Masuk"Ana dan Viko bertengkar, hari ini." Satu kalimat pesan teks dari Asih, membuat senyum di wajah Andrew tampak mengembang.
Andrew lantas menelepon Asih untuk memastikan kebenarannya. "Apa itu benar?""Tentu saja, Pak. Aku menyaksikannya sendiri.""Bagaimana bisa? Mereka kan tinggal di rumah yang berbeda." Andrew jadi penasaran."Aku lupa cerita ya, kalau semalam, Ana datang ke sini. Dia menyusul Viko." Asih menceritakan semua yang ia lakukan. Mendengar semua perkataan Asih, Andrew mengangguk pelan, kali ini dia akan melancarkan rencana kedua.****Viko mencoba menelepon Ana, tapi ponselnya tetap tak bisa dihubungi. Ia menghubungi ibunya, menanyakan apakah Ana kembali ke sana."Tidak ada, Ana tidak ada di sini. Mungkin dia pulang ke rumah kalian.""Tidak. Ana tidak pulang."Kalimat Viko membuat Aurelia khawatir. "Lalu kemana dia pergi?""Dia pasti pulang ke rumah orang tuanya." Asih yang sejakMusim hujan telah tiba. Banyak orang juga mulai terserang virus flu.Sudah lima hari, mendung selalu menyelimuti Kota Pyrus. Hujan deras saat malam menjadi rutinitas cuaca di sana. Malam ini, seperti malam malam kemarin, hujan turun dengan lebatnya. Langit gelap dihiasi cahaya petir yang menyambar. Bangunan rumah Asih sudah waktunya untuk direnovasi. Bukan renovasi besar, hanya memeriksa bagian genting dan talang air. Tapi karena keterbatasan waktu, Viko tak sempat untuk melakukan semuanya itu. Ia juga lupa untuk menelepon tukang untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan itu. Akibatnya, rumah mengalami kebocoran parah. Semalaman Asih tidak bisa tidur dengan tenang karena harus membersihkan lantai yang basah karena air hujan merembes masuk."Ahirnya semuanya selesai." Asih yang kelelahan terduduk di kursi sofa. Entah sudah berapa lama ia tertidur, hingga akhirnya ia terjaga karena perutnya kelaparan.Asih bangun, ia memasak sebenta
Ana diam mematung memandangi layar ponselnya cukup lama. Viko melirik sesekali ke arahnya, melihat ada gurat kekhawatiran di wajah istrinya. "Ada apa? Apa yang sedang kau baca?"Namun Ana memilih untuk menyembunyikan apa yang sedang mengganggu pikirannya. Ia menggeleng dengan cepat. "Tidak ada. Aku hanya baca berita saja." Mobil mereka akhirnya tiba di rumah. Rumah terasa kosong, padahal baru beberapa hari Ana tidak pulang.Viko memilih untuk menemani istrinya seharian daripada harus bekerja. Ia juga mengupayakan untuk mengirim sejumlah uang pada Andrew, agar Andrew berhenti men3rornya untuk beberapa waktu.****"Jadi ini yang akhirnya aku dapatkan? Aku diusir pulang ke desaku dengan kondisi hamil." Asih mengusap air matanya yang menetes di pipi."Asih, apa kau sudah siap?" Aurelia mengetuk pintu kamar. "Ya sebentar lagi aku selesai berkemas." Asih menjawab lemah."Baguslah! Perjalanan pergi ke desamu, membutu
"Apa sebenarnya maksudmu, Andrew?! Kenapa kau terus saja mengikuti aku? Sudah berapa kali kukatakan, aku sudah menikah." Ana mencoba memperingatkan."Pernikahan apa yang kau maksudkan? Kau menikah dan kau sekarang tinggal di rumah orang tuamu. Tapi ini yang terbaik untukmu, Ana." Andrew menatap dalam.Pintu rumah sedikit terbuka, Sandra baru saja pulang dari pasar. Salah satu pelayannya masuk lebih dulu sambil membawa barang belanjaan. Sementara Sandra, ia berhenti di ruang tamu. Wajahnya tampak tegas, terutama ketika bertemu dengan Andrew."Aku kira dia yang datang ke sini. Rupanya bukan." Sandra mengamati wajah Andrew yang melekat di ingatannya. "Kau, Andrew, kan?" Andrew mengangguk. Ia tersenyum ramah lalu menyodorkan tangan mengajak Sandra bersalaman. "Senang bisa melihatmu dengan keadaan yang jauh lebih baik daripada dulu saat pertama kali kita bertemu." Sandra menjabat tangan Andrew."Ya, aku datang ke sini untuk menjengu
