Home / Romansa / Gairah Terlarang Calon Mertua / Bab 28 Sentuhan posesif

Share

Bab 28 Sentuhan posesif

Author: Cynta
last update Last Updated: 2025-10-28 21:41:46

Denzel sedang berbaring, memeluk Audrey setelah malam panjang penuh gairah dan pengakuan yang mereka lewati berdua di penthouse itu. Keheningan subuh terasa damai, sebuah kontras nyata dari kekacauan emosional yang terjadi. Denzel menikmati kehangatan dan berat tubuh Audrey yang meringkuk dalam pelukannya.

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar di meja samping ranjang. Denzel beranjak dengan hati-hati, memastikan gerakannya tidak mengganggu tidur pulas Audrey. Meskipun sangat posesif, ia menghargai kelelahan wanita itu.

​Denzel duduk di kepala ranjang, mengambil ponselnya. Layar menunjukkan pesan dari Aksa. Ia membaca isinya, dan senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum itu dingin, penuh perhitungan, dan sedikit mencibir.

​“Dasar Aiden! Disuruh nikah gak mau tapi gak tahan dengan godaan wanita itu!” gumamnya lirih. Ia merasa menang, Aiden telah jatuh tepat ke dalam perangkap yang sengaja ia ciptakan.

​[Denzel : Bagus, makasih.. Sekarang kamu pulang aja, kita bicara lagi besok..]

​Setelah memb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 206 ‘Hukuman’ yang menanti

    ​Langit di atas pemakaman keluarga Shaquille seolah terbelah. Di satu sisi, peti mati orang tua Denzel siap bersatu dengan bumi, namun di sisi lain, genangan darah Lorenzo dan pengorbanan tragis Aiden meninggalkan aroma amis yang menyesakkan. Kabut yang merayap di antara nisan-nisan marmer menambah suasana mencekam, seolah-olah maut masih enggan pergi dari sana. ​Melihat ekspresi wajah Denzel yang berubah menjadi gelap dan dingin seperti malam yang tak berbintang, Audrey segera menggelengkan kepalanya. Ia merasakan cengkraman tangan Denzel di bahunya mengeras, tanda bahwa monster posesif di dalam diri pria itu sedang bangkit. ​“Tidak Denzel, aku... Aku hanya ingin tahu kondisinya... Dia... Menyelamatkan aku...” lirih Audrey. Suaranya bergetar, matanya masih terbayang bagaimana Aiden menerjang belati Velove demi melindunginya. ​“Dia menyelamatkanmu karena masih mencintaimu!” bentak Denzel. Suaranya yang berat bergema di antara kesunyian makam. Ia menatap Audrey dengan tatapan yang n

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 205 Tanah pemakaman berdarah

    ​Denzel melangkah maju, perlahan dan pasti. Ia mengambil senjata apinya, menodongkan laras dingin itu tepat ke dahi Lorenzo yang kini bersimbah keringat dingin. "Semua pasukan yang kamu sewa sudah dilumpuhkan dan digantikan oleh orang-orangku satu jam yang lalu. Kamu sendirian, Lorenzo." ​Lorenzo mendongak, matanya merah penuh kebencian. "Kamu pikir ini berakhir di sini? Tidak... Aku sudah menyiapkan sasaran pada kelemahanmu... Lihat ke belakang mu, Denzel!" ​Denzel sempat melirik sekilas ke arah Audrey dan Trustin. Mereka masih berdiri di sana, dijaga ketat. "Mereka aman. Dan sekarang, waktunya kamu menemui Papaku, Lorenzo!" ​Denzel menarik pelatuknya. DOR! Kepala Lorenzo tersentak ke belakang, nyawanya tercabut seketika, di atas tanah pemakaman yang ingin ia hancurkan. ​Sesaat suasana disana terasa begitu hening, tapi keheningan setelah tembakan itu hanya bertahan sedetik karena semua orang tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba.. ​"DENZEL, TOLONG!!!" ​Teriaka

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 204 Pertarungan di pemakaman

