FAZER LOGINSiang itu Argapati kembali melanjutkan perjalanan menuju Keraton Surya Kencana setelah selesai istirahat sebentar di Desa Alas Waru.
Di waktu yang sama, Wandari baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebagai pemetik teh. Gadis itu berjalan pulang ke rumah setelah menyetorkan hasil petikannya ke griya pakaryan. Namun, saat di persimpangan jalan ia bertemu dengan Arya yang sedang membawa rumput di atas kepalanya. Laki-laki itu terlihat baru selesai mengarit untuk cempénnya. Arya tersenyum kepada Wandari saat mereka tak sengaja berpapasan. Wandari bingung harus bagaimana di situasi saat ini, apalagi setelah Arya menyatakan perasaannya kemarin, membuat Wandari semakin bimbang dibuatnya. "Wandari mau pulang?" tanya Arya mencoba menyapa. Gadis itu menjawab dengan cara menganggukkan kepalanya. "Jalan bareng boleh?" Arya meminta izin terlebih dahulu. Hari ini Arya terlihat berbeda, tak seperti biasanya. Biasanya Arya bersikap slengekan, namun sekarang laki-laki itu terlihat lebih dewasa saat berbicara. "Ng... iya, boleh," jawab Wandari yang masih diliputi keributan kecil di dalam kepalanya. Sepanjang jalan mereka hening. Tak ada yang bersuara selain kaki mereka yang berjalan menapak di tanah dan suara orang-orang yang mereka lalui. Beberapa langkah kemudian Arya mulai membuka obrolan dengan basa-basi, "Wandari, tadi waktu aku ngarit ada Pakde Cokro ngelewati tempatku ngarit mau pulang ke rumahnya. Dia baru saja dari pasar gedhe tadi pagi..." ucapnya terjeda. "Arya, aku butuh teman ngobrol. Nanti sore bisa?" tanya Wandari. Arya terdiam mengerutkan keningnya tanpa menoleh. Rumput di kepalanya membuat lehernya sulit diarahkan untuk memandang Wandari. "Bisa!" jawabnya tegas. Seperti biasa, Arya selalu ada di saat Wandari membutuhkan bantuan. "Nanti sore aku ke rumahmu," lanjutnya. "Di sungai, aku mau tempat yang tenang. Atau mungkin di bukit kebun teh. Hm... tidak. Di sungai saja. Aku mau di sungai, bukan nanti sore, tapi sekarang," ucap Wandari seperti orang plin-plan. "Brugh!" Arya menjatuhkan rumputnya. Wandari terkejut lalu menoleh dan terdiam memandang ke arah Arya dengan raut wajah kebingungan. "Kenapa? Kamu kesandung?" tanya Wandari yang merasa aneh dengan rumput yang jatuh tiba-tiba. Arya hanya menggeleng dan tersenyum, "Jangan sekarang, ini sudah siang. Kamu pasti belum makan siang. Lebih baik kita pulang dulu. Kamu makan siang dulu, aku balikin rumput dulu. Habis itu aku langsung ke sungai. Sekarang, tidak nanti sore," laki-laki itu bisa memandang ke arah Wandari dengan leluasa sekarang setelah beban di kepalanya sudah diletakkan. Gadis pemetik teh itu terdiam beberapa saat lalu mengangguk. Arya pun tersenyum lalu kembali mengangkat rumputnya dan meletakkannya di atas kepala. Mereka berjalan bersama lagi dengan keheningan sampai berpisah di persimpangan jalan. Di persimpangan itu, Arya hanya berjalan beberapa langkah lalu berhenti untuk memutar badannya ke belakang, memperhatikan Wandari melangkah. Beberapa saat kemudian Arya pun memutar badannya kembali untuk melanjutkan langkah, bersamaan dengan itu Wandari juga menoleh ke arah Arya yang sudah melanjutkan langkahnya. Saat sudah sampai di rumah, Wandari langsung menuju ke belakang rumahnya untuk meletakkan keranjang teh dan capingnya. Kehadirannya disambut ocehan kambing bapaknya yang mengembik setiap kali ada orang mendekati kandang. "Sudah makan sana, jangan berisik! Rumputnya baru dikasih kan sama Bapak," ucap Wandari menanggapi kambing-kambing tersebut, lalu berjalan kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah murung. Gadis itu duduk di meja makan dan membuka tudung saji. Di dalam sana ada nasi, tempe goreng, dan sambal korek. Ia