Masuk"Ohhh ...." Suaranya manis dibuat-buat. "Jadi maunya diurus pembantu muda yang cantik? Baru mau ganti baju? Bahkan mau makan sendiri?"
Ia melirik Tini yang masih membungkuk, bibirnya menyunggingkan senyum kejam.
"Laki-laki di mana-mana sama saja. Maunya yang lebih muda, lebih cantik."
Nyonya Arini tertawa. Tawa yang membuat bulu roma Tini berdiri.
"Laki-laki kaya, tampan?" Ia melangkah mendekati Ario, membungkuk hingga wajah mereka sejajar. "Tapi kalau lumpuh, bisa apa? Apa gunanya dipuji tampan?"
Ario membuang muka dengan mata penuh kebencian. Rahangnya mengeras.
"Mana calon istri Kang Mas yang dulu?" Nyonya Arini menegakkan badan, tangannya berkacak pinggang. "Oh ya, dia sudah menikah dengan laki-laki lain yang normal. Meninggalkan Kang Mas di sini yang hanya bisa menghabiskan uang untuk berobat."
Ia menggeleng dengan gerakan dramatis.
"Sudah, tidak usah berobat lagi. Percuma. Kang Mas lumpuh itu karma. Hukuman untuk laki-laki yang tidak bisa menerima istrinya mandul."
Tangan Nyonya Arini mengelus perutnya yang membuncit.
"Lihat saya sekarang. Kang Mas lumpuh saja, saya masih setia. Bahkan bisa hamil. Ini ganjaran untuk kesabaran saya. Kang Mas saja yang dulu tidak sabaran, memanfaatkan keadaan untuk alasan menikah lagi."
Pandangannya beralih ke Tini yang serba salah—ingin pergi tapi tidak berani tanpa izin.
"Tini Mengurus Kang Mas cuma sementara. Jangan senang dulu. Saya akan carikan pembantu paling jelek untuk Kang Mas. Lebih jelek dari Jumiati yang kurang ajar itu."
Nyonya Arini mendekati Tini, mengangkat dagunya dengan jari telunjuk.
"Tini ini ...." Senyumnya semakin mengerikan. "Ibu susu untuk anak kita. Jodoh untuk anak dalam perut saya."
Jodoh? Tini tidak mengerti, tapi cara Nyonya Arini mengatakannya membuat sekujur kulitnya meremang.
"Jadi Kang Mas jangan bersenang hati dulu!"
Dengan gerakan anggun, Nyonya Arini membalik badan. "Ayo, Tin! Ikut saya. Jam makan siang."
Tini meraih pakaian kotor dan nampan berisi piring kotor sebelum mengangguk sopan ke arah Tuan Ario—pria itu menatapnya dengan mata yang mengatakan: Lari. Selagi bisa.
Tapi Tini tetap mengikuti langkah Nyonya Arini keluar kamar.
Tiba di dapur, mata Tini membulat sempurna memandang meja makan panjang dari kayu jati yang dipenuhi hidangan.
“Sudah sana cepat makan …!” perintah Nyonya Arini. “Makan yang banyak, biar nanti pas bayi saya lahir, kamu sudah gemuk.”
Tapi Tini justru membeku. Di hadapannya, bukan sekadar nasi putih dan sayur bening yang biasa di dapatnya di rumah majikan sebelumnya—ada opor ayam kuning berminyak, telur pindang mengkilap cokelat, oseng kangkung dengan taburan bawang putih goreng, makanan mewah yang hanya bisa Tini nikmati setahun sekali saat Lebaran di rumah majikan.
"Tini, kamu dengar saya atau tidak?"
Tepukan tangan Nyonya Arini di bahu membuat Tini tersentak. Perempuan cantik itu tersenyum melihat wajah Tini yang menatap tak percaya.
"De-dengar, Nyonya." Tini menelan ludah dengan susah payah. "Ma-makan dari hidangan ini, Nyonya? Semua?"
Keheranan Tini bertambah ketika Tumini bersama dua pembantu lain masih sibuk menambahkan piring-piring berisi lauk-pauk.
Ada perkedel kentang, sambal goreng ati, bahkan buah-buahan segar—anggur hijau dan jeruk medan yang mahal.
