LOGIN"Harusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang kau lakukan di sini! Kenapa kau berani masuk ke ruanganku tanpa izin!" Arnold meneriaki balik wanita tersebut.
"Maaf Pak." Si wanita segera menutup pintu dengan kasar. Wanita itu adalah sekretaris pribadi Arnold yang sejak lama memendam rasa kepada Arnold namun Arnold enggan untuk menanggapinya."Aku minta maaf padamu. Aku terpengaruh minum minuman ker4s. Ini uang untuk semua gula yang aku ambil dari kiosmu!" Arnold menarik laci meja dan mengambil uang dari sana. Ia menyerahkan uang itu kepada Sulastri.Sulastri tak banyak bicara. Ia hanya mengangguk dan mengambil uang dalam amplop coklat tersebut. Lalu keluar dari ruangan Arnold."Hufft! Untunglah perempuan itu tadi datang tepat waktu. Kalau tidak, maka aku bisa diperk0s@ oleh orang kaya itu!" keluh Sulastri.Sulastri memutuskan untuk pergi ke kios dan menyerahkan uang hasil penjualan gula kepada bosnya.Sesampainya ia di pasar, si boPria berbaju kuning hendak kembali ke tenda, untuk mengambil sekop dan alat lain yang dapat membantu mereka untuk menggali tanah."Tolon-g...." Suara Andrew terdengar samar di telinga mereka."Suara siapa itu?" ucap si pria berbaju biru, kaget. Andrew menggerakkan tangannya, berusaha memberi tanda, jika ia masih hidup. "Tolong aku." "Dia masih hidup!" seru pria berbaju kuning.Mereka bertiga pun membawa Andrew ke rumah sakit. Mereka juga melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib.****Keesokan harinya, Viko mengajak Ana untuk pindah ke rumah miliknya yang lain. Rumah yang sudah kosong sejak 2 tahun terakhir itu, sudah dibersihkan secara menyeluruh. Atap rumah juga sudah diperiksa, untuk memastikan tak ada kebocoran saat hujan mengguyur."Bagaimana menurutmu? Apa kau menyukai rumah ini?" Viko memegang tangan Ana dengan lembut sambil mengajak istrinya melihat lebih dalam."Bagus. Rumahnya bagus. Aku m
Sapta menghubungi Viko, sesaat setelah ia sampai di rumahnya. "Tugasku sudah selesai. Dia sudah m4ti. Polisi pasti akan menemukan j4s@dnya, dalam beberapa hari.""Apa kau serius?" Viko menjadi bersemangat, mendengar kabar tersebut."Tentu saja! Aku sudah membuangnya ke jur4ng, berikut dengan sepeda motor miliknya! Hahaha!""Hahahahaha! Bagus sekali Sapta!" Viko melompat kegirangan."Sekarang, berikan sisa uangku! Aku mau semua uangku dibayar lunas, malam ini!" "Tentu saja! Aku akan mentransfer uangnya ke rekeningmu, sekarang. Kau tunggu sebentar ya!" Viko mematikan sambungan teleponnya. Ia membuka aplikasi mobile banking, menulis jumlah uang yang cukup banyak dan mengirimnya ke rekening milik Sapta."Sudah selesai! Akhirnya masalahku sudah selesai. Sekarang, tidak akan ada yang tahu soal hubunganku dengan Asih. Aku bisa menjalani hidupku dengan damai." Viko bicara pada dirinya sendiri.Saat ini, Viko masih berada di kan
Langit makin gelap, suara gemuruh petir juga terdengar. Di kanan dan kiri jalan hanya ada pepohonan yang tumbuh lebat. Jalanan beraspal terlihat makin sempit dan menanjak. Sepeda motor milik Andrew masih melaju kencang di jalanan. Hingga akhirnya, jalanan beraspal berganti dengan tanah basah. Mereka sudah melewati jalanan beraspal, menjauh sekitar beberapa kilo meter.Suara deru mesin sepeda motor berhenti. Kawan sejawat Sapta, memarkirkan sepeda motor milik Andrew di bawah pohon trembesi di dekat jembatan gantung tua yang sudah lama tidak pernah mendapatkan jatah pemugaran dari pemerintah kota setempat.Sapta juga mematikan mesin sepeda motor. "Terima kasih karena mau mengantarkan aku sampai di sini." Andrew turun dari motor. Matanya menatap nanar ke arah kawan sejawat Sapta. "Kau mau ini?" ucap pria berbadan cungkring dengan senyum mengejek."Kembalikan sepeda motorku!" teriak Andrew."Tentu saja! Ayo ambil saja sepeda motormu!"
