LOGINSementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir.
“Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna yang merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang. “Sayang, Aku akan bercerai saat putri kecilku berusia dua tahun,” janji Krisna seraya melepaskan celana panjangnya dan memandang punggung sang kekasih yang merajuk. “Janji- janji saja. Aku bosan dengarnya! Mas tahu dua tahun lagi umurku 32. Aku juga mau punya anak dari kamu, Mas,” keluhnya melipat tangan dan masih membelakangi Krisna. “Sayang, lihat ini..., dia kangen kamu. Katanya kamu ingin punya anak. Kamu enggak kangen? Cepat duduk sini sayang,” pinta Krisna dalam posisi tanpa selembar benang melekat ditubuhnya. Wanita berusia 30 tahun, rambut berwarna coklat tua menoleh ke arah Krisna. Sesaat kemudian, wanita itu melepaskan seluruh benang yang melekat pada tubuhnya, menelan air liur dan memainkan bagian coklat pada kedua gunung kembar miliknya. Setelah itu, wanita yang bernama Santi Sutopo beranjak ke ranjang, naik ke tubuh polos Krisna dengan masih memainkan kedua gunung kembarnya dan berkata, “Mas, buat aku enak.” Mendengar permintaan wanita yang masih memainkan kedua gunung kembarnya, membuat Krisna menarik tubuh Santi lebih mendekat ke arah wajahnya. “Aku kangen juga dengan daging merahmu,” ucap Krisna menyibak rimbunnya hutan belantara milik Santi seraya menciuminya berulang kali. Sesaat kemudian, Santi telah menari di atas kepala Krisna dengan sesekali menekan kepala lelaki itu dan menarik perlahan saat gadis itu kian melambung tinggi. “Lagi Mas...,” rengek Santi berulang kali dengan kedua tangan berpegangan pada dinding, naik dan turun mengikuti ritme tubuhnya saat menduduki bibir Krisna. Mendengar permintaan nakal Santi yang terus ingin melambung ke awang-awang membuat Krisna membenamkan kepalanya dan menghabiskan daging merah Santi, tanpa sisa. Hingga tubuh pemilik daging tersebut histeris dan bergetar kian hebat. Santi menjatuhkan dirinya di sisi Krisna dan lelaki itu pun, langsung melakukan serangan dengan kasar. Santi seperti cacing kepanasan, berteriak histeris dalam gelombang rasa yang terus dimuntahkan berulang kali. Namun, Krisna menahan pelepasan dan meraih pengaman yang telah disiapkan. Tetapi, Santi merampas pengaman tersebut dan melemparnya. “Jangan pakai pengaman! Aku ingin punya anak dari kamu,” pinta Santi dengan napas tersengal-sengal, bergerak kian cepat dan mengubah posisinya diatas Krisna. Krisna yang tak menyangka Santi melakukan hal itu, tidak mampu menolak keinginan sang kekasih. Terlebih saat Santi sudah berada diatas, ia seperti seorang kusir yang memacu kuat kudanya untuk berlari kencang. Hingga mereka pun melepaskan rasa nikmat dengan berbagi buliran keringat yang membasahi tubuh masing-masing. Jantung kedua pasangan tidak sah itu masih berdetak kuat. Dalam keadaan masih polos, mereka saling berpelukan dan Krisna berbisik, “Berapa kali keluar sayang.” Santi mencium pipi Krisna dan menjawab, “Tiga kali. Mas minum obat ya? Tumben lama sekali.” “Iya sayang, tapi kamu suka kan?” tanyanya, mengelus kepala Santi “Iya ... masih terasa Mas. Tapi, kalau besok aku kangen sama kamu, bagaimana caranya?” tanya Santi sembari mengelus bagian tubuh Krisna yang buat dia melayang. “Sayang, aku hanya bisa ke kos kamu 3 kali dalam seminggu. Masalahnya, aku enggak mau Linda tahu. Kalau dia tahu, hak asuh anak-anak bisa jatuh padanya. Tolong kamu mengerti ya, sayang,” hibur