"Saya memperlakukan pembantu di rumah ini dengan baik, Tini." Nyonya Arini melipat tangannya di depan perut. "Saya anggap mereka seperti keluarga sendiri. Karena itu, tolong kamu tahu diri. Jangan seperti Jumiati."
Nama itu lagi. Tini menunduk, mendengarkan.
"Dia sudah dipengaruhi Tuan Ario untuk membantunya melawan saya." Ada nada getir dalam suara Nyonya Arini. "Selama kamu mengurus Tuan, jangan percaya apa pun yang dikatakan Tuan Ario. Apa yang dia ceritakan tentang saya—semuanya tidak benar. Dia sudah …," Nyonya Arini mengetuk pelipisnya dengan jari, "tidak waras. Kamu berhati-hatilah. Nah, sekarang taruh pakaian kotor ke keranjang dekat sumur supaya dicuci."
"Njih ... Nyonya!"
Tini bergerak cepat menuju halaman belakang. Sumur tua dengan tembok batu bata merah tampak kelam meski siang bolong.
Keranjang anyaman bambu besar sudah menunggu, separuh terisi pakaian kotor lainnya. Ia melemparkan kemeja Tuan Ario di tangannya, lalu bergegas kembali.
Dapur sudah sepi dari Nyonya Arini ketika Tini masuk. Hanya tersisa para pembantu yang duduk mengelilingi meja.
"Ayo Tin, lekas makan!" Tumini melambai dari tempatnya duduk. "Setelah ini istirahat sebentar, baru kita kerja lagi. Pokoknya … kerja di sini itu, enak asal tidak banyak tingkah seperti Jumiati itu."
Bibinya menunjuk ke ujung meja. "Itu yang di sudut sana, kamu habiskan semuanya. Sudah cepat, tunggu apa lagi?"
Mata Tini melebar untuk kesekian kalinya. Porsi yang ditunjuk Tumini dua kali lipat lebih banyak dari porsi pembantu lain. Nasi putih menggunung tinggi, lauk-pauk bertumpuk di piring-piring terpisah.
"Semua, Mbok De? Tidak salah?"
"Betul. Sudah, jangan heran." Tumini mengambil sendok sayur. "Kamu kurus sekali, Tin. Kata Nyonya supaya kamu gemuk. Lihat si Zul sama Atun yang gemuk saja jadi kurus setelah menyusui anak pertama dan kedua Nyonya."
"Tetapi ini terlalu banyak, Mbok De."
Tini duduk di kursi kayu, memandang makanan di hadapannya dengan perasaan campur aduk—senang, heran, dan sedikit curiga.
"Nyonya Arini baik sekali ya, Mbok De. Tapi ini terlalu banyak, perut saya tidak akan muat."
"Kalau tidak habis, bungkus saja sisanya. Nanti bawa pulang pas jam kamu menyusui bayimu. Sudah, cepat makan. Makan yang kenyang!"
Tini yang jarang merasakan makanan selezat ini mulai menyantap dengan lahap. Nasi putih pulen, opor yang gurih dengan kuah santan kental, ayam yang empuk hingga ke tulang.
Namun, di tengah kenikmatan itu, wajah ibunya yang sakit dan persediaan makan yang kosong terlintas di benaknya.
Dengan hati-hati, ia hanya memakan separuh dari porsi yang disediakan. Sisanya—potongan ayam, telur, dan beberapa sendok sayur—dibungkusnya dengan daun pisang yang sudah disiapkan di sudut dapur.
Tumini menghampiri Tini yang sedang memasukkan bungkusan daun pisang ke dalam besek anyaman bambu.
"Tin, bawakan ini ke kamar Tuan Ario." Ia menyodorkan nampan berisi teko teh melati yang masih mengepul, jajanan pasar, dan toples kaca berisi kue kering. "Tadi dengan kamu Tuan mau makan sampai habis. Pasti lapar. Sejak Jumiati hilang, Tuan Ario susah sekali makan."
Jeda sebentar. Tumini mencengkeram lengan keponakannya.
"Ingat … hati-hati. Jaga mulutmu."
"Njih, Mbok De."
