LOGIN“Ternyata kamu disini?" tanya Krisna saat masuk ke dalam kamar putri keduanya setelah memanggil Tati di depan kamar asisten rumah tangga itu.
Tati terdiam membisu dan wanita muda itu membeku dengan jantung berdetak cukup kencang. Karena hampir saja ia membongkar hal yang diketahui atas diri Krisna. Linda sempat terdiam. Namun, ia langsung menjawab. “Iya, aku ajak Tati mengobrol disini. Mas ada perlu sama Tati?” balik tanya. “Aku mau Tati jaga Bagus di kamar kita. Aku takut dia terjatuh. Kamu tahu sendiri Bagus tidurnya memutari tempat tidur,” jelas Krisna. Mendengar hal itu, Tati langsung beranjak dan keluar dari kamar seraya berkata, “Saya permisi dulu, Bu.” Linda berjalan di sisi ranjang bayinya dan mengambil ember tempat popok kotor yang diletakkan persis di bawah ranjang. “Mas, aku mau rendam popok dulu,” ucap Linda berlalu dari kamar bayi tanpa memandang lelaki tersebut. Melihat wajah Linda yang tampak acuh tak acuh, Krisna terdiam dan bermonolog, “Kenapa wajah Linda seperti orang lagi kesal? Apa ada hal yang dia tahu, ya? Atau dia lihat ponselku? Tidak mungkin, karena aku sudah ganti nomor verifikasinya.” Krisna terlihat agak panik saat ia melihat wajah Linda berubah. Karena, selama ini jika wajah Linda terlihat berbeda dari biasanya, sudah dipastikan ada masalah yang dipendamnya. Saat Krisna akan keluar dari kamar bayi. Dilihat surat undangan yang berada di dekat guling Laras. Ia pun, meraih undangan itu, membuka dan membaca surat undangan pernikahan Ambara. Ketika membaca surat undangan tersebut, wajah Krisna berubah keras. Lelaki itu bergumam dengan wajah sinis. “Pantas saja Linda seperti itu. Ternyata pacar pertamanya menikah." Surat undangan itu dilempar ke bawah tempat tidur sang bayi. Kemudian, ia keluar dari kamar dengan rasa cemburu dan mencari Linda. Terlihat Linda tengah duduk di teras rumah dengan sebuah buku ditangannya. Wanita cantik jelita itu tengah membaca. Kehadiran Krisna yang duduk tepat disisinya tidak mengalihkan pandangannya pada buku yang dipegang. Merasa Linda tidak ambil pusing dengan kehadirannya, membuat Krisna yang terbakar cemburu usai melihat kartu undangan, mengambil buku yang tengah dibaca Linda. Seketika wanita cantik itu terkejut dan memandang tajam ke arah suaminya. “Apa-apaan sih Mas? Tolong jangan ganggu. Aku lagi baca,” ucapnya kesal. Melihat reaksi Linda atas aksi yang dilakukannya, membuat Krisna kian emosi dan membanting buku yang diraih dari tangan Linda. “Buugh!” “Mas! Kenapa sih kamu ini?!” tanya Linda dengan nada tinggi melihat buku yang dibacanya dilempar dekat tanaman dan ia memandang lurus ke arah Krisna, emosi. “Hey! Apa yang kamu sembunyikan dariku?!” tanya Krisna langsung berdiri tepat di hadapan Linda yang duduk di kursi. “Maksud Mas apa sih?” tanya balik Linda dengan jantung berdetak cepat menahan emosi yang bersarang di kepalanya. “Aku tanya! Siapa yang datang ke rumah ini! Jawab!” teriak Krisna dengan napas naik turun, curiga. Sejenak Linda terdiam. Walau jantungnya debak debuk tak karuan, Linda berupaya memberikan ketenangan menghadapi Krisna yang gampang meledak atas apa pun yang tidak sesuai dengan hatinya. Hal seperti ini sering terjadi selama pernikahan mereka. Linda pun, sudah bisa memprediksi apa yang dimaksud oleh Krisna. “Ambara tadi ke rumah, dia bawa surat undangan pernikahannya,” jawab Linda setenang air laut walau jantungnya masih berdebar setiap membicarakan tentang Ambara. Krisna mencoba menyelidiki perubahan wajah dan intonasi Linda kala memberikan penjelasan. Namun, dia tidak mampu melihat perubahan itu. Karena Linda sangat lihai dalam menyembunyikan perasaannya, hingga intonasi suaranya terdengar biasa-biasa saja saat diinterogasi. Krisna menarik napas perlahan dan bertanya datar. Tidak meninggi seperti awal ia berkata. “Kenapa kamu sendiri yang menerima lelaki itu di rumah ini?” “Mas Krisna kan, baru datang dari luar kota sudah pasti sangat lelah dan aku lihat Mas juga sudah tertidur pulas. Juga aku tidak sendirian terima dia, di rumah ini ada Tati dan dia ke rumah hanya untuk memberikan surat undangan saja,” jawabnya kalem. Krisna yang tidak mempercayai kata-kata Linda, masuk dan melangkah panjang menuju kamar mereka untuk mencari Tati, diikuti Linda dengan jantung berdebar kencang. Dalam hati Linda berdoa, 'Semoga saja Tati paham atas