Viko pulang dengan tangan kosong, ibu mertuanya menolaknya sebelum ia bertemu dengan istrinya. "Ini tidak bisa dibiarkan."Viko kembali ke rumahnya sendiri. Malam ini, ia hanya akan tidur ditemani oleh dinginnya angin malam. Belum juga matanya terpejam, sang ibu kembali menelepon dan menanyakan pertanyaan yang sama. Bagaimana keadaan Ana? Dimana dia? Viko menjawab dengan sejujurnya. Dan ia juga menceritakan bagaimana situasinya saat menjemput Ana untuk pulang."Semua ini adalah salahmu! Kau bermain api dengan wanita lain! Apa sebenarnya maumu Viko?! Kenapa kau membuat malu keluarga kita!" Aurelia semakin panik. "Aku khilaf, Ma. Dan aku sudah berusaha untuk menjelaskan pada Ana. Lagi pula, Ana masih belum tahu yang sebenarnya mengenai aku dan Asih. Dia hanya tahu, kalau Asih kembali ke rumah." "Dia hanya tahu itu, dan dia langsung pulang ke rumahnya! Bayangkan kalau dia tahu yang sebenarnya terjadi!" Aurelia mematikan sambungan telepon.
"Ana dan Viko bertengkar, hari ini." Satu kalimat pesan teks dari Asih, membuat senyum di wajah Andrew tampak mengembang.Andrew lantas menelepon Asih untuk memastikan kebenarannya. "Apa itu benar?""Tentu saja, Pak. Aku menyaksikannya sendiri." "Bagaimana bisa? Mereka kan tinggal di rumah yang berbeda." Andrew jadi penasaran."Aku lupa cerita ya, kalau semalam, Ana datang ke sini. Dia menyusul Viko." Asih menceritakan semua yang ia lakukan. Mendengar semua perkataan Asih, Andrew mengangguk pelan, kali ini dia akan melancarkan rencana kedua.****Viko mencoba menelepon Ana, tapi ponselnya tetap tak bisa dihubungi. Ia menghubungi ibunya, menanyakan apakah Ana kembali ke sana. "Tidak ada, Ana tidak ada di sini. Mungkin dia pulang ke rumah kalian.""Tidak. Ana tidak pulang."Kalimat Viko membuat Aurelia khawatir. "Lalu kemana dia pergi?""Dia pasti pulang ke rumah orang tuanya." Asih yang sejak
"Sudah kuduga, kau ada di sini. Kau lah yang semalam aku lihat berkeliaran di lantai atas." Ana menahan emosinya."Aku memang di sini. Karena aku harus ada di sini!" sahut Asih tanpa rasa takut."Kau harus ada di sini? Apa maksudmu?!" Ana mengamati Asih dari ujung kaki sampai kepala. Tak ada yang terlewat dari pandangannya meski hanya sedikit."Ana aku sungguh merasa kasihan padamu." Asih berjalan melewati Ana. Namun Ana dengan cepat meraih pergelangan tangan Asih, menghentikan Asih melangkah menjauh."Ada apa lagi? Kenapa kau memegangiku!" Asih menarik tangannya dengan kuat."Tidak akan pernah aku lepaskan, sampai kau mau mengatakan, kenapa kau kembali ke rumah ini!" seru Ana.Suara perdebatan mereka terdengar oleh Aurelia dan yang lainnya. Aurelia beranjak dari kamar, ia berusaha agar apa yang sedang ia sembunyikan tetap menjadi rahasia."Ana, kau sudah bangun rupanya!" Aurelia berjalan ke arahnya dengan wajah tersenyum, senyum yang menyimpan segudang rahasia."Kenapa dia ada di sin







