Compartilhar

Cemburu

Autor: Parikesit70
last update Data de publicação: 2026-05-07 12:48:16

“Ternyata kamu disini?" tanya Krisna saat masuk ke dalam kamar putri keduanya setelah memanggil Tati di depan kamar asisten rumah tangga itu.

Tati terdiam membisu dan wanita muda itu membeku dengan jantung berdetak cukup kencang. Karena hampir saja ia membongkar hal yang diketahui atas diri Krisna.

Linda sempat terdiam. Namun, ia langsung menjawab.

“Iya, aku ajak Tati mengobrol disini. Mas ada perlu sama Tati?” balik tanya.

“Aku mau Tati jaga Bagus di kamar kita. Aku takut dia terjatuh. Kamu tahu sendiri Bagus tidurnya memutari tempat tidur,” jelas Krisna.

Mendengar hal itu, Tati langsung beranjak dan keluar dari kamar seraya berkata, “Saya permisi dulu, Bu.”

Linda berjalan di sisi ranjang bayinya dan mengambil ember tempat popok kotor yang diletakkan persis di bawah ranjang.

“Mas, aku mau rendam popok dulu,” ucap Linda berlalu dari kamar bayi tanpa memandang lelaki tersebut.

Melihat wajah Linda yang tampak acuh tak acuh, Krisna terdiam dan bermonolog, “Kenapa wajah Linda seperti orang lagi kesal? Apa ada hal yang dia tahu, ya? Atau dia lihat ponselku? Tidak mungkin, karena aku sudah ganti nomor verifikasinya.”

Krisna terlihat agak panik saat ia melihat wajah Linda berubah. Karena, selama ini jika wajah Linda terlihat berbeda dari biasanya, sudah dipastikan ada masalah yang dipendamnya.

Saat Krisna akan keluar dari kamar bayi. Dilihat surat undangan yang berada di dekat guling Laras. Ia pun, meraih undangan itu, membuka dan membaca surat undangan pernikahan Ambara.

Ketika membaca surat undangan tersebut, wajah Krisna berubah keras. Lelaki itu bergumam dengan wajah sinis. “Pantas saja Linda seperti itu. Ternyata pacar pertamanya menikah."

Surat undangan itu dilempar ke bawah tempat tidur sang bayi. Kemudian, ia keluar dari kamar dengan rasa cemburu dan mencari Linda.

Terlihat Linda tengah duduk di teras rumah dengan sebuah buku ditangannya. Wanita cantik jelita itu tengah membaca. Kehadiran Krisna yang duduk tepat disisinya tidak mengalihkan pandangannya pada buku yang dipegang.

Merasa Linda tidak ambil pusing dengan kehadirannya, membuat Krisna yang terbakar cemburu usai melihat kartu undangan, mengambil buku yang tengah dibaca Linda. Seketika wanita cantik itu terkejut dan memandang tajam ke arah suaminya.

“Apa-apaan sih Mas? Tolong jangan ganggu. Aku lagi baca,” ucapnya kesal.

Melihat reaksi Linda atas aksi yang dilakukannya, membuat Krisna kian emosi dan membanting buku yang diraih dari tangan Linda.

“Buugh!”

“Mas! Kenapa sih kamu ini?!” tanya Linda dengan nada tinggi melihat buku yang dibacanya dilempar dekat tanaman dan ia memandang lurus ke arah Krisna, emosi.

“Hey! Apa yang kamu sembunyikan dariku?!” tanya Krisna langsung berdiri tepat di hadapan Linda yang duduk di kursi.

“Maksud Mas apa sih?” tanya balik Linda dengan jantung berdetak cepat menahan emosi yang bersarang di kepalanya.

“Aku tanya! Siapa yang datang ke rumah ini! Jawab!” teriak Krisna dengan napas naik turun, curiga.

Sejenak Linda terdiam. Walau jantungnya debak debuk tak karuan, Linda berupaya memberikan ketenangan menghadapi Krisna yang gampang meledak atas apa pun yang tidak sesuai dengan hatinya. Hal seperti ini sering terjadi selama pernikahan mereka. Linda pun, sudah bisa memprediksi apa yang dimaksud oleh Krisna.

“Ambara tadi ke rumah, dia bawa surat undangan pernikahannya,” jawab Linda setenang air laut walau jantungnya masih berdebar setiap membicarakan tentang Ambara.

Krisna mencoba menyelidiki perubahan wajah dan intonasi Linda kala memberikan penjelasan. Namun, dia tidak mampu melihat perubahan itu. Karena Linda sangat lihai dalam menyembunyikan perasaannya, hingga intonasi suaranya terdengar biasa-biasa saja saat diinterogasi.

Krisna menarik napas perlahan dan bertanya datar. Tidak meninggi seperti awal ia berkata.

