Juan merasa prihatin melihat Elyssa yang terus bersedih, seolah ia ikut merasakannya. Ia lalu menghampiri Elyssa dan menyodorkan sebuah gelas berisi minuman keras.“Minum ini biar pikiranmu agak mendingan.”Elyssa menatap gelas itu dengan ragu. Ia teringat kejadian semalam saat ia mabuk dan meracau tak jelas. Ia pun menolak dengan halus.Juan mengerti. Ia segera beralih menawarkan gelas itu kepada Selena. “Kamu minum, kan?”“Iya, iya. Sini. Sini,” sahut Selena dengan senang hati. Ia langs
Elyssa akhirnya mengakui bahwa Sean yang membantu Olivia kabur, dan bahwa dirinya hanyalah alat balas dendam bagi Sean.“Aku benar-benar minta maaf, Juan. Tapi aku sudah gak mau berurusan dengan mereka lagi. Kepalaku pusing kalau harus membahas ini terus. Jadi tolong, jangan kaitkan aku lagi ya?” jelas Elyssa lalu memijat keningnya yang masih terasa berat.Juan menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Elyssa dengan tatapan prihatin. “Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sean. Dia ingin membalas dendam pada Albert, tapi kenapa harus menyakitimu juga?”Elyssa hanya terdiam, wajahnya semakin lesu mendengar nama kedua pria itu disebut dalam satu kalimat, seolah membuka luka lama.Juan mengangkat satu alisnya, mencoba mengulik lebih dalam. “Jadi, kamu benar-benar ingin membatalkan pernikahan? Kamu yakin?”Elyssa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap gelas minumannya yang sudah berembun.
Elyssa masih terus menatap layar ponselnya dengan tatapan benci sekaligus pilu. Nama "Sean" yang biasanya membuat hatinya hangat, kini hanya mendatangkan rasa mual.Selena melirik ponsel itu, lalu menatap Elyssa dengan ragu. "Mau diangkat, Kak? Siapa tau dia mau menjelaskan sesuatu."Elyssa tertawa getir, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata. "Menjelaskan apa lagi? Menjelaskan bagaimana dia menikmati perannya sebagai pahlawan di depan wanita lain, sementara aku dibiarkan seperti orang bodoh? Tidak, Sel. Aku sudah cukup menikmati kebohongannya.”Tanpa ragu, Elyssa menggeser tombol merah dan langsung mematikan ponselnya."Kak? Kenapa gak diangkat aja?”“Aku udah gak mau mendengarkan penjelasan apa pun dari dia,” ujar Elyssa dingin. Ia melempar ponsel yang sudah mati itu ke atas kasur. "Aku bukan lagi Elyssa yang bisa dia bohongi. Dia mau berpindah ke wanita lain? Silakan. Tapi dia gak akan pernah mendapatkan aku lagi."
Selena ingin bertanya lebih lanjut, tapi Elyssa tiba-tiba menangis sesenggukan.Selena benar-benar tidak menyangka akan melihat sisi lain dari Elyssa yang biasanya tenang dan elegan. Kini, di hadapannya, Elyssa justru terlihat sangat rapuh dan kacau.Pengaruh anggur itu perlahan menguasai tubuh Elyssa. Ia hampir kehilangan akal sehatnya. Tiba-tiba, di tengah area parkir, Elyssa berteriak sekuat tenaga, membuat Selena tersentak kaget.“Sean….!!! Huhu… kenapa kamu tega banget bohongin aku?! Kudoain kamu tidurnya gak nyenyak! Makan gak abis, mandi gak basah!” teriak Elyssa sambil terisak keras. Sumpah serapahnya terdengar lucu namun sangat menyedihkan.Selena segera memegang bahu Elyssa, mencoba menenangkannya. “Kak? Udah, Kak. Jangan teriak di sini. Malu dilihatin orang!” Selena celingukan, merasa tidak enak karena beberapa orang mulai memperhatikan mereka.Namun, Elyssa tetap meracau tak jelas dan tubuhnya mulai lemas. Ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika Selena tidak si
Melihat Selena yang semakin terpojok dan tampak sangat ketakutan di bawah sentuhan pria tua itu, naluri pelindung Elyssa bangkit. Meski kepalanya sedikit pening karena pengaruh anggur, ia meletakkan gelasnya dengan tegas dan berdiri.Elyssa melangkah mantap menghampiri meja Selena. Ia langsung berdiri di samping Selena dan meletakkan tangannya di bahu gadis itu, mengejutkan si pria tua."Selena! Ternyata kamu di sini. Kakak sudah cari kamu ke mana-mana," ucap Elyssa dengan nada bicara yang dibuat-buat.Pria tua buncit itu mengerutkan kening, menatap Elyssa dari bawah ke atas dengan tatapan tidak senang. "Siapa kamu? Kami sedang ada urusan penting."Elyssa tidak gentar. Ia menatap balik pria itu dengan berani. "Saya kakaknya. Maaf ya, Pak, tapi Selena harus pulang sekarang. Ada urusan keluarga yang sangat mendadak dan tidak bisa ditunda."Selena yang tadinya ketakutan, langsung menangkap sinyal dari Elyssa. "I-iya, Pak. Maaf, saya harus pergi sekarang. Kakak saya sudah menjemput.""Tap
Elyssa tidak berani pulang ke rumah orang tuanya dengan kondisi hati yang hancur, apalagi hari sudah larut. Orang tuanya pasti bertanya-tanya apa yang terjadi dan Elyssa belum siap mengatakan semuanya.Elyssa pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke sebuah bar mewah di pusat kota, tempat yang asing baginya namun terasa tepat untuk meluapkan rasa sedihnya.Di salah satu sudut bar yang remang-remang, Elyssa duduk sendirian. Di depannya terdapat segelas anggur merah yang sudah hampir habis. Ia menyesap minuman keras itu perlahan, mencoba membunuh rasa sesak di dadanya dengan alkohol.Entah sudah berapa menit Elyssa melamun, memikirkan nasib ke depannya. Tiba-tiba, sebuah suara yang ia kenali membuyarkan lamunannya."Kak Elyssa?"Elyssa sontak menoleh. Ia melihat Selena berdiri di dekatnya dengan pakaian yang cukup terbuka dan riasan tebal.Selena tampak sangat heran melihat Elyssa, yang selama ini dikenal sebagai wanita baik-baik, berada di tempat seperti ini sendirian."Tumben sendirian,







