공유

Curhat

작가: Parikesit70
last update 게시일: 2026-05-07 15:42:33

Saat kedua wanita itu telah saling melepaskan pelukan dan masih berada di kamar utama, Krisna kembali ke kamar. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya seraya berkata pada Linda tanpa memandang ke arah wanita cantik yang melihat gerak gerik sang suami.

“Aku keluar dulu,ada urusan sampai malam!”

Linda hanya diam membisu. Ia dan Tati melihat kepergian Krisna tanpa berkata sepatah kata pun.

Kemudian, Linda mengajak Tati duduk di tempat tidurnya. “Sini Tati, kita ngobrol,” ajak Linda.

Tati mengikuti ajakan Linda duduk berdampingan di tempat tidur. Sesaat kemudian Linda teringat akan janji Tati untuk memberitahu hal yang diketahuinya.

“Tolong kamu cerita, apa yang kamu tahu tentang suamiku.”

Tati menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Sewaktu saya mau cuci celana kerja bapak, saya lihat nota pembayaran hotel dan alat pengaman, Bu.”

“Kapan itu?” tanya Linda tergesa dengan suara bergetar menahan asa sakit hati yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.

“Satu hari setelah Ibu melahirkan. Bapak bawa pakaian kotor dari rumah sakit. Saya pikir, pakaian Ibu. Ternyata pakaian bapak. Saya ingat sekali, karena habis itu saya tinggal berdua di rumah sama Bagus, selama Ibu di rumah sakit.”

“Kenapa kamu enggak ngomong sama aku?” tanya Linda, tubuhnya kian mengigil saat mengingat kejadian dua bulan lalu dan membuat hatinya bertambah sakit.

“Bu, tolong jangan ungkit masalah ini ke bapak. Sebenarnya saya mau lapor Ibu. Cuma, Ibu baru habis melahirkan. Saya enggak tega, maafkan saya,” sesal Tati dengan keputusannya saat itu.

“Kamu enggak salah, aku yang kurang peka,” sesal Linda pada diri sendiri.

“Bu, maafkan bapak. Bisa jadi dia khilaf. Ipar saya juga dulu suaminya selingkuh waktu dia hamil besar. Tapi sampai sekarang mereka harmonis,” cerita Tati.

“Tati, kamu masih sangat muda. Ibu harap kamu bisa mendapatkan suami yang bertanggung jawab. Hati-hati kalau memilih suami ya,” nasehat Linda pada Tati dalam kondisi hati yang terasa seperti tertusuk ribuan duri.

“Coba Ibu sama lelaki yang tadi bertamu pasti...”

“Hus! Jangan ngomong sembarangan seperti itu. Kalau bapak tahu bisa menuduh aku macam-macam,” potong Linda kala Tati kembali membicarakan Ambara.

“Maaf Bu, soalnya saya kesal sekali dengan kelakuan bapak yang kasar kalau marah sama Ibu. Kata orang, lelaki yang suka jajan, sering kasar sama istri dan manis sama wanita lain, artinya enggak cinta sama istri.”

“Ya, mungkin benar. Tapi untuk sementara biar saja dulu. Sekarang ini aku masih bingung untuk melangkah lebih jauh," keluh Linda yang pikirannya masih tertutup rasa sedih.

“Ibu harus kuat. Jangan pergi dari rumah. Kasihan Bagus dan dek Laras,” pinta Tati menyemangati Linda.

Mendengar kata-kata Tati membuat Linda tidak mampu menahan air matanya. Ia menangis dalam pelukan Tati. Di tengah tangisnya wanita cantik itu melepaskan seluruh keluh kesah.

“Tati, aku enggak bahagia menikah dengan bapak. Padahal dia menerima aku dalam keadaan suci. Aku tidak pernah menghinakan diriku pada lelaki lain. Tapi dia merendahkan aku dengan cara menghubungi mantan pacarnya sejak kami menikah.”

“Ya, Allah... Ibu, kenapa enggak cerai saja waktu itu?” tanya Tati kesal seraya mengelus punggung sang majikan.

“Kamu tahu..., bapak masih berhubungan dengan mantan pacarnya saat aku mengandung Bagus. Tapi, enggak mungkin aku minta cerai. Karena keluargaku akan menyalahkan aku, hiks...”

“Ibu...” ucap Tati sedih mendengar realita yang terjadi pada wanita karir secantik Linda.

“Selama lima tahun ini aku enggak pernah cerita apa pun. Sekarang ini rasanya aku sudah enggak kuat menahan sakit hati ini. Aku harus bagaimana, Ti?” tanya Linda dalam tangis.

Tati sebagai wanita muda yang sering mendengar keluh kesah rumah tangga dari teman-temannya hanya bisa jadi pendengar yang baik dan berempati atas masalah yang menimpa sang majikan. Terlebih, Linda saat ini sedang tidak bisa berpikir secara jernih.