Di kamar Tuan Ario, pria itu masih di posisi yang sama—duduk di kursi berlengan menghadap jendela. Tini mengetuk kusen pintu yang terbuka.
"Permisi, Tuan."
Ario menoleh perlahan. "Masuk …!"
"Saya bawakan camilan, Tuan."
Tini meletakkan nampan di meja samping, menuangkan teh ke cangkir porselen bermotif naga biru.
Uap harum melati menguar, bercampur dengan aroma samar dupa.
"Berapa gulanya, Tuan?"
"Satu saja."
Tini memasukkan segumpal gula batu, mengaduk perlahan. Sendok berdering halus mengenai porselen. Ia mengulurkan cangkir dengan membungkuk sopan.
"Kenapa kamu masih di sini, Tin? Kamu tidak lihat perlakuan kasar Arini padaku? Kamu tidak takut?"
Tini terdiam. Teringat pesan Nyonya Arini.
Tanpa menjawab, ia mulai membereskan baskom bekas keramas, berharap Tuan Ario akan berhenti bicara.Merasa diabaikan, suara Tuan Ario meninggi, membuat Tini tersentak. "Kamu tidak paham juga? Kamu bisa mati kalau terus di sini! Cepat pergi! Mumpung bayi setan Arini belum lahir!"
Tini mundur selangkah. Jantungnya berdegup.
Esok hari, matahari baru saja naik setinggi tombak saat Nyonya Arini, Tuan Ario yang semakin sehat, dan Mbah Kiai berangkat ke rumah sakit kota. Mereka menggunakan mobil sedan hitam yang dikemudikan sopir. Ario duduk di jok belakang bersama istrinya, tangannya menggenggam tangan Arini. Sesekali ia melirik wajah istrinya yang diam—Arini sejak pagi tampak gelisah, seperti ada yang mengganggunya.Bayi setan itu, pikir Ario. Dia meninggalkannya di rumah. Pasti berat.Tapi ia tidak bertanya. Ia hanya menggenggam tangan istrinya lebih erat, memberikan kekuatan tanpa kata.Sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang perawatan di lantai dua. Perawat membimbing mereka melalui koridor panjang yang dindingnya dicat hijau muda, lantai teraso yang mengkilap memantulkan cahaya lampu neon.Di ruang perawatan nomor 207, Ibu Tuan Ario terbaring di tempat tidur besi dengan seprei putih bersih. Tapi pemandangan yang menyambut mereka membuat Arini miris, memberinya gambaran tentang akhir hidup
Arini mengusap air mata dengan sapu tangan, lalu menarik napas dalam. Ia berjalan anggun ke arah gerbang, langkah tegap, punggung tegak, kepala sedikit terangkat. Sesekali ia tersenyum saat berpapasan dengan warga, senyuman tipis yang sopan.Ario memperhatikan istrinya dari kursinya. Bagi orang lain, Arini tampak seperti orang wajar, tuan rumah yang ramah, perempuan anggun yang sedang memastikan tamu-tamunya nyaman.Tapi Ario yang sudah bertahun-tahun hidup dengan Arini, yang melihat perempuan itu di saat-saat tergelapnya, tahu betul. Ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan di bahu Arini. Ada kepalsuan dalam senyuman itu.Arini berjalan ke seberang jalan … melintasi jalan tanah yang berdebu, menuju pohon asam besar yang rindang.Ia tidak bisa membiarkan bayi itu di sana sendiri. Bagaimanapun juga, sosok lain dari dunia sana bisa mengambilnya, makhluk halus yang mencari mangsa lemah. Dan mungkin mereka akan melakukan hal buruk pada bayi itu.Bagaimanapun ... itu anaknya.Sekali lagi i
