INICIAR SESIÓNSaat kedua wanita itu telah saling melepaskan pelukan dan masih berada di kamar utama, Krisna kembali ke kamar. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya seraya berkata pada Linda tanpa memandang ke arah wanita cantik yang melihat gerak gerik sang suami.
“Aku keluar dulu,ada urusan sampai malam!” Linda hanya diam membisu. Ia dan Tati melihat kepergian Krisna tanpa berkata sepatah kata pun. Kemudian, Linda mengajak Tati duduk di tempat tidurnya. “Sini Tati, kita ngobrol,” ajak Linda. Tati mengikuti ajakan Linda duduk berdampingan di tempat tidur. Sesaat kemudian Linda teringat akan janji Tati untuk memberitahu hal yang diketahuinya. “Tolong kamu cerita, apa yang kamu tahu tentang suamiku.” Tati menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Sewaktu saya mau cuci celana kerja bapak, saya lihat nota pembayaran hotel dan alat pengaman, Bu.” “Kapan itu?” tanya Linda tergesa dengan suara bergetar menahan asa sakit hati yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. “Satu hari setelah Ibu melahirkan. Bapak bawa pakaian kotor dari rumah sakit. Saya pikir, pakaian Ibu. Ternyata pakaian bapak. Saya ingat sekali, karena habis itu saya tinggal berdua di rumah sama Bagus, selama Ibu di rumah sakit.” “Kenapa kamu enggak ngomong sama aku?” tanya Linda, tubuhnya kian mengigil saat mengingat kejadian dua bulan lalu dan membuat hatinya bertambah sakit. “Bu, tolong jangan ungkit masalah ini ke bapak. Sebenarnya saya mau lapor Ibu. Cuma, Ibu baru habis melahirkan. Saya enggak tega, maafkan saya,” sesal Tati dengan keputusannya saat itu. “Kamu enggak salah, aku yang kurang peka,” sesal Linda pada diri sendiri. “Bu, maafkan bapak. Bisa jadi dia khilaf. Ipar saya juga dulu suaminya selingkuh waktu dia hamil besar. Tapi sampai sekarang mereka harmonis,” cerita Tati. “Tati, kamu masih sangat muda. Ibu harap kamu bisa mendapatkan suami yang bertanggung jawab. Hati-hati kalau memilih suami ya,” nasehat Linda pada Tati dalam kondisi hati yang terasa seperti tertusuk ribuan duri. “Coba Ibu sama lelaki yang tadi bertamu pasti...” “Hus! Jangan ngomong sembarangan seperti itu. Kalau bapak tahu bisa menuduh aku macam-macam,” potong Linda kala Tati kembali membicarakan Ambara. “Maaf Bu, soalnya saya kesal sekali dengan kelakuan bapak yang kasar kalau marah sama Ibu. Kata orang, lelaki yang suka jajan, sering kasar sama istri dan manis sama wanita lain, artinya enggak cinta sama istri.” “Ya, mungkin benar. Tapi untuk sementara biar saja dulu. Sekarang ini aku masih bingung untuk melangkah lebih jauh," keluh Linda yang pikirannya masih tertutup rasa sedih. “Ibu harus kuat. Jangan pergi dari rumah. Kasihan Bagus dan dek Laras,” pinta Tati menyemangati Linda. Mendengar kata-kata Tati membuat Linda tidak mampu menahan air matanya. Ia menangis dalam pelukan Tati. Di tengah tangisnya wanita cantik itu melepaskan seluruh keluh kesah. “Tati, aku enggak bahagia menikah dengan bapak. Padahal dia menerima aku dalam keadaan suci. Aku tidak pernah menghinakan diriku pada lelaki lain. Tapi dia merendahkan aku dengan cara menghubungi mantan pacarnya sejak kami menikah.” “Ya, Allah... Ibu, kenapa enggak cerai saja waktu itu?” tanya Tati kesal seraya mengelus punggung sang majikan. “Kamu tahu..., bapak masih berhubungan dengan mantan pacarnya saat aku mengandung Bagus. Tapi, enggak mungkin aku minta cerai. Karena keluargaku akan menyalahkan aku, hiks...” “Ibu...” ucap Tati sedih mendengar realita yang terjadi pada wanita karir secantik Linda. “Selama lima tahun ini aku enggak pernah cerita apa pun. Sekarang ini rasanya aku sudah enggak kuat menahan sakit hati ini. Aku harus bagaimana, Ti?” tanya Linda dalam tangis. Tati sebagai wanita muda yang sering mendengar keluh kesah rumah tangga dari teman-temannya hanya bisa jadi pendengar yang baik dan berempati atas masalah yang menimpa sang majikan. Terlebih, Linda saat ini sedang tidak bisa berpikir secara jernih. “Ibu yang sabar. Saya yakin, pengorbanan Ibu untuk Bagus dan Laras enggak akan sia-sia. Kalau Ibu bercerai kasihan mereka, Bu,” nasihat Tati saat merasakan Linda kian terpuruk. Mendengar nasihat Tati yang lebih muda 10 tahun, kian