Krisna. Setelah itu, mereka mandi bersama dan bersiap-siap untuk mencari tempat nongkrong dan makan malam. Sekitar pukul enam petang, Krisna dan wanita selingkuhannya keluar dari kos menuju pusat perbelanjaan. Waktu yang di tempuh sekitar satu jam. Karena itu, mereka langsung mencari tempat makan. Mereka masuk ke sebuah restoran dan memesan makanan. Namun, saat mereka sedang menunggu makanan, seorang wanita menyapa Krisna. “Mas Krisna ya?” tanya seorang wanita seusia Linda. Melihat wanita yang ada di hadapannya, Krisna tampak gelagapan. “Eh! Iya ... Mbak Rima.” Wanita yang menegur Krisna memandang ke arah Santi dan tersenyum miring seraya melirik ke arah Santi. “Aku pikir tadi Linda, ternyata bukan. Maaf ya Mas.” Krisna tidak dapat berkata-kata, ia hanya menganggukkan kepala dan menggerutu dalam hati. “Sial! Kenapa aku harus bertemu teman kantor Linda, sih.” Sementara itu, Santi yang merasa kalau lirikan Rima seolah merendahkannya, langsung menegur wanita bertubuh mungil tersebut. “Eh! Apa maksud kamu melirik seperti itu?” “Menurut kamu apa? Ingat! Jangan merasa cantik! Sahabatku jauh lebih cantik dan bermoral dari kamu. Paham!” jawab Rima tersenyum lebar dan tak mampu menahan rasa kesal ketika sahabatnya dikhianati. “Kurang ajar!” umpat Santi berdiri dari tempat duduknya. Namun, Krisna dengan sigap meraih tangan Santi yang akan memukul ke arah Rima. Kemudian, mereka pun keluar dari restoran tersebut sebelum makanan disajikan.“Mbak, tolong jangan sampaikan ke Linda masalah pertemuan kita waktu itu,” pinta Krisna duduk di sebelah Rima pada kursi yang ada di teras.Rima menunduk dan menghela napas serta berucap, “Kenapa saya harus bohong? Bukankah kemarin Mas Kris sama wanita lain dan wanita itu menantang saya?”“Mbak, tolonglah kali ini saja. Saya akan melepas wanita itu. Dia itu hanya SPG rokok yang terus saja merayu saya. Memang saya salah meladeni dia. Tapi, demi Tuhan, cinta saya hanya untuk Linda. Apalagi Mbak tahu sendiri bagaimana perangai wanita itu. Tolong beri saya kesempatan untuk menyelesaikan semuanya, Mbak,” pinta Krisna mengiba.“Hmm ... Baiklah!” ucap Rima mengangguk pelan.“Terima kasih, Mbak! Sekarang saya panggil Linda dulu. Biar Mbak enggak terlalu lama menunggu. Tunggu ya,” ujar Krisna dengan wajah lebih tenang, usai ketakutannya terlewati.Rima yang melihat tingkah laku Satria hanya melirik dan tersenyum kecut sembari bermonolog, “Dasar lelaki brengsek!”Tak lama kemudian, Linda kelua
Sekitar pukul 11 siang Rima ke rumah Linda. Wanita berparas mungil dengan kulit cokelat eksotis itu memeluk rekan kerja yang telah dua bulan ini cuti melahirkan. Kehadirannya juga disambut oleh Krisna yang telah menunggunya dengan hati dipenuhi kekawatiran.“Semakin putih dan cantik, kamu!” peluk hangat Rima memandang Linda seraya mengelus kedua pipi rekan kerjanya.“Kamu juga tambah cantik,” balas Linda tersenyum manis.“Serius tambah cantik? Perasaan, aku tambah coklat!” ucap Rima sembari melirik jenaka ke arah Linda.Setelah itu Krisna menyalami Rima dengan tersenyum ramah tanpa berkata sepatah kata pun. Tetapi Rima menyambut tangan Krisna seraya menyindir.“Wah, wajah Mas Krisna semakin bersih dan kembali seperti anak muda. Pasti karena selama dua bulan ini diurus istri ya?”Mendengar ucapan Rima membuat wajah Krisna berubah tegang dan lelaki itu hanya tersenyum samar. Ia tidak mampu membalas sindiran Rima yang jelas bermaksud lain atas kata-katanya.Dalam hati Krisna menggerutu.
Seminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya. “Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang menghubunginya. “Wah! Mimpi apa aku semalam ya? Tumben pagi-pagi telepon. Bukannya setiap hari minggu kamu malas bangun pagi? Sebenarnya kemarin itu, aku mau telepon kamu. Eh, malah lupa. Berarti telepati aku kepada kamu sampai dong,” tutur Linda. “Iya kita kan sohib. Ngomong-ngomong mau aku bawakan apa? Kamu enggak masak kan?” tanya Rima. “Karena kamu mau ke rumah, aku akan masak kesukaan kamu. Tapi, kok tumben anak dan suamimu mau diajak jalan-jalan ke rumahku,” ujar Linda. “Pertama, aku bangun pagi karena ada saudara yang anaknya dikhitan, jadi pagi ini aku ke sana dan kebetulan rumahnya dekat perumahan kamu. Tapi, anak dan suamiku nanti enggak ikut ke rumahmu, karena aku ada renca
Sementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir. “Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna yang merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang. “Sayang, Aku akan bercerai saat putri kecilku berusia dua tahun,” janji Krisna seraya melepaskan celana panjangnya dan memandang punggung sang kekasih yang merajuk. “Janji- janji saja. Aku bosan dengarnya! Mas tahu dua tahun lagi umurku 32. Aku juga mau punya anak dari kamu, Mas,” keluhnya melipat tangan dan masih membelakangi Krisna. “Sayang, lihat ini..., dia kangen kamu. Katanya kamu ingin punya anak. Kamu enggak kangen? Cepat duduk sini sayang,” pinta Krisna dalam posisi tanpa selembar benang melekat ditubuhnya. Wanita berusia 30 tahun, rambut berwarna coklat tua menoleh ke arah Krisna. Sesaat kemudian, wanita itu melepaskan seluruh b
Saat kedua wanita itu telah saling melepaskan pelukan dan masih berada di kamar utama, Krisna kembali ke kamar. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya seraya berkata pada Linda tanpa memandang ke arah wanita cantik yang melihat gerak gerik sang suami. “Aku keluar dulu,ada urusan sampai malam!” Linda hanya diam membisu. Ia dan Tati melihat kepergian Krisna tanpa berkata sepatah kata pun. Kemudian, Linda mengajak Tati duduk di tempat tidurnya. “Sini Tati, kita ngobrol,” ajak Linda. Tati mengikuti ajakan Linda duduk berdampingan di tempat tidur. Sesaat kemudian Linda teringat akan janji Tati untuk memberitahu hal yang diketahuinya. “Tolong kamu cerita, apa yang kamu tahu tentang suamiku.” Tati menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Sewaktu saya mau cuci celana kerja bapak, saya lihat nota pembayaran hotel dan alat pengaman, Bu.” “Kapan itu?” tanya Linda tergesa dengan suara bergetar menahan asa sakit hati yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. “Satu hari setelah Ibu m
“Ternyata kamu disini?" tanya Krisna saat masuk ke dalam kamar putri keduanya setelah memanggil Tati di depan kamar asisten rumah tangga itu. Tati terdiam membisu dan wanita muda itu membeku dengan jantung berdetak cukup kencang. Karena hampir saja ia membongkar hal yang diketahui atas diri Krisna. Linda sempat terdiam. Namun, ia langsung menjawab. “Iya, aku ajak Tati mengobrol disini. Mas ada perlu sama Tati?” balik tanya. “Aku mau Tati jaga Bagus di kamar kita. Aku takut dia terjatuh. Kamu tahu sendiri Bagus tidurnya memutari tempat tidur,” jelas Krisna. Mendengar hal itu, Tati langsung beranjak dan keluar dari kamar seraya berkata, “Saya permisi dulu, Bu.” Linda berjalan di sisi ranjang bayinya dan mengambil ember tempat popok kotor yang diletakkan persis di bawah ranjang. “Mas, aku mau rendam popok dulu,” ucap Linda berlalu dari kamar bayi tanpa memandang lelaki tersebut. Melihat wajah Linda yang tampak acuh tak acuh, Krisna terdiam dan bermonolog, “Kenapa wajah L







