Mag-log inSemburat cahaya matahari pagi menerobos celah gorden kamar utama yang mewah, memantul di atas sprei sutra yang masih berantakan. Di atas ranjang itu, Sonya masih terlelap dalam tidur yang paling nyenyak selama sebulan terakhir. Nafasnya teratur, wajahnya yang pucat kini mulai menampakkan rona kemerahan yang sehat. Namun, sisi kasur di sampingnya sudah kosong.
Arya sudah bangun sejak pukul enam pagi. Tubuhnya terasa segar setelah mandi air dingin yang membasuh sisa lelah perjalanan sema
Suara gemerinting gesper sabuk kulit milik Arya bergema halus di dalam ruang kerja Direktur Utama yang temaram.Sonya Baskoro masih berdiri bersandar di tepi meja kayu jati, menatap suaminya dengan hembusan napas memburu.Rona merah memenuhi pipi mulusnya, memancarkan pesona sensual Ratu Besi yang kehilangan seluruh sikap angkuhnya."Mas... Kamu benar-benar tega menagih janjimu di atas meja kantor begini?" bisik Sonya bersuara serak."Kenapa, Majikanku? Bukannya kamu sendiri yang tadi mengunci pintu dan memadamkan lampunya?" goda Arya bersuara berat.Arya mengambil langkah lebar, mengikis jarak hingga dada bidangnya menempel ketat di tubuh molek Sonya.Tangan kapalan mantan supir itu mencengkeram pinggul ramping Sonya, mengangkat tubuh istrinya sedikit naik ke atas meja.Sonya mengendalikan napasnya yang makin tak beraturan, mencengkeram
Gertakan dingin Arya melalui sambungan telepon membuat pejabat Syahbandar Utama panik bukan main di seberang sana."Tolong tahan diri Anda, Pak Arya! Jangan serahkan rekaman itu ke media!" seru Syahbandar bersuara gemetar."Kalau begitu, perintahkan dermaga buka jalur pelayaran darurat untuk armada Marunda Fast sekarang!" tegas Arya."Baik! Saya sendiri yang akan mengawal proses pemuatan truk kalian ke dalam kapal feri!" janji Syahbandar cepat.Sambungan telepon diputus oleh Arya, lalu dia meletakkan ponselnya di atas meja kaca dengan gerakan tenang.Di dermaga Pelabuhan Merak, sirine lampu pelayaran darurat mendadak menyala terang benderang.Dua mobil patroli otoritas pelabuhan melaju kencang mendekati lokasi penimbangan lima truk Marunda Fast.Farhan yang masih bertengkar dengan supir-supir pangkalan mendadak pucat pasi melihat atasannya turun langsung."Pak Syahbandar?! Kenapa Bapak turun ke dermaga malam-malam begini?" tany
Suara sirene kapal penyeberangan bergema melengking membelah malam di kawasan dermaga Pelabuhan Merak.Lima unit truk tronton kontainer berlogo Marunda Fast berderet kaku di jalur antrean muat barang.Para supir senior Marunda Fast berkumpul di dekat ruang penimbangan dengan wajah tegang bersimbah keringat."Waduhhh... Kenapa manifes kita mendadak dinyatakan tidak valid begini?" keluh Pak Jaka, supir kepala pangkalan.Di dalam kantor pelayanan dermaga, seorang oknum petugas pelabuhan bernama Farhan bertolak pinggang angkuh.Farhan menghempaskan lembaran berkas manifes ke atas meja dengan tatapan meremehkan."Dokumen muatan kalian ini terindikasi palsu dan tidak teregistrasi di sistem server!" sergah Farhan bernada tinggi."Tapi Pak Farhan... Seluruh bon pangkalan dan barcode ini sudah divalidasi dari kantor pusat!" protes supir lainnya."E-ehmm... M-maksud kalian, sistem kami yang salah?!" bentak Farhan berpura-pura emosi.
Langkah kaki kencang Arya Baswira bergema nyaring di koridor lantai dua Kantor Dinas Sosial dan Perizinan Daerah.Di belakangnya, Slamet membawa sebundel map tebal berisi dokumen audit serta rekaman suara interaksi kemarin.Brian Baskoro berjalan di samping Arya dengan raut wajah tegang menahan amarah yang membendung di dada."Mas Arya, oknum pejabat perizinan itu sudah menunggu di dalam ruang rapat bersama Hendra," bisik Brian cepat."Tenang saja, Brian... Kita selesaikan gertakan murahan mereka dalam waktu lima belas menit," balas Arya bernada tenang.Pintu kaca ruang rapat utama didorong kasar oleh Slamet, mengejutkan dua pria berjas kaku di dalam ruangan.Hendra tersontak kaget dari kursi empuknya, menyipitkan mata begitu melihat kedatangan sosok Arya yang gagah tegap.Di sebelahnya, seorang oknum pejabat berinisial Bambang mendadak m
Suasana pagi di pelataran panti asuhan anyar Yayasan Baskoro Limo Depok terasa lumayan sejuk.Brian Baskoro berdiri memandangi jajaran bangunan ruang belajar baru yang hampir rampung pengerjaannya.Di sampingnya, Jessy menggendong Baskoro Junior yang terkekeh gembira sambil memegang mainan mobil-mobilan kayu."Bangunan ruang serbaguna ini minggu depan sudah siap dipakai untuk anak-anak, Mas," tutur Jessy tersenyum hangat.Brian merangkul pinggang istrinya lembut, mendaratkan kecupan singkat di pelipis mulus Jessy."Terima kasih ya, Sayang... Kamu sudah mengurus administrasi yayasan dengan sangat rapi," puji Brian bersuara tulus.Jessy menyandarkan kepalanya di bahu lebar Brian, menikmati ketenangan pagi sebelum jam operasional kantor dimulai.Namun momen hangat keluarga kecil itu mendadak terganggu oleh kedatangan sebuah sedan perak berno
Arya menangkap ponsel pintar yang melayang ke dadanya dengan refleks cepat, lalu melirik tampilan layar yang menyala.Foto sudut sempit yang memperlihatkan dirinya dan Maya Fransiska terpasang jelas di sana.Sonya berdiri mematung di dekat balkon, membusungkan dada dengan mata memerah menahan amarah yang meletup."Kenapa diam, Mas? Kaget karena foto mesramu di restoran Surabaya sudah sampai ke tanganku?" tembak Sonya bersuara dingin.Arya meletakkan ponsel itu di atas meja rias, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sangat tenang.Pria kekar bekas supir pangkalan itu melangkah santai mendekati istrinya tanpa raut panik sedikit pun."Jelaskan padaku sekarang juga, Arya! Jangan cuma tersenyum konyol seperti itu!" bentak Sonya dengan napas memburu."Kamu cemburu, Ratu Besiku?" goda Arya bersuara berat seraya mengikis jarak di antara mereka.