Share

Bab 61 Pesanggrahan

Author: AishAisyi
last update publish date: 2026-09-11 09:00:02

Atmaja berangkat menjelang fajar, hanya dengan seekor kuda hitam dan empat prajurit pengawal dari bangsal Kawedanan. Tanpa kereta, tanpa gegap gempita. Cukup untuk menjaga martabat putra selir, tapi tidak cukup untuk membuat Keraton Giritirta berguncang.

Ia menunggang kuda di depan. Di belakangnya, dua prajurit menuntun kuda beban—satu tangan memegang kendali, satu tangan menuntun tali. Di atas renggo terikat peti jati kecil berisi pakaian ganti dan bekal untuk enam hari perjalanan: tiga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 76 Gerobak Delman

    Fajar sudah tiba. Wandari sudah sibuk di dapur untuk memasak dan memberi sentuhan akhir di jajanan pasar yang akan ia jual nanti. Saat pagi mulai memancarkan sedikit sinarnya, Wandari berusaha menarik meja panjang di ruang tamunya sebagai alas jajanan pasar yang akan ia jual di depan rumah. Wandari berusaha sendirian sebab tak ingin meminta tolong kepada Arya yang ia kira laki-laki itu masih tidur di dalam kamarnya.Namun Warseno yang sedang tidur di luar rumah berbantal badan Megantara mendengar suara "srek srek srek". Matanya terbuka dan ia melihat Wandari sedang kesusahan menata meja. Ia bangun dan menawarkan bantuan kepada Wandari.Wandari pun tak menolak sebab ia merasa kelelahan menarik benda berat itu sendirian.Beberapa waktu kemudian. Semua jajanan sudah siap di atas meja. Warseno duduk diam di ruang tamu setelah selesai sarapan bersama Wandari. Laki-laki itu sempat bertanya sekali tentang Arya kepada Wandari. Wandari hanya menjawab kalau laki-laki itu belum ban

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 75 Tanpa Pamit

    Lembayung senja memeluk cakrawala. Kepingan uang telah menutup atap yang berlubang. Sore ini keadaan kembali seperti semula.Warseno menyeruput teh terakhirnya lalu meletakkan cangkirnya di atas meja, "kalau begitu aku pamit dulu ya Wandari" ucapnya sambil tersenyum.Wandari merasa ada sebagian dari dirinya yang akan lepas lagi. Wajahnya tak tenang mendengar Warseno yang berpamitan. "Tapi, Raden mau menginap dimana? katanya uangnya cuma sedikit untuk perjalanan pulang? Memangnya selama pengasingan, Raden tinggal dimana?" Wandari memberondongi Warseno dengan sejumlah pertanyaan.Warseno hanya tersenyum tipis, "aku bisa menginap dimana saja. Aku juga bisa mencari pekerjaan di perjalanan pulang. Selama masa pengasingan aku tinggal di Bhumi Sekarpari, waktu itu Arya pernah menjadi buruh panen di sawah bapak angkatku. Kami pernah bertemu di sawah" jelas Warseno.Wandari ingin menahan Warseno lebih lama lagi, "Sebentar lagi surup. Apa tidak sebaiknya Raden menginap di sini

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 74 Genting Baru

    Pagi itu udara sudah mulai hangat. Wandari duduk di bawah pohon dengan rumput liar sebagai alasnya. Ia duduk memandangi Megantara yang sedang memakan rumput belian.Warseno datang membawa dua nasi yang dipincuk menggunakan daun jati sebagai pembungkus luar, dan daun pisang sebagai lapisan dalam. "Ini makananmu" ucapnya sambil menyodorkan sepincuk makanan itu.Wandari pun tersenyum tipis dan menerimanya.Warseno yang merasa lapar langsung memakan makanan itu menggunakan tangannya langsung. Laki-laki itu kini sudah terbiasa makan tanpa sendok.Sementara Wandari hanya makan sedikit-sedikit sambil termenung. Jujur ia bingung bagaimana bertahan hidup setelah ini. Orangtua jauh tidak bisa dimintai tolong. Yang ia punya suami, itu pun Wandari tak tahu apakah masih bisa melanjutkan rumah tangganya atau tidak.Warseno melirik ke arah Wandari yang sedang memangku makanannya, "Kenapa tidak dimakan? tidak suka ya? mau aku carikan makanan lain?" tanyanya.Wandari tersenta

