Share

Bab 19 Selir

Author: AishAisyi
last update publish date: 2026-06-12 20:00:05

Malam yang begitu indah di Luhurwangi. Derit ranjang yang diwarnai pertengkaran lucu. Kisah manis yang membuat siapa saja hanyut dalam kasih dekapan.

Berbeda dengan yang terjadi di Keraton Giritirta, ranjang yang begitu sunyi sebab sejak keluar dari Keraton Surya Kencana, Argapati tak pernah lagi mau menyentuh istrinya, jangankan menyentuh bicara saja hanya saat ditanyai. Jika istrinya tidak bertanya sesuatu maka ia tak punya keinginan untuk mengajak bicara duluan.

Malam itu mata Kir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 87 Adu Olah Kanuragan

    Bayu merasa lega dapat menyelesaikan misinya. Matanya memandang pedagang perkakas bambu yang kian menjauh ke arah lain.Kakinya mulai melangkah untuk kembali ke keraton. Namun, ia terbelalak—Warseno ada di depannya saat ia berbalik."Kenapa dagangannya diambil orang, Mas?" tanya Warseno terdengar penuh selidik.Bayu gugup, tapi mencoba tetap tenang. "Iya. Dia Bapak saya. Kami bergantian berjualan," jawab Bayu sekenanya.Warseno menyunggingkan senyum. "Kau akan langsung ditangkap musuh jika seceroboh ini. Tali lencanamu terlihat," ucapnya sambil menunjuk leher Bayu.Bayu tersentak. Refleks ia memegang lehernya, dan benar—tali lencananya muncul dari balik bajunya.Warseno tertawa kecil. "Romo paring dawuh apa?" tanyanya.Bayu memasang wajah sangar. (Dia bukan Raden Mas lagi. Seharusnya aku tidak perlu takut dan tidak perlu menjawab pertanyaannya. Bagus juga dia mengira aku suruhan Sinuwun Maheswara. Dia tidak tahu kalau aku suruhan istrinya, Raden Ayu Kiran

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 86 Tali Lencana

    Bayu melirik delman yang kembali berjalan melewatinya. Ia memperhatikan dengan saksama keadaan perempuan yang dimata-matainya itu.Bayu melihat Wandari memang sedang lemas, bersandar di tiang kayu penyangga atap delman. Wajahnya pucat, tertutup selendang putih yang sempat terbuka diterpa angin.Keningnya mengerut saat melihat jauh di depan, delman itu berbelok ke kiri. Padahal Luhurwangi masih lurus jauh di sana.Bayu berlari mengejar delman yang mencurigakan itu. "Seharusnya mereka lurus kalau tujuannya Luhurwangi. Tapi mau ke mana mereka malah berbelok ke persimpangan itu?" gumamnya pada angin.Langkahnya panjang, napasnya ngos-ngosan, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Kakinya mendadak mengerem saat sampai di persimpangan. Delman itu tak lagi terlihat. Ia berjalan hati-hati sambil mengatur napas, mengamati sekeliling mencari tanda ke mana delman berlalu. Di tanah yang sedikit basah, ia menemukan bekas roda delman. Bayu yakin itu pasti delman Argapati.

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 85 Mata-mata

    Pagi itu rumah begitu lenggang. Wiro tak ada di rumah setelah menjual gabah. Mungkin ia ke rumah Ki Demang untuk mengambil kekurangan uang yang belum ia terima.Wandari pun memutuskan untuk mengajak Warseno pergi ke pasar membeli bahan makanan, karena dapur itu begitu kosong—tak ada apa pun yang bisa dimasak. Hanya ada sisa beberapa karung gabah.Mereka berdua kemudian pergi ke pasar dengan naik delman.“Enak juga, ya, punya kusir pribadi. Mau ke mana-mana tinggal duduk, tidak perlu bayar,” Wandari terkekeh.Warseno tersenyum melihat Wandari yang sudah terlihat ceria daripada semalam. Ia pun menarik sebelah tali kekang yang membuat Megantara sedikit melompat lalu berjalan normal lagi.Wandari dengan cepat memegang lengan Warseno karena delman yang oleng. Warseno tertawa kecil melihat istrinya yang cemberut.---Sementara itu, di Keraton Giritirta, Kirana sedang duduk di kamar Argapati yang masih kosong sejak saat itu. Setiap hari ia menatap gulungan

