MasukPagi di Jakarta Selatan selalu diawali dengan kemacetan yang mengular dan deru klakson yang tak sabar, namun di dalam gerbang rumah Kemang, suasana terasa kontras. Brian sudah rapi dengan kemeja batiknya, siap menuju gedung Kuningan untuk memantau pembersihan sisa-sisa inventaris John. Sementara itu, Jessy tampak masih mengaduk tehnya dengan pandangan kosong di meja makan.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Mas Arya sudah di kantor sejak jam delapan tadi, katanya ada beberapa vendor inter
Pagi itu, langit Jakarta tampak diselimuti mendung tipis, seolah ikut merasakan debaran jantung yang tak menentu di dalam mobil yang dikendarai Brian. Di sampingnya, Jessy duduk terdiam, jemarinya bertaut erat di atas pangkuan. Hari ini adalah hari penentuan; hari di mana hasil laboratorium dan pemeriksaan menyeluruh dari dr. Indah akan dibuka. Setelah insiden penyerangan Herman dan Gatot di gedung Kuningan kemarin, Brian tidak membiarkan Jessy lepas dari jangkauannya barang sedetik pun."Mas... kalau hasilnya beneran buruk, Mas janji nggak akan berubah ya?" tanya Jessy pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.Brian melepaskan satu tangannya dari kemudi, lalu menggenggam jemari Jessy yang terasa dingin. "Jess, kita sudah bahas ini berkali-kali. Kamu itu istriku, bukan mesin pencetak anak. Apapun yang tertulis di kertas itu nanti, itu cuma data medis. Nggak akan bisa mengubah fakta kalau aku cinta mati sama kamu."Jessy tersenyum tipis, meski kecem
Pagi itu, suasana di gedung baru Kuningan tampak sangat sibuk. Truk-truk logistik mulai berdatangan menurunkan peralatan sekolah dan perlengkapan galeri seni. Jessy, yang ingin melupakan sejenak kegelisahannya soal hasil laboratorium rumah sakit, memutuskan untuk terjun langsung mengawasi penataan lantai dua. Ia mengenakan celana kain hitam dan kemeja biru muda yang santai namun tetap elegan."Mbak Jessy, ini rak bukunya mau ditaruh di dekat jendela atau di sudut sana?" tanya salah satu pekerja sambil menyeka keringat."Di dekat jendela saja, Pak. Biar anak-anak nanti baca bukunya dapet sinar matahari alami. Lebih sehat buat mata," jawab Jessy sambil tersenyum.Brian sebenarnya sudah melarang Jessy untuk pergi sendirian, namun karena Brian harus menemui pengacara di pusat kota dan Arya sedang mendampingi Sonya kontrol ke dokter, Jessy nekat berangkat lebih awal dengan alasan sudah ada Pak Dirman dan dua orang petugas keamanan yayasan yang berjaga di lobi.
Pagi di Jakarta Selatan selalu diawali dengan kemacetan yang mengular dan deru klakson yang tak sabar, namun di dalam gerbang rumah Kemang, suasana terasa kontras. Brian sudah rapi dengan kemeja batiknya, siap menuju gedung Kuningan untuk memantau pembersihan sisa-sisa inventaris John. Sementara itu, Jessy tampak masih mengaduk tehnya dengan pandangan kosong di meja makan."Sayang, aku berangkat dulu ya. Mas Arya sudah di kantor sejak jam delapan tadi, katanya ada beberapa vendor interior yang mau presentasi buat galeri yayasan," ucap Brian sambil mengecup kening Jessy.Jessy tersentak dari lamunannya. "Oh... iya, Mas. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa makan siang."Brian menghentikan langkahnya, menatap wajah istrinya dengan seksama. "Kamu beneran nggak apa-apa? Wajahmu pucat banget. Kalau masih lemas, nggak usah ke yayasan dulu hari ini. Istirahat saja sama Kak Sonya di rumah.""Nggak apa-apa kok, Mas. Cuma kurang tidur saja semalam," jawab Jessy sambi
Pagi pertama di Jakarta setelah kepulangan dari Bali dimulai dengan rutinitas yang jauh lebih padat. Gedung perkantoran di kawasan Kuningan, yang dulunya menjadi simbol kekuasaan gelap John, kini berdiri tegak dengan papan nama baru yang sedang dalam proses pemasangan: Yayasan Wiratama-Baskoro. Brian dan Jessy tiba di sana pukul sembilan pagi, disambut oleh Arya dan beberapa staf legal yang sudah menyiapkan berkas serah terima aset."Gimana, Bri? Jess? Siap melihat 'kerajaan' baru kalian?" tanya Arya sambil menepuk pundak Brian saat mereka berdiri di lobi utama yang megah dengan lantai marmer hitam."Rasanya masih seperti mimpi, Ar. Gedung ini terlalu besar kalau cuma buat yayasan kecilku," jawab Brian jujur. Matanya menyisir setiap sudut ruangan, membayangkan bagaimana tempat ini nantinya akan dipenuhi oleh anak-anak jalanan yang belajar seni dan keterampilan."Jangan salah, Mas Brian," sela Jessy yang tampak sangat profesional dengan blazer fo
Pagi terakhir di Uluwatu disambut dengan suara deburan ombak yang lebih tenang, seolah alam Bali ikut merasakan keharuan karena pasangan ini harus segera kembali ke realita ibu kota. Brian terbangun lebih awal, ia berdiri di balkon villa hanya dengan mengenakan celana pendek, membiarkan angin laut menyapu dada bidangnya yang kini terlihat lebih kecokelatan karena paparan sinar matahari selama di Nusa Penida.Di atas ranjang, Jessy mulai menggeliat. Ia merasakan kekosongan di sampingnya dan perlahan membuka mata. Senyumnya langsung terkembang melihat siluet suaminya yang gagah berdiri membelakangi cahaya matahari pagi."Mas... sudah bangun dari tadi?" tanya Jessy dengan suara serak, ia duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.Brian menoleh, lalu berjalan mendekat dan duduk di tepi kasur. Ia mengusap pipi Jessy dengan lembut. "Sudah, Sayang. Lagi mikir, rasanya baru kemarin kita sampai, eh nanti sore sudah harus ke bandara lagi. Cepat banget ya kal
Matahari Bali baru saja mengintip dari ufuk timur ketika Brian sudah sibuk menyiapkan tas perlengkapan untuk perjalanan mereka hari ini. Di atas ranjang besar yang sprei sutranya masih tampak berantakan sisa pergulatan panas semalam, Jessy menggeliat malas. Ia menarik selimut hingga ke dagu, matanya masih terasa berat namun bibirnya menyunggingkan senyum simpul saat melihat punggung tegap suaminya yang sedang memilah tabir surya."Mas... jam berapa sih ini? Kok sudah grasak-grusuk saja?" gumam Jessy dengan suara serak khas bangun tidur.Brian menoleh, ia menghampiri ranjang dan mengecup kening Jessy dengan lembut. "Sudah jam tujuh, Sayang. Kapal pesiar kecil yang aku sewa sudah siap di dermaga Sanur jam sembilan nanti. Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau kejebak macet di jalan. Ayo bangun, Istriku yang cantik."Jessy menarik tangan Brian, membuatnya terduduk di tepi kasur. "Badanku pegel semua, Mas. Kamu semalam bener-bener nggak kasih ampun ya. Kayakn