“Ibu yang sabar. Saya yakin, pengorbanan Ibu untuk Bagus dan Laras enggak akan sia-sia. Kalau Ibu bercerai kasihan mereka, Bu,” nasihat Tati saat merasakan Linda kian terpuruk.

Mendengar nasihat Tati yang lebih muda 10 tahun, kian menggores hati dan luka lama yang sejak kehamilan putra pertamanya, dipendam kini terbuka kembali. Linda mengingat kembali sewaktu Krisna transfer untuk sang mantan dengan alasan kasihan dan ia memaklumi sebagai rasa kemanusiaan.

Sejak itu, dia berusaha untuk tidak mau tahu demi keselamatan pernikahannya. Namun, hari ini Linda kembali membuka luka lama, kala mendapati alat pengaman di koper sang suami hingga ia merasa harga diri dan pengorbanannya sia-sia.

“Bu, saya ambil air minum dulu. Biar Ibu lebih tenang,” izin Tati melepas pelukannya dan memberikan tisu pada Linda.

Sesaat kemudian, Tati masuk ke kamar dan menyodorkan air dingin. “Diminum dulu, Bu.”

Linda yang pikirannya sedang kacau meneguk air dingin. Usai meneguk minuman tersebut, tanpa disadari Linda berujar, “Kalau saja aku menikah dengan Ambara, mungkin nasibku tidak seperti ini.”

Mendengar ucapan Linda yang spontan usai melepaskan kesedihan hatinya, Tati pun, menanggapi ucapan sang majikan.

“Bu, obat dari sakit hati itu mencintai orang yang mencintai kita. Saya pernah baca tulisan di sosial media seperti itu.”

“Tati, kita sebagai wanita enggak boleh seperti itu. Menyakiti hati wanita lain itu sama seperti menyakiti hati kita sendiri. Kamu jangan makan mentah-mentah tulisan di sosial media. Enggak semua itu benar “ nasihat Linda yang terlihat sudah stabil dalam emosi usai melampiaskan kepedihan hatinya lewat air mata dan sudah mampu berpikir jernih.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Bercinta

    “Mbak, tolong jangan sampaikan ke Linda masalah pertemuan kita waktu itu,” pinta Krisna duduk di sebelah Rima pada kursi yang ada di teras.Rima menunduk dan menghela napas serta berucap, “Kenapa saya harus bohong? Bukankah kemarin Mas Kris sama wanita lain dan wanita itu menantang saya?”“Mbak, tolonglah kali ini saja. Saya akan melepas wanita itu. Dia itu hanya SPG rokok yang terus saja merayu saya. Memang saya salah meladeni dia. Tapi, demi Tuhan, cinta saya hanya untuk Linda. Apalagi Mbak tahu sendiri bagaimana perangai wanita itu. Tolong beri saya kesempatan untuk menyelesaikan semuanya, Mbak,” pinta Krisna mengiba.“Hmm ... Baiklah!” ucap Rima mengangguk pelan.“Terima kasih, Mbak! Sekarang saya panggil Linda dulu. Biar Mbak enggak terlalu lama menunggu. Tunggu ya,” ujar Krisna dengan wajah lebih tenang, usai ketakutannya terlewati.Rima yang melihat tingkah laku Satria hanya melirik dan tersenyum kecut sembari bermonolog, “Dasar lelaki brengsek!”Tak lama kemudian, Linda kelua

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Risau

    Sekitar pukul 11 siang Rima ke rumah Linda. Wanita berparas mungil dengan kulit cokelat eksotis itu memeluk rekan kerja yang telah dua bulan ini cuti melahirkan. Kehadirannya juga disambut oleh Krisna yang telah menunggunya dengan hati dipenuhi kekawatiran.“Semakin putih dan cantik, kamu!” peluk hangat Rima memandang Linda seraya mengelus kedua pipi rekan kerjanya.“Kamu juga tambah cantik,” balas Linda tersenyum manis.“Serius tambah cantik? Perasaan, aku tambah coklat!” ucap Rima sembari melirik jenaka ke arah Linda.Setelah itu Krisna menyalami Rima dengan tersenyum ramah tanpa berkata sepatah kata pun. Tetapi Rima menyambut tangan Krisna seraya menyindir.“Wah, wajah Mas Krisna semakin bersih dan kembali seperti anak muda. Pasti karena selama dua bulan ini diurus istri ya?”Mendengar ucapan Rima membuat wajah Krisna berubah tegang dan lelaki itu hanya tersenyum samar. Ia tidak mampu membalas sindiran Rima yang jelas bermaksud lain atas kata-katanya.Dalam hati Krisna menggerutu.