tak selera makan, bukan sebab makanannya yang sederhana—makanan itu sudah mewah untuk ukuran rakyat jelata di Giritirta. Alasannya tak selera makan sebab rasa bimbangnya yang seolah membunuh nafsu makannya. Gadis itu lalu menuang air kendi ke dalam gelas, dan meminum air saja untuk melepaskan dahaga. Satu potong tempe goreng dicomotnya lalu dimasukkan ke dalam mulutnya supaya ibunya tidak bertanya kenapa tidak makan. Lauk yang berkurang bisa jadi tanda palsu bahwa Wandari sudah menyantap makan siang. Sebelum pergi lagi, Wandari mencuci semua piring kotor dulu. Ini adalah trik tambahan supaya ibu Wandari tidak menemukan jejak kebohongan putrinya yang belum makan. Beberapa menit sudah terlewati, gadis itu berjalan keluar melewati ibu bapaknya yang sedang duduk santai di lincak depan rumah mereka. "Mau ke mana, Nduk?" tanya Soma, Bapak Wandari. Wandari yang semula berjalan perlahan itu pun berhenti sejenak, "Mau main, Pak, sama Arya. Di tempat biasa," jawab Wandari. "Baru pulang kok sudah pergi lagi. Memangnya sudah makan? Itu sudah Ibu masakin tempe goreng sama sambal korek," Surti, Ibu Wandari, juga ikut menanggapi. "Sudah makan, Bu. Piring kotornya juga sudah kulo cuci," jawab Wandari. "Ya sudah, Pak, Bu. Kulo pamit riyen," ucap Wandari langsung melangkah menuju sungai. Orangtua Wandari tak berpikir aneh-aneh saat putrinya bersama Arya, sebab mereka memang sudah terbiasa bermain bersama sejak kecil. Wandari berjalan menuju sungai melewati jalan persimpangan tempatnya berpisah dengan Arya tadi. Di sana ia sempat berhenti sebentar untuk memandang ke arah jauh, melihat apakah Arya sudah jalan ke sungai apa belum. Saat tak menemukan orang yang dicarinya, gadis itu memutuskan untuk melanjutkan langkahnya saja. Ia akan menunggu temannya itu sambil merasakan hawa dingin air sungai nanti di sana. Sesampainya di sungai, langkah Wandari terhenti saat melihat ternyata Arya sudah ada di sana. Laki-laki itu sedang duduk di atas batu besar di pinggir sungai sambil menghisap gulungan tembakau dan cengkeh. Putri Soma itu langsung mendekat dan menimbulkan bunyi krek saat kakinya tak sengaja menginjak dedaunan kering. Mendengar ada suara di belakangnya, Arya pun menoleh ke belakang. Melihat Wandari sudah datang, laki-laki itu membuang gulungan kertasnya ke sungai lalu mempersilakan Wandari untuk duduk di batu yang ia duduki. Sementara ia memilih duduk di batu yang tak jauh dari sana. "Arya..." ucap Wandari, tapi dijeda oleh Arya yang menyodorkan bungkusan daun jati berisi singkong goreng. "Makan dulu. Kamu datang secepat ini pasti tadi nggak makan dulu kan? Ini airnya, nanti kalau haus," ucap Arya sambil menyerahkan makanan tersebut dan sebuah botol minum yang terbuat dari bambu. "Kamu juga datang lebih cepat dari aku, pasti kamu juga belum makan," jawab Wandari cemberut sebab ucapannya disela. "Ya sudah, kita makan bareng," ucap Arya kemudian menyomot satu buah singkong goreng yang tergeletak di atas batu dengan alas daun jati. Mau tidak mau akhirnya gadis itu juga ikut mengambil makanan tersebut lalu memakannya satu gigitan. Suara gemericik air lebih mendominasi keheningan mereka saat ini, hingga beberapa saat kemudian Wandari mulai bicara lagi meski singkong di tangannya belum sepenuhnya habis ia makan. "Arya, aku udah mutusin buat berhenti sama Raden Mas Argapati. Tinggal di keraton tapi jadi selir sepertinya tidak bisa aku lakukan," ucap Wandari tiba-tiba. Laki-laki itu tersenyum tipis dengan mulut yang masih sibuk mengunyah makanan. Susah payah ia menelan makanan itu lalu menanggapi curhatan sahabatnya itu. "Hm... jadi kamu sudah mutusin buat nikah sama aku?" ucap Arya kebablasan. Wandari pun mengernyitkan keningnya dengan sebelah