ą¹ąøą¹ąø²ąøŖąø¹ą¹ąø£ąø°ąøąøPukul dua dini hari.Kinanti terbangun dari tidurnya dengan napas yang terasa berat. Matanya perlahan terbuka, lalu refleks menoleh ke samping. Ganendra masih terlelap pulas di sebelahnya, wajah lelaki itu tampak tenang, napasnya teratur, seolah dunia di luar sana tidak sedang berguncang.Kinanti bangkit perlahan agar tidak membangunkannya. Ia meraih kimono tipis yang tergeletak di sisi ranjang, menyampirkannya ke tubuhnya, lalu berdiri. Langkahnya pelan, mondar-mandir di sekitar ranjang, namun pikirannya jauh dari kata tenang.Dadanya terasa sesak.Tanpa sadar, ia menggigit kuku jarinyaākebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali kecemasan mengambil alih. Pandangannya kembali tertuju pada Ganendra. Lelaki itu terlihat begitu damai, begitu yakin akan hari esok, sementara hatinya sendiri penuh badai.Kinanti meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Layar menyala, menampilkan pesan terakhir dari Baraāsuaminya.[Bara: Kinan... aku masih memberimu waktu sampai besok pukul sembila
āBrengsek!!! Kau benar-benar brengsek, Ganendra!!!ā teriak Bara dengan suara parau penuh amarah. āKau sahabatku!ā Tepat saat itu, pintu unit Kinanti terbuka lebar. Dua orang sekuriti masuk dengan sigap, mata mereka langsung tertuju pada Bara yang masih berdiri dengan napas memburu dan wajah merah padam. āPak, tolong usir dia,ā ucap Kinanti dengan suara tegas, meski dadanya masih naik turun menahan emosi. āJangan biarkan dia menginjakkan kaki ke gedung ini lagi.ā āBaik, Bu,ā jawab salah satu sekuriti singkat. Kedua penjaga itu mendekati Bara dan bersiap mengamankannya. Namun Bara menepis tangan mereka dengan kasar. āAku bisa keluar sendiri,ā ucapnya dingin, lalu menoleh tajam ke arah Ganendra. āDan dengarkan aku baik-baik, Ganendra. Aku tidak akan pernah menceraikan istriku. Tidak sekarang, tidak nanti. Selamanya kau hanya akan dikenal sebagai perusak rumah tangga.ā Kalimat itu dilontarkan seperti pisauātajam dan disengaja untuk melukai. Tanpa menunggu balasan, Bara melangkah ke
BUGH!Pukulan telak itu mendarat tepat di rahang Ganendra. Kinanti tersentak. Ciuman hangat yang baru saja terasa masih melekat di bibirnya langsung terputus begitu saja.āBara!!! Are you insane?!ā teriak Kinanti, suaranya pecah antara marah dan tidak percaya.Ganendra terdorong beberapa langkah ke belakang, mengusap sudut bibirnya yang langsung mengucurkan darah. Sementara itu Kinanti refleks berdiri, ingin menghampiri Ganendra. Namun sebelum ia sempat melangkahāBara, yang wajahnya sudah merah padam penuh amarah, langsung mendorong Kinanti dengan kasar. Dorongan itu membuat tubuh Kinanti sedikit terseret mundur.āBara!!ā seru Kinanti, tersentak dan terkejut.Namun tindakan itu justru menyulut sesuatu dalam diri Ganendra. Tatapan matanya berubah tajam, rahangnya mengeras, dan napasnya memburu. Melihat perempuan yang ia cintai didorong seperti sampah membuat darah Ganendra mendidih seketika.Tanpa pikir panjang, Ganendra bangkit dan menarik kerah baju Bara, kemudian membalas dengan pu
Siang hari, cahaya matahari jatuh lembut melalui tirai krem apartemen Kinanti, menciptakan suasana hening namun tegang. Kinanti duduk tegak di sofa ruang tamu, rambutnya diikat rapi, wajahnya tetap tenang meski sorot matanya jelas menyimpan beban.Di sampingnya, Ganendra duduk dengan posisi sedikit condong ke arahnya, seolah tubuhnya secara naluriah ingin menjadi pelindung. Jemari mereka saling bertaut, memberi kekuatan yang diam-diam tetapi kuat.Di hadapan mereka duduk seorang perempuan elegan masih muda dengan aura profesional yang tegas ā Shanika, salah satu pengacara kenamaan di Indonesia. Berkas tebal berada di pangkuannya, beberapa sudah dibuka di meja kaca.āSaya hanya menginginkan perceraian yang tenang,ā ucap Kinanti, suaranya pelan namun mantap. āTanpa huru-hara, apalagi media. Saya tidak ingin hidup saya menjadi konsumsi publik.āShanika mengangguk pelan. Jemarinya yang berpengalaman membuka halaman demi halaman dokumen: bukti perselingkuhan Bara dengan Nadia ā foto-foto m
āBicara yang jelas, Pah⦠saya tidak mengerti.ā suara Ganendra terdengar datar namun tegang. Di pelukannya, Kinanti menggeliat kecil. Dia masih dalam keadaan telanjang, hanya seprai tipis menutupi tubuhnya. Refleks, Ganendra mengusap punggungnya pelan ā gerakan otomatis, protektif, agar wanita itu tetap tidur. Suara di telepon kembali terdengar, tajam, penuh tekanan. āKau tahu⦠sahabatmu itu menyuap media untuk merilis berita tentangmu dan istrinya. Kau sangat beruntung, semua media besar di Indonesia masih dalam kendali Papa.ā Ganendra memejamkan mata sebentar, rahangnya mengeras. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, hanya kejengkelan. āLalu?ā tanyanya singkat. Nada ayahnya berubah ā tidak hanya marah, tetapi kecewa dan murka. āApa kau sudah gila, Ganendra? Wanita mana yang tidak bisa kau dapatkan? Mengapa kau harus berhubungan dengan istri orang lain?ā Tatapan Ganendra bergeser ke wajah Kinanti. Rambut wanita itu jatuh menutupi pipinya, bibirnya sedikit terbuka, napasn
Bara diam sejenak di depan pintu. Nafasnya berembus berat sebelum akhirnya ia memasukkan passcode apartemen yang hanya dia dan satu perempuan itu tahu. āNadiaā¦ā panggilnya pelan. Dari dalam, langkah kaki cepat terdengar. āMas udah datengā¦ā Nadia menghampirinya dengan senyum lega. Rambutnya tergerai kusut manis, masih memakai oversized t-shirt milik Baraāyang kini jelas tak lagi pas menutupi perutnya yang membuncit. Tanpa menunggu reaksi, Nadia langsung memeluknya. Tangannya melingkar di pinggang Bara, wajahnya menempel di dadanya. Tapi Bara kaku. Pelukannya tidak kembali seperti biasanyaātidak ada sentuhan lembut di punggung, tidak ada kecupan cepat di ubun-ubun kepala Nadia seperti rutinitas malam-malam sebelumnya. Nadia menangkap perubahan itu dalam sekejap. āMasā¦ā suaranya pelan, penuh tanya, āMas kenapa?ā Bara menghela napas panjang sebelum menjawab. āTidak apa-apa, Nad. Mas cuma⦠lagi capek. Banyak kerjaan di kantor, dan⦠aku harus bolak-balik urus mertua yang masuk rum