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Kesepakatan

    Seminggu kemudian, usai Rima bertemu dengan Krisna di restoran pada sebuah Mal besar, pada hari minggu pagi rekan kerja Linda menghubunginya. “Linda, aku mau ke rumahmu siang ini. Apa kamu ada di rumah?” tanya Rima. Linda yang sedang menikmati sarapan pagi, jelas terkejut mendengar siapa yang menghubunginya. “Wah! Mimpi apa aku semalam ya? Tumben pagi-pagi telepon. Bukannya setiap hari minggu kamu malas bangun pagi? Sebenarnya kemarin itu, aku mau telepon kamu. Eh, malah lupa. Berarti telepati aku kepada kamu sampai dong,” tutur Linda. “Iya kita kan sohib. Ngomong-ngomong mau aku bawakan apa? Kamu enggak masak kan?” tanya Rima. “Karena kamu mau ke rumah, aku akan masak kesukaan kamu. Tapi, kok tumben anak dan suamimu mau diajak jalan-jalan ke rumahku,” ujar Linda. “Pertama, aku bangun pagi karena ada saudara yang anaknya dikhitan, jadi pagi ini aku ke sana dan kebetulan rumahnya dekat perumahan kamu. Tapi, anak dan suamiku nanti enggak ikut ke rumahmu, karena aku ada renca

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   BERTENGKAR

    Sementara itu di tempat yang berbeda, mobil Krisna terlihat di parkir pada sebuah kos elite kamar nomor 4. Pada masing-masing kamar kos berisi tempat parkir. “Mas Kris, kapan mau menceraikan istrimu? Aku bosan dengar janji-janji saja,” rajuk wanita dengan make-up tebal berdiri membelakangi Krisna yang merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang. “Sayang, Aku akan bercerai saat putri kecilku berusia dua tahun,” janji Krisna seraya melepaskan celana panjangnya dan memandang punggung sang kekasih yang merajuk. “Janji- janji saja. Aku bosan dengarnya! Mas tahu dua tahun lagi umurku 32. Aku juga mau punya anak dari kamu, Mas,” keluhnya melipat tangan dan masih membelakangi Krisna. “Sayang, lihat ini..., dia kangen kamu. Katanya kamu ingin punya anak. Kamu enggak kangen? Cepat duduk sini sayang,” pinta Krisna dalam posisi tanpa selembar benang melekat ditubuhnya. Wanita berusia 30 tahun, rambut berwarna coklat tua menoleh ke arah Krisna. Sesaat kemudian, wanita itu melepaskan seluruh b

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Curhat

    Saat kedua wanita itu telah saling melepaskan pelukan dan masih berada di kamar utama, Krisna kembali ke kamar. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya seraya berkata pada Linda tanpa memandang ke arah wanita cantik yang melihat gerak gerik sang suami. “Aku keluar dulu,ada urusan sampai malam!” Linda hanya diam membisu. Ia dan Tati melihat kepergian Krisna tanpa berkata sepatah kata pun. Kemudian, Linda mengajak Tati duduk di tempat tidurnya. “Sini Tati, kita ngobrol,” ajak Linda. Tati mengikuti ajakan Linda duduk berdampingan di tempat tidur. Sesaat kemudian Linda teringat akan janji Tati untuk memberitahu hal yang diketahuinya. “Tolong kamu cerita, apa yang kamu tahu tentang suamiku.” Tati menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Sewaktu saya mau cuci celana kerja bapak, saya lihat nota pembayaran hotel dan alat pengaman, Bu.” “Kapan itu?” tanya Linda tergesa dengan suara bergetar menahan asa sakit hati yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. “Satu hari setelah Ibu m

  • Gairah Terpendam Sang Mantan   Cemburu

    “Ternyata kamu disini?" tanya Krisna saat masuk ke dalam kamar putri keduanya setelah memanggil Tati di depan kamar asisten rumah tangga itu. Tati terdiam membisu dan wanita muda itu membeku dengan jantung berdetak cukup kencang. Karena hampir saja ia membongkar hal yang diketahui atas diri Krisna. Linda sempat terdiam. Namun, ia langsung menjawab. “Iya, aku ajak Tati mengobrol disini. Mas ada perlu sama Tati?” balik tanya. “Aku mau Tati jaga Bagus di kamar kita. Aku takut dia terjatuh. Kamu tahu sendiri Bagus tidurnya memutari tempat tidur,” jelas Krisna. Mendengar hal itu, Tati langsung beranjak dan keluar dari kamar seraya berkata, “Saya permisi dulu, Bu.” Linda berjalan di sisi ranjang bayinya dan mengambil ember tempat popok kotor yang diletakkan persis di bawah ranjang. “Mas, aku mau rendam popok dulu,” ucap Linda berlalu dari kamar bayi tanpa memandang lelaki tersebut. Melihat wajah Linda yang tampak acuh tak acuh, Krisna terdiam dan bermonolog, “Kenapa wajah L

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status