bibirnya yang terangkat sedikit, "Aku bilang putus sama Raden Mas Argapati, bukan nerima lamaran kamu. Aku mau ngosongin hati dulu baru setelah itu mikir nikah," jawab Wandari yang suasana hatinya sudah mulai stabil setelah mendengar Arya yang kembali slengekan. "Sama saja, Wandari," Arya semakin melebarkan senyumnya. "Itu artinya tinggal nunggu waktu saja. Soal saingan, aku sudah tidak punya," lanjutnya sambil menaikkan alisnya sebanyak dua kali. "Dih," tanggapan sejuta umat bagi wanita yang mendapatkan gombalan. "Nanti pas Raden Mas Argapati datang ke sini di jadwal sidak kebun teh, aku mau bilang kalau mau putus. Tapi ngomongnya gimana, Arya?" Wandari melanjutkan curhatannya. "Ng... agak susah sih," laki-laki itu memutar bola matanya ke atas untuk berpikir. "Bilang saja apa adanya, jangan bohong biar Raden Mas nggak kecewa nanti. Misal: ‘Maaf Raden, kemarin kulo masih alit, kemarin kulo kilaf sudah menaruh hati sama Raden. Sekarang kulo baru ngerti kalau kita beda kasta. Sebelumnya kulo tidak pernah berpikir tentang pernikahan, sekarang kulo sudah lebih besar. Ternyata hubungan laki-laki dan perempuan pasti berakhir di pernikahan. Sekali lagi kulo minta maaf yang sebesar-besarnya, kulo mohon undur diri dari kehidupan Raden. Raden menikah saja dengan perempuan bangsawan yang sekasta dengan Raden, dan kulo juga akan menikah dengan laki-laki rakyat jelata yang sekasta dengan kulo.’ Mungkin seperti itu, Wandari," jawab Arya sekaligus memberi contoh. Wandari hanya mampu menghela napas panjang saat ini, sebab peperangan di hatinya belum usai.Makanan di piring sudah habis, Kirana menyuapi suaminya makan dengan sabar. Segelas minum air putih juga sudah ia berikan. Kini ia masih diam, bingung dengan suaminya. Sampai pada akhirnya Argapati mulai berbicara ngelantur lagi."Apa diajeng sakit? kita sama. Kakang juga lagi sakit" Argapati terus berbicara tanpa henti."Sekarang kakang tidur ya, istirahat. Biar cepat sembuh" Kirana berusaha mengajak ngobrol Argapati ke obrolan yang lebih nyambung."Bersama diajeng?" Tanya Argapati."Iya" Jawab Kirana singkat.Argapati membentangkan tangannya, "Sini, tidur sama kakang. Kakang sudah lama pengen peluk diajeng" Ucapnya sembari mengubah posisinya sendiri yang awalnya duduk kini menjadi berbaring. "Ayo diajeng, jangan takut. Kakang nggak jahat" Argapati terus berbicara saat Kirana tak kunjung datang ke pelukannya.Akhirnya Kirana pun mendekat, ia mencoba ingin mengerti lebih dalam lagi tentang apa yang dimaksud suaminya. "Tidur kakang, jangan berbicara terus
Kirana langsung menanyakan kondisi suaminya setelah tabib berbalik badan pertanda proses pemeriksaan sudah selesai dilaksanakan. "Tabib, bagaimana keadaan kakang Argapati?" tanya Kirana dengan cemas."Nuwunsewu Raden Ayu. Kulo sudah periksa Raden Mas Argapati. Badannya kademen, panas dan lemas sekali. Menurut kulo, Raden Mas Argapati kecapekan berat. Pikiran dan tenaganya terkuras. Tapi Raden Ayu jangan cemas. Kondisinya masih aman. Kulo sudah berikan obat penurun panas. Raden Mas Argapati butuh istirahat total, jangan diganggu dulu biar cepat pulih." ucap TabibTabib pun keluar dari kamar Argapati setelah menyelesaikan tugasnya, kini tinggal Kirana sendirian yang menjaga Argapati. "Kakang kemarin sibuk mengamankan jalur. Pasti lelah sekali. Kasihan kakang" ucapnya sembari membenarkan posisi selimut Argapati yang sedikit tersingkap."Diajeng.." ucap Argapati lirih dengan mata yang masih terpejam."Iya kakang, kulo disini" jawab Kirana."Jangan takut.. k
