MasukPagi itu acara makan bersama sudah selesai. Makanan sisa di kamar sudah dibereskan. Argapati dengan senyum bangga berjalan menemui Sinuwun Maheswara yang sedang berada di ndalem Sinuwun.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya ia menghina istrinya (Asal aku lembut, dia pasti nurut) ucapnya dalam hati.Argapati sudah sampai di depan ndalem Sinuwun, ia berkata kepada penjaga untuk meminta izin masuk. Sebentar kemudian penjaga kembali dan mempersilahkan laki-laki itu untuk masuk menemui SinuWandari duduk di dalam rumah barunya di Kawedanan. Tiga petak ruang saja: ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi. Kecil. Tapi tiap sudutnya berukir. Lantainya dingin marmer. Wangi cendana dari dinding. Mewah... untuk ukuran tahanan.Ia menyangga dagu di ruang tamu. Matanya menelusuri setiap sudut yang tidak luas itu. "Bahkan tidak ada dapur," gumamnya pelan. "Kalau nanti lapar... harus minta siapa?"Wandari bangkit. Langkahnya berat masuk ke kamar. Ia merebahkan badan di atas kasur berlapis kain sutra. Empuk. Terlalu empuk."Apa bedanya ini dengan pendopo tabib?" bisiknya ke langit-langit ukiran.Ia berbalik tengkurap. Menaruh bantal di bawah dagu. Matanya jatuh ke jari manis tangan kiri. Cincin emas melingkar di sana. Hadiah pernikahan dari Argapati. Dingin.Pikirannya melayang ke pringgitan tadi. Ke suara Bhaskara yang tegas bagai keris:"Jadi kau mau pulang bersama Argapati atau cerai?""Kulo tidak mau kembali. Tapi bukannya mau bercerai juga, Raden
Ndalem Sinuwun tenggelam dalam hening. Hanya terdengar napas Wandari yang tercekat.Perempuan itu semakin menunduk. Seolah ingin kepalanya masuk ke lantai.Bhaskara melirik ke singgasana. Sinuwun tidak bicara. Hanya duduk. Mengetuk jemarinya pelan di sandaran tangan kayu jati. Tok... tok... tok... Setiap ketukan seperti palu menghantam jantung Wandari.Bhaskara tidak tahan. Ia memecah sunyi. "Sampun, Romo?"Sinuwun melirik sekilas. Tajam. Lalu menarik napas panjang. "Belum."Ia beralih lagi ke Wandari. Suaranya datar, tapi menekan. "Puspita. Kenapa kau ada di tengah hutan Wanawasa saat tengah malam? Dan... keguguran?"Darah Wandari berhenti mengalir. Matanya memejam. Lidahnya kelu. (Raden... tolong aku,) batinnya berteriak.Hening lagi. Lebih berat.Bhaskara maju setengah langkah. "Ini yang sedang kulo dalami, Romo. Kulo menduga ada masalah dalam rumah tangga Giritirta. Oleh karena itu kulo menawan Puspita. Supaya Argapati mau datang ke sini. Men
Angin dingin menyelinap dari celah ventilasi ruang sidang. Menusuk kulit, meski semua pembesar keraton mengenakan beskap tebal. Ruang itu hening. Semua mata tertuju pada Bhaskara. Menunggu. Pangeran Adipati Harya sudah tertangkap basah. Tidak ada jalan mundur. Mengaku setengah adalah satu-satunya pilihan.Bhaskara berdehem pelan. Surat dari Kirana ia lipat rapi. Wajahnya datar. Suaranya stabil."Begini, Romo. Saat saya berburu di hutan Wanawasa, malam itu saya menemukan seorang perempuan dalam keadaan lemah. Tubuhnya berlumuran darah," ia mulai bicara, pelan tapi jelas. "Saya bawa ke tenda. Saya obati. Baru pagi harinya saya tahu... ia baru saja keguguran."Isi ruang sidang menegang. Beberapa pembesar saling pandang. Kisah perempuan keguguran di hutan... pilu."Romo tahu sendiri," lanjut Bhaskara. Matanya menatap Sinuwun. "Saya pernah merasakan kehilangan istri setelah melahirkan. Saya tidak suka melihat laki-laki yang membiarkan istrinya keguguran sendiria
