LOGINDua hari telah berlalu sejak kekacauan di Hotel Grand Viera. Dua hari di mana Audrey mengurung diri di apartemennya, sibuk dengan pemikiran dan keputusan gilanya seakan merasakan sakit yang belum sembuh.
Namun hari ini, ia memaksa dirinya kembali ke kantor. Bagaimanapun, hidupnya harus terus berjalan. Di dalam lift kantor, napas Audrey tertahan. Ia mengenakan blus putih profesional dan rok pensil, berusaha memancarkan ketenangan yang jauh dari yang ia rasakan. Ia bekerja di departemen pemasaran, dan sayangnya, di bawah pengawasan langsung Stella, wanita yang mendesah nikmat bersama Aiden, tunangannya, di kamar mandi. "Selamat pagi, Bu Audrey," sapa resepsionis, senyumnya ramah, tapi Audrey tahu sorot mata karyawannya dipenuhi keingintahuan akan drama pertunangan yang gagal. Audrey hanya mengangguk tipis. Ia berjalan menuju mejanya, berusaha fokus pada tumpukan file di hadapannya. Namun, fokus itu adalah ilusi. Setiap kali matanya terpejam, bayangan wajah Denzel muncul. Bukan wajah Aiden, tapi Denzel. Aroma maskulinnya… Ciumannya yang membakar di dalam lift… Suara beratnya saat memanggil namanya diantara desahan dan membuat Audrey selalu menggila… Audrey menggelengkan kepala, mencoba mengusir imajinasi liar itu. Ia harus melupakan Denzel. Pria itu adalah kesalahan, menambah rasa sakit dari alkohol yang ia teguk malam itu. Audrey ingat bagaimana ia terbangun di Suite Presidential, kamar Denzel, beberapa jam setelah drama di ballroom. Denzel tidak ada di sana, hanya menyisakan secarik kertas dengan tulisan tangan rapi, 'Aku tahu kamu pasti akan mencoba kabur. Tapi jangan khawatir, aku akan menemukan mu. Sampai saat itu, ingatlah rasanya bagaimana kamu ada di ranjangku. Denzel.' Kata-kata itu, sensual dan penuh janji kepemilikan, justru membuatnya semakin ketakutan. Denzel terlalu intens, terlalu berbahaya. Ia telah menghancurkan hidupnya dengan satu malam yang tidak kaan terlupakan. Di tengah lamunannya, Stella muncul di meja kerjanya. Atasan Audrey itu tampak lebih tegang dari biasanya. "Audrey," panggil Stella, suaranya dipaksakan profesional. "Aku tahu ini tidak nyaman, tapi kita harus bersikap profesional, kan?" "Tentu saja, Stella," jawab Audrey, tatapannya datar. Tidak ada amarah, hanya kekosongan yang membuat Stella sedikit terintimidasi. "Bagus. Karena kita ada pertemuan penting pukul 10 dengan CEO perusahaan. Kita harus merevisi presentasi strategi pemasaran. Aku tidak mau ada kesalahan, mengerti?" perintah Stella, mencoba kembali menguasai suasana. Audrey mengangguk. "Saya mengerti, Bu." Saat Stella berbalik, ia berbisik sinis, "Dan urusanmu dengan Aiden, simpan di luar kantor. Aku tidak mau reputasi perusahaan ini tercoreng." Audrey mendongak. "Reputasi perusahaan sudah tercoreng sejak kamu bercinta dengan calon tunanganku di kamar mandi hotel, Stella! Aku hanya mengakhirinya, kamu harus ingat itu!” Stella membalikkan badan, wajahnya memerah. "Jaga bicaramu, Audrey! Aku atasanmu!" "Dan aku adalah korbanmu!" balas Audrey pelan, tapi tatapannya menusuk. Stella mendengus, lalu berbalik pergi, tidak mampu membalas tatapan membunuh dari bawahannya. Audrey menyandarkan punggung ke kursi, jantungnya berdegup kencang. Sekarang ia merasa benar-benar sendirian, hanya ditemani oleh bayangan Denzel yang tak kunjung hilang dari pikirannya. ’Kenapa aku masih bisa merasakan sentuhannya di sini?’ Ia menyentuh bibirnya, mengingat ciuman terakhir Denzel di dalam lift. Sensasi panas itu terlalu nyata. Pria itu seakan menempel bagaikan telah menyatu dengan jiwanya dan menuntutnya untuk terus merasakan sentuhan itu. ** Pukul sepuluh kurang lima menit, Audrey berdiri di depan ruang rapat utama, membawa file presentasi. Jantungnya berdebar, bukan karena gugup akan CEO baru, tapi karena rasa takut yang tidak ia ketahui asalnya. Tiba-tiba, seorang pria berjas rapi, Asisten Eksekutif yang jarang terlihat, menghampirinya. "Nona Audrey Ginnifer?" tanyanya tergesa. "Ya, saya," jawab Audrey. "Anda tidak jadi ikut rapat. CEO meminta Anda langsung ke ruangannya. Sekarang," perintah Asisten itu, tatapannya serius. "Saya? Tapi saya tidak ada janji. Dan Stella harusnya yang masuk..." "Itu perintah. Cepat, Nona. Beliau tidak suka menunggu," potongnya. Audrey mengikuti Asisten itu menuju lift pribadi di sudut gedung. Keheningan lift itu terasa mencekam. Semua orang di kantor menatapnya. Raut wajah mereka menyiratkan satu hal, ‘Kamu tamat, Audrey. Kau pasti melakukan kesalahan besar.’ Lift berhenti di lantai paling atas. Asisten itu membukakan pintu Suite CEO. Ini adalah ruangan yang sangat eksklusif, belum pernah ada karyawan biasa yang masuk. Saat Audrey melangkah masuk, ia melihat punggung seorang pria berdiri membelakangi jendela besar, memandang ke pemandangan kota. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap, bahunya lebar dan tegap. "Tuan CEO, ini Nona Audrey Ginnifer," kata Asisten itu, lalu buru-buru menutup pintu, meninggalkan Audrey sendirian. “Selamat pagi Pak.. Saya Audrey, apa anda memanggil saya..?!” suara Auy tampak sedikit gugup, dia sama sekali belum pernah bertemu dengan CEO perusahaannya selama ini. Pria itu berbalik perlahan. ***Denzel baru saja meletakkan ponselnya setelah memastikan seluruh tim keamanan luar sudah melapor. Ia menoleh ke arah ranjang, melihat Audrey yang sedang menepuk-nepuk pelan pantat Kenneth agar bayi itu terlelap. Denzel tersenyum tipis, ia mendekat dan mencium kening Audrey dengan penuh cinta. "Dia sudah tidur?" bisik Denzel. "Baru saja, Denzel. Jangan berisik, nanti dia bangun lagi," balas Audrey pelan. Denzel mengangguk, ia kemudian berjalan menuju meja kerjanya di sudut kamar untuk memeriksa beberapa laporan rutin melalui laptopnya sebelum ia benar-benar ikut berbaring di samping istrinya. Namun, begitu layar laptop menyala dan ia membuka portal bursa saham, kening Denzel berkerut tajam. "Sialan… Apa-apaan ini?!" desis Denzel. Audrey yang baru saja hendak memejamkan mata, langsung terduduk kembali. "Ada apa, Denzel? Kenapa wajahmu tiba-tiba tegang seperti itu?" "Saham Trustin Group, Audrey. Grafiknya terjun bebas dalam waktu tiga puluh menit terakhir. Ini bukan fluktuasi
Audrey duduk di atas karpet bulu diruang keluarga sambil menemani Kenneth yang sedang asyik bermain dengan mainan gantungnya. Di sofa, tumpukan katalog bunga dan kain sutra berserakan. Denzel masuk ke ruangan itu dengan wajah yang sedikit ditekuk. Ia langsung menghampiri Audrey dan duduk di samping istrinya, menyandarkan kepalanya di bahu Audrey seperti anak kecil yang merajuk. "Sayang, hentikan dulu mengurus bayi Kenneth. Perhatikan aku sebentar," keluh Denzel. Audrey menoleh sambil tersenyum geli. "Denzel, Kenneth baru saja bisa memegang mainannya sendiri. Lihatlah, dia sangat pintar." "Aku tahu dia pintar, dia anakku. Tapi aku lapar, dan aku ingin kamu menemaniku makan malam di balkon, hanya kita berdua," tuntut Denzel. Ia mulai menciumi bahu Audrey yang terbuka, mengabaikan Kenneth yang menatap Papanya dengan mata bulat yang bingung. "Denzel, jangan di depan anakmu! Dan lihat, ada Elena dan Aiden datang," bisik Audrey sambil mendorong wajah Denzel dengan lembut.
