LOGIN"Bajingan... kowe beneran mau main kotor lewat kamera, Paman!"
Arya mendesis, suaranya parau tertelan deru baling-baling helikopter dan bising sirene yang mengepung dermaga. Ia mendekap Anya semakin erat ke dada bidangnya, membiarkan sisa jas mahalnya yang hangus menjadi tameng dari kilatan lampu kamera wartawan. Pupil matanya melebar tajam, napasnya tercekat oleh kombinasi asap karbon dan amarah yang nyaris meledakkan pembuluh darah di pelipisnya.
"Foto yang bagus, Arya! Raja M
Lampu kristal gantung di ruang kerja direktur utama lantai tiga gedung Marunda Fast memancarkan cahaya kekuningan yang hangat dan menenangkan di tengah keheningan malam itu.Arya Baswira meletakkan amplop cokelat misterius berisi foto masa lalu di atas permukaan meja kerja marmer yang dingin, lalu menatap tajam ke arah istrinya dengan saksama.Sonya Baskoro berdiri tepat di samping meja, melipat kedua tangan di dada dengan balutan kemeja putih formal yang sedikit kusut usai menjalani persidangan yang melelahkan."Waduhhh... Amplop sialan ini benar-benar datang di saat yang paling tidak tepat ketika kita baru saja merayakan kemenangan besar di persidangan," gerutu Arya tajam.Sonya menghela napas panjang perlahan, menatap foto lama yang memperlihatkan masa lalu mereka sebelum pria berbadan tegap di hadapannya bertransformasi menjadi seorang Manajer Keuangan."Biarkan saja foto mas
Suasana di dalam ruang sidang utama Pengadilan Niaga pada pagi menjelang siang hari itu terasa sangat riuh oleh bisikan para pengunjung serta sorotan lampu kilat awak media berita.Majelis hakim ketua mengetuk palu sidang tiga kali berturut-turut dengan keras untuk menertibkan jalannya persidangan lanjutan sengketa logistik korporasi yang sangat menyita perhatian publik.Arya Baswira sang mantan sopir Ratu Besi itu pun duduk tegap di sisi kanan meja tergugat mengenakan setelan jas hitam formal berbalut kemeja putih rapi, mendampingi Sonya yang memancarkan wibawa Ratu Besi.Wajah Direktur Utama PT Marunda Fast itu tampak sangat dingin, angkuh, dan memegang kendali penuh atas jalannya agenda pembuktian krusial hari ini di hadapan hukum."Waduhhh... Saksi kunci bayaran dari pihak konsorsium sebelah nampak bergetar ketakutan di kursi saksi sejak sidang dibuka tadi," gumam Arya tajam melirik ke arah depan
Pintu kayu jati ruang kerja direktur utama lantai tiga gedung pusat Marunda Fast perlahan terbuka menampilkan sosok Cindy yang berdiri membawa tumpukan map biru tebal.Sekretaris andalan itu tersenyum canggung melihat posisi Arya dan Sonya yang berdiri terlalu dekat di dekat meja sortir dokumen keuangan perusahaan sore itu."Waduhhh... Maaf Bu Direktur, saya tidak bermaksud mengganggu sesi privat bapak dan ibu di ruang kerja utama sore hari ini," ucap Cindy salah tingkah sambil menunduk.Sonya berdeham pelan untuk memulihkan wibawanya, merapikan kerah jas hitam formalnya dengan cepat lalu kembali memasang ekspresi wajah dingin dan berwibawa seorang Ratu Besi."Tidak apa-apa, Cindy... Masuklah ke dalam ruangan. Ada laporan penting apa lagi yang harus kita selesaikan sebelum jam operasional kantor hari ini resmi berakhir?" tanya Sonya tegas.Cindy melangkah masuk mendekati meja ker
Suasana di ruang rapat utama lantai tiga gedung Marunda Fast pagi itu dipenuhi oleh ketegangan yang teramat sangat pekat di antara para kepala divisi logistik.Arya Baswira berdiri tegap di samping layar proyektor besar, merapikan dokumen digital berisi transkrip rekaman ancaman sabotase depo yang diterima subuh tadi dari informan lapangan.Pria berbadan tegap itu menatap tajam ke arah para staf keamanan yang siaga mengawasi perimeter luar kawasan depo logistik pusat tanpa memberikan toleransi sedikit pun."Waduhhh... Rupanya sisa-sisa anak buah konsorsium sebelah benar-benar nekat mau mencoba merusak fasilitas depo utama kita pagi ini demi menghilangkan jejak audit," gerutu Arya tajam.Sonya Baskoro melangkah masuk ke dalam ruang rapat mengenakan setelan jas hitam formal berwibawa tinggi dengan tatapan mata setajam mata pedang yang mengintimidasi.Wibawa Ratu Besi yang dingin dan angkuh langsung membungkam seluruh suara bisik-bisik para manajer yang cemas memikirkan keselamatan aset d
Suasana di dalam kamar tidur utama kediaman mewah keluarga besar Baswira malam itu terasa sangat sunyi, hangat, dan jauh dari hiruk-pikuk ketegangan kantor pusat korporasi yang melelahkan.Lampu gantung kristal bergaya klasik memancarkan cahaya lembut yang menyinari ruangan berpenyejuk udara dengan tata letak interior yang elegan dan sangat nyaman dipandang mata.Anya Baswira, putri tercinta mereka yang tumbuh menggemaskan dan cerdas, sudah tertidur pulas di kamar sebelah didampingi oleh pengasuh kepercayaan keluarga sejak pukul sembilan malam.Arya Baswira berdiri melangkah perlahan di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke halaman belakang rumah, melonggarkan dasi hitam di lehernya dengan sabar tanpa suara.Pria berbadan kekar berbalut kemeja putih itu menarik napas panjang, merenungkan kembali panggilan telepon misterius yang sempat mencoba menggoyang stabilitas perusahaan logistik sore tadi."Waduhhh... Rupanya musuh-musuh licik itu masih belum mau menyerah begitu saja
Pagi hari di kawasan Yayasan Kasih Baskoro tampak sibuk dengan kedatangan puluhan relawan muda yang membawa kardus logistik bantuan sosial dari donatur.Brian Baskoro berdiri di depan aula utama mengenakan kemeja biru muda rapi, mengawasi proses pembagian paket sembako untuk anak-anak yatim piatu.Sebagai pengelola yayasan yang berdedikasi tinggi, Brian memastikan setiap bantuan dari korporasi tersalurkan secara tepat sasaran tanpa ada penyelewengan sekecil apa pun.Jessy berjalan menghampiri suaminya sambil membawa buku laporan keuangan donasi bulanan dengan ekspresi wajah yang tampak serius dan penuh perhitungan."Waduhhh... Mas Brian, ada laporan dari tim audit yayasan bahwa ada upaya provokasi donatur fiktif yang mencoba mencemarkan nama baik kita di media sosial," lapor Jessy cemas.Brian menghentikan langkahnya, menatap lembar laporan di tangan istrinya dengan kernyitan dahi yang dalam namun tetap memancarkan ketenangan luar biasa."Tenang saja, Sayang... Kita sudah memperketat v