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 73 Kangmas

    Malam sudah larut. Argapati memindahkan Wandari ke kamar dengan cara mengangkat tubuhnya. Setelahnya ia juga membantu Arya berjalan dengan memapah tubuhnya hingga berbaring di sebelah Wandari.Argapati mengomel saat memapah Arya, "aku tidak menyangka terjebak dalam situasi seperti ini. Aku harus membantu orang yang sudah merebut calon istriku. Dan membantu perempuan yang sudah meninggalkan ku menikah dengan laki-laki lain" ucapnya.Arya sudah berbaring di samping Wandari sambil meringis kesakitan. Ia tak mungkin diam saja dikatai seperti itu oleh Argapati. "Opo? ditinggal rabi? gak keliru to? kamu yang nikah duluan. Nyalahin Wandari?" Arya memang masih lemas tapi mulutnya masih lancar berbicara.Argapati pun berjalan keluar kamar."Syukurlah dia pergi. Aku kira dia akan ikut tidur bertiga di kasur ini" Arya sedikit lega.Beberapa saat kemudian Argapati masuk lagi dan duduk disebelah Wandari. Mata Arya membulat, "Eh eh eh... mau apa duduk di situ?" ucapnya.Ar

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 72 Tugas Selesai

    Di alam sana, Mbah Drajat tidak sendirian. Beberapa langkah di bawahnya sedang duduk jiwa seorang laki-laki yang badannya terbelenggu oleh cahaya putih. Laki-laki itu terus menangis dan memanggil nama Wandari sambil minta maaf.Saat Genderuwo Kriwil mengambil alih badan Arya. Jiwanya berterbangan tak tentu arah. Makhluk gaib lain bisa saja dengan mudah menyandera jiwa itu untuk dijadikan budak. Mbah Drajat mengamankan jiwa Arya di tempatnya supaya laki-laki itu aman.Di sana ada sebuah Sendang yang bernama Sendang Drajat. Sendang itu berisi air jernih. Kejernihannya dapat memantulkan bayangan yang terjadi di rumah Arya. Arya melihat jelas apa yang terjadi pada badannya. Selain itu ia juga melihat Argapati dan Wandari yang berusaha mati-matian bertarung dengan makhluk yang tak mereka lihat. Makhluk itu anak buah Genderuwo Kriwil yang tidak bisa menembus pintu tertutup.Oleh sebab itu mereka meniupkan angin supaya pintunya terbuka. Saat pintu terbuka anak buah Genderuwo Kr

  • Garis Tangan Sang Putra Mahkota   Bab 71 Genderuwo Kriwil

    Sedangkan di dalam rumah. Wandari masih belum berhenti dalam tangisnya. Ia benar-benar sakit mendengar suaminya sudah meniduri perempuan lain bahkan saat mereka baru dua hari tinggal di rumah baru ini.Luka itu seolah semakin perih saat Arya mengaku melakukannya di rumah yang mereka beli bersama. (Aku tidur di kamar. Dan kamu melakukannya di ruang tamu saat aku tidur? bagaimana bisa?) batinnya sedang berperang.Kepalanya begitu penuh. Ia pun berteriak sekuat tenaga, "Kyaaarrghhh...!!" teriaknya sambil mengobrak-abrik ruang tamu yang dijadikan tempat maksiat suaminya."Gubrak..! gubrak..! gubrak..!" semua meja kursi berubah tidak beraturan.Di luar sana Arya dan Warseno mendengar teriakan itu. Mereka berdua panik tak tau apa yang terjadi. Wandari juga tak mau membuka pintu saat digedor dan dipanggil namanya.Brak! Brak! Brak! Dua laki-laki itu menggedor pintu rumah."Wandari...!!" panggil keduanya saling bersahutan.Akhirnya tak ada cara lain selain membuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status