situasi saat ini.' Tiba di kamar utama, Tati yang tengah duduk pada kursi di kamar itu, terkejut bukan kepalang melihat Krisna diikuti oleh Linda masuk ke dalam kamar.. Terlebih wajah Krisna tampak kesal. “Tati! Apa kamu tadi menemani Ibu waktu terima tamu?” tanya Krisna tajam pada Tati. Tati yang sudah bisa membaca situasi akan terjadi perang dunia ketiga jika berkata jujur, ia pun menjawab, “Iya Pak, saya temani ibu. Saya duduk di bangku plastik dekat pintu, itu juga ibu yang minta." “Blesss” Linda merasa tenang saat mendengar penjelasan Tati. Denyut jantungnya kembali normal. Terlihat paras cantiknya tidak cemas lagi dan ia melihat suaminya tersenyum sinis dan Lina pun, melempar pertanyaan pada lelaki tersebut. “Sudah puas penjelasan Tati? Kenapa sih kamu masih saja curiga aku sama Ambara? Padahal aku tidak pernah bertemu sejak kita menikah. Lagi pula, Ambara akan menikah dengan seorang dokter, pastinya wanita itu jauh lebih baik dari aku yang sudah mengkhianatinya!” jelas Linda. “Tapi aku tidak suka dengan lelaki itu! Aku tidak mau kamu pergi ke pernikahannya. Paham!” sengit Krisna seraya menunjuk-nunjuk ke arah Linda. Lalu ia keluar dari kamar tersebut. Tati yang melihat Krisna keluar dari dalam kamar menarik lengan Linda saat wanita cantik itu akan menyusul Krisna untuk melanjutkan pertengkaran kecil mereka. “Bu, sudah jangan ribut lagi. Tenang saja, pasti ada cara Ibu ke tempat resepsi itu dan membuktikan kecurigaan bapak,” larang Tati. Mendengar kata-kata Tati yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri, membuat Linda memeluk wanita muda itu. Ia pun menangis sesenggukan dalam rasa kesal, sedih dan curiga pada Krisna. Namun, dia belum bisa mengungkapkannya.Linda masih memandangi kursi kosong tempat Ambara tadi duduk, tangannya perlahan menyentuh kertas kecil yang bertuliskan kalimat sederhana itu.'Selamat menikmati makanan kesukaan kita. ❤️'Seketika, pikirannya seperti ditarik kembali bertahun-tahun ke masa lalu. Ke sebuah sore ketika dirinya dan Ambara masih bersama. Saat itu, hujan baru saja turun. Linda berdiri di depan sebuah kedai kecil sambil memeluk tasnya. Rambutnya sedikit basah karena ia lupa membawa payung. Ambara datang beberapa menit kemudian dengan napas terengah-engah. “Maaf, aku terlambat.”Linda memasang wajah kesal. “Kamu selalu begitu.”Ambara tertawa. “Kalau aku tidak terlambat, nanti kamu tidak punya alasan untuk marah kepadaku.”Linda mendengus, tetapi bibirnya tak mampu menahan senyum.Ambara kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. “Ini.”Linda melihat sebuah bungkus makanan. Matanya langsung berbinar. “Otak-otak?”Ambara mengangguk. “Aku tahu kamu belum makan.”Linda menerima makanan itu dengan seny
Linda sudah tahu bahwa Krisna telah berbohong kepadanya. Bukan sekali. Bukan dua kali. Ada terlalu banyak kejanggalan yang akhirnya membuat Linda berhenti percaya pada kata-kata suaminya. Namun, anehnya, semakin banyak yang ia ketahui, semakin sulit pula baginya untuk bertanya. Dulu, Linda selalu berani menatap mata Krisna dan menuntut sebuah penjelasan.‘Siapa Santi. Kenapa kamu menghubunginya. Di mana kamu sebenarnya?’ Bisik Linda dalam hati.Pertanyaan-pertanyaan itu dulu begitu mudah keluar dari bibirnya. Sekarang tidak. Linda sudah terlalu lelah mendengar jawaban yang tidak pernah benar-benar menjawab. Setiap kali ingin bertanya tentang Santi, ada sesuatu yang menahan lidahnya. Ia takut mendengar kebohongan berikutnya. Ia takut menemukan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada apa yang sudah ia ketahui. Maka Linda memilih diam. Tetapi diam bukan berarti tidak tahu. Diam justru membuat matanya semakin peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di rumah.Siang itu, Linda baru
Linda sampai di rumah dengan jantung berdebar kencang. Langkahnya terasa berat ketika ia membuka pintu rumah dan masuk dengan hati-hati. Udara dini hari begitu sunyi. Hanya suara detik jam yang terdengar samar dari ruang tengah. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.Bagaimana kalau Krisna sudah pulang?Linda takut suaminya bertanya ke mana ia pergi hingga dini hari. Ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa jika Krisna mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. Ada sesuatu yang ingin disembunyikannya rapat-rapat, sesuatu yang bahkan kepada sahabat terdekatnya pun belum sanggup ia ceritakan. Namun, ketika Linda melihat ke arah halaman, ia sedikit terkejut. Mobil Krisna tidak ada. Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas."Syukurlah..." bisiknya.Ada perasaan lega yang begitu besar. Setidaknya untuk malam itu, ia tidak harus berhadapan langsung dengan Krisna. Tetapi rasa lega itu segera berubah menjadi kecurigaan. Kalau Krisna belum pulang, dia sebenarnya di mana?nLinda
Jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul dua dini hari ketika Linda perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik, ia tidak mengerti berada di mana. Pandangannya masih kabur, tetapi ketika kesadarannya kembali sepenuhnya, tubuhnya seketika menegang.Ambara berada di sampingnya. Laki-laki itu belum tidur. Ia hanya diam, memandangi Linda dengan tatapan yang begitu dalam, seolah-olah sedang berusaha mengabadikan wajah perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.Linda menatapnya sesaat. Kemudian air matanya jatuh. "Apa yang sudah kita lakukan?" bisiknya lirih.Ambara tidak menjawab.Linda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah perlahan memenuhi seluruh pikirannya. Ia teringat Krisna, suaminya. Terbayang rumah mereka, kamar mereka, kehidupan yang selama ini mereka jalani bersama."Aku sudah menodai pernikahanku," ucap Linda dengan suara bergetar. "Aku tidak seharusnya melakukan ini."Ambara menarik napas panjang
Pukul sembilan malam, suasana hotel bintang lima itu masih ramai. Lampu-lampu kristal memantul di lantai marmer, sementara alunan musik piano terdengar lembut dari sudut lobi. Di salah satu restoran terbesar di dalam hotel, para tamu masih menikmati makan malam.Linda duduk sendirian di sebuah meja dekat jendela. Malam itu ia sebenarnya tidak berniat berlama-lama. Ia hanya ingin bertemu Ambara sebentar setelah menghadiri rangkaian resepsi pernikahan yang sejak sore menyita waktunya.Tidak lama kemudian, Ambara muncul.Pria itu terlihat lelah. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia baru saja menjalani hari yang panjang. Sejak sore, ia memang berpindah dari satu acara resepsi ke resepsi lainnya. Namun begitu melihat Linda, ekspresi lelah itu seolah menghilang.“Maaf membuatmu menunggu,” katanya sambil menarik kursi.Linda tersenyum tipis.“Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai.”Mereka kemudian berbicara tentang hal-hal ringan. Tentang resepsi yang mereka h
Linda pulang dengan perasaan yang sulit ia jelaskan usai menghadiri resepsi pernikahan Ambara, lelaki yang pernah mengisi bagian penting dalam hidupnya, baru saja selesai. Sejak meninggalkan gedung tempat resepsi berlangsung, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang terjadi hari itu. Terlebih ketika Ambara sempat menariknya menuju sebuah kamar kosong dan mengungkapkan bahwa perasaannya kepada Linda ternyata belum benar-benar berakhir.Linda sudah berusaha menutup masa lalu. Ia datang ke pernikahan itu hanya karena undangan telah diterimanya dua minggu sebelumnya. Ia bahkan datang tanpa Krisna, karena suaminya sedang mengikuti kegiatan sepak bola di kantornya.Namun, pertemuan itu justru membuka kembali sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur. Begitu sampai di rumah, Linda membuka pintu dengan hati-hati. Rumah itu tampak sunyi.Namun, tiba-tiba saja pembantu rumah tangganya keluar dari kamar anak-anaknya dan Tati sang pembantu menyambutnya,” Ibu sudah pulang?”Linda menjawab, “Iya baru
Seminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya. “Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang m
Sementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir. “Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna
Saat kedua wanita itu telah saling melepaskan pelukan dan masih berada di kamar utama, Krisna kembali ke kamar. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya seraya berkata pada Linda tanpa memandang ke arah wanita cantik yang melihat gerak gerik sang suami. “Aku keluar dulu,ada urusan sampai malam!”
Usai Linda basa-basi dengan menanyakan keluarga sang mantan dan meletakkan secangkir teh yang dibawa oleh Tati, wanita cantik itu langsung menanyakan keperluan sang mantan bertemu dengannya. “Bara, ada keperluan apa kamu cari aku? Karena tidak mungkin kamu jauh-jauh mencari rumahku, kalau tidak a