Malam harinya, suasana di dalam kamar medis terasa jauh lebih tenang namun dipenuhi ketegangan yang berbeda. Aiden baru saja selesai mandi, ia hanya mengenakan celana kain hitam tanpa atasan, membiarkan tato dan otot-otot tubuhnya terpampang jelas. Handuk kecil masih melingkar di lehernya saat ia melangkah mendekati ranjang tempat Elena bersandar membaca buku. Elena mendongak dan seketika merasa tenggorokannya kering. Penampilan Aiden selalu berhasil membuatnya terpesona, namun malam ini, aura pria itu terasa sangat mendominasi. Aiden merangkak naik ke atas ranjang, gerakannya seperti singa yang sedang mendekati mangsanya. Ia mengambil buku dari tangan Elena dan meletakkannya di meja nakas tanpa melepaskan tatapan mata. "Waktunya istirahat, Elena," gumamnya. "Aku belum mengantuk, Aiden," jawab Elena pelan, jantungnya mulai berdegup tidak keruan saat Aiden memposisikan diri di atas tubuhnya, menumpu berat badannya dengan kedua siku agar tidak menekan perut Elena yang masih ter
Aiden masih menggenggam tangan Elena dengan erat, membuat istrinya itu semakin penasaran. Ia memandang wajah pucat Elena yang memperhatikannya, menatap rahangnya tegas yang kini sedikit rileks. "Rencana apa, Aiden? Jangan membuatku penasaran.." Aiden memperbaiki posisi duduknya, menarik Elena agar semakin merapat ke tubuhnya. Ia tidak peduli pada keberadaan Denzel, Audrey, atau Papa kandungnya sendiri di ruangan itu. Baginya, pusat perhariannya saat ini hanya wanita di sampingnya. "Aku akan membawamu liburan, Elena. Begitu luka operasimu sembuh total dan dokter mengizinkan kamu melakukan perjalanan jauh, kita akan pergi dari sini," jawab Aiden dengan suara rendah yang dalam, penuh otoritas. Elena mengerjapkan mata. "Liburan? Ke mana?" "Ke resort pribadi di dermaga utara. Tempat itu jauh dari kebisingan kota, jauh dari jangkauan media, dan yang paling penting... Jauh dari jangkauan musuh-musuh kita. Proyek pembangunan di sana sudah hampir selesai, dan aku ingin memantaunya lang
Cahaya matahari mulai masuk melalui celah gorden kamar medis di Mansion. Suasana yang tadinya mencekam bercampur dengan aroma mesiu dan darah, kini perlahan digantikan oleh bau karbol yang tajam. Keheningan yang menyelimuti mansion terasa begitu kontras dengan kegilaan yang terjadi semalam. Aiden masih berada di posisi yang sama sejak semalam. Ia duduk di tepi ranjang, matanya tampak kemerahan karena kurang tidur, tidak sedetikpun pandangannya berpaling dari wajah Elena. Istrinya itu masih tertidur lelap akibat pengaruh obat penenang, napasnya tampak teratur, namun sesekali keningnya berkerut, pertanda mimpi buruk masih mencoba hadir di mimpinya. Perlahan, Aiden mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar. Ia mengusap pipi Elena dengan punggung jarinya, sangat lembut. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi, Elena. Tidak akan pernah," bisik Aiden pelan. Suaranya serak, penuh dengan beban emosi yang belum reda. Elena sedikit menggeliat. Matanya terbuka perlahan, m
Denzel terdiam sesaat mendengar pengakuan Pramono. Alisnya mengerut sesaat sebelum sebuah pertanyaan, “Apa Trustin juga terlibat masalah ini?!” Aksa segera menekan interkom di telinganya. [Tim pusat, lakukan identifikasi ulang retina dan struktur ulang seluruh anggota tim elit yang bergabung dalam lima tahun terakhir. Cari kecocokan dengan data Bagas! SEKARANG!] Pramono tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti ejekan yang mengerikan. "Sudah terlambat. Kalau dia tahu aku tertangkap, dia pasti sudah bergerak menuju target terakhirnya." Sementara itu, di lantai atas, di dalam kamar medis yang sunyi, Aiden masih terjaga. Ia duduk di sisi ranjang, memandangi wajah Elena yang tampak sangat damai dalam tidurnya. Aiden mengulurkan tangan, mengelus rambut Elena dengan sangat lembut. Rasa posesif itu kembali menyelimuti hatinya. Ia merasa hanya di ruangan ini, di bawah pengawasannya, Elena akan benar-benar aman. "Aku akan mengurungmu di sini kalau perlu, Sayang," gumam Aide