    ​Tepat pukul sembilan pagi, iring-iringan mobil jenazah bergerak meninggalkan mansion. Suasana sangat mencekam. Puluhan mobil hitam dengan kaca gelap mengawal dua mobil jenazah di depan. Di sepanjang jalan menuju pemakaman pribadi keluarga Shaquille di perbukitan, tim elit Aksa sudah berjaga di setiap jembatan dan persimpangan. ​Denzel duduk di mobil utama bersama Audrey dan Trustin. Sepanjang perjalanan, tangan Denzel tidak pernah lepas dari pinggang Audrey, mendekapnya posesif seolah sedang melindungi permata paling berharga di dunia. ​Denzel akhirnya merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya yang terus bergetar. Ia baru sempat membuka pesan yang masuk sejak pagi tadi. ​[08123xxxxxxx : Pemakaman keluarga Shaquille telah siap. Semua lubang sudah digali, termasuk untukmu.] ​Mata Denzel menyipit tajam. Kilat kemarahan yang tampak jelas dari manik matanya. Ia tidak membalas pesan itu. Ia justru mematikan ponselnya dan menoleh ke arah jendela, menatap gerbang besi pemakaman kelua

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 203 Gairah di rumah duka

    ​Setelah aktivitas mandi yang cukup panas dan menguras tenaga, Denzel membantu Audrey berpakaian. Mereka mengenakan pakaian serba hitam yang melambangkan duka sekaligus kesiapan untuk berperang. Denzel mengenakan jas hitam dengan rompi antipeluru di dalamnya, sementara Audrey mengenakan dress hitam sederhana namun elegan, lengkap dengan mantel yang menyembunyikan perlindungan yang sama, anti peluru. Mereka juga menyembunyikan senjata api dibaliknya. ​Denzel menggandeng tangan Audrey menuju lift. Wajahnya kini benar-benar mendingin, kembali menjadi sosok pemimpin Shaquille yang tak kenal ampun. ​"Ingat, tetap di dekatku. Jangan lepaskan tanganku sedetik pun saat kita di mansion dan pemakaman," bisik Denzel tegas. ​”Iya, aku mengerti, Denzel!” Audrey mengangguk, ia menggenggam tangan Denzel erat, menyalurkan dukungan penuh lada suaminya. ​Saat mereka melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu di lobi, ponsel Denzel yang berada di saku jasnya bergetar pelan. Denzel tidak la

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 202 Hasrat pagi di balik kabut kematian

    ​Denzel melirik Audrey yang masih terlelap dengan sisa-sisa rona merah di pipinya karena aktivitas panas beberapa jam yang lalu. Ia meraih ponsel itu dengan tangan yang kembali mendingin, seolah emosi hangat yang ia rasakan beberapa jam lalu langsung terhisap habis oleh insting waspadanya. Denzel menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. ​[Ya, Aksa. Ada apa?] ​Suara Aksa di seberang sana terdengar sangat berat, penuh dengan nada darurat yang membuat bulu kuduk Denzel berdiri. [Denzel, aku baru saja sampai di mansion. Jenazah Tuan Besar dan Nyonya sudah tiba dengan pengawalan ketat. Trustin sudah mengambil alih koordinasi keamanan di sini.] [Bagus. Lanjutkan prosesnya di mansion.] ​Denzel menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya. [Oke.. Lalu, bagaimana dengan anggota keluarga yang lain? Apa harus mengabari mereka?] ​[Jangan! Tidak perlu,] potong Denzel cepat. [Kondisi saat ini masih darurat. Lorenzo masih berkeliaran dan aku tidak ingin ada lebih

  • Gairah Terlarang Calon Mertua   Bab 201 Gairah puncak sesungguhnya

    Denzel bersandar di dinding marmer yang dingin, kepalanya mendongak dengan mata terpejam, sementara napasnya tersengal siap merasakan kehangatan basah dan lembut yang akan membungkus pusat gairahnya. ​Audrey menatap Denzel dengan mata yang sayu namun penuh tekad. Tangannya yang lembut meraih Anaconda milik Denzel yang sudah menegang sempurna, berdenyut menuntut kebebasan. Perlahan, Audrey mendekatkan wajahnya, membiarkan napas hangatnya menyentuh ujung kejantanan Denzel yang sensitif. ​“Sshhh... Audrey... Lakukan, baby,” geram Denzel serak. ​Tanpa menunggu lama, Audrey mulai melumat ujung Anaconda itu dengan sensual. Ia menenggelamkannya perlahan ke dalam mulutnya, merasakan ukuran yang memenuhi rongga mulutnya hingga ke pangkalnya. Lidahnya mulai bermain, menjilat dan memutar di bagian kepala yang sensitif layaknya sedang menikmati es krim yang paling lezat di dunia. ​“Oouugghhh... Damn, baby! Kamu akan membuatku gila malam ini!” erang Denzel. Tangannya yang besar merayap ke kep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status