“Kenapa kamu sendiri yang menerima lelaki itu di rumah ini?”

“Mas Krisna kan, baru datang dari luar kota sudah pasti sangat lelah dan aku lihat Mas juga sudah tertidur pulas. Juga aku tidak sendirian terima dia, di rumah ini ada Tati dan dia ke rumah hanya untuk memberikan surat undangan saja,” jawabnya kalem.

Krisna yang tidak mempercayai kata-kata Linda, masuk dan melangkah panjang menuju kamar mereka untuk mencari Tati, diikuti Linda dengan jantung berdebar kencang.

Dalam hati Linda berdoa, 'Semoga saja Tati paham atas situasi saat ini.'

Tiba di kamar utama, Tati yang tengah duduk pada kursi di kamar itu, terkejut bukan kepalang melihat Krisna diikuti oleh Linda masuk ke dalam kamar.. Terlebih wajah Krisna tampak kesal.

“Tati! Apa kamu tadi menemani Ibu waktu terima tamu?” tanya Krisna tajam pada Tati.

Tati yang sudah bisa membaca situasi akan terjadi perang dunia ketiga jika berkata jujur, ia pun menjawab, “Iya Pak, saya temani ibu. Saya duduk di bangku plastik dekat pintu, itu juga ibu yang minta."

“Blesss”

Linda merasa tenang saat mendengar penjelasan Tati. Denyut jantungnya kembali normal. Terlihat paras cantiknya tidak cemas lagi dan ia melihat suaminya tersenyum sinis dan Lina pun, melempar pertanyaan pada lelaki tersebut.

“Sudah puas penjelasan Tati? Kenapa sih kamu masih saja curiga aku sama Ambara? Padahal aku tidak pernah bertemu sejak kita menikah. Lagi pula, Ambara akan menikah dengan seorang dokter, pastinya wanita itu jauh lebih baik dari aku yang sudah mengkhianatinya!” jelas Linda.

“Tapi aku tidak suka dengan lelaki itu! Aku tidak mau kamu pergi ke pernikahannya. Paham!” sengit Krisna seraya menunjuk-nunjuk ke arah Linda. Lalu ia keluar dari kamar tersebut.

Tati yang melihat Krisna keluar dari dalam kamar menarik lengan Linda saat wanita cantik itu akan menyusul Krisna untuk melanjutkan pertengkaran kecil mereka.

“Bu, sudah jangan ribut lagi. Tenang saja, pasti ada cara Ibu ke tempat resepsi itu dan membuktikan kecurigaan bapak,” larang Tati.

Mendengar kata-kata Tati yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, membuat Linda memeluk wanita muda itu. Ia pun menangis sesenggukan dalam rasa kesal, sedih dan curiga pada Krisna. Namun, dia belum bisa mengungkapkannya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Bercinta

    “Mbak, tolong jangan sampaikan ke Linda masalah pertemuan kita waktu itu,” pinta Krisna duduk di sebelah Rima pada kursi yang ada di teras.Rima menunduk dan menghela napas serta berucap, “Kenapa saya harus bohong? Bukankah kemarin Mas Kris sama wanita lain dan wanita itu menantang saya?”“Mbak, tolonglah kali ini saja. Saya akan melepas wanita itu. Dia itu hanya SPG rokok yang terus saja merayu saya. Memang saya salah meladeni dia. Tapi, demi Tuhan, cinta saya hanya untuk Linda. Apalagi Mbak tahu sendiri bagaimana perangai wanita itu. Tolong beri saya kesempatan untuk menyelesaikan semuanya, Mbak,” pinta Krisna mengiba.“Hmm ... Baiklah!” ucap Rima mengangguk pelan.“Terima kasih, Mbak! Sekarang saya panggil Linda dulu. Biar Mbak enggak terlalu lama menunggu. Tunggu ya,” ujar Krisna dengan wajah lebih tenang, usai ketakutannya terlewati.Rima yang melihat tingkah laku Satria hanya melirik dan tersenyum kecut sembari bermonolog, “Dasar lelaki brengsek!”Tak lama kemudian, Linda kelua

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Risau

    Sekitar pukul 11 siang Rima ke rumah Linda. Wanita berparas mungil dengan kulit cokelat eksotis itu memeluk rekan kerja yang telah dua bulan ini cuti melahirkan. Kehadirannya juga disambut oleh Krisna yang telah menunggunya dengan hati dipenuhi kekawatiran.“Semakin putih dan cantik, kamu!” peluk hangat Rima memandang Linda seraya mengelus kedua pipi rekan kerjanya.“Kamu juga tambah cantik,” balas Linda tersenyum manis.“Serius tambah cantik? Perasaan, aku tambah coklat!” ucap Rima sembari melirik jenaka ke arah Linda.Setelah itu Krisna menyalami Rima dengan tersenyum ramah tanpa berkata sepatah kata pun. Tetapi Rima menyambut tangan Krisna seraya menyindir.“Wah, wajah Mas Krisna semakin bersih dan kembali seperti anak muda. Pasti karena selama dua bulan ini diurus istri ya?”Mendengar ucapan Rima membuat wajah Krisna berubah tegang dan lelaki itu hanya tersenyum samar. Ia tidak mampu membalas sindiran Rima yang jelas bermaksud lain atas kata-katanya.Dalam hati Krisna menggerutu.

