Mag-log inTabung polimer mini dari kotak sekring dapur segera disita oleh Brian Baskoro, dilarikannya berkas pengkhianatan mantan sekutu tersebut menuju aula sidang pleno komisi pengawas persaingan usaha guna menghancurkan intrik draf nota Sektor Selatan pagi ini.
Suasana di dalam ruang pertemuan berlantai kayu jati itu mendadak menjadi sangat gerah oleh tatapan tajam para utusan niaga, mengabaikan total sisa keheningan subuh pangkalan Marunda.
"Jangan beri ruang bagi pengacara komplotan
Layar laptop premium di meja kayu jati itu masih menyala. Sonya Baskoro menyilangkan kaki mulusnya, menatap Arya dengan pandangan dingin dan tajam."Klausul akuisisi lima belas armada Konsorsium Jawa-Sumatra ini sudah sempurna, Arya. Jangan membuang waktu rapat hanya karena kamu merasa curiga!"Arya tidak menjawab dengan kata-kata manis. Pria kekar berkaos kerah ketat itu melangkah mantap, menepuk lembaran kertas audit tepat di depan meja sang Direktur Utama.Brak!"Lihat baris keempat lembar neraca aktiva ini, Bu Direktur," suara Arya terdengar berat dan sangat tenang.Sonya menaikkan satu alisnya, lalu mengambil berkas itu dengan gerakan anggun. Mata cantiknya mulai menyapu angka-angka yang tertera di sana."Maya menyembunyikan selisih penyusutan nilai aset sebesar tiga puluh persen di catatan kaki," Arya menunjuk angka-angka itu dengan telunjuk besarnya. "Kalau kamu tandatangani kontrak ini sekarang, Marunda Fast menanggung beban
Suasana ruang rapat utama gedung lantai lima Marunda Fast mendadak hening seketika.Tangan mulus Sonya Baskoro mengetuk berkas tebal bersampul biru di atas meja oval kaca, menatap seluruh jajaran manajer divisi.Sebagai Direktur Utama, aura Ratu Besi dari wanita cantik bergaun hitam itu terpancar sangat dingin dan mengintimidasi."Suntikan modal sebesar lima puluh miliar rupiah dari konsorsium Singapura ini sangat strategis buat pangkalan baru kita di Kalimantan," tegas Sonya bersuara datar.Para manajer operasional dan logistik mengangguk-angguk setuju, membayangkan ekspansi armada truk tronton yang kian masif.Cindy yang duduk di sisi kiri meja rapat sigap mencatat poin-poin penting, sesekali mengusap perut dua bulannya yang masih rata.Namun dari ujung meja sebelah kanan, suara dehaman berat terdengar memotong keheningan ruang rapat tersebut.Arya Baswira merapikan posisi dasi hitamnya, memajukan tubuh kekarnya lalu menumpuk dua le
Arya menggenggam ponsel di tangannya, mendengarkan laporan Manajer Operasional Surabaya dengan raut wajah sangat tenang.Di seberang telepon, suara manajer lapangan terdengar agak bergetar melaporkan sepuluh truk kontainer yang dihadang di Pantura."Tenang, Pak Hendra… Jangan bentrok fisik di lapangan," pangkas Arya bersuara berat dan mantap."E-ehmm… M-maksud saya, mereka menahan STNK dan minta uang keamanan gila-gilaan, Pak Arya!" seru Hendra panik."Sebutkan nama ormas dan siapa pelindung di belakang mereka… Biar besok pagi tim hukum Marunda Fast yang turun tangan," perintah Arya.Setelah menyelesaikan panggilan darurat tersebut, Arya menyimpan ponselnya di atas meja kaca balkon kamar utama.Angin malam kawasan Puncak berembus cukup dingin, membawa aroma kebun teh yang menyegarkan pikiran.Sonya Baskoro melangkah k
Udara sejuk kawasan Puncak menyapa lembut vila mewah milik keluarga besar Baskoro pada Sabtu pagi yang cerah.Karpet merah dibentangkan di area taman belakang yang asri, dikelilingi karangan bunga ucapan selamat yang berderet rapi.Acara syukuran empat bulanan kehamilan Sonya Baskoro digelar secara khidmat namun penuh rasa kekeluargaan yang hangat.Ustadz pangkalan memimpin doa bersama, diikuti seluruh staf direksi, para mekanik, hingga perwakilan supir Marunda Fast.Sonya duduk anggun di samping Arya, mengenakan gamis sutra berwarna krem yang membalut lembut perutnya yang mulai membuncit.Aura Ratu Besi yang biasanya dingin dan tegas kini luluh total, berganti dengan pancaran keibuan yang sangat memikat.Arya menggenggam erat jemari istrinya, merasakan kebahagiaan yang luar biasa dalam perjalanan hidup rumah tangga mereka."Terima kasih
Panggilan Cindy dari balik pintu ruang kerja direktur membuat Sonya segera merapikan kemeja sutranya yang sempat agak kusut.Arya tersenyum miring, merapikan dasi mewahnya lalu membukakan pintu untuk menemui tamu kementerian perhubungan.Pertemuan singkat di ruang tamu VIP berlangsung sangat sukses, menghasilkan surat izin resmi operasional penuh pangkalan Sumatra.Empat jam kemudian, kabar gembira bertiup kencang dari pangkalan Marunda Fast cabang Bakauheni dan Bandar Lampung.Pangkalan cabang Lampung resmi beroperasi seratus persen di bawah pimpinan kader internal handal bentukan Brian dan Slamet.Tigapuluh unit truk tronton baru berstempel Marunda Fast mulai meluncur beriringan menyeberangi selat, menguasai rute logistik Sumatra.Di pangkalan pusat Jakarta, suasana sore terasa sangat hangat dan dipenuhi rasa syukur dari seluruh karyawan.
Slamet dengan cepat merobek amplop merah berstempel dinas pajak kota yang baru saja diserahkan oleh kurir sepeda motor.Wajah Slamet berubah agak tegang saat membaca selembar surat penetapan denda pajak bernilai miliaran rupiah."Waduhhh… Mas Arya, Mbak Sonya! Ini ada surat tagihan kurang bayar pajak pangkalan hampir lima miliar!" seru Slamet membalikkan badan.Arya menyambar lembaran kertas itu dari tangan Slamet, lalu memindai setiap baris angka menggunakan ketelitian mata manajernya.Sonya ikut mendekatkan wajahnya ke bahu Arya, membaca surat tersebut dengan kening berkerut tajam."Mana mungkin Marunda Fast punya tunggakan pajak sebanyak ini?! Semua laporan keuangan selalu kita bayar tertib!" pangkas Sonya gusar.'Sialan, ini jelas permainan kotor terakhir dari orang-orang PT Garuda Utama sebelum mereka bangkrut!' batin Arya mengepal jari tangannya.







