MasukSemburat cahaya matahari pagi menerobos celah gorden kamar utama yang mewah, memantul di atas sprei sutra yang masih berantakan. Di atas ranjang itu, Sonya masih terlelap dalam tidur yang paling nyenyak selama sebulan terakhir. Nafasnya teratur, wajahnya yang pucat kini mulai menampakkan rona kemerahan yang sehat. Namun, sisi kasur di sampingnya sudah kosong.
Arya sudah bangun sejak pukul enam pagi. Tubuhnya terasa segar setelah mandi air dingin yang membasuh sisa lelah perjalanan sema
Deru mesin kapal feri penyeberangan bergetar halus menyatu dengan deru AC kabin Alphard yang dingin.Tirai hitam kabin belakang sudah tertutup rapat, memisahkan ruang privat Arya dan Sonya dari kursi pengemudi.Arya menyambar ponsel di saku kemejanya, menelepon Brian Baskoro yang sedang mengurus yayasan di Jakarta."Halo, Brian… Dengar baik-baik arahan saya malam ini," ujar Arya bersuara tegas dan profesional."Ehmm.. M-maksudku ada apa, Mas Arya?! Kenapa telepon malam-malam begini?!" sahut Brian terkejut dari balik telepon."Bekukan seluruh akses login dan rekening operasional atas nama Helena di Marunda Fast!" perintah Arya tanpa ragu."Wanita itu baru saja mencoba memeras dan menyabotase perizinan pangkalan Bakauheni," tambah Arya memperjelas."Sialan! Berani sekali dia main kotor!" maki Brian terdengar menggebrak meja kerja yay
Kehadiran Sonya di ambang pintu kamar suite bagaikan petir menyambar di malam hari.Arya tidak membuang waktu satu detik pun untuk ragu atau membela diri secara bertele-tele.Dengan satu gerakan menyentak yang sangat kuat, Arya menghempaskan kedua lengan Helena dari pinggangnya.Brugghh…!Helena terlempar ke samping hingga tubuh bergaun sutra tipis itu tersungkur tidak berdaya di atas lantai karpet."Aww! Sakit, Arya!" jerit Helena merintih memegangi siku tangannya yang memerah.Arya menatap Helena dari atas dengan tatapan mata sangat dingin, tajam, dan penuh rasa jijik."Sudah saya peringatkan berkali-kali, Bu Helena! Trik murahanmu tidak akan pernah mempan pada saya!" gertak Arya bernada berat.Arya melangkah tegap mendekati Sonya, menyodorkan map dokumen cokelat berstempel resmi yang berhasil direbutnya.
Pengakuan jujur dari bos preman bertato naga di lahan Bakauheni membuat suasana malam itu makin memanas.Slamet dengan cekatan menyerahkan pimpinan preman yang sudah babak belur itu kepada aparat kepolisian lokal.Sonya melangkah mendekati Arya, menatap kemeja hitam suaminya yang berdebu dan bernoda keringat usai bertarung."Mas Arya… Jadi wanita gatal bernama Helena itu yang mengatur semua sabotase ini?!" tanya Sonya menyilangkan tangan di dada."Betul, Sonya… Dia sengaja memecah konsentrasi saya biar perizinan pangkalan ini tidak pernah terbit," jawab Arya tegas."Kurang ajar sekali wanita itu! Aku akan bikin dia mendekam di penjara malam ini juga!" seru Sonya dengan kelopak mata menyempit tajam.Ponsel di saku celana kerjanya bergetar kencang, memperlihatkan pesan singkat masuk dari nomor pribadi Helena.Pesan itu melampi
Belum sempat Arya menyeret Helena keluar dari hotel, ponsel kerjanya mendadak berdering sangat kencang dan kasar.Rahmat, kepala operasional pangkalan Bakauheni, menelepon dengan suara terengah-engah dan penuh kepanikan."Pak Arya! Darurat, Pak! Lahan pangkalan baru diserang belasan orang tidak dikenal!" teriak Rahmat dari ujung telepon."Apa?! Bagaimana kondisi supir dan alat berat di sana, Pak Rahmat?!" tanya Arya membelalakkan matanya."Mereka bawa balok kayu dan linggis, Pak! Kaca ekskavator kita dipukul hancur!" lapor Rahmat histeris.Arya mendorong pintu kamar Helena hingga tertutup rapat, lalu berlari cepat menyusuri lorong menuju area parkir.Helena yang menyaksikan Arya berlari buru-buru hanya bisa tersenyum sinis dari balik jendela kamarnya."Matilah kamu malam ini, Arya! Lahan itu tidak akan pernah bisa beroperasi!" desis Helen
Gelas berisi air dingin bening itu sudah berada tepat dua sentimeter di depan bibir Arya.Aroma aneh menyerupai bau pahit samar mendadak tertangkap oleh indra penciuman Arya yang sangat tajam.Sebagai bekas supir pangkalan yang terbiasa membaui racikan bahan bakar dan oli oplosan, Arya langsung curiga."Tunggu dulu…" gumam Arya pelan seraya menurunkan kembali gelas tersebut ke atas meja.Arya melangkah cepat keluar kamar, memanggil petugas kebersihan yang masih berjalan pelan di ujung lorong."Mas! Sini sebentar!" panggil Arya bersuara berat menggelegar.Petugas kebersihan itu berbalik kaget, wajahnya mendadak pucat pasi dan bahunya tampak gemetar hebat."A-ada apa ya, Pak? Airnya kurang dingin?" tanyanya terbata-bata berusaha tersenyum kaku."Siapa yang menyuruhmu mengantar pitcher ini? Jangan bohong kalau tid
Jeritan buatan Helena bergema kencang di lorong hotel, bertepatan dengan suara panggilan video dari ponsel Arya yang terus memanggil.Arya menatap Helena dengan pandangan mata sangat dingin, sama sekali tidak bergerak membantunya berdiri."Bu Helena, tolong angkat piring Anda sendiri dan segera kembali ke kamar Anda," ucap Arya datar dan tegas.Arya berbalik cepat melangkah ke dalam kamar, menggeser kamera ponselnya lalu mengangkat sambungan video call Sonya.Wajah Sonya di layar telepon tampak sudah sangat merah padam, matanya berkilat memancarkan rasa cemburu yang membakar."Suara wanita siapa itu tadi, Mas?! Kamu benar-benar memasukkan wanita lain ke dalam kamarmu?!" cerceba Sonya berteriak.Arya sengaja memutar kamera ponselnya tiga ratus enam puluh derajat, memperlihatkan lorong luar tempat Helena masih berjongkok."Lihat sendiri, So