Wandari terus berjalan. Bhaskara mengejar, langkahnya lebih panjang. Sampai akhirnya ia menahan lengan Wandari. Tidak kasar. Tapi cukup untuk menghentikan langkahnya."Berhenti," perintahnya pelan. Wandari menoleh. Matanya menantang. "Lepas. Kulo sudah bilang kulo cuma mau hirup udara.""Di dalam juga ada udara," Bhaskara tidak melepas. "Kenapa harus keluar? Mau kabur lagi?""Kalau mau kabur, kulo sudah lari dari tadi, Raden," Wandari meronta pelan. "Lepaskan. Kulo bukan anak kecil.""Tapi kau bersikap seperti anak kecil yang kabur dari rumah," balas Bhaskara. Alisnya bertaut. "Kau terluka. Kau nifas. Kau tidak boleh jalan jauh.""Aku baik-baik saja!" suara Wandari naik setengah nada. "Aku sudah minum jamu. Aku sudah makan. Tubuhku milikku, Raden. Bukan milik keraton ini.""Dan nyawamu milikku sekarang," Bhaskara mendekat selangkah. "Aku yang menarikmu dari hutan. Aku yang bertanggung jawab.""Tanggung jawab? Atau mau mengurungku?" Wandari mendesis.
Di dalam gelap, tubuh Wandari terasa ringan. Melayang. Seperti kapas yang ditiup angin, tak punya arah, tak punya beban. Kepalanya bergoyang pelan, mengikuti irama yang tak ia mengerti.Kesadarannya merayap masuk, serpihan demi serpihan. Tubuhnya terbaring lemas. Berat. Namun kelopak matanya menolak terbuka. Telinganya menangkap gemerisik. Kain. Kayu. Napas orang. Tapi otaknya masih berkabut, belum sanggup menamai suara-suara itu."Aku ke alun-alun kidul dulu. Aku harus memastikan Puspita sampai ke pendopo tabib dengan selamat," suara itu jernih sekarang. Berat. Familiar. Suara Bhaskara.Kelopaknya bergetar. Perlahan terangkat. Penglihatannya buram, lalu fokus. Lurus ke atas. Atap dari papan kayu, gelap.Darahnya membeku. Napasnya tercekat. (Apa ini peti mati? Apa aku sudah mati?) batinnya menjerit.Ia mencoba menggerakkan jari. Gagal. Ototnya seperti diikat. Yang bisa ia lakukan hanya berkedip. Sekali. Dua kali. Panik menampar dadanya."Duk!" Ben
Bhaskara membuka mata saat tabib memohon izin untuk memberikan jamu. Ia bangkit lalu menepi, membiarkan tempat itu menjadi longgar.Putra mahkota itu berjalan keluar dan menunggu di kursi depan lagi. Ia mengatur napas, mencoba kembali ke masa sekarang.Bhaskara melihat ke luar pendopo. Kuda-kuda sudah mulai segar. Prajurit dan abdi dalem juga sudah terlalu lama beristirahat. Sudah waktunya mereka melanjutkan perjalanan. Tapi Wandari masih lemah.Cukup lama ia diam untuk berpikir. Hingga tabib kembali keluar setelah selesai memberikan jamu kepada Wandari.Bhaskara berdiri menghadang langkah tabib. "Bagaimana keadaannya sekarang?"Tabib berhenti mendadak lalu membungkuk. "Nuwun sewu, Raden. Jamu baru kulo berikan. Dia masih belum sadar. Sepertinya harus dirawat paling tidak tiga hari," jelasnya.Bhaskara mengusap wajahnya kasar. "Jempana cadangan ada?" tanyanya."Ada satu, Raden. Tapi sederhana," jawab tabib.Bhaskara mengangguk, "Siapkan," perintahnya.