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Kesepakatan

    Seminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya. “Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang menghubunginya. “Wah! Mimpi apa aku semalam ya? Tumben pagi-pagi telepon. Bukannya setiap hari minggu kamu malas bangun pagi? Sebenarnya kemarin itu, aku mau telepon kamu. Eh, malah lupa. Berarti telepati aku kepada kamu sampai dong,” tutur Linda. “Iya kita kan sohib. Ngomong-ngomong mau aku bawakan apa? Kamu enggak masak kan?” tanya Rima. “Karena kamu mau ke rumah, aku akan masak kesukaan kamu. Tapi, kok tumben anak dan suamimu mau diajak jalan-jalan ke rumahku,” ujar Linda. “Pertama, aku bangun pagi karena ada saudara yang anaknya dikhitan, jadi pagi ini aku ke sana dan kebetulan rumahnya dekat perumahan kamu. Tapi, anak dan suamiku nanti enggak ikut ke rumahmu, karena aku ada renca

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   BERTENGKAR

    Sementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir. “Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna yang merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang. “Sayang, Aku akan bercerai saat putri kecilku berusia dua tahun,” janji Krisna seraya melepaskan celana panjangnya dan memandang punggung sang kekasih yang merajuk. “Janji- janji saja. Aku bosan dengarnya! Mas tahu dua tahun lagi umurku 32. Aku juga mau punya anak dari kamu, Mas,” keluhnya melipat tangan dan masih membelakangi Krisna. “Sayang, lihat ini..., dia kangen kamu. Katanya kamu ingin punya anak. Kamu enggak kangen? Cepat duduk sini sayang,” pinta Krisna dalam posisi tanpa selembar benang melekat ditubuhnya. Wanita berusia 30 tahun, rambut berwarna coklat tua menoleh ke arah Krisna. Sesaat kemudian, wanita itu melepaskan seluruh b

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Curhat

    Saat kedua wanita itu telah saling melepaskan pelukan dan masih berada di kamar utama, Krisna kembali ke kamar. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya seraya berkata pada Linda tanpa memandang ke arah wanita cantik yang melihat gerak gerik sang suami. “Aku keluar dulu,ada urusan sampai malam!” Linda hanya diam membisu. Ia dan Tati melihat kepergian Krisna tanpa berkata sepatah kata pun. Kemudian, Linda mengajak Tati duduk di tempat tidurnya. “Sini Tati, kita ngobrol,” ajak Linda. Tati mengikuti ajakan Linda duduk berdampingan di tempat tidur. Sesaat kemudian Linda teringat akan janji Tati untuk memberitahu hal yang diketahuinya. “Tolong kamu cerita, apa yang kamu tahu tentang suamiku.” Tati menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Sewaktu saya mau cuci celana kerja bapak, saya lihat nota pembayaran hotel dan alat pengaman, Bu.” “Kapan itu?” tanya Linda tergesa dengan suara bergetar menahan asa sakit hati yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. “Satu hari setelah Ibu m

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Cemburu

    “Ternyata kamu disini?" tanya Krisna saat masuk ke dalam kamar putri keduanya setelah memanggil Tati di depan kamar asisten rumah tangga itu. Tati terdiam membisu dan wanita muda itu membeku dengan jantung berdetak cukup kencang. Karena hampir saja ia membongkar hal yang diketahui atas diri Krisna. Linda sempat terdiam. Namun, ia langsung menjawab. “Iya, aku ajak Tati mengobrol disini. Mas ada perlu sama Tati?” balik tanya. “Aku mau Tati jaga Bagus di kamar kita. Aku takut dia terjatuh. Kamu tahu sendiri Bagus tidurnya memutari tempat tidur,” jelas Krisna. Mendengar hal itu, Tati langsung beranjak dan keluar dari kamar seraya berkata, “Saya permisi dulu, Bu.” Linda berjalan di sisi ranjang bayinya dan mengambil ember tempat popok kotor yang diletakkan persis di bawah ranjang. “Mas, aku mau rendam popok dulu,” ucap Linda berlalu dari kamar bayi tanpa memandang lelaki tersebut. Melihat wajah Linda yang tampak acuh tak acuh, Krisna terdiam dan bermonolog, “Kenapa wajah L

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status