Tini terbangun, terdiam, bingung. Matanya berkedip perlahan—satu kali, dua kali—mencoba menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Pandangannya berputar. Tubuhnya lemas sekali. Setiap otot terasa berat, setiap napas terasa seperti membutuhkan usaha besar.Rasanya seperti baru bangun dari mimpi yang sangat melelahkan, mimpi yang terasa terlalu nyata.Telinganya mulai menangkap suara-suara di sekitar. Suara Sari masih menangis, tapi tidak lagi tangisan keras yang memilukan, hanya sesenggukan di bahu Anthony sebelah kanan. Tini berkedip lagi, pelan. Hidungnya mulai mencium—aroma parfum khas Anthony, parfum Paris yang mewah dan maskulin, yang dulu sering ia cium saat bekerja di rumah keluarga Anthony. Dan ada aroma lain—bau bunga melati, bau masakan, bau-bau khas orang hajatan.Hajatan?Otaknya berusaha memproses, tapi terlalu lelah.Anthony yang pertama menyadari. Ia merasakan tubuh di pelukannya bergerak—sedikit saja, tapi cukup membuatnya bukan main senang. Napas yang
Sementara itu, di dunia lain—dunia yang temaram meski siang hari—Tini berjalan bergandengan tangan dengan Ario di jalanan yang diapit pepohonan tinggi dan lebat. Pohon-pohon itu tidak bergerak, seperti lukisan yang diam. Tak ada angin.Tiba-tiba, ia mendengarnya—samar tapi jelas. Suara gending. Kaki Tini berhenti. Ia menoleh ke belakang, mencari sumber suara."Siapa yang menikah?" tanyanya pada Ario.Ario tersenyum—senyuman yang tenang, yang meyakinkan. "Warga kampung sebelah. Ayo kita lanjut. Sedikit lagi sudah sampai."Ia menunjuk ke depan. Di sana, suasana semakin suram seperti siang dengan matahari terhalang mendung tebal. Di depan mereka, sebuah gapura tua berdiri megah, gapura batu yang ditumbuhi lumut, dengan ukiran naga dan makhluk-makhluk aneh di sisi kanan kirinya. Gapura itu seperti pintu menuju dunia lain.Tapi sebelum mereka sampai ke gapura, Tini terkejut.Ibu Tuan Ario berjalan keluar dari balik gapura, menggandeng dua cucu laki-lakinya di kanan dan kiri, yang bayi dig
Mbah Kiai menatap ibu Tini yang masih menangis di samping tempat tidur. "Bu Tumirah, saya minta izin. Karena Tini sudah menggantikan Arini sebagai istri, dia harus punya seseorang yang lebih berhak menyebutnya istri."Tumirah menatap Mbah Kiai dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya pada Mbah Kiai."Apa saja, Mbah," ucapnya pelan dengan suara parau. "Asal Tini bisa kembali. Asal dia bisa hidup."Mbah Kiai mengangguk. "Insya Allah."Fajar itu, semua orang tidak lagi tidur. Semuanya sibuk menyiapkan upacara pernikahan yang sederhana tapi sakral—sesuai syariat Islam, tapi juga adat Jawa tidak ketinggalan.Istri Mbah Kiai dan anak-anak perempuannya memandikan tubuh Tini yang masih tidak sadarkan diri dengan air mawar dan melati. Mereka memakaikan kebaya pengantin berwarna putih gading, kebaya milik anak perempuan Mbah Kiai yang baru saja menikah beberapa bulan lalu.Kain batik motif khusus untuk pengantin dililitkan dengan rapi. Sanggul tinggi dibentuk den
Tuan Ario melangkah mendekat. Setiap langkahnya lambat, tatapan menghipnotis.Tini ingin mundur. Seharusnya ia mundur, menutup pintu, berteriak memanggil ibunya. Tapi tubuhnya tidak menurut. Ia hanya berdiri di sana, terpaku, menatap sosok yang semakin mendekat.Ario berhenti tepat di depannya, begitu dekat sampai Tini bisa mencium wangi tubuhnya yang memabukkan. Bukan bau obat-obatan atau perban seperti pasien biasa, tapi aroma manis yang membuat kepala Tini mulai berkabut.Jemarinya terangkat perlahan, menyentuh bibir bawah Tini dengan sangat lembut, sentuhan yang membuat seluruh tubuh Tini bergetar. "Kau mau ikut denganku, Tini?"Tini tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menatap mata kelam itu—mata yang seperti jurang tanpa dasar, yang menariknya masuk, menjanjikan kedalaman yang menakutkan sekaligus penuh rasa penasaran."Ikut denganku, Tini, " bisik Ario, tangannya turun dari bibir, menelusuri garis rahang dengan sentuhan sehalus bulu. "Ke tempat di mana tidak ada y