menggores hati dan luka lama yang sejak kehamilan putra pertamanya, dipendam kini terbuka kembali. Linda mengingat kembali sewaktu Krisna transfer untuk sang mantan dengan alasan kasihan dan ia memaklumi sebagai rasa kemanusiaan. Sejak itu, dia berusaha untuk tidak mau tahu demi keselamatan pernikahannya. Namun, hari ini Linda kembali membuka luka lama, kala mendapati alat pengaman di koper sang suami hingga ia merasa harga diri dan pengorbanannya sia-sia. “Bu, saya ambil air minum dulu. Biar Ibu lebih tenang,” izin Tati melepas pelukannya dan memberikan tisu pada Linda. Sesaat kemudian, Tati masuk ke kamar dan menyodorkan air dingin. “Diminum dulu, Bu.” Linda yang pikirannya sedang kacau meneguk air dingin. Usai meneguk minuman tersebut, tanpa disadari Linda berujar, “Kalau saja aku menikah dengan Ambara, mungkin nasibku tidak seperti ini.” Mendengar ucapan Linda yang spontan usai melepaskan kesedihan hatinya, Tati pun, menanggapi ucapan sang majikan. “Bu, obat dari sakit hati itu mencintai orang yang mencintai kita. Saya pernah baca tulisan di sosial media seperti itu.” “Tati, kita sebagai wanita enggak boleh seperti itu. Menyakiti hati wanita lain itu sama seperti menyakiti hati kita sendiri. Kamu jangan makan mentah-mentah tulisan di sosial media. Enggak semua itu benar “ nasihat Linda yang terlihat sudah stabil dalam emosi usai melampiaskan kepedihan hatinya lewat air mata dan sudah mampu berpikir jernih.Linda masih memandangi kursi kosong tempat Ambara tadi duduk, tangannya perlahan menyentuh kertas kecil yang bertuliskan kalimat sederhana itu.'Selamat menikmati makanan kesukaan kita. ❤️'Seketika, pikirannya seperti ditarik kembali bertahun-tahun ke masa lalu. Ke sebuah sore ketika dirinya dan Ambara masih bersama. Saat itu, hujan baru saja turun. Linda berdiri di depan sebuah kedai kecil sambil memeluk tasnya. Rambutnya sedikit basah karena ia lupa membawa payung. Ambara datang beberapa menit kemudian dengan napas terengah-engah. “Maaf, aku terlambat.”Linda memasang wajah kesal. “Kamu selalu begitu.”Ambara tertawa. “Kalau aku tidak terlambat, nanti kamu tidak punya alasan untuk marah kepadaku.”Linda mendengus, tetapi bibirnya tak mampu menahan senyum.Ambara kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. “Ini.”Linda melihat sebuah bungkus makanan. Matanya langsung berbinar. “Otak-otak?”Ambara mengangguk. “Aku tahu kamu belum makan.”Linda menerima makanan itu dengan seny
Linda sudah tahu bahwa Krisna telah berbohong kepadanya. Bukan sekali. Bukan dua kali. Ada terlalu banyak kejanggalan yang akhirnya membuat Linda berhenti percaya pada kata-kata suaminya. Namun, anehnya, semakin banyak yang ia ketahui, semakin sulit pula baginya untuk bertanya. Dulu, Linda selalu berani menatap mata Krisna dan menuntut sebuah penjelasan.‘Siapa Santi. Kenapa kamu menghubunginya. Di mana kamu sebenarnya?’ Bisik Linda dalam hati.Pertanyaan-pertanyaan itu dulu begitu mudah keluar dari bibirnya. Sekarang tidak. Linda sudah terlalu lelah mendengar jawaban yang tidak pernah benar-benar menjawab. Setiap kali ingin bertanya tentang Santi, ada sesuatu yang menahan lidahnya. Ia takut mendengar kebohongan berikutnya. Ia takut menemukan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada apa yang sudah ia ketahui. Maka Linda memilih diam. Tetapi diam bukan berarti tidak tahu. Diam justru membuat matanya semakin peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di rumah.Siang itu, Linda baru
Linda sampai di rumah dengan jantung berdebar kencang. Langkahnya terasa berat ketika ia membuka pintu rumah dan masuk dengan hati-hati. Udara dini hari begitu sunyi. Hanya suara detik jam yang terdengar samar dari ruang tengah. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.Bagaimana kalau Krisna sudah pulang?Linda takut suaminya bertanya ke mana ia pergi hingga dini hari. Ia sendiri tidak tahu harus memberikan alasan apa jika Krisna mendesaknya dengan berbagai pertanyaan. Ada sesuatu yang ingin disembunyikannya rapat-rapat, sesuatu yang bahkan kepada sahabat terdekatnya pun belum sanggup ia ceritakan. Namun, ketika Linda melihat ke arah halaman, ia sedikit terkejut. Mobil Krisna tidak ada. Napas yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas."Syukurlah..." bisiknya.Ada perasaan lega yang begitu besar. Setidaknya untuk malam itu, ia tidak harus berhadapan langsung dengan Krisna. Tetapi rasa lega itu segera berubah menjadi kecurigaan. Kalau Krisna belum pulang, dia sebenarnya di mana?nLinda