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 84 Malam Pertama

    Lampu minyak sudah padam. Tinggal gelap dan napas Warseno yang berat di sampingnya.Wandari memejamkan mata, tapi tidur tak kunjung datang. Setiap kali ia pejamkan, wajah Arya muncul. Senyumnya yang terakhir. Anggukannya yang pelan sebelum memudar.(Kang Arya... kenapa Kakang datang malam ini?)Di sebelahnya, Warseno tidur dengan punggung menghadapnya. Bekas sapu lidi di punggung itu masih kemerahan, walau sudah ditutup baju.Wandari menggigit bibir. Rasanya sesak. Ia yang mengandung anak Arya. Ia yang hampir membongkar semuanya. Tapi Warseno lebih dulu berlutut, mengaku, menanggung malu yang bukan miliknya.“Kenapa, Raden?” gumamnya pelan, sampai suaranya hampir hilang ditelan malam.Warseno tidak menjawab. Memang sudah tertidur.Wandari menatap langit-langit bambu yang retak. Di luar, ayam belum berkokok. Masih jauh dari pagi. Dan di dalam dadanya, ada tiga nama yang bertabrakan: Arya, Warseno, dan anak yang belum lahir.Ia tahu, besok bukan sekadar

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 83 Hamil?

    Udara panas di sore hari masih terasa menyengat. Warseno baru pulang dari rumah pujanggan desa bersama Wandari. Sepanjang jalan, para tetangga meledek saat melihat mereka berjalan berdua. Sementara Wandari hanya bisa tersenyum kikuk—senyum yang terlihat seperti tersipu-sipu.Dari kejauhan, Rengganis melihat itu semua. Tangannya mengepal makin erat.Saat di depan rumah, Warseno meminta Wandari istirahat di dalam. Ia sendiri duduk di bale bambu bersama Wiro untuk membicarakan sesuatu.“Pak, aku sudah bilang pada Ki Pujangga. Nanti malam kami nikah. Terus baju nikahnya gimana, Pak? Jamuannya juga gimana?” tanya Warseno.Wiro menoleh cepat. “Apa? Kowe nekat tenanan moro omahe pujanggan? Duh Gusti…” ucapnya sambil mengelus dada.Warseno malah bingung. “Kan tadi Bapak sendiri yang bilang, kalau tidak menikah malam ini ya tidak menikah selamanya.”Mendengar itu, tubuh Wiro lemas. Kepalanya berkunang-kunang. Tubuhnya limbung seakan mau pingsan.Warseno siga

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 82 Ikatan Seumur Hidup

    Matahari tepat di atas kepala. Mereka masih duduk di sana, diam.Warseno akhirnya berdiri. Ia menepuk pelan paha Megantara, lalu menoleh ke Wandari. "Wandari. Megantara sudah segar. Sudah siap melanjutkan perjalanan lagi?"Wandari menghela napas berat. Suaranya datar, kosong. "Mau kemana, Raden? Aku tidak punya tempat tinggal lagi."Warseno senyum tipis. Setengah serius, setengah ngeledek. "Kita sama, Wandari. Anak buangan. Wah, sepertinya Gunung Wanasura memang mau menjodohkan kita."Wandari langsung memasang wajah datar. "Raden. Tidak lucu."Warseno ketawa kecil. Ia jongkok, merapikan tali delman yang kendor sambil menjelaskan rencananya. "Aku mau ngajak kamu ke rumah bapak angkatku di Bhumi Sekarpari. Di sana kamu bisa tinggal dulu. Aman."Wandari tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Otaknya masih buntu, tidak sanggup berpikir lebih jauh.Warseno paham. Ia lalu mengarahkan Megantara ke posisi yang pas, bersiap memasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status