Di kediaman Adipati Surenggana, Arya sedang duduk bersandar bantal dengan dibantu istrinya.Mukanya masih lebam, bekas cairan merah sudah dibersihkan sejak sore tadi. Luka terbuka juga sudah dijahit kembali. Kini tinggal rasa pusing di kepalanya yang masih tertinggal.Malam itu abdi dalem datang dengan membawa makanan baru, abdi dalem itu mengambil makanan siang tadi yang masih utuh belum tersentuh sebab Arya memang baru bangun dan Wandari yang juga ikut tertidur.Wandari bangkit setelah abdi dalem keluar kamar. Ia mengambil makanan lalu menyuapi suaminya dengan makanan tersebut. "Kakang makan duluan ya. Biar cepat pulih, nanti kita bisa segera pulang" ucap Wandari yang matanya masih sembab sebab menangis terlalu lama.Arya tersenyum saat sendok sudah ada di depan mulutnya, "Wandari juga harus makan" ucap Arya yang tak lantas membuka mulutnya.Wandari menarik lagi sendoknya yang sudah disodorkan untuk suaminya, "Kakang nggak mau kulo suapi?" tanya Wandari de
Argapati keluar dari pintu penjara. Disana ada Rangga Wesi yang masih setia menunggu, serta Adipati Surenggana. Mereka menunggu diluar karena Argapati meminta privasi bersama tawanan."Lepaskan mereka Adipati" ucap Argapati.Adipati Surenggana mengerutkan keningnya."Tapi mereka belum menjalani sidang Raden" jawab Adipati.Argapati tersenyum palsu."Tidak perlu. Aku sudah memberinya peringatan. Tadi aku sedang ke desa untuk sidak sekalian mengirim surat. Tapi di desa sedang heboh ada laki-laki yang memaksa seorang gadis menikah dengannya lalu membawa kabur. Aku berusaha mengejar laki-laki itu, dia sudah ku beri peringatan. Perempuan itu sudah terlanjur menikah dengannya jadi dia sudah terikat dengan laki-laki itu. Lepaskan mereka, obati sampai sembuh dulu. Aku akan kembali ke keraton sekarang" ucap Argapati.Adipati Surenggana pun memerintah prajuritnya untuk mengambil tandu dan melepaskan tawanan.Argapati beralih pada pengawalnya."Rangga Wesi! siap
Argapati berjalan di lorong kadipaten bersama Adipati Surenggana yang menunjukan dimana mereka mengamankan buronan. Sementara Wandari juga ikut di belakang mereka dengan dikawal dua prajurit. Mereka berlima berjalan bersama menuju sel tempat Arya yang katanya 'buronan' itu di amankan.Mereka mulai menuruni anak tangga yang mengarah ke sel bawah tanah. Perlahan udara semakin menipis tapi cukup untuk kebutuhan oksigen manusia normal. Lembab, panas, gelap, karena penerangan hanya dari satu dimar ublik untuk ruangan seluas itu, banyak suara tikus berlarian kesana kemari.Dari balik jeruji besi, Arya yang masih diikat badan dan tangannya serta mulut yang masih disumpal, bisa mendengar ada langkah kaki yang kian mendekat. Ia mencoba berdiri dengan salah satu kakinya yang diikat menggunakan rantai besi. Dalam gelapnya sel, ia bisa melihat siluet beberapa orang mendekat.Lamat-lamat ia mulai bisa mendengar jelas obrolan mereka. "Kenapa sel ini kosong""Semua tawanan sudah di eksekusi Raden,
Beberapa waktu berlalu, rombongan Argapati sudah tiba di kediaman Adipati Surenggana.Suara klok klok dari kaki kuda berhenti. Argapati langsung melompat turun dari punggung kuda dan masuk ke ndalem kadipaten.Adipati Surenggana langsung melangkah menyambut kedatangan sang Pangeran Adipati Harya. "Sugeng rawuh Raden Mas. Buronan sudah berhasil kami bekukan." ucap Adipati Surenggana.Argapati tersenyum mendapat angin segar ditengah rasa lelahnya. "Kerja bagus Adipati, dimana buronan itu beserta perempuan yang dia bawa kabur?" tanya Argapati.Mereka berjalan masuk ke dalam kadipaten bersama dengan langkah kaki Adipati sedikit di belakangnya."Mari kulo tunjukkan, Raden mau ke sel dulu atau ke kamar tamu dulu. Mereka kami amankan ditempat terpisah Raden" jawab Adipati yang setia berjalan di belakang Argapati.Sang putra mahkota itu berhenti berjalan lalu berbalik badan. Terlihat Adipati juga berhenti melangkah lalu menundukkan wajahnya. "Antar aku