Pria berbadan kekar mengambil amplop coklat, membukanya lalu menghitung jumlah uang di depan pemberinya. "Hanya ini saja uang bayarannya?" Si pria melirik ke arah Viko."Pelunasannya setelah tugasmu selesai." "100 juta." Si pria menyodorkan tangan, mengajak bersalaman sebagai tanda kesepakatan."Baiklah!" Viko menyambut tangan si pria kekar dengan senang hati."Akan aku kerjakan mulai besok pagi." Si pria menyalakan ujung gulungan tembakau yang dibalut kertas. Menghisapnya dalam dalam, sembari mengamati foto Andrew. Viko pun berpamitan pulang.****"Asih, malam ini aku tidak bisa datang. Aku sudah mengirimkan uang ke rekeningmu. Kau bisa membeli makanan kesukaanmu untuk menemanimu malam ini." Tulis Viko di ponselnya. Dengan cepat pesan singkat itu mendapatkan 2 centang hijau. Tanda si penerima telah membaca isinya.Tak ada balasan, karena Asih hanya membaca sekilas lalu meletakkan ponselnya lagi di atas meja. Ana masuk ke dalam kamar, ia melihat suaminya sibuk bermain dengan benda p
Viko sampai di rumah. Ia duduk di ruang tamu, tangannya memegang ponsel tapi matanya menatap ke arah yang berbeda. "Aku membuatkan teh untukmu." Ana menyapa, dengan secangkir teh di tangannya.Viko hanya diam, tatapannya seperti kosong. Seolah suara Ana hanya menggema di udara tak pernah sampai ke telinganya."Viko, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa tegang sekali?" Ana memperhatikan wajah suaminya yang tanpa ekspresi.Viko menoleh, ia menggeleng pelan. Ana menyodorkan gelas berisi teh. "Minumlah, supaya lebih rileks." "Terima kasih, Ana." Viko menatap Ana, dalam. Ucapan terima kasihnya terdengar cukup tulus."Jika ada masalah, katakan saja. Aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu." Meski memiliki segudang pertanyaan dan banyak keraguan terhadap Viko, Ana ingin rumah tangganya baik-baik saja."Tidak ada masalah apa-apa, Ana. Semuanya baik-baik saja." Mana mungkin Viko mengatakan yang sebenarnya pada Ana."Baiklah kalau begitu. Aku harus ke dapur untuk memasak makan m
Viko dengan enggan harus mengakhiri permainan panasnya. Ia meraih celananya yang ada di sisi ranjang. "Siapa yang datang malam - malam begini?" Viko mengomel sembari berpakaian. "BRak!" Tamu yang ada di luar rumah, tampaknya tak sabar menunggu sang empunya membuka pintu.Viko akhirnya membuka pintu rumah. Ia melihat wajah tak asing berdiri tepat di depannya."An- Andrew? Sedang apa kau di sini? Dan bagaimana kau bisa tahu, kalau aku ada di sini?" Mata Viko melotot, hampir keluar dari tempatnya."Mobilmu ada di depan rumah. Dan aku tinggal tak jauh dari sini." "Kau tinggal dimana?""Sedang apa kau di sini?" Andrew tak menjawab pertanyaan dari Viko, ia malah balik bertanya."Aku, ini adalah rumah temanku. Ada urusan yang harus ku kerjakan di sini.""Jadi ini adalah rumah temanmu?" Kedua mata Andrew memindai bagian luar rumah dengan cepat."Aku sudah selesai. Aku harus pulang sekarang." Viko keluar dari pintu dan langsung menutup pintu rumah. Sementara Asih, dia hanya berdiam diri di