Jam dinding di kamar hotel menunjukkan pukul dua dini hari ketika Linda perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik, ia tidak mengerti berada di mana. Pandangannya masih kabur, tetapi ketika kesadarannya kembali sepenuhnya, tubuhnya seketika menegang.Ambara berada di sampingnya. Laki-laki itu belum tidur. Ia hanya diam, memandangi Linda dengan tatapan yang begitu dalam, seolah-olah sedang berusaha mengabadikan wajah perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.Linda menatapnya sesaat. Kemudian air matanya jatuh. "Apa yang sudah kita lakukan?" bisiknya lirih.Ambara tidak menjawab.Linda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah perlahan memenuhi seluruh pikirannya. Ia teringat Krisna, suaminya. Terbayang rumah mereka, kamar mereka, kehidupan yang selama ini mereka jalani bersama."Aku sudah menodai pernikahanku," ucap Linda dengan suara bergetar. "Aku tidak seharusnya melakukan ini."Ambara menarik napas panjang
Pukul sembilan malam, suasana hotel bintang lima itu masih ramai. Lampu-lampu kristal memantul di lantai marmer, sementara alunan musik piano terdengar lembut dari sudut lobi. Di salah satu restoran terbesar di dalam hotel, para tamu masih menikmati makan malam.Linda duduk sendirian di sebuah meja dekat jendela. Malam itu ia sebenarnya tidak berniat berlama-lama. Ia hanya ingin bertemu Ambara sebentar setelah menghadiri rangkaian resepsi pernikahan yang sejak sore menyita waktunya.Tidak lama kemudian, Ambara muncul.Pria itu terlihat lelah. Jas yang dikenakannya masih rapi, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia baru saja menjalani hari yang panjang. Sejak sore, ia memang berpindah dari satu acara resepsi ke resepsi lainnya. Namun begitu melihat Linda, ekspresi lelah itu seolah menghilang.“Maaf membuatmu menunggu,” katanya sambil menarik kursi.Linda tersenyum tipis.“Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai.”Mereka kemudian berbicara tentang hal-hal ringan. Tentang resepsi yang mereka h
Linda pulang dengan perasaan yang sulit ia jelaskan usai menghadiri resepsi pernikahan Ambara, lelaki yang pernah mengisi bagian penting dalam hidupnya, baru saja selesai. Sejak meninggalkan gedung tempat resepsi berlangsung, pikirannya dipenuhi berbagai hal yang terjadi hari itu. Terlebih ketika Ambara sempat menariknya menuju sebuah kamar kosong dan mengungkapkan bahwa perasaannya kepada Linda ternyata belum benar-benar berakhir.Linda sudah berusaha menutup masa lalu. Ia datang ke pernikahan itu hanya karena undangan telah diterimanya dua minggu sebelumnya. Ia bahkan datang tanpa Krisna, karena suaminya sedang mengikuti kegiatan sepak bola di kantornya.Namun, pertemuan itu justru membuka kembali sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur. Begitu sampai di rumah, Linda membuka pintu dengan hati-hati. Rumah itu tampak sunyi.Namun, tiba-tiba saja pembantu rumah tangganya keluar dari kamar anak-anaknya dan Tati sang pembantu menyambutnya,” Ibu sudah pulang?”Linda menjawab, “Iya baru
Seminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya. “Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang m
Sementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir. “Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna
“Ternyata kamu disini?" tanya Krisna saat masuk ke dalam kamar putri keduanya setelah memanggil Tati di depan kamar asisten rumah tangga itu. Tati terdiam membisu dan wanita muda itu membeku dengan jantung berdetak cukup kencang. Karena hampir saja ia membongkar hal yang diketahui atas diri Krisn
Usai Linda basa-basi dengan menanyakan keluarga sang mantan dan meletakkan secangkir teh yang dibawa oleh Tati, wanita cantik itu langsung menanyakan keperluan sang mantan bertemu dengannya. “Bara, ada keperluan apa kamu cari aku? Karena tidak mungkin kamu jauh-jauh mencari rumahku, kalau tidak a







