LOGINRosa keihatan tidak nyaman sekali. Tapi sulit geser ke mana-mana karena posisinya terjepit.Tangan itu belum sempat mendarat. Agus sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan si kumis lele, tepat di udara, sekitar dua jengkal dari paha Rosa. Gerakannya cepat dan kuat, efeknya langsung bikin seisi ruang rapat mendadak bungkam.“Heh, mau apa kamu? Lepas!” Kumis Lele sok membentak Agus."Aduh, Pak. Tangan situ kayaknya nyasar. " Agus melepas cengkeramannya perlahan, seperti orang yang sopan mengembalikan barang pinjaman. “Oke, oke. Ini udah.”Si tua bangka, Pak Hermawan, Direktur Keuangan yang jabatannya lebih banyak tulisan di kartu nama daripada kerja nyata menarik tangannya sambil mukanya merah menahan malu"Kamu ini siapa?! Berani-beraninya menghalangi saya!" bentaknya lagi, sambi pegang tangannya yang linu.Agus berdiri tegak, sengaja dia pamerkan bodi sengkelnya biar mengisi ruang dengan cara yang tidak bisa diabaikan. Dia senyum miring tapi tatapannya tidak santai."Saya? Saya ini o
Rezeki nomplok ini bikin Agus jadi melek total. Ingat sekali dia bodi montok Bu Ratan di video mesum miik Tuan Hendro. Anggaplah dia punya misi hapus trauma Bu Rata.Langsung Agus merogoh saku jas mahalnya dan mengeluarkan ponsel miliknya yang layarnya sudah agak retak sedikit di bagian pojokan.“Kamu juga bisa request masakan. Mau apa aja, aku bisa kasih yang enak-enak.” Bu Ratna senyum , tapi matanya melihat celana Agus."Wah, siap, Bu. Saya memang hobi makan. Nah biar nanti saya enggak nyasar ke rumah Ibu, boleh dong saya minta nomor WA Ibu yang aktif?" tanya Agus yang gerak cepat.Kapan lagi dia bisa dekat-dekat dosen ini, lumayan bisa tertular cerdas, khayal Agus.Bu Ratna yang hatinya sudah kepaang baper dan salah tingkah langsung tersenyum manis."Oh, boleh, Gus. Sini catat, kosong delapan satu."Derap... derap... derap...Ada suara ketukan sepatu mahal yang Agus kenal mendadak menggema memotong suasana dari ujung koridor yang sepi. Nyonya Rosa muncul dengan langkah tergesa-ge
Agus merapat ke sebelah Bu Ratna begitu lift mulai diserbu penumpang lain di lantai berikutnya. Keadaan di dalam mendadak jadi sempit sampai bodi montok Bu Dosen terpojok habis.Kesempatan emas begini jelas tidak bakal dilewatin begitu saja.Agus sengaja memasang tampang lugu, sedikit menggeser lengan kekarnya ke samping. Menyenggol pelan gundukan kenyal Bu Ratna yang padat di balik blus kerjanya.Bu Ratna kaget. "Eh, Agus... kamu.""Eh, anu, aduh, Bu... maaf bener saya enggak sengaja. Ini orang-orang pada desak-desakan begini dari depan." Agus beragak tanpa dosa, padahal di dalam hati dia sudah tertawa menikmati keempukan si dosen aduhai ini."Eh, iya, Gus, enggak apa-apa. Namanya juga enggak sengaja kan?" Bu Rata membetukan dokumen di tangannya.Melihat Bu Dosen mulai salah tingkah, Agus melancarkan taktik berikutnya."Bu, saya bantu bawain aja itu map dokumennya. Kelihatan tebel bener, pegal nanti tangan Ibu.""Hah? jangan, jangan, Gus. Biar aja, ini ringan kok, cuma berkas koreksi
Siska terus cekikikan sendiri dengan tatapan mata yang semakin teler. Tangannya yang mungil tapi nakal meraba-raba perut Agus dan menarik kaus pemuda itu."Eh, Non, jangan lah. Apaan sih? Mending tidur aja gih, udah pagi ini." Agus menahan tangan Siska agar rahasia dokumen di perutnya tetap aman."Enggak mau ah. Aku penasaran, ada yang keras-keras nih di balik baju." Siska malah cemberut."Kagak ada apa-apaan, Non. Ini mah murni otot kuli yang mengeras. Dah lah, balik ke kamar aja yuk, saya anterin."Memang dasar bocah kuliahan kalau sudah kemasukan alkohol sukanya kumat. Tanpa babibu, Siska nekat melorotkan celana dalamnya di depan Agus. "Nih, Gus... udah basah tahu. Tanggung." Siska juga singkap rok mini ketatnya tinggi-tinggi.Pemandangan segar itu spontan membikin rudal Agus kedutan, tapi dia masih sadar situasi. Sebelum ini anak bertingkah macam orang gila betulan dan memancing perhatian seisi rumah, Agus langsung menyergap bodi sintal Siska.Membopong gadis itu, membawanya menu
Agus terus nongkrong seperti patung di dalam ruangan pengap itu. Sibuk menguliti satu per satu isi folder memori jahanam lewat layar ponselnya sampai pagi.Polanya sama persis, rekaman pejabat lagi menerima gepokan uang suap, diselingi adegan ranjang panas para petinggi itu dengan seorang wanita misterius.Agus sampai menyipitkan mata, saking penasarannya setengah mati karena wajah mulus si wanita yang sama selalu muncul berulang kali di beberapa video skandal berbeda."Kayaknya si Tuan ini sengaja masang umpan perekrut wanita buat menjebak mereka. Wah, gila... licik bener otaknya," gumam Agus yang menggelengkan kepala melihat siasat dunia hitam begitu rapi.Cepat-cepat Agus langsung mengamankan seluruh kartu memori dan flashdisk tersebut. Otak taktisnya mulai mencari tempat persembunyian yang aman."Kalau aku bawa keluar dan sembunyiin di kamar, risikonya gede. Takutnya si Maya yang kepo itu hobi ngobrak-ngabrik laci. Halah... mending aku selipin di sela rak ruangan tersembunyi ini a
Besar di kampung Agus jadi punya pengalaman banyak. Persoalan kecil kalau urusan melangkah tanpa suara. Menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Tuan Hendro yang sepinya kebangetan. Keadaan ruangan yang remang-remang, hanya diterangi bias lampu taman dari balik jendela kaca besar. Agus mendekati lemari dari kayu ulin di sudut ruangan. Berhadapan dengan pintu brankas baja warna hitam yang tertanam di dinding. Menggunakan kombinasi kunci yang sudah ia hafal di luar kepala, karena diberitahu Rosa, pintu baja tebal itu terbuka. Agus melongo karena kecewa setelah memeriksa bagian dalamnya. Isinya cuma tumpukan surat-surat saham lama dan obligasi perusahaan yang menurutnya sama sekali tidak ada harganya sekarang. “Busyet udah baunya enggak enak gini. Zonk doang.” Sambil menahan napas, Agus meraba setiap sudut, kolong rak, sampai sela-sela besi dalam brankas tanpa menyisakan debu, karena semua nempel di tangannya. "Apes tenan aku. Kalau kata Pak Tono sama Babeh Ojak di warkop tadi bene







